Seorang laki-laki tampan, berkulit hitam manis duduk bersebelahan dengan teman saya seorang wanita. Laki-laki tak saya kenal sebelumnya, saya baru berkenalan pada malam itu pada acara makan-makan yang dihadiri sekitar 12 manusia yang penuh gelak tawa dari cerita-cerita konyol yang tak ingin saya akhiri.
TTM
Kumpul-kumpul semacam itu acap kali menjadi pelipur
lara dan pelepas ketegangan dari hidup yang naik-turun, dari hidup yang kadang
saya sesali. Kami bercerita aneka topik, dari dollar yang ogah turun sampai
teman kami, wanita yang duduk bersebelahan dengan laki-laki tampan itu yang
ogah memutuskan perselingkuhannya.
Ada apa gerangan dengan teman wanita kami itu? Ia
jatuh cinta dengan pria tampan yang duduk bersebelahan dengannya. Jatuh
cintanya tak masalah, tetapi yang dijatuhcintai sudah memiliki pasangan.
Keduanya sudah menjalani hubungan teman tapi mesra itu bertahun lamanya. Sampai
acara makan malam itu terjadi, status TTM-nya masih berlaku.
Tiga tahun yang lalu seseorang datang dalam hidup
saya, tetapi setelah menjalani hubungan itu, saya ketahui bahwa ia sudah
menjalani hubungan asmara dengan seseorang selama 10 tahun. Saya merasa
dikacangi dan kemudian saya memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi.
Saya tidak kuat menjalani hubungan asmara seperti teman saya di atas. Ternyata jatuh cinta itu gampang sekali, semudah membalikkan tangan. Yang berat itu kalau bertemu dengan seseorang di jalan yang tidak lurus tetapi berkelok. Mungkin itu berat buat saya dan tidak berat buat orang lain.
Dari pengalaman itu, saya menyimpulkan, jatuh cinta
dan memelihara hubungan cinta itu membutuhkan kekuatan. Kekuatan ini diperlukan
untuk menghadapi cinta yang datang di jalan berkelok. Karena cinta itu
datangnya tak pernah memberi tahu, tak tahu kapan waktunya, dan TKP-nya, apakah
di jalan lurus atau yang berliku.
”Return” tinggi
Cinta itu juga tak memberi tahu kepada siapa kita
jatuh cinta. Saya pikir saya suka sama A, bisa jadi berakhir dengan D. Cinta
itu bisa melambungkan sehingga manusianya menjadi buta dan tak bisa berpikir
jernih, tetapi di lain keadaan, cinta bisa meluluhlantakkan dan membuat
seseorang bisa berpikir jernih sejenak dan menjadi buta lagi.
Beberapa bulan lalu, saya menghadiri acara
pernikahan seorang teman yang hubungan asmaranya diawali di jalan yang berkelok
dan berakhir di pelaminan. Waktu saya menghadiri acara pemberkatan pernikahan
itu, perasaan saya bercampur aduk.
Duduk di dalam gereja mencoba menyimak jalannya
upacara, tetapi selalu gagal saja. Berjuta-juta pertanyaan menghampiri. Apakah
saya harus berjuang dan tidak menyerah memperjuangkan cinta di jalan yang berkelok
seperti teman saya itu?
Sejujurnya saat upacara itu berlangsung, saya
seperti mendapat kekuatan untuk kembali memperjuangkan cinta di jalan berkelok
itu dan berharap saya beruntung bisa seperti teman saya mengatakan ”I do”
kepada yang saya cintai.
Tetapi, kemudian, pertanyaan baru muncul lagi.
Apakah perjuangan di jalan berkelok itu bisa dibenarkan meski bisa jadi itu
tidak sia-sia seperti teman saya yang perjuangannya berakhir di pelaminan?
Apakah yang berkelok itu selalu sama dengan tidak benar? Karena selama ini,
saya dicekoki bahwa perselingkuhan itu tidak benar adanya.
Siang hari di dalam rumah ibadah itu, saya bergumul
dengan pemikiran saya sendiri. Saya tak bermaksud mengaminkan perselingkuhan,
saya pun bukan seorang hakim dengan palu di tangan kanannya. Saya manusia yang
bingung. Benar-benar bingung melihat perjalanan hidup dan asmara yang penuh
kejutan.
Selain teman wanita saya yang menjalani hubungan
TTM, seorang teman pria saya juga sedang menjalankan hubungan itu. Ketika saya
tanya mengapa ia melakukan ini, ia menjawab bahwa ia tidak pacaran, hanya teman
semata. Saya cecar dengan pertanyaan, bagaimana seorang teman semata bisa
mengirimkan pesan-pesan yang seperti orang pacaran? Ia diam saja, wajahnya saja
yang memerah dan kelihatan kesal.
Soal cinta, saya pernah diberi tahu agar memiliki
pemikiran yang jernih meski susah karena ketika jatuh cinta, semua itu seperti
tidak nyata. Pemikiran yang jernih itu dipakai untuk melawan risiko menjadi buta
karena cinta, katanya begitu.
Pemikiran jernih di tengah cinta yang memiliki efek
membutakan itu akan memampukan saya melihat apakah hubungan yang sedang
dijalani itu merupakan investasi yang memberi return yang tinggi dalam jangka
panjang untuk dua manusia, dan bukan yang sejenak saja. Katanya begitu. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar