“Aku tu suka ngantuk kalau dengerin khotbah di gereja,” kata seorang wanita yang duduk berhadapan dengan saya di sebuah acara makan siang. Mendengar kejujurannya itu, saya jadi tertawa di dalam hati.
Tidak hendak mencibir kejujurannya itu, tetapi harus
diakui, saya sendiri merasakan apa yang dirasakannya itu. Bahkan, dalam kasus
saya, saya bahkan sudah mengantuk saat masih di rumah.
Pukul 6, 8, atau 17
Buat saya salah satu aktivitas yang menyiksa selain
makan wortel dan bayam adalah pergi ke gereja. Tetapi, belakangan saya
memutuskan untuk lebih rajin datang ke rumah ibadah, bahkan saya memilih
kebaktian pukul 06.00 pagi yang berarti harus berangkat dari rumah ketika
kebanyakan teman-teman saya masih tidur lelap.
Keputusan untuk rajin sudah saya jalani hanya
beberapa minggu saja, kemudian mulai dua minggu yang lalu kerajinan itu kendur
kembali. Begitu kendur, maka bangun pukul 05.00 pagi itu menyiksa sekali,
mengantuknya luar biasa, tidak tertahankan.
Tetapi, kalau harus mengejar pesawat subuh, maka
dengan kondisi mengantuk yang sangat saja saya akan bangun dan berusaha keras
untuk menepati peraturan untuk berada dua jam di lapangan terbang sebelum jam
keberangkatan.
Waktu saya curhat mengenai kejadian ini kepada seorang teman, saya dinasihati untuk memilih hadir di kebaktian pukul 08.00 pagi. Seorang teman lagi malah menyarankan untuk hadir di sore hari tepatnya pukul lima sore saja. “Jadi, elo masih bisa tidur lama dan bangun siangan.”
Sejujurnya di tengah kemalasan dan perasaan
mengantuk yang sering kali menyerang di subuh hari, saya toh tetap merasa bahwa
pergi ke gereja pada sore hari atau pukul 08.00 pagi saja bisa menghadirkan
sebuah perasaan yang tidak enak, merasa menempatkan Tuhan di nomor sekian bukan
yang utama.
Saya tak bisa tenang dan seharian bakal merasa
bersalah dan takut kalau kejadian buruk akan menimpa. Perasaan ini juga dialami
seorang teman. Ia tak pernah absen datang ke gereja kecuali sedang sakit.
“Aku tu suka salut sama mereka yang bisa enggak ke gereja
bertahun-tahun,” katanya.
“Mereka pasti imannya besar banget, ya, Bro?”
lanjutnya.
Saya tak menjawab pertanyaan itu. Saya tak tahu sama
sekali apakah ketidakhadiran di rumah ibadah bertahun-tahun itu bisa berbanding
lurus dengan besar kecilnya iman seseorang atau berbanding lurus dengan celaka
atau tidak celakanya hidup mereka. Atau berbanding lurus dengan berkat yang
akan diterima atau tidak. Sungguh saya tak tahu.
100 persen daging
Satu minggu yang lalu saya memutuskan hadir di
gereja pukul 06.00 pagi. Saya bangun pukul 05.00 pagi dan entah mengapa sesubuh
itu tiba-tiba saya jadi plinplan. Ke gereja atau tidak. Singkat cerita saya
tidak ke gereja. Pergumulan pergi atau tidak pergi itu tidak karena mengantuk,
tetapi ada pertanyaan yang tiba-tiba menyelinap dalam pergumulan itu.
Saya ini datang ke rumah ibadah itu sebetulnya untuk
apa? Untuk mengusir ketakutan saya kalau di hari itu dan di hari-hari yang akan
datang tertimpa bencana? Atau karena sebuah kewajiban seperti kewajiban
membayar pajak? Suka tidak suka, saya harus memenuhi kewajiban itu.
Atau pergi ke rumah ibadah untuk menghapus rasa
bersalah dan agar merasa ada keseimbangan setelah melakukan perbuatan duniawi
yang mungkin tidak senonoh? Berselingkuh, berbohong, dan mencuri dari Senin
sampai Sabtu, maka beribadah di hari Minggu dipergunakan sebagai penghapus
ketidakbenaran itu.
Setelah merasa terhapus, kemudian diulangi minggu
yang akan datang. Atau pergi ke rumah ibadah itu bergantung pada mood dan
kebutuhan? Hari ini datang, minggu depan tidak. Lima tahun enggak datang, nanti
kalau ada perlunya kembali beribadah lagi.
Kemudian di subuh hari itu, nurani bawel itu
bernyanyi. Saya pikir sesubuh itu ia masih terlelap. “Kamu tu ke rumah ibadah
gak dengan rasa cinta elo yang besar kepada Tuhan. Mungkin selama ini elo tu
juga gak cinta-cinta amat sama Tuhan. Buat elo, Tuhan itu untuk dimanfaatkan
dan tidak untuk dicintai.”
“Masalahnya bukan soal waktu, bukan soal berniat
atau tidak. Masalahnya cuma satu. Cinta elo ke Tuhan kayak obat. Kalau lagi
sakit aja diminum. Gak bisa kayak air, yang setiap saat selalu dicari untuk
diminum. Jadi ke rumah ibadah itu hanya untuk pemenuhan kebutuhan kedagingan
elo.”
Nurani itu masih terus mengeluarkan sindirannya yang
bak belati. “Pada akhirnya, mungkin elo adalah orang pertama di dunia, yang
perjalanan spiritualnya hanya sebuah perjalanan untuk pemenuhan kedagingan.
Keliatannya spiritual, tetapi 100 persen kedagingan.” ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar