Di suatu hari Minggu siang, saya duduk dengan raga
penuh hikmat di dalam gereja, menyaksikan teman saya menikah, tetapi otak saya
terus berputar seperti biasa, berpikir tentang kalimat perjanjian yang
diucapkan kedua mempelai.
Mencoba tidak gagal
Keduanya berjanji seperti sejuta pasangan yang telah
menikah bahwa mereka akan setia sampai maut memisahkan. Baik dalam keadaan duka
maupun suka, pada saat matahari begitu menyengatnya dan hujan serta kegelapan
menghadang. Sebuah ikrar yang diucapkan di hadapan Tuhan dan manusia.
Mata saya menyimak jalannya upacara, tetapi sejuta
pertanyaan menyerang di dalam kepala. Begini bunyinya. Mengapa engkau berani
berjanji sedang engkau hanya manusia yang mudah sekali mengingkari? Berapa
banyak janji yang selama ini telah kamu ucapkan di hadapan Tuhanmu dan manusia?
Apa yang tak kamu penuhi dari sejuta janji yang diucapkan itu?
Maka dalam perjalanan pulang saya mengingat kembali
sejuta janji yang pernah saya ucapkan di hadapan Tuhan dan manusia dan saya lupa
seberapa banyaknya janji itu.