Dua teman saya menjalankan program detoks selama tiga hari dengan hanya mengonsumsi jus buah. Salah satu dari keduanya mengatakan, setelah tiga hari, ia merasa bahwa indera kecapnya lebih peka dalam merasakan makanan. Terlalu asin atau terlalu manis. Ia mengakui, sebelum program pembersihan itu dilakukan, lidahnya tak pernah sepeka itu.
Asupan negatif
Salah satu karyawan saya juga melakukan program
semacam itu selama tujuh hari karena berat badan yang bertambah. Semua yang
melakukan pembersihan raga ini hanya memiliki satu tujuan: memulihkan keadaan.
Setelah mendengar cerita itu, tiba-tiba saya merasa
bahwa program pembersihan semacam itu bisa diterapkan juga untuk menghilangkan
sikap buruk saya. Menghilangkan asupan negatif yang saya konsumsi bertahun lamanya.
Kekhawatiran, korupsi, perselingkuhan, iri hati,
kesombongan, dan pertikaian karena perbedaan pendapat. Padahal, dari sejak
dunia ini diciptakan, Anda dan saya tahu persis bahwa perbedaan itu sudah ada.
Sedihnya, kita sudah tahu sejak lama, tetapi kita juga bertikai sejak lama.
Kekhawatiran. Itu adalah salah satu asupan negatif
yang paling banyak saya konsumsi bertahun lamanya, yang membuat
"lidah" tidak peka lagi terhadap kemampuan saya sendiri. Saya
menimbun lemak kekhawatiran yang menggunung sehingga saya menghadapi kejadian
setiap hari dengan tekanan batin yang sangat.
Perselingkuhan. Sebuah aktivitas yang saya pelihara karena saya menemukan kesenangan di dalamnya. Sama seperti sedang menikmati makanan yang sungguh nikmat nan menggiurkan, yang sayang kalau tidak dicicipi dan didiamkan saja. Yang menggiurkan itu sampai membuat saya lupa bahwa itu mengundang datangnya kolesterol, gula darah, dan tekanan darah yang bisa naik melejit seperti roket.
Mengonsumsi yang negatif awalnya takut, deg-degan,
merasa bersalah, tetapi karena dilakukan setiap saat, sedikit demi sedikit,
lama-lama menjadi sebuah ketakutan yang nikmat. Dan, makin lama dilakukan, maka
ketakutan hilang dan hanya kenikmatannya saja yang tersisa.
Setelah merasakan nikmat, maka seperti lidah teman
saya sebelum detoksifikasi dilakukan, hati saya menjadi kebal dan kehilangan
kepekaan. Karena kebal, maka saya tidak lagi merasa kalau asupan itu terlalu
"asin" atau terlalu "manis". Maka, saya menyantap makanan
bernama perselingkuhan itu tanpa rasa bersalah.
Pencegahan
Perasaan takut atau deg-degan yang timbul di awal
ketika menelan asupan negatif sejujurnya adalah sebuah reaksi positif karena
terjadinya friksi antara kebaikan dan keburukan. Itu adalah perasaan yang
dihasilkan karena kedisiplinan yang biasa dilakukan, mulai tergoda untuk
melanggar. Mengapa tergoda? Sebab, umumnya hal yang melanggar itu nikmatnya
setengah mati.
Kalau disiplin itu dianalogikan sebagai makanan,
maka ia akan berupa sayur mentah atau rebusan, buah-buah segar, bubur gandum,
minum air, ikan. Nah, melanggar itu ada garamnya, ada gulanya, ada bumbu ini
dan bumbu itu.
Disiplin itu renang, lari, pergi ke pusat kebugaran,
tidur yang cukup. Melanggar itu bernama rasa malas, memilih tetap di tempat
tidur yang empuk, selimut yang menghangatkan di hari hujan, dan kamar
berpendingin. Belum lagi kalau di kamar berpendingin atau di suasana hujan
seperti yang terjadi belakangan, ada yang menemani tidur. Dan, yang menemani
itu adalah pasangan milik orang lain.
Beberapa hari lalu saya dipanggil seorang klien.
Singkat cerita mereka ingin membuat sebuah proyek. Saya tanya siapa saja yang
ikut dalam tender ini. Kemudian ia menyebut salah satu perusahaan besar.
Sepulang dari rapat itu, ada perasaan khawatir, kok, lawannya perusahaan besar.
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari se-Tanah Air, ketika
kekhawatiran datang meski baru sedikit saja, saya sejujurnya sudah jatuh ke
dalam godaan. Godaan untuk tidak menghargai kemampuan sendiri. Godaan berupa
kekhawatiran itu kelihatannya bagus karena saya bisa berhati-hati dalam melakukan
persiapan.
Saya katakan, pemikiran semacam itu sebuah
kekeliruan besar. Kekhawatiran tidak akan pernah menimbulkan kedisiplinan untuk
berhati-hati, kekhawatiran bukan alasan untuk mawas diri. Kekhawatiran itu
menyetir seseorang kepada kepanikan.
Namanya juga khawatir, maka ia tak pernah memberikan
rasa damai sehingga seseorang tak bisa berpikir tenang. Dalam kekhawatiran,
saya tak bisa lagi memiliki "lidah" yang peka kalau sebuah kondisi
yang dihadapi sejujurnya tidak terlalu sulit. Saya tak bisa lagi melihat
kemampuan saya kalau saya pernah dua kali mengalahkan perusahaan besar itu di
beberapa kesempatan. Kekhawatiran saya sudah mengecoh kepekaan.
Maka, pembersihan yang dilakukan dua teman dan satu
karyawan saya di atas adalah sebuah jalan keluar untuk mengembalikan
"indera pengecapan" pada kondisi semula. Karena pembersihan itu
mencegah yang awalnya sudah kita setujui keliru, kemudian berubah menjadi
begitu benar adanya. Pembersihan diri itu mencegah asupan yang buruk agar tidak
merusak kebiasaan yang baik. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar