Gelora Bung Karno (GBK) adalah sebuah tempat di mana saya memelihara kesehatan. Maaf, salah. Bukan memelihara kesehatan, tepatnya sebuah tempat untuk membuang rasa bersalah setelah mengonsumsi makanan yang super tidak sehat tetapi lezatnya setengah mati. Buat saya, GBK semacam obat penetralisir. Ia segalanya buat saya.
”Anti aging”
GBK juga tempat saya cuci mata. Kalau melihat
anak-anak muda saya bergairah, melihat yang lanjut usia saya diingatkan untuk
bertanggung jawab terhadap kehidupan yang saya miliki, terutama kesehatan.
Mereka yang termasuk muda berlari kencang tak kenal
lelah. Banyak di antaranya memiliki tubuh yang indah. Beberapa kaum pria muda
bertelanjang dada, memperlihatkan usaha mereka selama ini yang saya yakini
cukup berat untuk mendapatkan perut rata dan tubuh berotot yang indah. Jadi, GBK
buat saya semacam show case.
Saya tak hanya geleng kepala melihat yang muda
belia, tetapi juga yang sudah lanjut usia. Mereka berjalan mengelilingi
lapangan bulat itu. Beberapa ada yang membawa temannya yang jauh lebih muda
untuk menemani, beberapa melakukan jalan kaki dengan pasangan yang sama
sepuhnya, dan yang menakjubkan ada yang tetap berolahraga sambil duduk di kursi
karena tubuh yang sudah tak kuat lagi menopang.
Kalau melihat yang lanjut usia itu, saya hanya berkata dalam hati, usia boleh saja bertambah karena memang tak bisa dihentikan, tetapi tua itu hanya sebuah istilah dalam pengertian usia dan tenaga, tetapi yang tak bisa mengganyang pikiran dan hati.
Mereka adalah manusia yang berkata secara tidak
langsung kepada saya bahwa semangat itu harus tetap dikobarkan sampai akhir
menutup mata. Semangat itu satu-satunya senjata melawan kendala hidup dan
sebuah ’krim’ anti aging termanjur yang pernah ada
Tak ada toko yang menjual semangat. Ia hanya datang
dari toko abadi bernama diri kita sendiri. Dan mereka yang lanjut usia yang
saya lihat setiap pagi itu seperti pengingat untuk saya yang mudah sekali
frustrasi, sangat pesimistis, dan tidak percaya diri.
Dua dunia
Tentu di antara begitu banyak manusia yang ingin
sehat, ada yang masih ingin tidak sehat atau baru berkeinginan memiliki
cita-cita menjadi sehat. Tanpa bermaksud untuk menghakimi, beberapa di antara
mereka hanya duduk-duduk di kursi taman yang disediakan, atau melakukan gerakan
sekadarnya dalam balutan pakaian olahraga yang saya yakini tetap kering tak
tersentuh keringat.
Kemudian setelah gerakan sekadarnya itu, mereka
mengobrol lagi dan berkonsentrasi penuh pada gadget dalam genggaman sambil
merokok. Di GBK saya belajar dan menyaksikan bahwa nurani itu bisa dibungkam.
Dan kebiasaan membungkam nurani menjadikan seseorang mampu memamerkan keinginan
untuk tidak sehat, di tempat yang seyogianya disediakan untuk menjadi sehat.
Di GBK saya dicelikkan kalau dalam hidup
sehari-hari, saya sering berbajukan kebaikan, tetapi sesungguhnya niat saya
sama sekali jauh dari baik. Saya bahkan tak ingin berkeringat. Saya hanya ingin
mengenakan baju olahraga. Karena tanpa berkeringat dan hanya dari apa yang saya
kenakan, orang bisa jadi berasumsi saya sangat bijak memelihara kesehatan. Saya
butuh asumsi positif itu, saya tak butuh keringat.
Selain semua di atas, GBK juga menyediakan sebuah
godaan terbesar. Godaan itu bernama empal gentong, bubur ayam, ketoprak, soto
mi, dan segala jenis gorengan. Coba Anda perhatikan apa yang saya tulis. Saya
menulis godaan.
Maka di GBK saya diingatkan bahwa saya sering sekali
menudingkan jari telunjuk kepada seseorang atau sesuatu sebagai godaan.
Padahal, ketoprak dan soto mi tak bisa disebut godaan. Saya saja yang tak kuat
melihat apa yang ditawarkan.
Nah, ketika saya tidak kuat melihat apa yang
ditawarkan itu, saya tak berani mengakui bahwa saya tidak kuat, tetapi
sebaliknya malah memberi predikat kepada yang membuat saya tidak kuat itu
sebagai godaan.
Pedagang makanan itu hanya berjualan. Mereka berhak
menjual dan menawarkan apa saja, yang punya problema tidak kuat itu bukan
mereka, tetapi saya. Memilih untuk menyalahkan orang ketimbang mau mengakui
saya tidak kuat itu, pelajaran yang saya dapatkan di GBK.
Tiba-tiba nurani saya bersuara lirih tetapi
nyelekit. ”Bukankah dalam hidup ini untuk setiap perbuatan baik itu, tak pernah
absen ditemani niat yang tidak baik? Kamu datang ke tempat ini untuk berusaha
menjadi sehat, tetapi jauh di lubuk hatimu, gorengan yang kamu tahu tidak sehat
itu pun kamu inginkan, bukan? Terus, apakah kamu bisa menghilangkan yang tidak
baik agar kamu bisa disebut baik? Bukankah dua dunia yang berlawanan itu selalu
ada di dalam dirimu? Kamu ke tempat ini mau jadi manusia atau malaikat?”
Gara-gara suara lirih itu, di GBK-lah saya mencucurkan keringat dan menjadi
bingung. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar