“Berbuat baiklah selagi masih diberi kesempatan”.
Demikian pesan seorang warga net di sebuah media sosial. Seperti biasa, pesan
semacam itu saya dapati setelah menghabiskan dua jam di dunia maya sambil
menyantap sarapan yang habis hanya dalam waktu 10 menit.
Lumrah
Nah, bagaimana jika sekarang saya bertanya kepada
Anda sekalian sebuah pertanyaan seperti ini. “Selagi ada kesempatan berbuat
kebaikan, apakah Anda memanfaatkannya?” Jika pertanyaan itu diajukan kepada
saya, saya akan menjawab ya dengan tegas dan lantang.
Akan tetapi, jawaban ya yang tegas dan lantang itu
sungguh mudah diucapkan. Masalahnya saya sering kali tidak peka akan datangnya
kesempatan untuk berbuat baik itu. Kepekaan saya itu menjadi tumpul karena acap
kali berpikir bahwa berbuat ketidakbaikan itu sangat manusiawi dan
lama-kelamaan menjadi lumrah untuk dilakukan.
Jika dulu tidak pernah kaya, sekarang menjadi kaya
melalui perselingkuhan atau korupsi yang membuat kualitas hidup menjadi
meningkat, lama-kelamaan perselingkuhan dan korupsi itu menjadi lumrah meski
hal itu menyakiti orang lain dan menghidupi dirinya sendiri dan orang lain
dengan uang haram. Lama-kelamaan haram pun terasa menjadi tidak haram.
Lumrah itu melahirkan hal yang manipulatif, lumrah memampukan saya berpikir bahwa hal yang tidak baik dilakukan akan selalu memiliki sisi atau alasan baik untuk dilakukan. Bagaimana kalau dengan berselingkuh saya bisa memberi kebahagiaan kepada orang lain yang selama pernikahannya ia tidak merasa bahagia? Tidakkah bisa dikatakan kalau saya telah berbuat kebaikan dengan memberi kebahagiaan kepada seseorang yang menderita?
jika saya seorang koruptor, kemudian dengan hasil
yang menurut orang lain tidak baik itu, yang kata orang lain hanya
menguntungkan diri sendiri itu, saya bisa berbuat kebaikan dengan menyumbangkan
dana untuk menolong orang sakit, membangun rumah ibadah, menyekolahkan beberapa
anak-anak tidak mampu? Apakah saya bisa dikatakan tidak peka akan sebuah
kesempatan untuk berbuat baik di tengah perbuatan yang kata orang lain kotor itu?
Kemudian saya mengingatingat lagi pesan yang
disampaikan seorang warga net di atas. Berbuat baiklah selagi diberi
kesempatan. Kemudian tak lama setelah itu, lahir dua pertanyaan. Pertama, di
manakah kesempatan berbuat baik itu tersedia. Kedua, siapa yang sesungguhnya
memberikan saya kesempatan untuk berbuat baik?
24 jam, 1 minggu, 365 hari
Beberapa waktu lalu, saya membaca berita, seorang
gadis tunarungu dan tunawicara dibunuh dan sebelum dibunuh ia diperkosa dan
barang-barangnya pun dicuri, termasuk uang Rp 4 juta.
Jika itu terjadi pada adik atau kakak saya, saya
akan membalas dengan cara apa pun selain secara hukum pelaku akan dipenjara.
Kesempatan berbuat baik tersedia untuk kakak atau adik saya yang tewas
mengenaskan seperti itu melalui balas dendam itu. Dan sebuah situasi yang
menyakitkan yang memberikan kesempatan kepada diri saya untuk berbuat baik.
Akan ada yang akan mengatakan balas dendam yang akan
saya lakukan adalah perbuatan yang tidak baik. Karena apa pun kejadian yang
menyakitkan, hukum adalah satu-satunya jalur yang tepat untuk ditempuh. Mungkin
ada yang akan berpikir lumrahlah ia melakukan balas dendam itu lha wong
saudaranya dibantai seperti itu.
Itu adalah reaksi saya kalau seandainya kejadian
kejam itu menimpa saya. Bagaimana reaksi ayah si korban yang saya baca dalam
berita di media sosial itu? Dalam berita itu ayahnya hanya menjelaskan kondisi
anaknya ketika masih hidup, tak satu pun ada penjelasan reaksinya, terutama
untuk membalas dendam terhadap kejadian yang menimpa putrinya.
Maka, jika ada dua pertanyaan yang terlintas di
kepala saya, di mana kesempatan berbuat baik tersedia dan siapakah yang akan
memberi kesempatan melakukan perbuatan baik itu kepada saya? Maka, kesempatan
berbuat baik itu tersedia 24 jam satu hari, 7 hari dalam seminggu, dan 365 hari
dalam satu tahun.
Kesempatan berbuat baik adalah dalam bentuk saat
mobil saya ditabrak, saya boleh bertanya baik-baik mengapa sampai tertabrak
tanpa melabrak dan melakukan kekerasan. Ketika seseorang menulis pesan di media
sosial, maka kesempatan berbuat baik adalah saya membaca dengan saksama pesan
itu sebelum memberi komentar yang penuh emosional dan mendatangkan
perselisihan.
Ketika saya tahu jalur hanya untuk satu arah, maka
kesempatan berbuat baik selagi ada itu yaa.mengikuti satu arah itu dan ketika
polisi menegur karena saya melanggar, saya tak perlu mencari alasan, bahkan
memukul petugas.
Bukankah pada akhirnya setiap kejadian di dalam hidup ini adalah sebuah tempat tersedia kesempatan saya untuk berbuat baik? Bukankah pada akhirnya saya sendirilah yang menjadi orang satu-satunya yang memberi kesempatan pada diri sendiri untuk berbuat baik melalui kejadian yang aneka ragam bentuknya bahkan yang tersulit dan terkejam sekalipun? ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar