Sabtu, 28 Juni 2025

Saya Berjanji

Di suatu hari Minggu siang, saya duduk dengan raga penuh hikmat di dalam gereja, menyaksikan teman saya menikah, tetapi otak saya terus berputar seperti biasa, berpikir tentang kalimat perjanjian yang diucapkan kedua mempelai.

Mencoba tidak gagal

Keduanya berjanji seperti sejuta pasangan yang telah menikah bahwa mereka akan setia sampai maut memisahkan. Baik dalam keadaan duka maupun suka, pada saat matahari begitu menyengatnya dan hujan serta kegelapan menghadang. Sebuah ikrar yang diucapkan di hadapan Tuhan dan manusia.

Mata saya menyimak jalannya upacara, tetapi sejuta pertanyaan menyerang di dalam kepala. Begini bunyinya. Mengapa engkau berani berjanji sedang engkau hanya manusia yang mudah sekali mengingkari? Berapa banyak janji yang selama ini telah kamu ucapkan di hadapan Tuhanmu dan manusia? Apa yang tak kamu penuhi dari sejuta janji yang diucapkan itu?

Maka dalam perjalanan pulang saya mengingat kembali sejuta janji yang pernah saya ucapkan di hadapan Tuhan dan manusia dan saya lupa seberapa banyaknya janji itu.

Sakelar

Saya tidak bermaksud menuduh Anda, tetapi jauh di lubuk hati saya yang terdalam, saya kok percaya bahwa Anda, pembaca, pernah mengumpat dengan kata-kata yang kasar. Kalau saya sering sekali, dan kebiasaan itu telah membuat saya mempunyai dua kepribadian.

Kalau hari Minggu, karena itu adalah jadwal untuk beribadah, sebisa mungkin saya mengerem untuk mengumpat dengan nama binatang berkaki empat. Tanpa harus saya rinci nama binatangnya, saya yakin Anda tahu binatang apa yang saya maksud. Apalagi kalau sedang berada di rumah ibadah itu tak akan pernah saya lakukan.

Buat saya, hari Minggu adalah hari untuk bermalas-malasan. Juga hari saat saya berusaha menjadi manusia yang diharapkan Tuhan, dan yang diharapkan teman-teman saya yang tak bosannya setiap hari mengirim ayat-ayat Alkitab. Bahkan, mereka tak bosan-bosannya mengingatkan saya untuk tidak lupa beribadah di hari Minggu. Saya yang menerima peringatan itu saja bosannya setengah mati.

Sakral

Itu adalah saya pada hari Minggu. Saya menjadi orang lain pada hari Senin sampai Sabtu. Saya merasa tidak bersalah untuk mengumpat pada hari-hari itu. Saya merasa wajar melakukan di enam hari itu. Kebiasaan mempunyai jadwal mengumpat telah berhasil membuat saya memiliki dua kepribadian dan menjalani hidup seperti sakelar.

Bisa mematikan yang tidak baik pada hari Minggu dan menyalakan yang tidak baik pada hari Senin sampai Sabtu. Mematikan yang baik pada Senin sampai Sabtu dan menyalakannya kembali pada hari Minggu. Jadi, hidup yang saya perjuangkan bukanlah sebuah hidup yang sakral, tetapi hidup yang sakelar.

Ruang kerja

Seorang penerima tamu di sebuah gedung perkantoran terlihat ogah-ogahan menyambut saya di depan meja penerima tamu. Tetapi, bahasa tubuhnya itu mendadak berubah menjadi begitu santun dengan senyum tersungging di bibirnya ketika saya menyebut sebuah lantai.

Lantai yang saya sebutkan itu adalah lantai di mana salah seorang konglomerat di negeri ini dan pemilik gedung itu berkantor.

Kulkas

Tanpa basa-basi, penerima tamu menyilakan saya melalui jalur pribadi, saya tak perlu menyerahkan KTP seperti biasanya. Para petugas satpam yang mengantar saya ke pintu lift yang khusus diperuntukkan untuk pemiliknya itu juga berlaku sungguh santun.

Tetapi, saya merasakan sebuah itikad baik yang dibuat-dibuat. Keramahan yang diajari, bukan yang dari dalam hati. Keramahan yang diciptakan dari rasa takut. Dalam waktu sekian detik, saya tiba di lantai yang tampaknya menakutkan untuk semua pegawai itu.

Bahkan saat saya menanyakan di mana lokasi kamar kecil, sikap pegawai di lantai itu juga tak bedanya dengan penerima tamu dan pak satpam. Saya sampai merasa bahwa saya juga harus buang air kecil dengan hati-hati dan dengan rasa takut.

RIP

Di hari Minggu yang lalu, saya iseng-iseng mencari arti dari tiga huruf RIP. Requiescat in pace dijelaskan sebagai sebuah ekspresi atau tulisan singkat di batu nisan yang menggambarkan harapan akan sebuah kehidupan yang damai dan abadi untuk mereka yang meninggal.

Damai versi kamus

Saya tidak menyangka bahwa keisengan itu memancing hati nurani menciptakan sebuah "nyanyian" sengau. "RIP itu adalah ucapan dari orang lain untuk elo yang meninggal. Masalahnya sekarang, elo meninggal itu udah ngejalanin hidup yang damai belom? Apakah selama elo ngejalanin hidup, elo tu udah jadi agen perdamaian? Kalau meninggal dengan damai dalam artian tidak menderita atau enggak sakit, itu bukan hal yang dimaksud."

Selama ini, sih, saya merasa telah dan masih menjalani kehidupan yang damai untuk diri sendiri dan orang lain. "Wkwkwkwk.elo memberi damai ke orang lain? Ngaca kali, bro. Bukannya elo dulu musuhnya banyak. Sampai bulan lalu aja, masih ada yang nanyain salah satu karyawan elo, kok bisa-bisanya doi kerja ama elo? Damai apaan? Damai dari mane?"

Rindu

Belakangan ini saya rindu sekali dengan mendiang ibu. Tak tahu mengapa. Kerinduan yang sudah lama tak pernah muncul. Dan, di sela-sela kerinduan itu terselip rasa menyesal mengapa mereka pergi di masa “muda” mereka.

Waswas

Ibu meninggal pada usia 45 tahun. Buat saya itu terlalu pagi untuk dipanggil pulang. Maka perasaan rindu kemudian melahirkan perasaan waswas. Kok, rasanya hidup itu singkat sekali. Kemudian timbul pertanyaan, apa yang sudah saya kerjakan selama tahun-tahun ini?

Di sebuah situasi yang jauh dari melankolis, saya tak pernah waswas, bahkan cenderung tak peduli akan kematian yang bisa datang kapan pun itu. Oleh karenanya, perbuatan yang menyakitkan banyak orang tetap dilakukan.

Bahkan dalam situasi macam itu, saya bisa berpikir dengan keyakinan yang penuh bahwa saya tak akan mati muda atau tak akan dipanggil pulang dalam waktu dekat-dekat ini. Bahkan tak jarang saya berpikir, kalau akan selalu tersedia waktu untuk meminta maaf kalau sudah waktunya akan meninggal.

Renovasi Diri

Sudah berkali-kali saya naik pesawat dan sudah berkali-kali saya mendengarkan instruksi cara-cara menyelamatkan diri, dan sejuta kali saya tak pernah menyimak. Dua detik saja tidak, apalagi menyimak sampai tuntas.

Namun, hari ini saya malah disadarkan bukan oleh petugas maskapai penerbangan, tetapi oleh sebuah pesan yang masuk ke telepon genggam. Kira-kira begini bunyinya. ”If there is a change in cabin pressure put your own mask on before helping others with theirs.”

Trenyuh

Saya ini orang yang mudah trenyuh. Oleh apa pun. Terutama sebuah keadaan yang memelas dan memeras hati nurani. Orang tak pernah atau jarang percaya kalau manusia sejahat saya bisa trenyuh. Tetapi begitulah kenyataannya. Sebuah kenyataan yang tak semua orang bisa melihatnya. Bukan karena mereka buta, tetapi karena saya lebih sering menunjukkan sikap tak trenyuh.

Saya itu sering kali kalau melihat ada orang yang bisa meluangkan waktu untuk orang lain ingin seperti mereka. Entah dari kasus yang paling ringan, seperti hanya menyediakan waktu untuk mendengar saja, sampai kasus berat menolong orang tak mampu, bahkan membela hak atau melindungi orang yang diperlakukan tidak adil.

Rela

Di dalam lift seorang pria jangkung berkata kepada seorang teman wanitanya yang baru saja masuk ke dalam lift itu. ”Wuiz..., dah lama, nih, kita enggak ketemuan. Kok, elo jadi tambah pendek, sih?”

Saya yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum sambil teringat kepada percakapan saya dengan seorang pria, yang beberapa minggu lalu berkomentar setelah lama tak berjumpa. ”Kok, elo kelihatan jadi tambah tua gitu sih, bro.”

Fisik                                  

Sudah lama saya mengerti bahwa orang dengan mudah menilai penampilan luar seseorang. Terutama buat saya yang fisiknya ya gitu deh itu, maka penilaian penampilan luar menjadi pemikiran yang tak bisa dianggap remeh. Maka acap kali mendengar orang berkomentar seperti kalimat di atas, saya seperti mendapat serangan jantung.

Kalau mendengar komentar semacam itu, saya selalu berusaha menganggapnya sebagai penyemangat hidup dan bukan untuk meluluhlantakkan jiwa raga. Tak bisa dimungkiri bahwa penampilan luar itu dinilai dan diberi bobot yang luar biasa oleh sesama manusia.

Beberapa jam sebelum saya menulis artikel ini, saya datang ke rumah ibadah untuk mengadakan sesi curhat dengan Sang Maha Pencipta. Salah satu dari sejuta isi curhat itu adalah soal kondisi fisik atau penampilan luar saya. Curhatnya begini.

Recharge

Rasa takut meliputi saya saat membuat tulisan ini. Entah mengapa sesubuh itu perasaan saya sudah seperti itu. Saya takut menghadapi masa depan. Perasaan itu tiba-tiba saja datangnya. Saya berasumsi mungkin perasaan takut itu timbul karena perjalanan selama hampir satu tahun ini memang sulitnya bukan kepalang.

Sebetulnya perasaan ini sudah ada sejak satu hari sebelumnya. Saya sedang duduk di dalam taksi yang mengantar saya pulang dari sebuah mal. Di dalam kendaraan itu tiba-tiba terlintas bagaimana kalau malam itu saya mengalami kecelakaan lalu lintas dan mati seketika. Saya tak tahu dari mana datangnya pemikiran itu, tetapi itulah yang terjadi.

Saya berusaha menepis pemikiran itu dengan tenggelam membaca akun media sosial beberapa teman saya. Perasaan itu sempat hilang dan kembali muncul saat tiba di rumah. Saya menjadi takut apakah saya akan mati malam ini. Bagaimana kalau ada yang orang yang sengaja menjerumuskan saya. Bagaimana masa tua akan saya jalani, apakah saya masih bisa sehat tanpa menjadi pikun.

Seperti ponsel

Perasaan dan ketakutan ini tak pernah terjadi sebelumnya. Kalaupun saya pernah khawatir akan masa depan, itu tak membuat saya ketakutan seperti saat saya sedang menyelesaikan tulisan ini. Saya berpikir apakah perasaan ini timbul karena tahun 2019 satu bulan lagi akan berakhir, dan kalau melihat kembali perjalanan selama hampir satu tahun ini, bisa dikatakan hasilnya benar-benar membuat putus asa.

Real

You were born to be real not to be perfect. Demikian sekelumit pesan yang saya baca di sebuah media sosial seorang teman lama. Kemudian seperti biasa, otak saya mulai mempertanyakan pernyataan itu. Benarkah demikian

Keder

Benarkah saya bisa begitu real-nya seperti yang sesungguhnya Yang Maha Kuasa menciptakan saya Bisa real terhadap orangtua, terhadap klien, teman, guru di sekolah, dan dosen di universitas

Bisakah saya real untuk negeri ini, bisa real saat mengungkapkan pendapat di sebuah persekutuan doa, di sebuah organisasi, di perusahaan, di kehidupan sosial tanpa mereka merasa tersinggung dan terancam karena ke-real-an saya

Kemudian suara di dalam kepala tak juga berhenti bernyanyi dan malah membuat bingung sendiri. Saya itu katanya tidak sempurna sebagai manusia, tetapi saya sering kali mendengar kalau mengerjakan sesuatu itu harus sempurna.

Katanya manusia itu harus menjadi be yourself yang menurut saya artinya menjadi manusia yang senyata mungkin. Nah, pas jadi myself orang menghakimi saya dan tak semua bisa menerima kalau saya real. Jadi sebetulnya kita itu mau apa, ya

Predikat

Ada sebuah akun media sosial yang mengunggah coretan-coretan berupa tulisan di dinding. Unggahan itu berupa kalimat dan pesan yang kocak, menyinggung perasaan, dan ada yang bermakna dalam. Satu yang menarik buat saya adalah seperti ini. ”Hidup jangan pelit amat, duit nggak dibawa mati, goblok!!!”

Selesai membaca itu saya tertawa. Saya sebagai pembaca unggahan itu sama sekali tak tersinggung walau “dikatakan” goblok. Saya malah akan tersinggung sekali kalau saya dikatakan pandai, apalagi oleh mereka yang tahu saya ini jelas-jelas gobloknya setengah mati.

Saya tak tahu apakah mereka yang tergolong pandai dan sangat pandai, bahkan mereka yang lulus dengan predikat summa cum laude, akan tersinggung ketika membaca coretan itu dan dikatai goblok.

Saya merasa masuk dalam kategori manusia berpredikat goblok itu karena menyadari saya tak pandai matematika, berhitung, atau juga akuntansi. Pokoknya yang berhubungan dengan angka-angka yang rumit yang bikin sakit kepala, saya menyerah kalah.

Kalimat dalam coretan itu juga memaparkan kata pelit. Sebuah kata sifat yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti orang yang tak suka memberi sedekah. Saya punya teman dan klien yang termasuk dalam kelompok manusia yang punya sifat pelit.

Akibatnya, mereka saya beri predikat ”si pelit”. Dengan predikat itu, saya tak akan pernah meminta sumbangan atau apa pun juga. Saya bahkan tak mau berurusan dengan orang pelit. Melelahkan.

Pray For

”Hari ini aku udah bolak-balik ke toilet. Liat dollar sama indeks bikin mules....” Begitu kira-kira pesan yang saya terima dari salah satu teman dekat yang bekerja di sebuah institusi keuangan dengan kedudukannya di tempat tinggi.

”Fitness centre”

Membaca pesan itu awalnya saya kaget. Kok orang mumet soal situasi ekonomi curhatnya kepada saya. La wong saya ini bodoh soal angka, bodoh soal hitung-menghitung, tak tahu seluk-beluk dunia ekonomi.

Tetapi, bagaimanapun bingungnya saya, pesan itu harus dibalas. Saya hanya bisa membalasnya begini. ”Ini adalah waktunya latihan otot-otot iman. Kita itu keseringan ke fitness centre melatih membesarkan otot-otot fisik. Nah, sekarang ini waktu paling tepat ngebesarin otot-otot iman. Sering-seringlah pergi ke faithness centre.”

Kalau yang satu adalah pusat kebugaran fisik, yang satu lagi adalah pusat kebugaran iman. Keduanya memiliki personal trainer. Yang satu harus dibayar jasanya, di pusat kebugaran iman gratis seumur hidup. Yang satu menggunakan alat-alat modern, yang satu hanya menggunakan kerendahan hati, kepercayaan, dan doa.

Tetapi, masalahnya acapkali yang dilatih yang fisik. Yang nonfisik hanya kalau ada waktu. Tetapi, kalau musibah datang, baru rajin datang ke faithness centre lagi. Tiba-tiba saya teringat kepada beberapa pesan yang saya terima saat beberapa musibah akbar terjadi di muka bumi ini. Seruan untuk berdoa.

Pohon

Dari ketinggian lantai lima belas, saya bisa melihat sebuah taman luas yang rindang. Daun-daunnya yang hijau tak pernah kering. Hujan, badai, panas terik tak menghalanginya untuk memberi kesan teduh bagi saya yang melihatnya.

Kesal

Pagi, siang, sore saya bisa menikmatinya, tepatnya dari tempat tidur yang menghadap ke taman luas itu. Bagi saya yang tinggal di hunian vertikal, maka pemandangan itu mengingatkan pada halaman luas di depan rumah di masa kecil dahulu.

Kalau hati sedang galau, memandangi taman asri itu saja, saya seperti sedang menelan obat penenang. Apalagi kalau cuaca sedang berbaik hati, matahari sore menjadi latar belakang yang mencolok, membuat pemandangan di taman itu seperti lukisan.

Belakangan, pemandangan ke taman rimbun itu seperti sebuah pelipur lara. Bahkan menjadi semacam pembuka mata. Ketika hujan turun dengan derasnya, angin yang menerpa begitu kencangnya, saya bisa menyaksikan pepohonan itu meliuk mengikuti terpaan angin kencang dan hujan yang deras.

Ketika matahari menyengat pohon-pohon besar itu berdiri kokoh. Pada suatu pagi di akhir pekan, ketika cuaca setengah panas dan setengah mendung, saya kembali memandangi taman itu. Di tengah acara leyeh-leyeh di tempat tidur, saya berpikir untuk menjalani hidup seperti pepohonan itu.

Pohon & Buah

Pintu lift terbuka, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun masuk ke dalamnya. Ia keluar di lantai enam. Di saat ia baru saja meninggalkan lift, seorang wanita muda yang juga berada di dalam lift berkomentar dengan teman laki-lakinya, "Parah tu anak. Badannya bau rokok." Hari masih pukul delapan kurang, di Minggu pagi saat kejadian itu berlangsung di apartemen tempat tinggal saya.

Pelajaran?

Setelah membereskan belanjaan rumah di sebuah pasar swalayan mini di lantai dasar, saya kembali masuk ke dalam lift menuju tempat tinggal di lantai lima belas. Selama di dalam lift itu, otak saya mulai dihujani dengan sejuta pertanyaan soal komentar wanita muda terhadap bau rokok di badan anak laki-laki itu.

Apakah di usia sedini itu si bocah sudah merokok? Apakah salah satu atau kedua orangtuanya, atau kakaknya, atau orang lain sedang merokok ketika si bocah lucu berkulit sawo matang itu berada dekat dengan mereka?

Kalau seandainya ia merokok di usia sedini itu, siapa yang mengajari atau yang menginspirasinya untuk melakukan itu? Kalau seandainya ia tidak merokok, tetapi orang lain yang lebih dewasa melakukannya di hadapan bocah cilik itu, apa yang dipikirkan manusia dewasa itu saat melakukan aktivitas merokoknya?

PinPinBo

Seorang teman lama terbaring di rumah sakit, dengan wajah yang semringah. Ia kelihatan supersehat, tak ada gambaran kalau ia menderita. Padahal, kondisi jantungnya mengalami penyempitan di tiga tempat. Maaf. Dua tempat mengalami penyempitan sebesar 30 persen dan 60 persen, satu tempat lagi sudah tersumbat 100 persen.

Anda jangan tanya berapa kadar kolesterol dan asam urat di dalam darahnya. Dan jangan bertanya apakah selama ini ia berolahraga. La wong saya mendengar ceritanya yang disampaikan dengan wajah sehat walafiat itu tidak merasa iba, tetapi malah menimbulkan reaksi marah.

Jangan sampai kecewa

Saya itu marah bukan karena ingin marah. Alasan pertama saya marah karena saya tak ingin ia mengalami yang saya alami, menyia-nyiakan hidup dengan cara yang tidak disiplin. Alasan berikutnya, saya marah karena saya tahu dia itu orang pandai, otaknya encer, pengalaman profesionalnya tokcer, menguasai beberapa bahasa asing, manusia yang suka gawai dengan segala teknologinya.

Ia bahkan mampu membenarkan komputer rusak dengan kerumitan permasalahannya, kok yaaa… mengurus komputer bisa, mengurus badannya enggak bisa. Kok yaaa… gawai disayang-sayang, perusahaan dicintai setengah mati, kerja pontang-panting, karier dikejar, kok bisa dengan otak encer itu tidak malah memilih untuk pontang-panting menyayangi dan mencintai diri sendiri setengah mati. Bukan katanya, siapa lagi yang bisa mencintai diri sendiri kalau bukan kita sendiri. Ya, kan?

Pilihan

 

Di suatu siang saya menyaksikan tayangan ulang sebuah serial televisi berjudul Scandal. Saya seorang pemirsa yang sejak awal telah menyaksikan serial yang mampu membuat emosi naik turun itu.

Namun, sejak ada serial televisi yang jauh lebih memikat, saya tak lagi mengikutinya. Hmmm... kalau Anda menganggap saya manusia yang tak setia, saya menerima predikat itu dengan lapang dada. Saya memang manusia yang tidak setia.

Kompromi

Diceritakan dalam episode itu, seorang wali kota memerintahkan sopirnya yang setia membunuh istrinya yang berselingkuh dengan calon wali kota yang baru. Untuk menghadapi reaksi publik atas kejadian itu, Olivia Pope, seorang wanita yang awalnya bekerja sebagai Direktur Komunikasi Gedung Putih, kemudian memilih untuk memiliki usahanya sendiri, yang memfokuskan melindungi citra publik kalangan elite Amerika, menyarankan sebuah strategi yang jitu kepada dua wali kota tersebut, meski sesungguhnya saran jitu itu jauh dari mengungkapkan kebenaran.

Pada saat acara jumpa pers berlangsung, ketika calon wali kota yang baru mendapat giliran berbicara, ia tidak mengikuti saran Olivia, tetapi justru membuka kebenaran dan borok yang sesungguhnya. Ia menceritakan secara singkat soal pembunuhan dan perselingkuhan itu. ”Saya adalah pendosa dan dia (wali kota yang lama) adalah seorang pembunuh.”

Persaudaraan

Dua bulan terakhir ini, saya mendapat kesempatan untuk berlibur. Libur tahunan ini setiap kali saya lakukan dengan sahabat-sahabat dekat. Beberapa di antaranya berprofesi sebagai ibu rumah tangga profesional bahkan ada yang memiliki usaha sendiri.

”Friends for benefit”

Saya memiliki dua kelompok persahabatan yang berbeda dengan anggotanya yang berbeda. Kedua kelompok ini sama-sama berjumlah lima orang. Semuanya wanita kecuali saya. Di media sosial saat mengunggah foto-foto, tagarnya akan berakhir dengan kalimat sisterhood.

Saya sungguh bahagia bisa mendapatkan teman-teman seperti mereka. Bahagianya tidak hanya mendapatkannya, tetapi mereka mau menerima dengan segala keberadaan saya. Teman-teman di luar dua kelompok itu kalau sedang melihat foto-foto di dalam media sosial, sering kali bertanya pada saya, kok mereka bisa betah sama saya, dan kok mau-maunya menerima saya.

Mungkin saya tidak bisa memberi jawabnya, karena saya bukan mereka. Tetapi kalau saya sendiri boleh memberi jawaban, maka saya akan memberikan penjelasan begini. Bahwa mereka itu memiliki hati yang besar untuk menerima setiap anggotanya dengan segala situasi yang ada di dalam mereka.

Peringatan

Saya duduk dengan tenang sebelum ibadah dimulai. Sejujurnya saya malas sekali hari itu untuk pergi ke rumah ibadah. Tak lama setelah itu, seorang ibu datang dengan suaminya yang duduk di kursi roda.

Keder

Mereka terlihat sudah lanjut usia dan duduk tepat di depan saya. Suaminya yang duduk di kursi roda tak bisa duduk dengan tegap sehingga sepanjang kebaktian ia membungkukkan badannya.

Ketika pikiran saya melayang ke mana-mana melihat kondisi dua orang tua itu, seorang ibu memasuki rumah ibadah dengan menuntun suaminya yang dengan susah payah berjalan. Keduanya sudah lanjut usia.

Melihat semua itu, saya sempat berpikir mengapa tiba-tiba saya dikelilingi oleh orang-orang tua yang kondisinya begitu menyengsarakan. Tentunya menyengsarakan untuk mata saya. Saya tak tahu apakah dua wanita itu merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan, sungguh saya tak tahu.

Kalau melihat dari sikap dua wanita itu yang dengan sabar menuntun suaminya, saya berasumsi mereka sudah terbiasa dengan kesengsaraan itu. Dengan demikian, apa yang saya anggap sebagai sebuah hal yang menyayat hati tampaknya tidak berlaku untuk kedua wanita itu.

Saya sendiri tak bisa membayangkan kalau seandainya pasangan saya menderita penyakit seperti itu dan saya harus mendampinginya entah sampai kapan. Melihat dua pria tua yang tak berdaya itu, konsentrasi saya di rumah ibadah itu terpecah-pecah, bahkan bisa dikatakan pecah berantakan.

Pembersihan

Dua teman saya menjalankan program detoks selama tiga hari dengan hanya mengonsumsi jus buah. Salah satu dari keduanya mengatakan, setelah tiga hari, ia merasa bahwa indera kecapnya lebih peka dalam merasakan makanan. Terlalu asin atau terlalu manis. Ia mengakui, sebelum program pembersihan itu dilakukan, lidahnya tak pernah sepeka itu.

Asupan negatif

Salah satu karyawan saya juga melakukan program semacam itu selama tujuh hari karena berat badan yang bertambah. Semua yang melakukan pembersihan raga ini hanya memiliki satu tujuan: memulihkan keadaan.

Setelah mendengar cerita itu, tiba-tiba saya merasa bahwa program pembersihan semacam itu bisa diterapkan juga untuk menghilangkan sikap buruk saya. Menghilangkan asupan negatif yang saya konsumsi bertahun lamanya.

Kekhawatiran, korupsi, perselingkuhan, iri hati, kesombongan, dan pertikaian karena perbedaan pendapat. Padahal, dari sejak dunia ini diciptakan, Anda dan saya tahu persis bahwa perbedaan itu sudah ada. Sedihnya, kita sudah tahu sejak lama, tetapi kita juga bertikai sejak lama.

Kekhawatiran. Itu adalah salah satu asupan negatif yang paling banyak saya konsumsi bertahun lamanya, yang membuat "lidah" tidak peka lagi terhadap kemampuan saya sendiri. Saya menimbun lemak kekhawatiran yang menggunung sehingga saya menghadapi kejadian setiap hari dengan tekanan batin yang sangat.

Peka

Belakangan saya cukup aktif berada di sebuah chat room. Jangan ditanya tujuannya untuk apa saya berada di ruang mengobrol itu. Saya yakin, Anda pasti sudah tahu. Yaaa… Anda benar saya sedang mencari teman.

Kalau cocok, yaa… saya terbuka untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih dari sekadar teman biasa. Macam jenjang pendidikan. Setelah S-1 kalau bisa ya S-2. Dan kalau masih bisa maju lagi, yaa S-3.

”Enggak suka, ya?”

Tentu masuk ke sebuah ruang mengobrol saya perlu memberikan informasi soal umur, fisik, dan secara singkat keinginan saya untuk bertemu dengan teman-teman yang seperti apa. Karena saya ini sudah setengah abad lebih, saya itu lebih menyukai yang seusia atau paling tidak sebelas dua belaslah dengan usia saya.

Tetapi, apa kenyataannya? Data pribadi itu tak berguna sama sekali. Yang ingin mengobrol dan bertemu lebih banyak adalah mereka yang berusia antara 20 dan 30-an. Awalnya saya meladeni, la wong cuma mau berteman. Apa salahnya? Tetapi, setelah beberapa kali dijalani, banyak ketidakcocokannya.

Setelah itu, setiap kali ada yang berusia muda mengajak saya ngobrol, saya malah menegur mereka untuk membaca biodata yang telah saya tuliskan. Biasanya mereka minta maaf, kemudian menghilang untuk sementara waktu, kemudian muncul lagi.

Palsu

Kalau hari ini saya mengajukan sebuah pertanyaan, apakah menurut Anda, Anda adalah orang yang bisa dipercaya? Bahwa apa yang Anda keluarkan dari mulut, baik itu sebuah janji maupun nasihat, tak akan berakhir sebagai bualan semata?

Diperdaya

Saya teringat dengan janji ayah kepada kakak perempuan saya. Ayah menjanjikan menyekolahkannya ke Inggris. Dengan semangat gadis remaja, ia mengumpulkan semua data dan keperluan pembiayaan selama mengenyam pendidikan di negeri orang itu. Singkat cerita, semua usahanya itu dibatalkan ayah secara sepihak, dan ayah menyarankan ia melanjutkan ke "Negeri Paman Sam".

Apa yang ada di benak Anda kalau mendengar cerita di atas? Apakah ayah saya menepati janjinya? Apakah omongannya dapat dipercaya? Mungkin ia menepati janjinya untuk menyekolahkan anaknya ke luar negeri, tetapi ia juga melanggar janjinya sendiri karena sejak awal "Negeri Paman Sam" tak pernah disuarakan oleh mulutnya.

Peristiwa itu hanya peristiwa ringan. Namun, sebagai anak, saya belajar sesuatu. Sering kali saya cepat sekali mengumbar janji. Akan ada banyak alasannya mengapa umbaran manis itu dilakukan. Dari yang sekadar mau cepatnya tanpa berpikir panjang, seperti ayah saya, ada yang beralasan untuk pencitraan, seperti ayah saya juga.

P3K

Pertolongan Pertama Pada Kehidupan. Itulah kepanjangan dari judul di atas. Judul itu langsung menyergap kepala untuk sebuah tulisan yang idenya datang dari sebuah pertanyaan di pagi hari. Siapakah yang akan menolongmu ketika kesusahan datang dan mengetok di pintu hidupmu?

Pengekangan

Saya jawab secepat kilat. Saya sendiri. Siapa lagi? Orangtua sudah game over. Kakak adik? Terlalu jauh diharapkan untuk menolong. Teman? Ahh…, teman. Saudara dari pihak orang tua? Keponakan? Sepupu? Itu apalagi.

Bukanlah salah mereka, itu salah saya juga. Selama ini saya tak terlalu dekat dengan mereka. La wong sejujurnya saya sendiri tak tahu dengan benar silsilah keluarga. Sudah diberi tahu berkali-kali, yaa…, berkali-kali tak mengendap di dalam ingatan.

Pacar? Saya belum dikaruniai berkah memiliki pacar. Setelah setengah abad sendirian, saya berpendapat, memiliki pacar itu tampaknya bukan semata-mata hanya usaha duniawi, melainkan juga urusan surgawi.

Suatu hari saya bersama seorang teman datang ke seorang cenayang. Singkat cerita, ibu cenayang mengatakan kepada teman saya bahwa tahun ini ia akan mendapat pasangan hidup seorang duda. Dan ketika giliran kartu saya dibacakan, ia hanya bicara singkat. ”Kamu tanya Tuhan saja.”

Ortu

 

Sudah dua minggu belakangan ini saya bertanya, tentu kepada hati dan nurani sendiri, mengapa seorang manusia itu bisa tumbuh menjadi koruptor, penipu, pembunuh, yang mulutnya berkicau untuk membuat keonaran sampai memilih menjalankan usaha dan menimbun kekayaan dari menyengsarakan orang lain?

Dididik

Tentu akan ada banyak alasan mengapa seseorang bisa menjadi demikian. Hanya saja hari ini, saya mau berkonsentrasi hanya pada pendidikan yang diberikan di dalam rumah, dari saat seorang anak dilahirkan sampai berusia di mana ia wajib punya KTP karena dianggap usia yang sudah dewasa.

Saya penasaran, benar-benar penasaran. Masakan pendidikan yang diberikan di dalam rumah sekian belas tahun sama sekali tak ada bekasnya ketika manusia tumbuh menjadi lebih tua dan belum tentu menjadi dewasa?

Saya penasaran, masakan ketika seorang anak manusia bisa berpikir dengan kepalanya sendiri, pendidikan yang diberikan orangtua selama itu tak ada efeknya? Terus di mana letak kekuatan pendidikan orangtua terhadap perilaku anak di masa depan?

Saya sudah melihat bahwa orangtua kaya dan miskin itu sami mawon. Keduanya mampu menghasilkan anak yang baik dan yang buruk. Bukan seperti cerita atau film cliché, kalau orangtuanya kaya, anaknya amburadul, dan kalau miskin, anaknya menjadi berbakti.

Orang Keuangan

 Sewaktu ia masih hidup, saya memberi ayah predikat ”orang keuangan”. Predikat itu karena ia nyaris memandang semua keadaan berdasarkan angka dan kemampuan otaknya yang terbatas itu.

Begitu tidak masuk akalnya, ia akan membatalkan rencana. Melihat caranya mengelola kehidupan itu, saya sampai pernah berpikir, manusia yang paling takut menghadapi gejolak dunia ini, yaa... orang yang seperti ayah saya itu. Ia yang memiliki ketergantungan yang sangat pada angka.

Otak

Awalnya saya berpikir ia kikir. Lama-lama, saya melihat dia hanya kelihatan kikir. Ia dan saya memiliki perbedaan dalam melihat nilai sebuah barang. Bisa dikatakan ia jarang sekali mengutamakan kesenangan hatinya, tetapi sering memenuhi kesenangan uangnya.

Sekali waktu, ia pernah menjelaskan mengapa ia tak perlu memiliki mobil supermahal. ”Mau mahal, mau murah, sama saja. Namanya mobil, yaa... buat alat transportasi. Titik. Yang penting kamu nyampe di tujuan yang kamu inginkan, bukan?”

Beberapa tahun yang lalu saat ia pergi ke Amerika, saya menitipkan tas bermerek. Pulang dari bepergian ke Amerika itu ia mencak-mencak. ”Kamu tuh enggak waras. Masak tas kecil segini harganya sampai jutaan rupiah. Enggak ada bagus-bagusnya.” Kemudian dia wanti-wanti, kalau itu adalah tas pertama dan terakhir yang ia belikan dengan uangnya itu.

Orang Baik

Hari ini saya bermaksud mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda sekalian. Apakah menurut orang lain, Anda itu termasuk orang baik? Yang saya maksud dengan orang lain itu bukan anak, bukan pasangan, bukan orangtua Anda.

Kalau orang lain sampai menganggap Anda adalah makhluk yang baik, apakah itu karena Anda memang dikenal baik oleh mereka atau mereka mendengar dari cerita bahwa Anda orang baik tanpa pernah membuktikannya?

Ceritanya

Saya mengajukan pertanyaan ini karena beberapa minggu lalu seorang teman dekat memberikan semacam laporan bahwa saya ini ternyata sampai sekarang masih dianggap banyak orang sebagai orang yang tidak baik. Tak lama setelah saya mendengar laporan itu, seorang teman dekat saya berniat menjodohkan saya bercerita begini.

"Tapi ya, Mas, waktu aku nyebut namamu, dia langsung bilang enggak ah, Samuel itu, kan, galak dan enggak baik orangnya." Teman dekat saya itu meyakinkannya bahwa saya itu sama sekali tidak seperti anggapannya itu. Sayang, usahanya untuk meyakinkan berakhir dengan gagal total.

Open House

Saya ditanya beberapa orang ke mana saya hendak menghabiskan liburan Natal dan akhir tahun. Pertanyaan yang sama saya ajukan kepada beberapa orang juga. Jawabannya macam-macam. Ada yang tidak ke mana-mana, ada yang ke luar negeri, dan ada yang berlibur di dalam negeri. Sampai tulisan ini Anda baca, saya memutuskan untuk menikmati Jakarta saja.

Natal

Tetapi, saya ini orangnya mudah tergoda. Tergoda karena ajakan teman, tergoda gara-gara melihat tulisan atau gambar di dunia maya, atau benar-benar karena naluri yang impulsif, apalagi suasana akhir tahun yang kelabu, hujan yang turun, dan perasaan senang karena tahun ini sebentar lagi usai.

Mungkin itu bagian enaknya kalau masih lajang. Sementara teman-teman saya yang sudah berkeluarga harus menyiapkan segala sesuatu jauh-jauh hari. Tak hanya biaya yang harus dipikirkan, tapi juga keputusan untuk menentukan tujuan wisata bisa dibayangkan harus melalui sebuah diskusi yang saya yakini tak bisa selesai dalam beberapa jam.

Di masa kecil dulu, liburan Natal akan disambut dengan liburan keluarga alias pulang kampung. Biasanya kalau tidak ke Surabaya atau ke Semarang. Seingat saya, dari Pulau Dewata tempat kami tinggal, ayah menyetir mobil.

Semakin dewasa kegiatan pulang kampung itu makin jarang dilakukan, bahkan seingat saya, di hari istimewa itu sepulang kami beribadah bersama, ayah dan ibu akan menggelar acara open house yang akan berlangsung dari pukul 10 pagi sampai pukul 10 malam dengan jeda dari pukul 2 siang sampai 4 sore.

Obat Penguat

 

Saya membaca tulisan duka lara seorang istri yang ditinggal suaminya meninggal secara tiba-tiba di sebuah media sosial. Curahan dan luapan emosinya yang tak terbendung itu memampukan air mata saya berlinang.

Daging dan ruh

Ada dua hal yang menarik dari membaca tulisan lara itu. Tulisan sang istri dan mereka yang mengirimkan ucapan belasungkawa. Ada berbagai bentuk ekspresi rasa dukacita. Ada yang supersingkat, jelas, tepat dengan hanya menulis RIP tanpa embel-embel apa pun sampai yang panjang dan menyayat hati.

Membaca ucapan dukacita superpendek berupa tiga huruf, saya sungguh tak tahu alasannya. Apakah yang bersangkutan tak berdaya mendengar berita dukacita yang tiba-tiba datangnya sehingga tak mampu ”berpikir panjang” atau mereka mengenal almarhum sebatas teman biasa. Kalau kemudian Anda bertanya, apakah dengan menulis ucapan dukacita sesingkat itu mereka sejujurnya merasa kehilangan atau tidak, saya juga tidak tahu.

Sementara itu, ketika saya membaca ucapan dukacita yang panjang dan menyayat hati, saya membayangkan mbak penjual nasi rames yang meracik segala jenis lauk-pauk dalam satu piring. Mereka menuliskan kenangan bersama almarhum, kebaikan-kebaikan almarhum selama hidupnya, dipadukan dengan ayat-ayat penghibur. Beberapa di antaranya berbagi cerita tentang masalah kehilangan yang sama, yang telah mereka alami sebelumnya.

Now & Then

Kereta api mulai bergerak semakin cepat meninggalkan Jakarta menuju Surakarta. Meski bokong terasa seperti duduk di atas kompor saking lamanya perjalanan itu, saya toh harus mengakui bahwa itu tak mengurangi sedikit pun kesenangan menikmati goyangan kereta api.

"Now"

Di tengah perjalanan panjang itu, di tengah bunyi kereta dan pemandangan sawah dengan langitnya yang terik, saya mulai berpikir tentang sebuah pertanyaan yang beberapa hari sebelum keberangkatan itu telah mengisi ruang di kepala. "Where do you see yourself in 5 years?"

Selama nyaris sembilan jam perjalanan, saya tak bisa menjawab pertanyaan itu. Surakarta diguyur hujan ketika saya tiba di sore hari, perut menjadi keroncongan dan kota ini adalah tempat paling maknyus membuat perut "meledak" karena makanan tradisionalnya yang lezat. Saya makin lupa atas pertanyaan itu.

Dari Surakarta saya menuju Lasem keesokan harinya, melalui Purwodadi tempat saya menikmati swike asli Purwodadi untuk pertama kali. Ironisnya, selama ini, saya menyantap makanan itu di Jakarta tak jauh dari tempat tinggal saya. Menempuh perjalanan selama lima jam menembus jalan yang sedang diperbaiki benar-benar menuntut kesabaran yang tinggi.

Nomor 2

Katanya, anak kedua itu adalah anak yang pandai, berani, dan sayang sama orangtua. Benarkah demikian adanya?

Berani dan pandai

Pernyataan di atas itu keluar dari mulut teman saya, seorang ibu dengan dua anak. Katanya, anaknya yang kedua itu pemberani, pandai luar biasa, dan sayang sama orangtua. Anda masih ingat tulisan saya beberapa minggu lalu mengenai kakak beradik yang berbeda perangainya?

Nah, anak kedua dalam tulisan saya yang lalu itu juga seorang bayi perempuan yang berani. Bahkan, belum lama ini ibunya berbicara dengan saya bahwa anak keduanya yang berusia tiga bulan itu kalau marah mengepalkan tangannya dan memukul-mukul seperti petinju.

Cerita di atas itu menginspirasi saya untuk menyemangati diri sendiri di tengah perjalanan tahun 2019 yang buat saya penuh tantangan. Sejujurnya tulisan ini dibuat saat saya sudah hampir menyerah. Saya sempat bersuara lirih dan memohon kepada Yang Mahakuasa agar diberi kesempatan untuk rehat sejenak dari masalah yang bertubi-tubi datangnya.

Di tengah kelelahan dan kekesalan itu, saya teringat dengan percakapan teman saya di atas soal anak kedua. Percakapan itu terjadi di suatu siang, saat kami sedang menyantap serabi dengan kuah coklatnya yang manis.

Ngantuk

“Aku tu suka ngantuk kalau dengerin khotbah di gereja,” kata seorang wanita yang duduk berhadapan dengan saya di sebuah acara makan siang. Mendengar kejujurannya itu, saya jadi tertawa di dalam hati.

Tidak hendak mencibir kejujurannya itu, tetapi harus diakui, saya sendiri merasakan apa yang dirasakannya itu. Bahkan, dalam kasus saya, saya bahkan sudah mengantuk saat masih di rumah.

Pukul 6, 8, atau 17

Buat saya salah satu aktivitas yang menyiksa selain makan wortel dan bayam adalah pergi ke gereja. Tetapi, belakangan saya memutuskan untuk lebih rajin datang ke rumah ibadah, bahkan saya memilih kebaktian pukul 06.00 pagi yang berarti harus berangkat dari rumah ketika kebanyakan teman-teman saya masih tidur lelap.

Keputusan untuk rajin sudah saya jalani hanya beberapa minggu saja, kemudian mulai dua minggu yang lalu kerajinan itu kendur kembali. Begitu kendur, maka bangun pukul 05.00 pagi itu menyiksa sekali, mengantuknya luar biasa, tidak tertahankan.

Tetapi, kalau harus mengejar pesawat subuh, maka dengan kondisi mengantuk yang sangat saja saya akan bangun dan berusaha keras untuk menepati peraturan untuk berada dua jam di lapangan terbang sebelum jam keberangkatan.

Move ON

”Hidup itu sejujurnya kayak...,” kata seorang karyawan saya beberapa tahun lalu. Kalimat itu tak bisa saya tulis secara utuh karena itu adalah sebuah kalimat yang mengandung umpatan kasar, mengandung amarah dan kekesalan.

Sukacita dan dukacita

Ia juga berpikir bahwa semua yang berbau positif yang pernah ia baca, ia dengar, dan ia lakukan adalah sebuah tindakan yang mau tak mau harus dilakukan, karena sesungguhnya seseorang takut sekali melihat bahwa hidup yang sesungguhnya itu, adalah jauh dari menyenangkan. ”Kita membungkus hidup yang susah itu seperti kado. Memilih bungkus yang menarik, cantik, dan indah untuk sebuah isi yang menyakitkan.”

Mengapa tiba-tiba di sebuah pagi saya teringat dengan perkataan karyawan saya itu? Saya sedang menyaksikan sebuah tayangan film di televisi. Di salah satu adegannya, seorang laki-laki mengungkapkan pendapatnya agar manusia itu merayakan hidup, dan bukan hanya sekadar hidup.

Kata kerja merayakan digunakan untuk memperlihatkan sebuah aktivitas yang positif, yang mendatangkan rasa sukacita, gembira, menyenangkan, apa pun penyebab kegembiraan itu, baik di ruang publik atau bersifat pribadi.

Merayakan Hidup

”Hidup itu sejujurnya kayak...,” kata seorang karyawan saya beberapa tahun lalu. Kalimat itu tak bisa saya tulis secara utuh karena itu adalah sebuah kalimat yang mengandung umpatan kasar, mengandung amarah dan kekesalan.

Sukacita dan dukacita

Ia juga berpikir bahwa semua yang berbau positif yang pernah ia baca, ia dengar, dan ia lakukan adalah sebuah tindakan yang mau tak mau harus dilakukan, karena sesungguhnya seseorang takut sekali melihat bahwa hidup yang sesungguhnya itu, adalah jauh dari menyenangkan. ”Kita membungkus hidup yang susah itu seperti kado. Memilih bungkus yang menarik, cantik, dan indah untuk sebuah isi yang menyakitkan.”

Mengapa tiba-tiba di sebuah pagi saya teringat dengan perkataan karyawan saya itu? Saya sedang menyaksikan sebuah tayangan film di televisi. Di salah satu adegannya, seorang laki-laki mengungkapkan pendapatnya agar manusia itu merayakan hidup, dan bukan hanya sekadar hidup.

Kata kerja merayakan digunakan untuk memperlihatkan sebuah aktivitas yang positif, yang mendatangkan rasa sukacita, gembira, menyenangkan, apa pun penyebab kegembiraan itu, baik di ruang publik atau bersifat pribadi.

Contoh. Merayakan hari ulang tahun, merayakan kenaikan kelas, jabatan, merayakan pernikahan, merayakan terbebasnya dari penjara, terbebas dari dakwaan korupsi, terbebas dari penyakit yang mematikan, merayakan hari kemerdekaan sebuah negara, merayakan sebuah kemenangan tender, atau pemilihan presiden.

Menikmati

Di suatu malam saya berbicara dengan seorang pemimpin tertinggi sebuah hotel berbintang. Setelah pembicaraan penuh basa-basi, kemudian pembicaraan masuk ke sesuatu yang lebih santai. Sekali lagi saya membuktikan, berbasa-basi itu sungguh melelahkan. Sesuatu yang dibuat-buat memang sungguh menyiksa dan hanya mampu bertahan sesaat saja.

Fatamorgana

Setelah menyerah dengan basa-basi, pembicaraan berikutnya dipenuhi dengan gelak tawa lepas, bahkan terselip beberapa pengakuan soal suka dan tidak suka mengenai berbagai hal. Sampailah pria supel dan ramah ini mengungkapkan pendapatnya, bahwa Indonesia memiliki masyarakat yang sangat menikmati hidup.

Setelah ia mengungkapkan pandangannya itu, ia bertanya apakah saya menikmati hidup. Sebuah pertanyaan yang gampang-gampang sulit untuk dijawab. Dari mata saya, selama hidup setengah abad di negeri ini, saya merasa sangat menikmati.

Saya bahkan tak pernah berniat pindah ke negara lain. Buat saya, Indonesia, khususnya Jakarta, bak sebuah perjalanan asmara. Kehidupan yang ada keselnya, tapi ada rindu yang menyelip di antaranya. Ada cinta, tapi ngomel-ngomel juga.

Mendaki

Sekitar tiga minggu yang lalu, saya bersama seluruh karyawan kantor berwisata ke Gunung Bromo. Setelah menikmati indahnya bukit kehijauan dan gurun pasir kehitaman, tibalah waktunya mendaki ke kawah Gunung Bromo yang buat saya lumayan tinggi.

Singkat cerita, dari 23 manusia yang awalnya bercita-cita ingin menaklukkan gunung, 12 menyerah sebelum perang. Tentu, saya termasuk yang menyerah dan memilih leyeh-leyeh di sebuah warung kecil.

Malas bayar

Saya menyerah bukan karena keder melihat gunung yang tinggi dan tangga yang berjumlah 250 unit itu. Bukan juga karena saya tidak kuat karena suka terengah- engah kalau menaiki tangga, tetapi lebih karena rasa malas yang tiba-tiba muncul. Masalah malas inilah yang saya ingin ceritakan kepada Anda sekalian.

Mengapa rasa malas itu tiba-tiba muncul? Karena teriknya matahari meski angin dingin bertiup cukup kencang, karena dari kejauhan, gunung ini terlihat begitu tinggi meski teman-teman yang pernah mendakinya mengatakan tinggi tetapi pemandangannya luar biasa. Bahkan, ada yang mengatakan, kalau jarak tangganya pendek dan saya bisa beristirahat kalau kelelahan.

Memercayai

 

Kalau di hari Minggu ini Anda punya sedikit waktu luang, cobalah menjawab pertanyaan berikut ini. Seberapa dalamkah kepercayaan yang Anda berikan selama ini kepada teman, sahabat, pasangan, anak, dan diri Anda sendiri?

Pertanyaan

Sebegitu dalamnyakah kepercayaan yang Anda berikan, sehingga Anda percaya bahwa teman dekat yang makan dengan Anda dalam satu meja bahkan dalam satu piring tak akan mengkhianati Anda? Tak akan melakukan perselingkuhan dengan pasangan yang Anda cintai?

Sekali waktu, saya dinasihati oleh seorang ibu untuk tidak sekali-kali memperkenalkan sahabat atau teman dekat dengan pasangan saya. Ia bahkan menambahkan, untuk tidak bercerita soal masalah rumah tangga kepada mereka yang dikategorikan teman dekat dan atau sahabat.

Sebegitu dalamnyakah kepercayaan yang Anda berikan kepada rekan bisnis Anda, sehingga tak Anda sadari bahwa mereka sedang mengatur strategi untuk menyingkirkan Anda dari usaha yang sedang dirintis?

Memelihara

 

Di suatu hari Minggu, satu minggu yang lalu, saya membuka koleksi foto-foto yang saya abadikan dari masa lalu sampai sekarang ini. Sebuah perjalanan yang membuat saya tertawa, tersenyum, dan juga terharu. Perjalanan pertemanan dengan latar belakang yang beragam.

Sampai akhir menutup mata

 Setelah puas melihatnya, saya kemudian berbicara dengan diri sendiri. Aahh, alangkah senangnya mengetahui bahwa ada manusia di dunia ini yang mau berteman dengan saya, apa pun alasannya.

Ketika mereka memutuskan menjadikan saya teman mereka, maka sebetulnya di saat itulah kewajiban saya dimulai untuk menghormati dan memelihara keputusan mereka itu. Semua pemikiran di atas timbul gara-gara sebuah pesan yang datang dari seorang teman dekat.

Begini pesannya. ”Mas, apa pun yang terjadi, we have to stick together, ya. Sampai akhir menutup mata.” Pesan itu memampukan mata saya berkaca-kaca dan tak ingat kalau kalimat itu mengandung sebuah pekerjaan rumah yang lumayan berat.

 Kalimat ”apa pun yang terjadi” dalam pesan itu mengingatkan saya akan sebuah situasi yang tak selamanya mulus dan bebas hambatan. Dan pekerjaan rumah yang harus saya lakukan adalah mempertahankan kekuatan ikatan (stick together) agar tidak kendor sehingga tujuan sampai akhir menutup mata bisa tercapai. Nah, memelihara sesuatu itu sebuah tugas yang sungguh berat, apalagi kalau dibandingkan dengan mendapatkan sesuatu.

Melihat dengan Hati

Ada yang mengeluh mengapa film yang ditontonnya hanya menarik secara visual, tetapi tak menarik secara jalan ceritanya. Saya mengeluh mengapa buku ini hanya menarik judulnya, tetapi isinya biasa-biasa saja seperti menyantap makanan yang tak diberi bumbu.  

”Ngomel”

Saya menulis hal ini karena terpancing keluhan seseorang di sebuah media sosial. Bentuk keluhannya sejenis seperti yang saya tuliskan di atas. Awalnya saya tak terpancing. Membaca isi pemikiran manusia di media sosial sudah menjadi ritual yang rutin buat saya sehingga kepekaan terhadap kalimat sesarkastis apa pun tak menggelitik seperti saat sebelum sosial media dilahirkan di dunia ini.

Kalau dahulu suka terkejut karena isi kepala manusia tak semudah itu diungkapkan dan kemudian bisa dinilai, sekarang semua orang bisa mengungkapkan isi hatinya dan itu dapat saya baca sepanjang hari, sepanjang tahun, melalui sekian banyak bentuk sosial media. Jadi, geregetnya sudah memudar, tetapi tidak hilang.

Setelah mengulang membaca keluhan seseorang itu, saya mulai sedikit naik pitam. Di dalam taksi yang membawa saya ke sebuah pertemuan, saya bertanya mengapa ya orang ini mengeluh seperti itu. Sampai-sampai saya menuliskan status di sosial media begini. Manusia itu suka lupa kalau dirinya itu manusia.

Mau Enggak

Saya berpikir keras di hari libur yang umumnya dimanfaatkan banyak orang untuk senang-senang. Ya, itu gobloknya saya saja. Katanya orang yang lahir di bawah rasi Capricorn itu terlalu banyak berpikir. Semua dipikirkan. Hal yang tak perlu dipikirkan, yaa… dipikirkan juga. Overthinking, kata teman-teman saya yang juga Capricorn.

Kesal

Acap kali yang saya pikirkan tak bisa dituntaskan. Menggantung. Itu yang bikin kepala sakit sebentar, kemudian hilang, dan sakit lagi kalau tiba-tiba ada pencetus yang datang. Kadang saya bertukar pikiran dengan beberapa orang, hasilnya ada yang cukup memuaskan, tetapi acap kali sungguh menambah kejengkelan.

Hal di atas terjadi karena saya juga acap kali bertanya seenaknya saja dengan manusia yang saya temui. Acap kali saya lupa bahwa lawan bicara saya tak punya pengalaman hidup seperti saya. Saya lupa bahwa sifat dan kepribadian mereka berbeda. Kata beberapa orang, mereka berbeda rasi atau shio dengan saya. Bisa jadi demikian.

Umumnya, kekesalan saya disebabkan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut diri sendiri tak bisa saya terima. Hubungan saya dengan Sang Pencipta, hubungan saya dengan sesama manusia baik teman, rekan kerja, maupun keluarga, misalnya. Kalau soal hal-hal yang umum, saya juga kesal, tetapi otak saya selalu berpikir bahwa saya tak berdaya melawan yang umum itu.

Manusia

Pada suatu hari saya bertanya kepada teman yang seorang pramugari, apakah ia tak takut dengan turbulensi. Karena saya ini takutnya setengah mati dan tak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa melayang-layang tanpa ketakutan. "Oh... enggak, Mas. Saya paling takut sama penumpang. Orang itu bisa begitu menakutkan."

Galak dan menakutkan

Pembicaraan itu kemudian berlanjut dengan agenda memberi penjelasan detail apa yang dimaksud dengan takut dengan penumpang alias manusia. Saya tak perlu menjelaskan ceritanya, tetapi harus saya akui selesai mendengar penjelasannya itu, saya tak pernah membayangkan bahwa yang namanya manusia itu bisa sesadis itu.

Salah satu staf saya, gadis milenial, tinggi, cantik, dan manis, pada suatu sore mengatakan begini. "Aku ini galak, Mas. Tetapi di rumah, ibu dan kakakku lebih galak lagi. Aku yang galak ini aja kalah, Mas." Saya tertawa terbahak, kemudian saya jadi teringat cerita teman saya yang pramugari itu.

Kedua cerita ini yang menjadi pencetus kepala saya bertanya seperti biasa. Mengapa ada manusia bisa menjadi begitu baiknya, sabarnya, tetapi ada yang bisa menjadi begitu menakutkan bagi sesamanya? Pada hari Minggu ini, saya akan memilih untuk bertanya-tanya soal manusia yang bisa menakutkan ketimbang memilih yang baik seperti malaikat.

Malnutrisi

Saya duduk di sebuah warung es yang menghadap kali kecil dengan pohon petai cina yang sudah bongkok tak kuasa menahan terpaan angin setiap hari. Hari itu, tak seperti biasanya, daun dan batangnya sampai menyentuh air kali. Ia seperti sedang menghadapi ajalnya. Langit di atas gelap gulita, tanda hujan sebentar lagi akan turun.

Egois

Warung es di tepi kali itu sudah sejak lama berdiri. Mungkin separuh umur saya. Siang itu ada empat orang sedang bercakap-cakap. Tiga orang pemilik warung dan seorang teman dekat mereka yang sedang berkunjung. Sedang saya dan seorang teman menjadi pembelinya, menyeruput setiap sendok es berwarna merah muda itu dengan lahap.

Tak lama setelah saya duduk, tamu pemilik warung pamit untuk pulang. "Mesti jemput anakku," katanya. Baru saja wanita tua itu meninggalkan tempat, dan hilang di belokan, salah satu pemilik warung mulai bercerita tentang wanita tua itu. Saya sebagai pembeli yang memiliki kuping seperti penyadap menyimak dengan baik sambil menyeruput es yang nyaris kandas.

Dalam hati saya tertawa geli. Saya itu punya kebiasaan yang sama, kalau teman atau klien atau siapa saja baru meninggalkan tempat pertemuan, saya bisa langsung membicarakan mereka. Ya kebaikannya, tanpa melupakan keburukannya yang lebih mak nyus untuk menjadi bahan obrolan.

Macet

Saya berada di dalam taksi di atas jembatan Semanggi. Dari atas jembatan itu, saya bisa melihat jalan di depan saya macetnya setengah mati. Tak ada jalan untuk memutar sehingga mau tak mau taksi yang saya kendarai harus masuk ke dalam kemacetan itu. Saya kesal dan membayangkan bahwa saya akan berlama-lama di dalam kemacetan itu.

Singkat cerita, apa yang saya lihat di atas jembatan dan yang telah berhasil membuat saya kesal, bahkan sebelum masuk ke dalam kemacetan itu, ternyata sama sekali tak seperti apa yang saya bayangkan.

Taksi yang saya kendarai memang tak bisa berjalan lancar, tetapi kemacetan itu ternyata tak sampai membuat saya kesal. Dan dalam waktu yang tak terlalu lama saya terbebas dari kemacetan itu.

Tergesa-gesa

Jadi, apa yang saya lihat dari atas jembatan itu, yang awalnya tampak mengesalkan, ternyata tak terbukti demikian. Saya pun malu sendiri karena sudah begitu tergesa-gesa mengambil kesimpulan bahwa kalau suatu hari diawali dengan sebuah peristiwa yang mengesalkan, kekesalan akan terjadi sepanjang hari.

Lidah

 ”Cuaca selama penerbangan sangat baik. Jarak pandang 8 kilometer.” Demikian pengumuman yang diberikan pilot yang menerbangkan saya dari kota Singa ke ibu kota tercinta ini. Sebagai orang yang keder terbang, kalimat cuaca sangat baik itu bak sebuah harapan yang menenangkan batin.

Otak

Sejujurnya lebih menenangkan daripada doa yang selalu saya panjatkan sebelum terbang. Karena kalau berdoa itu tak ada reaksi duniawinya, tetapi harus ditanggapi dengan reaksi iman. Nah, kalau seandainya iman itu ada indikator nilai normalnya seperti pada hasil pemeriksaan laboratorium, maka nilai iman saya itu di bawah normal.

Makanya, saya ini lebih percaya kalau ada suara duniawinya sehingga saya jadi yakin karena bisa dimengerti oleh otak. Pendengaran duniawi itu seperti jaminan kehidupan. Rasanya seperti ada sesuatu yang bisa dipegang.

Apa yang seketika terlintas di kepala seandainya Anda mendengar kalimat cuaca sangat baik? Kalau saya, sangat baik itu berarti tak ada yang akan mengganggu selama perjalanan, bahkan hal sekecil apa pun juga.

Kalau dimisalkan ujian, hasil yang sangat baik itu mencerminkan nilai yang sudah pasti tidak ada merahnya. Kalaupun angkanya berwarna biru, saya pastikan yang biru itu tidak ada angka enam atau tujuhnya. Jadi luar biasa.

Lapang dada

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam untuk rapat bersama salah satu klien, saya kembali ke kantor. Dalam perjalanan menuju ke tempat antrean taksi, klien saya bertanya. ”Mas, udah punya pacar?” Saya tentu menjawab tidak, karena kenyataannya memang demikianlah adanya. ”Mungkin, Mas terlalu milih,” balasnya lagi.

”Let go”

Percakapan itu berhenti ketika giliran taksi saya datang. Sebelum saya masuk ke dalam taksi, klien saya yang cantik jelita itu memberi nasihat. ”Mungkin Mas harus let go apa pun yang pernah dialami. Hati itu kalau sudah bisa bersih, yang baru datangnya juga akan cepat.”

Satu hari sebelum saya mengirim naskah ini, saya memeriksakan kesehatan di sebuah rumah sakit. Seorang suster mengantar saya ke sebuah ruang di mana ia memeriksa tekanan darah dan berat badan saya. ”Ada keluhan apa ini, Mas.” Kemudian saya menjelaskan sedikit tentang keluhan yang saya alami.

Percakapan itu kemudian berlanjut dengan sesi curhat saya kepada suster yang ramah dan seorang pendengar yang baik. Setelah curhat yang singkat soal mengapa saya ini kok yang selalu ketiban sial kena sakit ini dan sakit itu, ia menutup sesi curhat itu dengan memberi nasihat persis seperti klien saya di atas. ”Mas harus bisa lapang dada. Semua perasaan soal hidup yang rasanya enggak adil buat Mas, kalau bisa secepatnya dilepaskan.”

Lama dan Baru

Apakah Anda orang yang berbeda sebelum dan selama pandemi ini berlangsung?

Tahun ini saya telah berusia 58 tahun. Sepanjang tahun-tahun itu saya berpikir kalau saya ini tahu benar siapa saya yang sesungguh-sungguhnya. Bukan  sekadar saya tahu saya bukan anak haram bapak saya, bukan juga hanya sekadar mengetahui kalau saya lahir di bawah rasi bintang Capricorn yang superpesimistis, atau bukan juga sekadar tahu kalau saya ini jauh dari jago dalam urusan angka.

Manusia lama

Sebelum pandemi terjadi, saya adalah orang yang melihat hidup dengan kepesimisan yang sangat. Saya mencoba untuk positif dengan mendengar orang bercerita tentang pengalaman hidupnya dan membaca sejuta pesan yang menyemangati yang datangnya seperti air bah.

Setiap hari, setiap saat. Dalam bentuk kata-kata, kiriman video, unggahan foto di media sosial, dan apa saja yang bisa membuat jadi berpikir bahwa hidup ini meski tak adil sangat pendek untuk dipesimiskan.

Pesan itu tidak saja berupa pesan yang universal, tetapi juga yang spiritual. Air bah itu bahkan sampai masa pandemi ini tetap berlangsung, bahkan melebihi sebelumnya. Sampai saya yang awalnya sangat tertarik membaca dan mendapatkan efek semangatnya, sekarang malah jadi enek. Benarlah kalau segala sesuatu yang berlebihan itu tidak ada baiknya.

KZL

Kzl itu singkatan dari kata kesal. Di kalangan pergaulan saya sekarang, mereka menuliskan dengan singkatan kzl atau dengan tagar kzl atau menulisnya kezel. Nah, hari Minggu yang lalu saya menerima curahan kekesalan teman lama di masa sekolah dasar dulu, kalau gol pekerjaan dan hidupnya susah sekali tercapai.

Gol

Saya pernah membaca, kalau tidak salah, entah itu di mana, bahwa ada pernyataan yang mengatakan begini. Kalau mengatur gol itu jangan kerendahan karena nanti kita akan merasa puas, padahal kemampuan kita lebih dari itu. Bahkan kita jadi tidak tahu kalau memiliki kemampuan yang lebih.

Tetapi di sisi lain, katanya, kita juga sangat tidak benar memasang gol terlalu tinggi. Nanti kalau ketinggian, kita menjadi frustrasi dan kalau sudah begitu susah untuk meraih apa yang sudah dicita-citakan. Dan akan melahirkan perasaan bahwa saya ini kok tidak pandai dan tidak berhasil seperti teman-teman saya.

Maka, datangnya pesan berupa kekezelan teman lama itu seperti flashback mengingat berjuta kekezelan saya atas gol yang tidak tercapai di masa lalu. Tetapi hari ini saya mau membagi cerita mengapa beberapa keinginan yang saya ingin capai sekarang benar-benar dapat tercapai.

Pertama, saya terlalu percaya dengan ucapan yang pernah saya baca itu. Mengatur gol yang rendah itu ternyata buat saya malah mendatangkan rasa percaya diri. Artinya, saya bisa mencapai gol yang rendah itu, kemudian keberhasilan pencapaian itu membakar semangat untuk menaikkan target keinginan.

Kutu Loncat

 Di sebuah meja panjang, saya berkumpul bersama-sama dengan beberapa tim kerja membahas soal satu klien yang mencabut pemasangan iklannya yang sudah disetujui dan klien lain yang sama sekali tidak membalas pesan yang saya kirimkan, padahal saya ini hanya mau minta waktu untuk berjumpa.

"Legowo" KW1

Masih di sekitar meja panjang itu, di dalam hati saya berkata, ahh, ya, enggak masalah. Siapa pun dapat membatalkan rencana pemasangan iklannya dan tak menjawab pesan. Kan, sudah ada dua klien lain yang memasang iklan, bahkan melebihi nilai pembatalan klien yang satu itu.

Dan, kalau mereka tak menjawab pesan yang saya kirimkan, mungkin mereka sedang sibuk meski sudah terbaca dan saking sibuknya lupa untuk membalasnya. Bisa jadi juga mereka tak membalasnya karena tahu dengan pasti kalau tujuan saya untuk berjumpa tak lain dari "menodong" mereka agar bisa membagi dananya untuk pemasangan iklan.

Setelah mencari pembenaran yang terjadi di dalam hati itu, kekesalan gara-gara dua kejadian itu lumayan berangsur hilang. Tetapi, beberapa hari kemudian, ketika salah seorang tim kerja menyinggung dua masalah di atas, saya mulai naik pitam lagi. Mulai kesal lagi. Jadi, perasaan jengkel yang beberapa hari lalu hilang sekarang muncul lagi.

Kejadian itu persis sama seperti ketika saya harus memutuskan hubungan asmara dengan seorang pemberi harapan palsu. Pada saat harus memutuskan, saya berkata, yaah, namanya juga belum jodoh, saya harus legowo untuk berhenti meletakkan harapan kepadanya.