Langit begitu gelap gulita di pagi hari ketika saya menulis artikel ini. Mendung menutupi Kota Jakarta. Belum lagi hujan yang tak berhenti turun. Matahari sudah tiga hari tak memperlihatkan batang hidungnya.
Dengan cuaca seperti itu, biasanya saya jadi baper
alias bawa perasaan. Namun, pagi itu, saya teringat pesan seorang teman yang
pernah sekali waktu menasihati, bahwa saya harus mampu bersinar seperti
matahari di tengah kegelapan.
Gelap
Dulu, ketika pesan yang tampaknya masuk akal
dijalani itu disampaikan, saya hanya manggut-manggut menyetujuinya. Entah
mengapa pagi itu saya jadi bertanya, apakah pesan yang sudah lama disampaikan
itu masuk akal untuk dijalani. Saya harus mampu menjadi seperti matahari
bersinar di tengah kegelapan, di tengah mendung nan kelabu?
Saya melepaskan pandangan kepada gelapnya pagi pada
hari itu. Dari tempat tinggal yang berlokasi di lantai yang lumayan tinggi,
pemandangan Kota Jakarta dalam kegelapan dan hujan, seperti sebuah lukisan yang
dramatis. Bahkan beberapa gedung pencakar langit yang biasanya dapat dilihat
dengan jelas, hari itu tertutup kabut dan hanya samar-samar terlihat.
Tentu, pemandangan semacam itu tak menyuguhkan
sedikit pun sinar matahari. Sinarnya yang biasa terik dan menyengat tak mampu
menembus kegelapan sepagi itu. Maka sebuah pagi hari disebut pagi yang mendung,
berkabut, dan gulita, kalau sinar matahari menjadi impoten alias tak berdaya
melawan kegelapan yang dihadirkan semesta.
Melihat pemandangan dramatis sepagi itu, saya mulai meragukan nasihat teman saya di atas untuk mampu menjadi matahari yang menyinari kegelapan sehingga kegelapan sirna. Bukankah pemandangan dramatis itu telah menyuguhkan sebuah bukti nyata, bahwa matahari dengan sinarnya yang kuat sekalipun, tidak mampu menyinari kegelapan?
Dengan kemampuan intelektual yang digambarkan oleh
kepala sekolah di masa sekolah dasar dahulu, sebagai ayam tanpa otak, saya
berpikir bahwa akan datang masanya setiap orang akan menghadapi sebuah hari
yang gelap, dan ada masanya menghadapi situasi yang terang. Namun, seseorang
tak bisa menjadi pahlawan kesiangan untuk menepis hari yang seharusnya gelap, menjadikannya
terang benderang.
Terang
Saya ingat sekali waktu pernah dinasihati oleh
teman-teman, dan oleh mereka yang sudah mengenyam garam kehidupan lebih lama, bahwa
pelajaran hidup itu bisa didapat dari begitu banyak hal dan kejadian. Baik dari
sebuah keadaan yang terang, atau oleh keadaan yang gelap.
Pelajaran yang diberikan ketika kita sehat walafiat
dan kaya raya, dan pelajaran ketika kita kekurangan uang dan berkelimpahan
penyakit. Saya tak tahu apakah Anda pernah dinasihati seperti itu. Kalau saya,
sudah sampai bosan rasanya.
Nah, kalau benar demikian nasihat mulia itu, apa
pentingnya saya sampai harus menerangi kegelapan, kalau dari kegelapan
seseorang bisa belajar sesuatu dan naik kelas? Mengapa saya harus berpikir
bahwa kegelapan itu selalu perlu diterangi? Mengapa saya seperti merasa terang
memiliki posisi tawar yang lebih tinggi?
Kalau memang benar bahwa kita bisa naik kelas karena
mengalami terang dan karena mengalami gelap, bukankah keduanya memiliki bobot
yang sama? Terang bisa memberi terik yang membuat seseorang berkata: "Duh
panasnya setengah mati." Namun, di lain pihak, teriknya terang membuat
jemuran cepat kering.
Mendung yang sangat dan membuat gulita serta hujan
deras yang datang, bisa mendatangkan banjir yang merepotkan, tetapi mendung
menyejukkan hari. Jadi, kalau saya menjadi manusia yang menerangi kegelapan,
tidakkah saya malah menghalangi orang untuk naik kelas dan ia tak bisa belajar
dari sebuah situasi yang gulita?
Saya percaya, setelah hari-hari penuh hujan yang
menggelapkan bumi, akan datang hari-hari musim panas yang terik memanasi fisik.
Dan, seperti juga musim yang berganti secara alamiah, maka perubahan gelap ke
dalam terang akan terjadi secara alamiah ketika masanya sudah tepat untuk
berubah. Maka, seyogianyalah manusia menikmati keduanya tanpa perlu mempercepat
atau memaksa proses perubahan itu.
Benarlah kalau dikatakan bahwa habis gelap terbitlah
terang, bukan di tengah gelap terbitlah terang. Maka, wujud dari kebahagiaan
yang sejati buat saya adalah tidak bercita-cita seperti pungguk merindukan
bulan untuk bersinar di tengah kegelapan.
Wujud kebahagiaan yang sejati itu adalah terdapat di
dalam kemampuan bersyukur untuk menikmati kegelapan tanpa harus berharap ada
terang, dan bersyukur menikmati teriknya hidup tanpa mengharap datangnya hujan
yang mendinginkan.
Karena manusia hanya diberi dua kesempatan besar
dalam hidupnya. Diberi kesempatan mengalami gelap dan mengalami terang. Dan, ketika
manusia bercita-cita menepis kegelapan, masih pantaskah ia disebut manusia? ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar