Senin, 10 Juni 2024

Toxic Posivity

Sesuatu hal yang dilakukan dengan niat dan aktivitas yang positif, hasilnya pasti akan positif juga. Tidak hanya hasil yang akan dicapai berguna, tetapi memberikan dampak yang baik juga bagi pemberi dan penerima.

Apakah sesuatu yang positif bisa begitu toksiknya? Rupanya bisa. Awalnya saya tak percaya. Tetapi untuk merasakan toksik yang dilahirkan dari kepositivan, Anda harus membutuhkan kesabaran dan kepekaan. Sebab pada awalnya, semua akan terasa baik-baik saja.

Positif

Apa saja yang termasuk hal-hal positif? Saya percaya Anda pasti sudah tahu. Mudah sekali, bukan? Tak membutuhkan IQ dan pendidikan yang tinggi untuk mengambil contoh atau kejadian yang positif. Menolong sesama manusia dan alam dalam berbagai bentuk, misalnya. Atau memberi waktu untuk mendengar dan juga memberikan jalan keluar jika diperlukan, atau diam saja menjadi pendengar yang baik, karena manusia acapkali hanya ingin didengar dan mereka sejujurnya sudah tahu solusinya.

Ternama

Seandainya saya ternama, saya bisa merayu mereka bukan hanya untuk berbelanja, tetapi membuat banyak orang naik kelas.

Saya dan Becky Tumewu mempunyai dua acara bincang-bincang setiap hari Minggu dan Selasa malam. Saya mau menceritakan bagaimana pengalaman saya melihat reaksi peserta yang hadir saat melihat kami berdua. Yang satu sosok ternama, yang satu lagi sosok terlama. Terlama tak ternama.

Tersinggung

Kedua acara tetap itu sudah berlangsung lebih dari setengah tahun. Pada hari Minggu, acara bincang-bincangnya mengenai semua hal. Pokoknya ngalor ngidul. Nama acaranya saja Obrolan Sebelum Tidur disingkat O.S.T. Jadi, yang dibicarakan dari topik yang karu-karuan sampai yang bikin kuping merah. Acara ini selalu diberikan peringatan hanya untuk 17 tahun ke atas.

Tenang

Demikian kata pendeta pada khotbah daring hari Minggu yang lalu. Saya yang mendengar sambil tiduran langsung bangkit sambil mengumpat dalam hati. Tenang?

Demikian kata pendeta pada khotbah daring hari Minggu yang lalu. Saya yang mendengar sambil tiduran langsung bangkit sambil mengumpat dalam hati. Tenang?

Bagaimana saya bisa tenang? Usaha saya sedang mengalami kesusahan. Saya sudah tak ada pemasukan selama tiga bulan karena semua kontrak tak bisa dieksekusi. Saya sudah memotong gaji karyawan sebesar 50 persen agar bisa bertahan. Dari semua itu, saya tak tahu kapan pandemi ini akan berakhir.

Menerima

Karena saya tak tahu, saya sudah berpikir untuk menyudahi usaha saya ini. Beberapa hari setelah itu saya membuat sebuah sesi berbagi secara daring. Dalam sesi berbagi itu, seorang peserta menanyakan kepada saya mengapa susah sekali bagi dirinya untuk menerima kenyataan.

Teman

Teman spiritual hidup dengan sederhana, tidak mentereng, sangat menginjak bumi sehingga dekat dengan mereka itu saya akan jauh lebih tenang dan tak perlu harus sehati-hati seperti terhadap teman duniawi.

Beberapa waktu lalu saya melakukan evaluasi terhadap pertemanan saya selama tahun-tahun ini, dan saya mengakhiri evaluasi itu dengan mengategorikan pertemanan itu. Yang Pertama adalah teman duniawi dan yang kedua adalah teman spiritual. Begini ceritanya.

Teman duniawi

Saya yakin ketika Anda membaca kalimat teman duniawi, Anda akan berpikir bahwa ini adalah sebuah kategori pertemanan yang sangat dangkal. Anda benar sebenar-benarnya. Kategori ini adalah teman yang hanya numpang lewat. Yang saya sapa dan yang disapa oleh mereka hanya kalau ulang tahun, atau merayakan hari raya.

Sudut Pandang

Bukankah perbedaan pendapat, atau cara pandang, atau tafsir menjadi sebuah hal yang menarik dan bukan sebuah ancaman yang membuat orang lain terpojok karena merasa pendapat, tafsiran, atau cara pandangnya tidak benar.

Kalau Anda melihat gambar pemandangan seperti saat Anda masih duduk di sekolah dasar, apa yang Anda lihat? Apa pendapat Anda saat melihat gambar semacam itu?

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan beberapa teman. Kami berbicara segala macam topik. Dari yang serius, setengah serius, bahkan yang asal-asalan. Dalam setiap topik yang kami bicarakan, ada saja yang tidak menyetujui dan ada yang menyetujui.

Bahkan ada yang diam seribu bahasa karena tak tahu persoalan yang dibicarakan dan ada yang ogah-ogahan karena topik yang dibahas tak menarik hatinya. Salah satu yang kami bahas adalah gambar pemandangan di masa sekolah dasar itu.

Siapa yang Nyuruh

Mengapa otak saya tak menyarankan saya bekerja untuk menikmati hidup, mengapa yang diajukan itu kekhawatirannya, bukan kegembiraan di balik bekerja? Sehingga bekerja tidak membuat saya terbeban karena punya tanggungan.

Satu hari saya bercakap-cakap secara virtual dengan teman saya yang sepertinya seumuran. Saya mengatakan seumuran hanya asumsi semata. Seorang laki-laki yang pandai, yang pengetahuannya luar biasa, dan mengingatkan saya selalu kepada ayah saya.

Seorang suami dengan satu istri dan satu putri. Obrolan kami seperti biasa, ke mana-mana. Sampai saat ia berkomentar mengenai satu unggahan saya. Begini ia berkomentar, ”Makin panjang hidup, makin panjang sengsaranya.”

Lelah

Seperti biasa, saya tak betah untuk tak berkomentar. Tentu sekarang jauh lebih tidak emosian. Lebih kalemlah, orang bilang. ”Ayooo, kamu gak boleh pesimistis,” demikian komentar saya. Kemudian percakapan menjadi cukup panjang. Ia mengatakan, hidup harus berjuang. Saya menimpali, siapa yang menyuruh harus berjuang. Kemudian ia menimpali, ”Berjuang itu harus bekerja, mosok cuma ketawa saja, lagian dirimu gak ada buntut tanggungannya.”

Sendiri

Saya telah banyak mendengar bagaimana seseorang bisa menjadi begitu kesepian, merasa sendiri, dan merasa tak ada orang yang memedulikan mereka.

Saya telah banyak mendengar bagaimana seseorang bisa menjadi begitu kesepian, merasa sendiri, dan merasa tak ada orang yang memedulikan mereka. Cerita saya di bawah ini membuat saya menyimpulkan bahwa tak ada seorang pun yang boleh berpikir demikian.

Perhatian

Sejak Tahun Baru, saya bolak-balik ke rumah sakit. Memeriksakan kesehatan ke beberapa dokter spesialis. Di luar rumah sakit, saya juga masih mendatangi beberapa dokter yang memiliki klinik sendiri. Kalau biasanya saya hanya memeriksakan keadaan ginjal, sekarang ditambah memeriksa liver, paru-paru, dan air dalam rongga perut.

Reuni

Di dalam taksi saya tak bisa membayangkan tangan siapa yang saya genggam saat ajal mengetuk di pintu hidup saya.

Belum lama, kira-kira satu minggu yang lalu saya berkumpul dengan tiga teman saya yang sudah lama sekali tak bertemu. Tiga teman yang saya kenal puluhan tahun yang lalu di saat usia kami masih muda dan sampai sekarang saat kaki kami satu sudah seperti masuk kuburan.

Kematian

Dengan bekerja di rumah selama pandemi ini, saya dapat memiliki banyak waktu untuk melihat kembali pada daftar nama-nama teman lama yang sudah lama tak kedengaran beritanya. Maka pada suatu Minggu sore kami bertemu di rumah salah satu teman kami yang sekarang juga menjabat sebagai bendahara RT di daerah tinggalnya.

Rahasia

Apakah perbuatan yang Anda lakukan di akun media sosial Anda agar orang lain bisa naik kelas?  Pintu kesempatan apakah yang Anda buka untuk orang lain? Ataukah Anda masih belum mau membukakan pintu itu?

Saya tengah menyaksikan tayangan di televisi mengenai seorang juru masak yang tengah ditanyai rahasia masakannya yang enak. Sambil tersenyum ia berkata, ”Itu rahasia.”

Membuka pintu

Pada hari Minggu ini, saya ingin bertanya kepada Anda. Seandainya Anda adalah juru masak yang saya ceritakan di atas, apakah Anda akan memberi jawaban yang sama atau malah Anda tak segan-segan akan membeberkan tip dan cara membuat masakan yang tampaknya lezat itu?

Penghormatan

Pernahkah Anda menghormati diri Anda sendiri? Kalau jawaban Anda untuk pertanyaan itu adalah pernah, apa bentuk penghormatan itu?

Saya percaya bahwa dalam hidup Anda, Anda tahu arti penghormatan dan melakukannya. Penghormatan pada sang saka merah putih, dari sejak zaman sekolah dulu, misalnya. Penghormatan terhadap orang tua, perkawinan, terhadap atasan, bawahan, dan sebagainya.

Akan tetapi, pernahkah Anda menghormati diri Anda sendiri?

Kalau jawaban Anda untuk pertanyaan itu adalah pernah, apa bentuk penghormatan itu? Apakah bentuknya menjaga kesehatan, baik menjaga asupan makanan, berolahraga, dan memeriksa kesehatan secara rutin ke dokter? Apakah berhenti melakukan perusakan terhadap diri sendiri dalam berbagai bentuknya?

Pendengar

Ada waktunya seseorang menjadi pendengar dan ada waktunya untuk berbicara. Kalau tidak demikian, sebaiknya seseorang bercakap-cakap saja dengan tembok.

Kira-kira dua minggu belakangan ini, saya telah dijadikan sebagai pendengar yang ”baik” oleh beberapa orang. Awalnya, saya tak merasa demikian. Namun, setelah beberapa kali kejadian, termasuk saat saya sedang bercakap-cakap secara daring, pemikiran dipaksa menjadi pendengar itu muncul. Percakapan yang harusnya terjadi di antara dua manusia berakhir dengan saya lebih banyak mendengar daripada sama-sama aktif.

Tembok

Kejadiannya memuncak sampai pada suatu hari bersantap siang bersama seorang teman yang sudah cukup lama tak bertemu. Setelah acara makan siang yang membosankan itu selesai, saya benar-benar merasa kesal setengah mati mengapa saya seperti orang yang tak berdaya dijadikan pendengar.

Pembelajaran

Sayalah orang yang bisa memberi makna sehingga saya kuat, saya tangguh, saya menjadi lebih bijak. Pembelajarannya adalah makna hidup itu kekuatan dan saya sejatinya tidak berkonsentrasi pada penderitaan.

Saya merasa bahwa tahun 2021 berjalan dengan sangat cepat. Tentu itu perasaan saya saja. Saya tak tahu perasaan Anda. Karena seharusnya perjalanan setiap tahun sama saja lama dan panjangnya. Meski ada guyonan yang saya dengar, tahun ini setelah Januari kemudian Februari selanjutnya Desember.

Masalah

Sesuai dengan judul di atas, tentu Anda telah bisa menebak bahwa saya akan mengajukan pertanyaan kepada Anda sekalian, pembelajaran apa yang didapat selama tahun 2021 ini. Tidak. Tidak sama sekali. Saya tak berencana menanyakan itu kepada Anda sekalian, pembaca. Saya yang mau bercerita pembelajaran apa saja yang saya dapati pada tahun yang terasa cepat itu jalannya. Semoga Anda tak membalikkan halaman koran ini secepatnya.

Baik. Saya mulai dari bulan Januari. Jangan kaget dulu, saudara-saudari. Saya tak akan bercerita bertele-tele karena jatah saya menulis dalam satu kali artikel ini hanya 5.000 karakter. Itu terlalu sedikit untuk urusan 12 bulan yang mau diringkas.

Menyesal

Apakah menurut Anda lebih baik terlihat munafik daripada terlihat tidak bersyukur?

Kalau Anda membaca judul di atas, apakah dalam pemikiran Anda, Anda berniat menguliahi saya untuk tidak boleh berkata begitu? Apakah judul di atas haram disampaikan oleh mulut manusia karena seperti orang tidak bersyukur?

Mending muna (munafik) atau mending tidak bersyukur? Apakah bersyukur itu harus tetap dilakukan meski jauh di dalam hati, kita memiliki penyesalan yang sangat atas apa yang telah kita lakukan, atau keadaan yang terjadi yang bukan kesalahan kita?

Apakah judul di atas membuat Anda mengambil kesimpulan bahwa menyesal atau penyesalan itu adalah salah seseorang? Mengapa mereka tidak berhati-hati dari sejak awal sehingga sekarang mereka menyesal?

Menjadi Teman

Apakah sejatinya tujuan Anda menjadi seorang teman buat banyak atau beberapa orang? Apakah seperti cerita Melati dan Mawar yang menyediakan waktu dan keberadaannya untuk menolong sesamanya?

Kalau saya mengajukan pertanyaan, apakah sejatinya tujuan Anda menjadi seorang teman bagi banyak atau beberapa orang? Mungkin sebelum menjawab, Anda bisa membaca pengalaman saya beberapa minggu terakhir ini.

Melati dan Mawar

Sebut saja yang satu Melati dan yang lainnya Mawar. Keduanya sama-sama wanita. Hanya, yang satu telah menikah dengan satu putra dan yang satu lagi masih sendiri dan tampaknya sedang dalam tahap pendekatan dengan seseorang. Keduanya memberi pengalaman yang sama, hanya berbeda dalam jalan cerita.

Pengalaman Melati dan Mawar inilah yang akan saya bagikan dan semoga dengan cerita mereka, pertanyaan saya sebagai pembuka tulisan di Minggu ini bisa membantu Anda untuk lebih cepat mendapat jawabannya.

Menghargai

Saya merasakan satu hal yang disodorkan pandemi ini, yakni membayar harga atas apa yang tak saya hargai selama ini.

Saya membaca beberapa komentar dari teman-teman saya di akun media sosial mereka, mengenai kesan mereka akan tahun 2020. Hampir sebagian besar mengatakan bahwa tahun lalu itu merupakan tahun pembelajaran untuk lebih menghargai apa yang mereka punyai.

”Take it for granted”

Setelah membaca komentar-komentar itu, saya bertanya dalam hati. Apakah selama ini mereka tak pernah bersyukur? Apakah selama tahun-tahun yang sudah mereka lalui mereka tak pernah belajar menghargai apa yang mereka punyai?

Kemudian suara nurani yang sudah lama sekali tertidur mulai bernyanyi. ”Gak usah sarkas gitu. Coba tanya saja sama diri elo sendiri, apa elo itu menghargai apa yang elo punya?”

Mengajak Berdo(s)a

Apakah Anda sering mengajak orang melakukan ketidakbenaran yang sesungguhnya Anda sudah tahu bahwa ajakan Anda itu menjerat orang lain?

Hari baru saja menunjukkan pukul 11.57 ketika saya tiba di sebuah warung makan di sebuah mal di bilangan Jakarta Pusat. Pukul 11.57 itu mungkin buat beberapa orang masih terlalu ”pagi” untuk makan siang. Namun, perut saya tak bisa diajak kompromi dan terus bernyanyi tanda ia perlu dibungkam.

Ahlinya

Setelah memesan lontong sayur, teh hangat, dan bubur kacang hijau, saya kembali tenggelam dalam telepon genggam sambil menanti datangnya pesanan itu. Sama seperti orang kebanyakan, tenggelam dalam aktivitas menggunakan telepon genggam sudah seperti orang sakau.

Mengabdi

Membiarkan segala sesuatu terjadi tanpa pengendalian. Membiarkan itu, tidak berusaha melakukan apa-apa, termasuk perlawanan. Perlawanan lewat doa.

Pernahkah Anda mengalami musibah tiada henti? Kalaupun ada rehatnya, tak lama setelah itu musibah baru datang menghampiri. Saya yakin Anda pernah mengalami. Saya mau bercerita, saya punya cara pandang baru setelah musibah tiada henti menghajar saya.

Cangkok

Sudah lama Anda tahu dari cerita saya selama belasan tahun ini kalau saya pernah menjalani cangkok ginjal karena ginjal saya gagal berfungsi secara normal. Tak hanya fungsinya yang gagal, tetapi lokasi ginjalnya juga tak di tempat yang biasa.

Memilih

Saya telah memilih melihat dan mencari jalan keluar dari kesulitan. Hati yang bahagia adalah obat.

Masih ingatkah Anda dengan tulisan saya beberapa minggu lalu? Soal bagaimana saya memutuskan untuk melihat problem kesehatan dan kehidupan sebagai bentuk pengabdian saya kepada Tuhan. Nah, keputusan untuk mengabdi itu saya sebut sebuah tindakan memilih. Dan memilih adalah soal yang ingin saya ceritakan sekarang.

Mengutuk atau Bersukacita?

Beberapa waktu lalu, saya membaca akun media sosial seseorang yang adalah temannya dari teman saya. Ia menderita kanker. Di akunnya itu, ia menulis dengan sebuah tagar yang kasar sekali mengenai penyakitnya itu. Saya tak bisa menuliskannya di sini. Saya sudah yakin bahwa kalimat itu pasti akan dihapus. Pada prinsipnya, ia mengumpat dan mengutuki penyakitnya itu.

Setelah membaca itu, saya menelepon teman saya yang mengenal pria yang saat itu sedang terbaring di rumah sakit. Saya menjelaskan secara singkat soal memilih, dan saya katakan kepadanya untuk meneruskan cerita saya kepada temannya itu.

Melarikan Diri

Begini rasa tinggal di desa. Setiap orang yang berpapasan dengan kami selalu berwajah gembira dan memberi salam dengan kata ”monggo”. Bahkan, beberapa di antaranya berbincang singkat saat kami berpapasan dengan mereka.

Hari sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Kabut masih menyelimuti Dusun Golak, Bandungan, Jawa Tengah. Bubur rames yang tersaji di atas kerupuk opak sudah masuk ke dalam perut. Saya dan teman lama menikmati sarapan dan kemudian melakukan olahraga jalan kaki. Udara sangat sejuk, bahkan bisa dikatakan dingin, terutama buat saya, yang biasa tinggal di Jakarta yang panas terik seperti sedang berdiri di depan kompor menyala.

Penat jiwa raga

Setiap orang yang berpapasan dengan kami selalu berwajah gembira dan memberi salam dengan kata ”monggo”. Bahkan, beberapa di antaranya berbincang singkat saat kami berpapasan dengan mereka. Kami tak mengenal mereka sebelumnya, tetapi keramahan yang spontan yang jarang, bahkan mungkin hilang dari kehidupan sehari-hari di kota besar, membuat saya merasa benar-benar bertemu dengan sesama manusia yang menyapa dengan kemanusiaannya.

Maju tetapi Mundur

Apakah sebuah perusahaan memiliki kemampuan membawa misinya ke masa depan. Sebab ketika sebuah perusahaan ingin benar maju ke depan, ia tak bisa terus menerus berada di lingkungan masa lalunya.

Dua anak dari generasi milenial curhat kepada saya mengenai suasana kantornya yang dipenuhi atasan dari masa lampau, yang terlihat maju dengan gadget-nya, tetapi mundur dalam menginspirasi.

Maju

Kami menyantap makan malam sebelum keduanya bercerita panjang lebar. Saya mau menyarankan saja, kalau Anda atau teman Anda mau curhat apalagi memakan waktu yang panjang, sebaiknya perut perlu diisi.

Perut kalau kosong bawaannya emosi dan tak fokus. Kalau terisi terlalu banyak malah jadi mengantuk karena kekenyangan. Jadi harus benar-benar pas mengisinya. Pas itu sebuah situasi di mana seseorang tahu kapan waktunya untuk berhenti.

Lama dan Baru

Saya adalah manusia sarkastis terhadap sesama manusia dan cara pandang mereka, bahkan lebih sarkastis lagi kalau sudah berkumpul dalam membahas yang berkaitan dengan segala yang berbau spiritual.

Apakah Anda orang yang berbeda sebelum dan selama pandemi ini berlangsung?

Tahun ini saya telah berusia 58 tahun. Sepanjang tahun-tahun itu saya berpikir kalau saya ini tahu benar siapa saya yang sesungguh-sungguhnya. Bukan  sekadar saya tahu saya bukan anak haram bapak saya, bukan juga hanya sekadar mengetahui kalau saya lahir di bawah rasi bintang Capricorn yang superpesimistis, atau bukan juga sekadar tahu kalau saya ini jauh dari jago dalam urusan angka.

Manusia lama

Sebelum pandemi terjadi, saya adalah orang yang melihat hidup dengan kepesimisan yang sangat. Saya mencoba untuk positif dengan mendengar orang bercerita tentang pengalaman hidupnya dan membaca sejuta pesan yang menyemangati yang datangnya seperti air bah.

Kualitas Hidup

Tulisan ini diilhami oleh sebuah kelelahan karena hidup terlalu teratur dan diatur oleh kepala yang tak bisa berhenti berkicau.

Dari 8 ke 6

Kalau saya memberi nilai dari angka enam sampai sepuluh soal kualitas hidup saya,  angkanya hanya enam. Dulu, saya itu berpikir bahwa kualitas hidup saya itu di angka delapan. Namun, pagi hari ini, setelah saya kehilangan kunci apartemen, dan setelah dilakukan pergantian kunci, saya kemudian merasa perlu menurunkan angka delapan itu ke angka enam.

Saya ini tak tahu apakah saya ini masuk ke dalam kategori manusia dengan gangguan mental seperti OCD (obsessive compulsive disorder) atau tidak. Saya, sih, merasa tidak. Namun, teman-teman saya beberapa mengatakan demikian. Setelah saya pikir, yaa... pastinya saya tak merasa kalau saya demikian. Lha wong saya yang menjalaninya, saya merasa senang-senang saja melakukannya dan tidak merasa itu sebuah gangguan.

Kreatif

Kemudian saya harus mengakui pengalaman mengatakan bahwa ”out of the box” itu sepertinya kalau saya bisa membuat atau menawarkan sesuatu yang sama dengan pesaing mereka atau yang sekarang sedang digandrungi.

Saya punya acara bincang-bincang ringan bernama Obrolan Sebelum Tidur. Acara tanpa topik yang jelas. Mungkin bisa dikatakan topiknya ngalor ngidul. Yaa... persis seperti kalau kita mau tidur sekamar dengan teman di sebuah acara liburan, pasangan resmi atau tidak, pasti ada acara ngobrol-nya sebelum mata tertutup dan jatuh terlelap.

Edisi pernikahan

Di beberapa episode dalam acara itu, kami disponsori sebuah perusahaan di mana biasanya produknya akan kami bagikan sebagai hadiah di akhir acara. Untuk mendapatkan hadiah itu, saya dan rekan saya yang kondang itu akan mengajukan beberapa pertanyaan. Pertanyaan umumnya dua atau lebih. Satu dari pertanyaan itu sebisa mungkin yang berhubungan dengan produk yang telah mensponsori kami.

KB

Mengapa orangtua saya begitu pesimistisnya bahwa pendidikan resmi akan menjamin hidup saya lebih sejahtera ketimbang kalau saya hanya terdidik dengan pendidikan yang tidak resmi?

Keluarga Berencana. Itu adalah kepanjangan dari judul saya di atas. KB menurut versi saya adalah cerita di bawah ini.

Orangtua

Tepat satu minggu yang lalu, saya hadir pada acara ulang tahun sahabat saya. Ulang tahun ke-50. Dalam keadaan pandemi seperti ini, tentu jumlah undangan hanya terbatas. Protokol kesehatan tetap dilakukan. Saya mau bersalaman dan memeluk teman saya yang berbahagia pada malam itu, tetapi tak bisa saya lakukan.

Pada acara ulang tahun itu sangat terasa kehangatan yang kekeluargaan. Para undangan sudah saling mengenal. Beberapa di antaranya membawa anak-anak mereka yang beranjak dewasa. Nah, hari ini saya akan menceritakan apa yang saya saksikan dengan mata dan kepala sendiri, interaksi di jaman now antara orangtua dan anak. Atau orang yang sudah tua dan para manusia muda yang tengah beranjak menjadi dewasa ini.

Kawah Candradimuka

Surga tidak memiliki ”e-mail”. Ia membalas dengan kejadian demi kejadian di kawah kesengsaraan itu. Saya dibuat menjadi peka bahwa jawaban itu tak selalu di dalam bentuk tulisan atau secara verbal disampaikan.

Kalau mendengar nama kawah yang satu ini jujur terasa punya beban berat pakai banget. Yah... kawah ini memang ditujukan untuk menggembleng seseorang agar lebih segalanya. Lebih kuat, lebih sabar, lebih tidak mudah tersinggung, dan tidak memiliki telinga yang cepat panas hanya karena bisikan yang belum tentu benar, lebih rendah hati, lebih tangkas, tangkas menghadapi pergumulan diri sendiri, tangkas menghindari keinginan korupsi atau berselingkuh, dan tentunya lebih sabar dalam kesesakan karena sebuah keadaan yang mematahkan dan memorakpandakan semangat hidup.

Sakit setengah mati

Nah, kalau Anda perhatikan sudah beberapa terbitan koran, tulisan saya tidak tersedia. Saya sedang berada di dalam kawah yang satu ini. Itu mengapa saya mohon izin kepada para redaktur untuk sementara saya tak bisa mengisi kolom yang rutin setiap dua minggu sekali muncul di koran kondang ini.

Kasih dan Sayang

Gampangnya saja, kalau kamu memang sudah mengasihi dirimu sendiri, pertanyaan berikutnya adalah berapa target yang ingin kamu capai untuk mengasihi sesamamu manusia?

Tepat esok hari adalah hari kasih sayang. Sayang, tak semua orang peduli akan hal itu. Bahkan, beberapa teman saya dan anak-anaknya yang termasuk dalam kategori generasi zaman now malah hari yang buat saya istimewa itu buat mereka jauh dari rasa istimewa. Waktu saya menanyakan apakah mereka akan merayakannya dengan pacar mereka atau dengan orang yang mereka kasihi, jawabannya hanya singkat sekali. ”Enggak.”

Musuh

Baiklah kalau begitu adanya, biar saja saya yang merasakan kegembiraan menyambut hari kasih sayang itu. Biar saya saja yang merayakannya. Kalau dulu saya selalu merasa kesepian bila datang hari kasih sayang ini karena tak punya pacar. Dulu, saya salah mengerti kalau hari kasih dan sayang itu harus dirayakan bersama kekasih hati. Karena itu, bertahun-tahun saya merasa frustrasi karena salah mengerti. Padahal, mengasihi itu sama siapa saja, termasuk musuhnya, bukan?

Jangan Bilang-Bilang

Jangan bilang-bilang itu sebuah indikator seorang pengecut. Penyebar cerita hanya berniat untuk menceritakan sesuatu yang sekali lagi bersifat negatif dan acap kali provokatif, tetapi tak berani bertanggung jawab.

Itu adalah kalimat ampuh yang digunakan seusai menceritakan sesuatu hal yang sifatnya negatif, tetapi terasa menarik untuk dibagikan oleh si penyebar cerita dan menarik untuk diterima penerima cerita. Ya, kan? Padahal, jangan bilang-bilang itu adalah sebuah tindakan yang justru memang diinginkan untuk dibilang-bilang ke mana-mana.

Di kerumunan

Buat pendapat saya, kalimat itu dapat memiliki makna bermacam-macam. Nah, saya mulai dari makna yang pertama.

Instagram

Instagram telah menjadi medium untuk menunjukkan kelas seseorang. Bisa jadi juga kebanggaan akan kemampuan yang dianugerahkan Yang Mahakuasa.

Sudah lama saya memiliki akun Instagram dan sudah lama juga saya mengisi akun itu, dan setelah sekian tahun berlalu, dua hari yang lalu saya baru merasa terkesima dengan konten Instagram orang lain. Entah mengapa perasaan terkesima ini tak pernah terjadi selama tahun-tahun yang sudah berlalu.

Luar biasa

Perasaan terkesimanya bermacam-macam. Ada yang membuat saya geleng-geleng kepala melihat rumah mewahnya, duduk di pesawat pribadi, berbicara soal masalah keuangan, ekonomi dengan pandainya.

Hasil Lab

Nyaris setiap hari saya dan seorang tetangga di lantai delapan berjalan kaki memutar apartemen atau berkeliling di sekitar area apartemen.

Nyaris setiap hari saya dan seorang tetangga di lantai delapan berjalan kaki memutar apartemen atau berkeliling di sekitar area apartemen. Kadang berakhir dengan sarapan di warung bakmi di tepi jalan atau berbelanja ke pasar. Itu bagi saya adalah saat yang paling menyenangkan.

Kami dapat berolahraga bersama, melihat keramaian suasana pagi dan mengobrol soal segala macam topik yang pada hari ini akan saya ceritakan. Satu yang paling menarik adalah berbicara soal pemeriksaan kesehatan di masa tua kami ini.

Jiper

Suatu hari tetangga saya itu bercerita bahwa temannya pada suatu acara makan siang menegurnya untuk memeriksakan kesehatannya. “Kalau lihat bentuk badanmu ini, ya, sepertinya kamu sudah ada kencing gula,” demikian teguran temannya itu tanpa tedeng aling-aling yang telah membuat dia mengangguk saja.

Gradak-Gruduk

Tuhan memang mengendalikan, tapi kita kan enggak bisa diam saja. Emang jalan keluar jatuh dari langit? Kan, kita harus berusaha. Tuhan kan juga minta kita bekerja dan bertanggung jawab. Bukan hanya diam dan merenung.

Itu adalah salah satu tabiat yang menempel di diri saya. Bahkan, sudah menjadi ciri khas. Gradak-gruduk, panikan, berisik, maunya yang cepat, tidak sabar, kemudian disusul dengan cepat naik pitam, apalagi setelah aktivitas gradak-gruduk-nya tak menghasilkan apa-apa.

Panik

Itu belum mendengar sumpah serapah yang meluncur tanpa kendali dari lidah tak bertulang ini. Ia meluncur bak pemain papan selancar yang sangat mahir. Saya sendiri tahu, dengan kondisi gradak-gruduk itu, acap kali semuanya jadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Anda tahu bukan, di mana ada orang gradak-gruduk, panikan, menelepon teman, kerabat, jejaring sosial hanya untuk mendapat bantuan, dapat fokus pada tujuannya?

Dua Musim

Kalau sekiranya saya sedang kekurangan, saya harus mengusahakan agar pikiran positif tetap saya hadirkan sehingga itu menjadi antidot agar saya tidak menyuntikkan spirit negatif yang berlebihan ke dalam diri.

Hari sudah menunjukkan pukul 08.40. Saya menuju ke halaman belakang apartemen tempat tinggal saya. Hari itu, langit biru cerah dan tak ada awan yang menutupinya. Terik matahari menyengat dengan tajam, saya telah siap untuk berjemur seperti kebiasaan yang sudah saya lakoni bertahun lamanya jauh sebelum hal itu disarankan selama pandemi.

Terik dan sejuk

Saya sangat senang menghangatkan punggung. Terik matahari yang tajam seperti tusukan jarum yang buat saya seperti pijatan. Hari itu terik matahari diimbangi dengan angin sejuk yang bertiup sangat kencang. Saya duduk di tepi kolam renang, air kolam bergerak saking kerasnya tiupan angin pagi itu. Saat aktivitas berjemur itu sedang saya lakukan, tebersit dalam pikiran betapa nyamannya udara panas seterik itu ditimpali dengan angin sejuk.

Buah Hati

Hari masih terlalu pagi, menurut saya, ketika kami memulai pertemuan pada pukul 08.30. Tetapi, hal itu menjadi tak masalah karena setelah rapat, cerita teman saya yang miris itu seperti kopi yang mampu membuat kepala tak terasa berat dan mata tak terlelap.

Anakku malang

Teman saya itu bercerita bahwa beberapa temannya tak mencintai anaknya. Bahkan, kehadiran anak-anak di rumah membuat jadwal kehidupan mereka terganggu. Itu mengapa mereka menyuruh anak-anaknya untuk kursus segala rupa agar anak dapat berada di luar rumah dan ibunya dapat melakukan aktivitas tanpa terganggu dengan anak-anaknya.

Berkorban

Dari dulu dan sampai sekarang saya selalu ingin membantu orang banyak. Di masa pandemi ini menyerang, saya melihat begitu banyak orang berbudi luhur mengulurkan tangan, waktu, dan uang untuk membantu sesamanya.

Dari dulu dan sampai sekarang saya selalu ingin membantu orang banyak. Di masa pandemi ini menyerang, saya melihat begitu banyak orang berbudi luhur mengulurkan tangan, waktu, dan uang untuk membantu sesamanya. Dan saya hanya bisa terdiam di dalam rumah. Dan saya merasa sangat egois dengan berdiam di dalam rumah.

Berdiam

Seorang teman mengatakan kepada saya bahwa dengan tinggal diam di dalam rumah, saya sudah berkorban untuk membantu banyak orang agar tak jatuh sakit karena virus korona ini. Hal itu saya baca juga di banyak situs berita dan foto serta video yang saya terima. Perkataan itu membuat saya berpikir untuk pertama kali bahwa berkorban untuk orang lain tak selalu diartikan melakukan aktivitas seperti yang saya tulis di atas.

Bangga

Saya sudah lama berpikir bahwa bangga sama diri sendiri itu tidak baik, tidak rendah hati. Seharusnya yang menilai saya patut bangga itu orang lain, bukan saya.

Pernahkah Anda merasa bangga terhadap diri sendiri? Meski IPK Anda hanya 1,9 atau karier Anda hanya begitu-begitu saja. Tinggi tidak, rendah pun tidak. Atau, secara fisik Anda hanya akan mendapat predikat B saja. Biasa, maksudnya. Atau, usaha Anda masuk dalam kategori maju tidak, mundur pun tidak.

Memiliki segalanya

Beberapa waktu lalu, saya makan siang dan mendengar cerita salah satu keluarga terkaya di negeri ini. Sudah kayanya pakai banget, sederhananya pun pakai banget. Selesai mendengar cerita itu, saya sampai geleng kepala.

Bahagiaku

Saya belajar bahwa bahagia itu bukan soal pertemuan semata, bukan soal karena tidak terpisahkan, melainkan juga akhir sebuah cerita. Sebab, di akhir sebuah cerita, tetap akan ada rasa bahagia.

Kalau saya bertanya di manakah letak kebahagiaan Anda, apakah yang akan menjadi jawaban Anda? Apakah ia terletak di luar Anda atau sebaliknya ada di dalam Anda? Kalau itu di luar, apakah ia ada dalam bentuk sebuah karya orang lain atau ciptaan Anda sendiri? Bagaimana kalau itu diambil dari Anda dan ia tak bisa kembali lagi?

Akhir

Apakah kemudian bahagia Anda terletak pada kenangan yang bisa Anda hadirkan setiap saat Anda merindukannya? Apakah bahagia Anda itu adalah menerima kehilangan dan kemudian menemukan kebahagiaan lain yang baru sehingga Anda tak akan pernah terjerat dalam pertanyaan semacam pertanyaan yang saya ajukan di atas? Dengan kata lain, letak kebahagiaan itu tidak pada kemelekatan. Begitukah?

Bahagia

Dengan kehadiran situasi yang menyengsarakan seperti, apakah kebahagiaan sebagai salah satu konten kehidupan itu hilang?  Tentu tidak. Lha wong itu tak dapat dihilangkan kok.

Saya baru selesai mendengar penjelasan seorang romo mengenai bagaimana menjadi agen kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang lain di masa pandemi yang membuat frustrasi. Akan tetapi, sebelumnya, ia menanyakan apa arti bahagia itu? Ia kemudian menjelaskan begini. Kebahagiaan itu bukan absennya penderitaan, tetapi sebagai alat untuk menghadapi penderitaan.

Salah mengerti

Siang itu saat saya mendengar penjelasannya saya sudah mengantuk sekali. Bukan karena sesinya membosankan, tetapi satu hari sebelumnya saya tak bisa tidur semalaman. Jadi, saat mendengar itu saya diserang rasa ngantuk yang luar biasa. Akan tetapi, rasa kantuk yang super berat itu hilang mendadak karena tersentak mendengar penjelasannya soal bahagia itu.

Anjing & Katak

Kalau Anda becermin, cermin akan memperlihatkan diri Anda.

Kalau Anda berbuat sesuatu, perbuatan Anda itu adalah cermin siapa diri Anda. Bisa jadi, cermin itu merefleksikan Anda yang sesungguhnya atau Anda yang tengah berpura-pura. Apa pun alasannya, itu adalah yang Anda suguhkan kepada khalayak kebanyakan.

Anjing

Saya yakin, sebagian besar dari Anda telah melihat perbuatan tiga perempuan yang viral di media sosial belakangan ini. Bahkan perbuatan mereka itu sudah dijadikan meme. Teman saya sudah menggunakan meme itu sebagai alat untuk menjawab pesan tanpa kata-kata. Saya tak perlu menjelaskan perilaku dan perbuatan mereka yang sangat emosional itu. Bagi Anda yang belum melihat, Anda bisa mencarinya di media sosial dengan sangat mudah.

Aku Orangnya Memang Gitu

 

”Aku Orangnya Memang Gitu”

Buat saya kalimat itu sebuah kalimat yang secara tidak langsung seperti sebuah pengumuman ke seluruh jagat raya ini kalau yang menyuarakan kalimat itu adalah seorang yang sangat egois.

Itu adalah kalimat yang dijelaskan oleh seorang teman pada suatu siang di dalam mobilnya dalam perjalanan mengantar saya pulang ke tempat tinggal saya. Ia sedang membicarakan ucapan dari teman dekatnya yang selalu mengatakan bahwa ”aku tuh orangnya memang gitu. Gak bisa berubah lagi, kalau elo mau berteman sama aku, ya... terimalah aku apa adanya.”

Mendidih

Pembicaraan itu, maksud saya kalimat semacam itu, sudah sering saya dengar dari banyak orang. Dan setiap kali ada saja yang mengingatkan cerita semacam itu, darah saya cepat sekali mendidih. Mungkin sekarang jauh lebih lambat mendidihnya karena dengan mengikuti kelas meditasi selama satu tahun lebih, saya bisa lebih mengontrol api yang suka mendidih dengan cepat itu.

Minggu, 09 Juni 2024

WAG

 

Judul di atas adalah singkatan dari ”WhatsApp Group”. Saya mempunyai 30 banyaknya, yang kalau dibagi menjadi dua kategori besar menjadi grup keluarga dan non- keluarga.

Judul di atas adalah singkatan dari ”WhatsApp Group”. Saya mempunyai 30 banyaknya, yang kalau dibagi menjadi dua kategori besar menjadi grup keluarga dan non- keluarga. Yang non-keluarga itu terdiri dari teman dan urusan kantor.

Mati, setengah mati, hidup

Tes Corona

 

Ini bukan tes untuk mengetahui apakah Anda terkena infeksi virus korona. Ini tes yang menguji dan mengajak Anda untuk mengetahui apakah Anda seorang yang egois, panikan, berbudi luhur di saat pandemi sekarang terjadi, dan tak pernah Anda sadari sebelum pandemi datang menyerang.

Tes 1

Pagi ini, beberapa jam sebelum saya menyerahkan tulisan ini ke meja redaksi, saya turun ke lantai bawah untuk membeli minuman dan beberapa keperluan lainnya. Di dalam lift yang mengantar saya turun ada lima orang. Setelah saya masuk ke dalam lift, tak ada satu pun manusia di dalamnya yang berinisiatif untuk menekan tombol menutup pintu lift.

Terima Kasih

 

Jadi, kalau demikian adanya, kalau ternyata kebahagiaan bisa datang dari jalan yang penuh kerikil dan berliku, maka sudah selayaknya saya berterima kasih.

Saya yakin, teramat yakin bahwa Anda, seperti saya sudah acapkali mengucapkan terima kasih kepada begitu banyak orang untuk begitu banyak kejadian. Ucapan itu tak hanya ditujukan kepada sesama makhluk hidup tetapi juga kepada sang Khalik.

Bahkan di luar keduanya, saya dan mungkin ada beberapa dari Anda yang mengatakan itu pada alam semesta, pada tubuh, dan organ tubuhnya.

Sederhana

Saya tak mau kembali pada kehidupan yang berlimpah. Kehidupan berlimpah membuat saya jadi tak menginjak bumi, saya jadi selalu ingin bersaing dan bersaing, selalu melihat ke atas dan ke atas.

Saya punya langganan cuci kiloan. Petugas yang datang ke tempat tinggal saya namanya Untung. Saya memanggilnya Mas Untung. Saya baru dua kali bertemu dengannya. Karena dengan kesusahan hidup sekarang ini, kebiasaan saya mencuci baju dengan sistem cuci kering yang mahal terpaksa pindah ke cuci kiloan yang harganya sangat melegakan hati dan kantong. Untuk ini, saya berterima kasih kepada kesusahan hidup.

Mas Untung

Karena saya mencatat nomor telepon genggamnya, maka setiap kali saya ingin cucian saya diambil, saya mengirim pesan padanya. Namanya juga saya ini orang yang sangat kepo, maka selain mengirim pesan, saya selalu membaca status Whatsapp-nya. Statusnya itu yang membuat saya mendapat ide untuk menulis di kolom ini pada hari ini.

Rumah Sakit

 

Semua memang dibuat untuk mereka yang sakit. Sebuah rumah penuh dengan rasa sakit. Kalau sudah begitu, saya merasa, berada di rumah sendiri adalah hal yang sangat mewah dan dirindukan.

Belakangan, tepatnya sepanjang minggu terakhir Maret sampai koran ini tiba di tangan Anda, saya sudah mondar-mandir ke rumah sakit seperti seringnya saya masuk-keluar mal. Kondisi kesehatan sayalah yang telah membuat rumah sakit menjadi tujuan ”wisata”, sejak larangan mudik diberlakukan.

Hasil lab dan siapa saya

Rumah sakit. Sebuah istilah yang selalu membuat saya keder. Meski saya sudah mondar-mandir, bolak-balik ke tempat ini, selalu denyut jantung bertambah. Itu telah terbukti setiap kali memeriksa tekanan darah sebelum saya menghadap dokter.

Rasa Aman

 

Tidakkah seyogianya rasa aman itu harus diciptakan dari diri kita dan tidak bergantung pada rasa aman yang diberikan orang lain?

Seorang teman mengatakan kepada saya bahwa perasaan aman yang selama ini dicarinya baru ditemukan pada pacar barunya. Waktu saya membaca pesannya itu, saya langsung berkomentar. Tidakkah seyogianya rasa aman itu harus diciptakan dari diri kita dan tidak bergantung pada rasa aman yang diberikan orang lain?

Penjual itu Raja

 Ini adalah pengalaman bertahun lamanya mengalami perlakuan kalau pembeli itu bukan raja. Menjadi orang setengah miskin dan setengah kaya seperti saya ini mumet.

Beberapa tahun lalu, saya diajak ke salah satu private club di Hongkong oleh teman saya yang kaya raya. Salah, saya salah menulis. Teman saya ini tak punya apa-apa, orangtuanya yang punya segalanya. Jadi, dia hanya anaknya orang kaya, bukan orang kaya. Maka, benarlah kata Coco Chanel. "There are people who have money and people who are rich.”

Maka, saya sering bingung kalau melihat anak orang kaya yang sombongnya setengah mati. Lha wong ndak punya apa-apa kok sombong. Mungkin saya iri, tetapi otak saya mulai berpikir, kalau baru jadi anak saja sudah jemawa seperti itu, bagaimana kalau dapat warisannya? Nurani saya berteriak, ”Kamu bukannya mungkin iri. Kamu pasti iri. Saya kan tahu kamu.”

Penemuan Diri

 

Jika Anda sekarang berniat membeli sepeda, apakah itu karena semua orang melakukan hal sama? Apakah Anda tahu benar siapa Anda yang sesungguhnya? Maksud saya, saat Anda membeli sepeda itu, Anda menemukan kemampuan bersepeda yang tak pernah Anda sadari sebelumnya.

Sudah lama saya menanyakan kepada teman-teman dekat saya mengapa mereka tidak membuat Instagram Live agar dapat membagikan pengetahuan mereka kepada banyak orang dengan hanya duduk di rumah. Bukankah pada akhirnya pengetahuan yang kita dapati sejatinya untuk dibagikan dan siapa tahu ada yang kemudian naik kelas karenanya.

”Settle for less”

Parodi Anjing dan Katak

 Kalau Anda becermin, cermin akan memperlihatkan diri Anda. Kalau Anda berbuat sesuatu, perbuatan Anda itu adalah cermin siapa diri Anda. Bisa jadi, cermin itu merefleksikan Anda yang sesungguhnya atau Anda yang tengah berpura-pura. Apa pun alasannya, itu adalah yang Anda suguhkan kepada khalayak kebanyakan.

Anjing

Saya yakin, sebagian besar dari Anda telah melihat perbuatan tiga perempuan yang viral di media sosial belakangan ini. Bahkan perbuatan mereka itu sudah dijadikan meme. Teman saya sudah menggunakan meme itu sebagai alat untuk menjawab pesan tanpa kata-kata. Saya tak perlu menjelaskan perilaku dan perbuatan mereka yang sangat emosional itu. Bagi Anda yang belum melihat, Anda bisa mencarinya di media sosial dengan sangat mudah.

Nganggur

 Baru menjalani 14 hari tahun baru ini, saya mulai membayangkan malasnya menjalani sisa 11 bulan yang saya yakini akan ada naik turunnya.

Tahun lalu merupakan tahun yang susah buat saya. Ketika tahun 2020 tiba, saya menyambut gembira karena saya sudah muntap dengan kehancuran 2019. Akan tetapi, baru menjalani 14 hari tahun baru ini, saya mulai membayangkan malasnya menjalani sisa 11 bulan yang saya yakini akan ada naik turunnya.

Saya membayangkan senangnya tak bekerja lagi. Senangnya tak perlu bangun pagi untuk rapat dengan klien atau dengan anak-anak kantor, tak perlu stres karena klien yang bawel tetapi uangnya sedikit, tak perlu berlelah-lelah mencari konsep ide untuk sebuah proposal. Setelah bersusah mencari ide, klien tak mau membayar mahal, bahkan tak jadi bekerja sama, tetapi idenya diambil. Tak perlu deg-degan kalau target belum tercapai.

Natal

 Tiga hari lagi hari Natal tiba. Jauh sebelum jatuhnya perayaan ini, saya sudah dibombardir dengan begitu banyak acara tukar kado, mendengar lagu Natal, dan ucapan-ucapan klise menyambut hari itu.

Sekian tahun lamanya saya terhanyut dengan semua itu dan baru tahun ini saya merasa terlalu lebay menyambutnya. Saya mendengar lagu Natal berjudul ”The Most Wonderful Time of The Year”, kemudian ada kalimat yang pernah saya baca it is the season to care. Semuanya membuat saya jadi baperan.

Tetapi kemudian saya mulai berpikir, memangnya sebelas bulan itu tidak wonderful? Atau tidak the most wonderful? Bukankah the most wonderful itu bukan soal bulannya, melainkan setiap momen sepanjang tahun yang membuat saya merasa berbahagia lahir batin?

Mengunjungi Kembali

Satu minggu yang lalu saya bepergian ke sebuah dusun di kaki Gunung Sumbing. Perjalanannya hampir membuat saya menyerah meski kami mengendarai mobil untuk mencapainya.

Satu minggu yang lalu saya bepergian ke sebuah dusun di kaki Gunung Sumbing. Perjalanannya hampir membuat saya menyerah meski kami mengendarai mobil untuk mencapainya.

Dari jalan besar kami harus melewati jalan kecil yang hanya dapat dilalui satu kendaraan saja. Belum lagi dengan jalannya yang menanjak. Setelah satu setengah jam berkendaraan, kami tiba pada pemandangan yang luar biasa indahnya.

Mengasihi

Karena semua asumsi yang belum tentu benar itu menghentikan langkah kita untuk mengasihi, menghentikan tabungan kita penuh untuk mempersiapkan jalan pulang kita.

Saya dulu tak percaya bahwa cerita mengenai orang Samaria yang baik hati yang saya baca di Alkitab, dan hafal karenanya, bisa terjadi dalam kehidupan saya.

Begini ceritanya.

Hadiah

Beberapa minggu yang lalu saya berulang tahun. Dan hadiah ulang tahun yang saya dapatkan adalah sebuah kejadian tak terduga yang dihadiahkan kepada saya oleh follower saya yang telah setia menghadiri acara yang saya buat bersama Becky Tumewu, bernama Obrolan Sebelum Tidur atau OST. Sebuah obrolan ngalor ngidul pada Minggu malam.

Melanggar

Pada waktu saya melakukan pelanggaran, pada detik itulah saya berhenti mencintai diri saya sendiri. Saya berhenti menghormati diri sendiri dan saya berhenti menghargai diri sendiri.

Saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan, apakah Anda telah mencintai dan menghormati diri Anda sendiri? Misalnya, Anda melanggar PSBB. Nah, menurut Anda, apakah pelanggaran yang Anda lakukan itu sebuah ketidak-penghormatan kepada pemerintah atau ketidak-penghormatan kepada diri Anda sendiri?

”I love me”

Kalau Anda seorang koruptor, yang sampai tulisan ini muncul belum tertangkap, apakah keputusan Anda menjadi koruptor adalah sebuah keputusan yang menurut Anda melanggar perusahaan atau melanggar nilai-nilai hidup Anda sendiri? Apakah Anda merasa tindakan itu hanya merugikan perusahaan dan Anda tidak merasa perbuatan itu merugikan diri Anda sendiri?

Makan Enak

 

Saya duduk di sebuah rumah makan dan di depan saya tersedia menu yang saya pesan Bebek panggang udang mayones sayur kailan bawang putih nasi goreng ayam telor dadar udang Berdoa Minggu lalu di kota singa bersama seorang teman saya menyantap ayam rebus sayur taoge dengan taburan ebi.

Saya duduk di sebuah rumah makan dan di depan saya tersedia menu yang saya pesan. Bebek panggang, udang mayones, sayur kailan bawang putih, nasi goreng ayam, telor dadar udang.

Berdoa

Minggu lalu, di kota singa, bersama seorang teman saya menyantap ayam rebus, sayur taoge dengan taburan ebi, dan nasi goreng udang. Satu hari sebelum itu, saya menyantap bakuteh dengan tuan rumah tempat saya tinggal selama berlibur di kota singa.

Kok Mau Sih

 

Jadi, saya berpikir, komentar sarkastis itu adalah sebuah wujud dari ketidakdewasaan saya melihat seseorang dengan situasinya. Saya tahu kalau orang berbeda-beda dalam cara melihat kehidupan, tapi saya tak mau mengerti.

Saya membaca di sebuah media sosial seorang wanita muda menjelaskan cerita sebuah partai politik dengan para anggota yang tergabung di dalamnya di negeri ini. Salah satu komen yang saya baca begini bunyinya. ”Kok mau digoblokin?”

Lidah tak bertulang

Setelah membaca komentar itu, saya mengatakan komentar yang sama. Namun, beberapa detik setelah berpikir demikian, saya malu sendiri. Lahhh… saya kok ya mau digoblokin dengan apa yang sekarang saya percayai? Apa pun itu. Mau partai politik yang saya yakini, mau presiden yang saya anggap baik, mau aliran agama, mau pilihan pasangan, mau pilihan profesi, dan sebagainya.

Kematian

 

Mungkin banyak orang sedang mempersiapkan datangnya Tahun Baru dengan sejuta kemeriahan dan harapan, kami berdua malah bercerita tentang ketakutan kami menghadapi kematian.

Di sebuah pujasera, saya dan seorang teman berbicara soal kematian. Pembicaraan berlangsung tepat 31 Desember 2019, sambil menyantap es campur dan es doger. Mungkin banyak orang sedang mempersiapkan datangnya Tahun Baru dengan sejuta kemeriahan dan harapan, kami berdua malah bercerita tentang ketakutan kami menghadapi kematian.

Mayat

Teman saya berdoa siang dan malam agar saat kematian tiba ada orang yang tahu bahwa ia meninggal. Ia tak mau meninggal dan orang baru mengetahuinya 20 hari setelah itu dan telah membusuk di dalam rumah. Oh...ya, untuk sekadar informasi, kami berdua adalah lajang lapuk.

Karyawan

 

Saya tak peduli dengan tenggat. Saya membiarkan atasan yang panik kalau tenggat sudah terlewati. Bahkan saya berpikir upah atasan saya jauh lebih besar, jadi biarkan itu menjadi urusannya.

Saya sedang duduk-duduk bersama sahabat lama, ingin melepas rindu sambil melihat indahnya pantai Pulau Bali dan kerinduan justru hadir di pulau ini. Entah mengapa kualitas hidup saya selalu menjadi lebih baik kalau berada di tempat ini.

Teman-teman yang saya temui atau yang melihat foto-foto saya di media sosial selalu berkata: ”Kulitmu bersinar dan kelihatan sehat dan muda.”

Hutan

 

Akhir pekan, sepekan lalu, bersama teman saya berlibur ke luar Jakarta. Yang saya maksud ke luar Jakarta itu hanya satu jam perjalanan dengan kendaraan roda empat. Satu jam itu juga sudah termasuk kemacetan yang bikin sakit kepala.

 Kami memutuskan melarikan diri dari ingar-bingar mal sebagai taman bermain kami di Jakarta, dan yaaa… itu tadi, menjauhi kemacetan yang juga tak kalah ingar-bingarnya.

Kami tinggal di hotel dengan taman luas dan mirip hutan. Pokoknya menyenangkan. Lha wong tempat kebugarannya yang berdinding kaca saja berdiri tegak di tengah hutan buatan itu. Jadi, sambil memelihara jasmani, rohani juga sehat karena di tengah menggerakkan badan mata akan melihat keluar ruangan hutan yang hijau itu.

Hidup Baru

 

Hampir setiap pagi saya dan tetangga di lantai delapan berjemur dan berjalan kaki di halaman apartemen yang lumayan luas. Ketika sore hari menjelang, kami turun ke bawah untuk berjalan-jalan, menikmati suasana sore hari sebelum matahari tenggelam dan menjadikan dunia memasuki gelap.

Ritual tanpa rasa

Di pagi hari ketika matahari hendak beranjak ke tempat tinggi, langit biru tak bercacat karena biasanya ditutupi awan. Embusan angin pagi yang dingin dan melihat beberapa orang muda dan yang sudah bangkotan seperti saya berolahraga telah membuat saya merasa tenteram dan bahagia.

Puluhan tahun saya tak pernah mengalami hal ini. Untuk yang satu ini, saya berterima kasih karena ada PSBB. Selama ini saya juga berolahraga, saya juga bangun pagi dan merasakan sinar matahari. Tetapi, semuanya dilakukan dengan terburu-buru, semua dilakoni dengan jadwal yang ketat, karena kalau tidak, saya akan terlambat untuk rapat atau hadir pada sebuah atau beberapa pertemuan.

E-Kasih Sayang

 

Beberapa waktu lalu, saya menonton film. Judulnya Little Women. Setelah menyaksikan film berdurasi 135 menit itu, saya mencoba menengok kembali kepada masa ketika masih menjadi salah satu anggota keluarga yang tinggal di dalam satu atap.

Film vs kenyataan

Keadaan keluarga saya jauh berbeda dari gambaran yang disajikan dalam film itu. Kehangatan keluarga saya sangat berbeda dengan gambaran film yang diadaptasi dari novel karya Louisa May Alcott tahun 1868 itu.

Kami tidak sehangat nyonya March dengan empat anak perempuannya. Mereka terlihat saling mencintai dan melindungi serta berkorban satu dengan lainnya meski pertengkaran dan ketidakcocokan pendapat bisa saja terjadi.

Cukup

Bukankah cara berpikir yang membuat ia jadi kejam terhadap dirinya sendiri dan berakibat ia harus bekerja 7 hari dari pagi hingga malam hari? Mengapa ia tak sedikit memberi kedamaian dirinya dengan libur di akhir pekan?

Pernahkah Anda berkata di dalam hati atau di luar hati, kalau uang Anda sejumlah Rp 4 juta yang kemudian bertambah menjadi 40 juta, 400 juta, 4 miliar, dan terakhir 4 triliun itu, masih selalu Anda anggap kurang? Pernahkah?

”Upahnya oke banget”

Beberapa waktu kalau saya berdiskusi dalam sebuah forum di sebuah aplikasi media sosial yang belakangan digandrungi oleh mereka yang menggunakan telepon genggam berbasis IOS. Saya masuk ke dalam forum itu sebagai peserta, yang berakhir diundang oleh moderatornya menjadi pembicara. Topik diskusi malam itu adalah ”Kejamnya Dunia”.

Cuaca

 

Pada saat Anda membaca tulisan ini, saya sudah satu bulan lamanya menghabiskan waktu di pulau dewata. Selama hampir tiga puluh satu hari itu, saya hanya menemui langit biru tak lebih dari hitungan lima jari. Itu pun tak berlangsung sepanjang hari. Kalaupun terlihat biru masih saja ada awan putih dan hitam di sana sini.

Tidakkah tahun 2020 seperti itu rasanya?

Kursi kekesalan

Begitulah yang saya rasakan ketika melihat cuaca seperti itu. Bahkan, sinar matahari yang bersinar terik di pagi hari, itu sama sekali tak dapat dijadikan patokan bahwa sepanjang hari akan oke-oke saja. Acap kali ketika saya sedang menyelesaikan proyek di pulau eksotis ini, hujan datang kapan saja.

Bintang Lima

 

Akhir pekan minggu lalu saya habiskan dengan bekerja di Kota Buaya, tepatnya di hotel berbintang lima, lebih tepatnya lagi di sebuah hotel resor. Saya juga kaget, ada hotel resor di tengah Kota Buaya yang panasnya saat itu mencapai tiga puluh delapan derajat celsius.

Melangkah keluar dari lapangan terbang dan keluar dari mobil saat tiba di tempat penginapan itu kulit terasa cekit-cekit. Cekit-cekit itu sama dengan perasaan yang Anda alami kalau menggigit lombok rawit. Sengaja atau tidak sengaja. Kalau teman saya arek Suroboyo bicaranya seperti ini, ”Sambele ndek ilat cekit-cekit.”

Mungkin sudah waktunya kalau kota penuh beton ini punya hotel resor, yang bisa menjadi tempat pelarian sejenak untuk ”mendinginkan” mata dan berefek sampai ke emosi. Saya tiba di penginapan sekitar pukul delapan pagi, senang melihat taman luas asri buatan seorang arsitek taman yang kondang, setelah melihat pemandangan rumput kering berwarna coklat mengenaskan sepanjang perjalanan menuju ke tempat penginapan itu.

Berterima Kasih

 

Perayaan itu hanya punya satu tujuan, yaitu berterima kasih atas panen dan berkah yang diterima pada tahun sebelumnya.

Tepat satu minggu yang lalu saya turut serta dalam perayaan Thanksgiving. Kalau Anda mau tahu soal perayaan itu, Anda bisa mencarinya sendiri. Karena hari ini saya mau ngomel tentang banyak hal, maka sayang halaman yang terbatas ini dihabiskan untuk menjelaskan soal perayaan yang datangnya satu tahun sekali itu.

Perayaan itu hanya punya satu tujuan, yaitu berterima kasih atas panen dan berkah yang diterima pada tahun sebelumnya. Satu minggu yang lalu, saya hanya ikut dalam keriaan perayaan itu, tanpa berniat berterima kasih atas berkat yang telah diterima, baik itu dari tahun sebelumnya maupun sampai saat Anda membaca tulisan ini.

Berkorban

 

Dari dulu dan sampai sekarang saya selalu ingin membantu orang banyak. Di masa pandemi ini menyerang, saya melihat begitu banyak orang berbudi luhur mengulurkan tangan, waktu, dan uang untuk membantu sesamanya. Dan saya hanya bisa terdiam di dalam rumah. Dan saya merasa sangat egois dengan berdiam di dalam rumah.

Berdiam

Seorang teman mengatakan kepada saya bahwa dengan tinggal diam di dalam rumah, saya sudah berkorban untuk membantu banyak orang agar tak jatuh sakit karena virus korona ini. Hal itu saya baca juga di banyak situs berita dan foto serta video yang saya terima. Perkataan itu membuat saya berpikir untuk pertama kali bahwa berkorban untuk orang lain tak selalu diartikan melakukan aktivitas seperti yang saya tulis di atas.

Hari ini, saya mau bertanya kepada Anda, pengorbanan apa yang sudah Anda lakukan dengan hanya berdiam, hanya dengan tidak bersuara? Saya teringat akan nasihat soal menyebar berita bohong atau berita yang belum tentu kebenarannya. Saya cepat sekali kalau menerima berita semacam itu, langsung menyebarkan ke grup Whatsapp saya yang berjumlah 30 banyaknya itu.

"WEBINAR"

Beberapa bulan lalu saya diminta melakukan sesi berbagi dalam dua webinar oleh dua perusahaan besar. Saya tak akan menceritakan apa yang saya bagikan, tetapi mau menceritakan pengalaman menjalani webinar itu.

”Brand positioning”

Saya sangat mengerti sebagai pembicara, kami selalu mendapat arahan dari perusahaan yang mengajak kami untuk berbagi. Arahannya bisa macam-macam, dari yang biasa-biasa saja sampai yang benar menjengkelkan dan mampu mengubah kepribadian saya dalam waktu satu jam. Hal yang terakhir ini yang akan saya ceritakan.

Dalam menjalankan usaha saya, kalau saya hendak mengajak atau mengundang seorang penyanyi, seorang pembicara atau seorang tokoh, saya selalu akan mencari tahu siapa mereka. Bukan soal latar belakang kehidupannya saja, tetapi mencari tahu apakah mereka memiliki brand positioning yang sama dengan usaha saya.