Judul itu adalah kepanjangan dari kata sayang. Biasanya digunakan sebagai ungkapan rasa cinta, baik asmara maupun non-asmara. Begini contoh yang saya lihat di media sosial. Pagi sayyyy....Lovee banget sayyy....
Muna
Pada situasi yang seperti apakah, Anda dan saya
mengucapkan kata yang bermakna sayang? Yang jelas ketika hati Anda dan saya
lagi senang, problema nyaris tidak ada dan ketika hubungan Anda dan saya serta
pihak lainnya berlangsung baik-baik saja, bukan?
Tetapi, bagaimana kalau dalam perjalanan waktu
sebuah hubungan asmara, pertemanan, bisnis, keluarga menjadi tidak baik? Apakah
”nyanyian” bermakna sayang itu masih akan disuarakan? Tentu pertanyaan saya ini
konyol sekali. Sudah barang tentu Anda dan saya akan setuju untuk diam saja
atau mengatakan: ”Ya ngapain juga....”
Pada waktu saya membaca sejuta kata sayyy di media
sosial, saya teringat akan sejuta kemunafikan yang saya lakukan. Seingat saya,
saya jarang sekali menggunakan kata itu untuk mengungkapkan sebuah rasa sayang.
Tetapi, membaca ekspresi itu, saya seperti
diingatkan betapa banyaknya kesalahan yang saya buat dalam menilai manusia.
Bahkan, saya diingatkan bahwa lidah saya ini benar-benar tak bertulang. Tidak
ada saringannya, asal bicara saja.
Sejujurnya, di beberapa kejadian, saya benar-benar
tidak menganggap mereka seseorang yang patut disayangi, tetapi saya melakukan
perilaku yang munafik itu karena ada agenda tersembunyi, ada sesuatu yang saya
harapkan dilakukan mereka untuk kebutuhan saya pribadi.
Seorang manajer hubungan masyarakat beberapa kali menghubungi saya untuk meminta data beberapa nama orang tenar dan kaya di kota Jakarta ini. Ia tak pernah lupa untuk memulai percakapan atau pesannya dengan hope that you are well. Kemudian dilanjutkan dengan mengajukan permohonannya, dan sebagai penutup ia akan menulis atau mengucapkan: ”Aku tunggu ya darling. Loveee you sayyyy....”
Tetapi, kalau giliran saya lagi butuh, ia bahkan tak
pernah menjawab pesan atau mengangkat telepon. Pertama saya kesal, kemudian
saya pikir kesal itu tak ada gunanya sama sekali. Saya memutuskan untuk
berperilaku seperti dirinya. Ia adalah satu dari sekian manusia dalam hidup
saya yang mengajarkan kemunafikan yang menguntungkan. Kadang saya bingung
apakah saya harus berterima kasih atau sama sekali tidak.
Bermakna
Ungkapan kasih sayang semacam itu dibutuhkan dalam
dunia ini. Mau munafik atau tidak alasannya. Mencium pipi kalau bertemu,
mengirim kado ulang tahun anak rekan bisnis, mengirim karangan bunga saat
dilangsungkan pernikahan, pembukaan kantor baru, meluncurkan produk baru.
Dan, tindakan itu masih disertai ucapan: ”Selamat
ya, panjang umur, sehat dan sukses. Usahanya lancar.” Sebuah ungkapan yang
meluncur dengan mulus tanpa halangan seperti sebuah mobil berlari kencang di
jalan bebas hambatan. Sebuah ekspresi yang sering saya lakukan tanpa berpikir
panjang.
Bagaimana kalau mereka benar panjang umur, sehat,
dan usaha mereka itu ternyata sukses sekali dan kebetulan bermain di dalam
industri yang sama dan pada akhirnya mampu mengalahkan saya?
Tidakkah itu menimbulkan iri hati dan bisa jadi
berakhir untuk menjatuhkan mereka? Padahal, kesuksesan itu juga bisa jadi
karena ucapan selamat yang sudah mirip doa, yang saya lakukan saat mereka baru
memulai usahanya.
Atau sebaliknya, bagaimana kalau yang saya sayyy,
kan, begitu seringnya, kemudian jatuh miskin, ternyata koruptor, ternyata
pembunuh, atau melakukan sesuatu yang mengancam hidup saya? Masihkah mulut saya
akan bernyanyi mengekspresikan ungkapan kasih sayang itu? Benarkah saya masih
mau menyayangi mereka yang membuat hidup saya di ujung tanduk?
Salah satu kejahatan yang bisa saya lakukan sebagai
manusia adalah bukan kemunafikan, melainkan melakukan sesuatu tanpa memiliki
makna. Memeluk orang tanpa makna, mengirimkan karangan bunga tanpa makna,
mendoakan tanpa makna. Bermakna itu tidak mengandung agenda apa pun.
Makna berbeda dengan menaikkan awareness, berbeda
dengan material promosi. Karangan bunga di sebuah acara yang ukurannya raksasa
disertai nama si pengirim berikut nama perusahaan yang sama ukurannya bahkan
mengalahkan ucapan selamatnya, itu bukan bermakna. Itu bentuk sebuah keegoisan
yang cantik, sebuah ucapan yang bukan datang dari hati, melainkan datang dari
bagian pemasaran.
Saya tak berjanji apa-apa karena sulit sekali
menghilangkan kemunafikan, tetapi nurani saya memberikan alat untuk mengurangi
hal itu. Begini. Jangan berpikir panjang soal apa yang akan diungkapkan.
Tetapi, pikirkan apakah saya benar-benar bahagia
dengan apa yang saya nyanyikan dari lidah tak bertulang ini. Benar-benar
bahagia itu artinya yang benar berbahagia itu saya yang bernyanyi.
Saya benar berbahagia teman saya panjang umur, saya
benar berbahagia usahanya yang saya doakan maju dan mengalahkan usaha saya,
tanpa ada rasa terancam dan tersaingi. Semoga kalau saya bahagia, kalau saya
tak punya agenda yang tersembunyi, itu bisa mengurangi sebuah kemunafikan
hidup. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar