Sabtu, 28 Juni 2025

Investasi

Seorang laki-laki tampan, berkulit hitam manis duduk bersebelahan dengan teman saya seorang wanita. Laki-laki tak saya kenal sebelumnya, saya baru berkenalan pada malam itu pada acara makan-makan yang dihadiri sekitar 12 manusia yang penuh gelak tawa dari cerita-cerita konyol yang tak ingin saya akhiri.

TTM

Kumpul-kumpul semacam itu acap kali menjadi pelipur lara dan pelepas ketegangan dari hidup yang naik-turun, dari hidup yang kadang saya sesali. Kami bercerita aneka topik, dari dollar yang ogah turun sampai teman kami, wanita yang duduk bersebelahan dengan laki-laki tampan itu yang ogah memutuskan perselingkuhannya.

Ada apa gerangan dengan teman wanita kami itu? Ia jatuh cinta dengan pria tampan yang duduk bersebelahan dengannya. Jatuh cintanya tak masalah, tetapi yang dijatuhcintai sudah memiliki pasangan. Keduanya sudah menjalani hubungan teman tapi mesra itu bertahun lamanya. Sampai acara makan malam itu terjadi, status TTM-nya masih berlaku.

Tiga tahun yang lalu seseorang datang dalam hidup saya, tetapi setelah menjalani hubungan itu, saya ketahui bahwa ia sudah menjalani hubungan asmara dengan seseorang selama 10 tahun. Saya merasa dikacangi dan kemudian saya memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi.

Saya tidak kuat menjalani hubungan asmara seperti teman saya di atas. Ternyata jatuh cinta itu gampang sekali, semudah membalikkan tangan. Yang berat itu kalau bertemu dengan seseorang di jalan yang tidak lurus tetapi berkelok. Mungkin itu berat buat saya dan tidak berat buat orang lain.

Dari pengalaman itu, saya menyimpulkan, jatuh cinta dan memelihara hubungan cinta itu membutuhkan kekuatan. Kekuatan ini diperlukan untuk menghadapi cinta yang datang di jalan berkelok. Karena cinta itu datangnya tak pernah memberi tahu, tak tahu kapan waktunya, dan TKP-nya, apakah di jalan lurus atau yang berliku.

”Return” tinggi

Cinta itu juga tak memberi tahu kepada siapa kita jatuh cinta. Saya pikir saya suka sama A, bisa jadi berakhir dengan D. Cinta itu bisa melambungkan sehingga manusianya menjadi buta dan tak bisa berpikir jernih, tetapi di lain keadaan, cinta bisa meluluhlantakkan dan membuat seseorang bisa berpikir jernih sejenak dan menjadi buta lagi.

Beberapa bulan lalu, saya menghadiri acara pernikahan seorang teman yang hubungan asmaranya diawali di jalan yang berkelok dan berakhir di pelaminan. Waktu saya menghadiri acara pemberkatan pernikahan itu, perasaan saya bercampur aduk.

Duduk di dalam gereja mencoba menyimak jalannya upacara, tetapi selalu gagal saja. Berjuta-juta pertanyaan menghampiri. Apakah saya harus berjuang dan tidak menyerah memperjuangkan cinta di jalan yang berkelok seperti teman saya itu?

Sejujurnya saat upacara itu berlangsung, saya seperti mendapat kekuatan untuk kembali memperjuangkan cinta di jalan berkelok itu dan berharap saya beruntung bisa seperti teman saya mengatakan ”I do” kepada yang saya cintai.

Tetapi, kemudian, pertanyaan baru muncul lagi. Apakah perjuangan di jalan berkelok itu bisa dibenarkan meski bisa jadi itu tidak sia-sia seperti teman saya yang perjuangannya berakhir di pelaminan? Apakah yang berkelok itu selalu sama dengan tidak benar? Karena selama ini, saya dicekoki bahwa perselingkuhan itu tidak benar adanya.

Siang hari di dalam rumah ibadah itu, saya bergumul dengan pemikiran saya sendiri. Saya tak bermaksud mengaminkan perselingkuhan, saya pun bukan seorang hakim dengan palu di tangan kanannya. Saya manusia yang bingung. Benar-benar bingung melihat perjalanan hidup dan asmara yang penuh kejutan.

Selain teman wanita saya yang menjalani hubungan TTM, seorang teman pria saya juga sedang menjalankan hubungan itu. Ketika saya tanya mengapa ia melakukan ini, ia menjawab bahwa ia tidak pacaran, hanya teman semata. Saya cecar dengan pertanyaan, bagaimana seorang teman semata bisa mengirimkan pesan-pesan yang seperti orang pacaran? Ia diam saja, wajahnya saja yang memerah dan kelihatan kesal.

Soal cinta, saya pernah diberi tahu agar memiliki pemikiran yang jernih meski susah karena ketika jatuh cinta, semua itu seperti tidak nyata. Pemikiran yang jernih itu dipakai untuk melawan risiko menjadi buta karena cinta, katanya begitu.

Pemikiran jernih di tengah cinta yang memiliki efek membutakan itu akan memampukan saya melihat apakah hubungan yang sedang dijalani itu merupakan investasi yang memberi return yang tinggi dalam jangka panjang untuk dua manusia, dan bukan yang sejenak saja. Katanya begitu. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar