Di suatu pagi dengan hati yang kesal entah kenapa, saya membaca sebuah kutipan berbunyi begini, "Sometime we need to be hurt in order to grow. We must lose in order to gain". Membaca itu, saya tambah kesal. Benarkah demikian?
Hidup tanpa formula
Saya termasuk orang yang tidak mau memercayai
kutipan, seberapa pun baik dan masuk akalnya kutipan itu. Saya tak tahu kalau
Anda dan dia yang membagi kutipan di atas. Saya bisa mengatakan itu karena
selama ini saya melihat secara nyata, tak semua manusia memiliki perjalanan
hidup yang sama.
Kalaupun perjalanan hidup dua anak manusia itu sama,
sama-sama menderita dengan penderitaan yang tingkatan dan jenisnya sama, toh
hasil akhirnya tak bisa sama. Tidak samanya bukan karena yang satu memercayai
kutipan dan yang satu tidak, tetapi hasil akhir itu bukan berada di tangan
manusia.
Ada kehendak di luar manusia yang memiliki andil
membuat hasil berbeda. Kutipan itu seperti narkoba. Membangkitkan semangat,
tetapi seringkali mengecewakan. Kutipan itu saya percaya dibuat oleh seseorang
yang telah mengalami sebuah peristiwa dan memberikan pengalaman hidup kepada
dirinya.
Yang keliru, menurut saya, mereka menasihati orang lain dengan pengalaman hidup mereka kepada saya yang tak memiliki perjalanan yang sama. Maka, seringkali saya berpikir sebaiknya tak perlu membuat kutipan atau nasihat, yang perlu itu membagi pengalaman.
Kutipan atau nasihat itu buat saya cenderung
menyimpulkan sebuah peristiwa akan berjalan demikian, atau harus demikian.
Membagi pengalaman tidak ada unsur menyimpulkan. Itu mungkin, mengapa kutipan
sebaik apa pun, selalu menjadikan saya kesal dibuatnya.
Karena saya berusaha memercayai bahwa kalau saya
menyakini kutipan itu, saya akan mendapatkan hasil yang sama. Tetapi sama
sekali tidak demikian adanya. Paling tidak kalau melihat hasil dari perjalanan
hidup saya.
Waktu saya menjalani operasi cangkok ginjal, saya
berkenalan dengan begitu banyak pasien yang sama penderitaannya. Penyebab
penderitaan itu pun sebagian besar tak berbeda. Apa hasil akhirnya? Yang satu
hidup sampai tulisan ini dibuat, yang satu meninggal dunia beberapa hari
setelah operasi. Sekarang kalau saya bertanya, yang mana yang menderita dan
yang memperoleh kemenangan? Yang meninggal atau yang hidup sampai sekarang?
Membuat formula
Jadi, benarkah kalau kadang saya butuh menderita
untuk bertumbuh? Mengapa saya harus kehilangan untuk mendapatkan kemenangan?
Mengapa saya butuh untuk menderita kalau saya bisa tidak menderita? Mengapa
perlu sampai kehilangan untuk menang, sementara saya bisa tak perlu sampai
kehilangan?
Memangnya kalau tidak menderita, tidak kehilangan,
saya menjadi tak bisa tumbuh dan menang? Kalaupun bisa tumbuh dan menang, maka
pertumbuhan dan kemenangan itu tidak setokcer dibandingkan dengan yang menderita
dan yang kehilangan? Begitu?
Sejak kapan ada yang membuat aturan main atau
standar baku bahwa kalau menderita pertumbuhan dan kemenangannya akan lebih
dahsyat daripada yang tidak menderita dan tidak kehilangan? Memang ada manusia
yang sejujurnya mau menderita? Kalau saya, sungguh tidak mau. Saya tak tahu
kalau Anda.
Dulu saya pernah termakan dengan sejuta kutipan yang
positif. Saya ikuti. Hasilnya? Lihat saja saya sekarang ini. Penderitaan saya
tak membuat saya bertumbuh, tapi mendatangkan kekesalan yang sangat. Kehilangan
yang saya alami tak memberi saya kemenangan apa pun, tetapi kekecewaan yang
sangat.
Maka kemudian saya memutuskan untuk tidak lagi
memercayai kutipan. Saya tidak lagi mengikuti akun seseorang di sosial media
yang isinya kebanyakan berisi kutipan doang. Pembebasan terhadap kutipan itu
memberikan hasil bahwa seyogianya saya ini lebih menghabiskan waktu untuk
mengenal diri saya sendiri. Pengenalan atas hal-hal apa saja yang telah
diberikan Yang Maha Kuasa sejak saya lahir sampai sekarang ini.
Baik soal kemampuan intelektual, emosional, maupun
spiritual. Sebab, perbedaan ketiga kemampuan itu yang akan membedakan hasil
dari sebuah perjalanan hidup. Bukan kutipan alias perjalanan hidup orang lain
yang akan memberi persamaan hasil. Saya harus lebih memercayai diri saya sendiri
ketimbang orang lain.
Belajar memercayai dan mencintai diri sendiri itu
menghasilkan sebuah standar hidup yang khas untuk diri kita sendiri. Saya harus
belajar menemukan dan memformulasikan standar itu dan hidup berdasarkan formula
itu. Kebahagiaan itu bisa diciptakan bukan karena saya mencintai formula hidup
orang lain, tetapi mencintai formula hidup diri sendiri. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar