”Hidup itu sejujurnya kayak...,” kata seorang karyawan saya beberapa tahun lalu. Kalimat itu tak bisa saya tulis secara utuh karena itu adalah sebuah kalimat yang mengandung umpatan kasar, mengandung amarah dan kekesalan.
Sukacita dan dukacita
Ia juga berpikir bahwa semua yang berbau positif
yang pernah ia baca, ia dengar, dan ia lakukan adalah sebuah tindakan yang mau
tak mau harus dilakukan, karena sesungguhnya seseorang takut sekali melihat
bahwa hidup yang sesungguhnya itu, adalah jauh dari menyenangkan. ”Kita
membungkus hidup yang susah itu seperti kado. Memilih bungkus yang menarik,
cantik, dan indah untuk sebuah isi yang menyakitkan.”
Mengapa tiba-tiba di sebuah pagi saya teringat
dengan perkataan karyawan saya itu? Saya sedang menyaksikan sebuah tayangan
film di televisi. Di salah satu adegannya, seorang laki-laki mengungkapkan
pendapatnya agar manusia itu merayakan hidup, dan bukan hanya sekadar hidup.
Kata kerja merayakan digunakan untuk memperlihatkan
sebuah aktivitas yang positif, yang mendatangkan rasa sukacita, gembira,
menyenangkan, apa pun penyebab kegembiraan itu, baik di ruang publik atau
bersifat pribadi.
Contoh. Merayakan hari ulang tahun, merayakan kenaikan kelas, jabatan, merayakan pernikahan, merayakan terbebasnya dari penjara, terbebas dari dakwaan korupsi, terbebas dari penyakit yang mematikan, merayakan hari kemerdekaan sebuah negara, merayakan sebuah kemenangan tender, atau pemilihan presiden.
Sepengetahuan saya, tanpa melihat kamus atau buku
apa pun, tak ada seorang pun mengatakan, kalau ia merayakan dengan sukacita
atas berpulangnya orang yang dicintainya, meski seseorang tahu bahwa kematian
itu membebaskan seseorang dari sebuah penderitaan. Itu mengapa, pada situasi
semacam itu, orang mengatakan saya turut berdukacita.
Saya juga tak pernah membaca ada orang yang
merayakan pemerkosaan atas dirinya, merayakan sebuah pemutusan hubungan cinta,
apalagi karena perselingkuhan meski mungkin setelah beberapa waktu berlalu,
mereka bisa bersyukur terbebas dari pasangan yang tak setia itu.
Saya juga tak pernah melihat orang bergembira
merayakan hasil pemeriksaan kesehatan dan hasilnya adalah kanker payudara
stadium akhir, atau ada yang merayakan bahwa ia tak naik kelas, dikeluarkan
dari pekerjaan, baik karena perusahaan mengalami kesusahan atau karena
kesalahannya sendiri.
Tertawa dan menangis
Jadi apa yang dimaksud dengan merayakan kehidupan?
Kalau hanya melihat dari kata merayakan, dan penggunaan dari kata itu,
seharusnya yang dirayakan adalah semua kejadian yang hanya mendatangkan rasa
gembira, bukan?
Tetapi apa kenyataannya? Kehidupan yang dilakoni itu
selalu memiliki dua wajah. Jadi apakah seharusnya kita juga merayakan hidup
yang juga mampu mengundang datangnya kekecewaan dan kesakitan baik fisik maupun
jiwa?
Kalau seandainya kita merayakan kesakitan itu, saya
kok tiba-tiba kepikiran seperti sedang menikmati hubungan seksual yang
dikelompokkan sebagai sadomasochism. Sebuah hubungan seksual di mana seseorang
menikmati sebuah kesakitan, baik secara fisik dan mental, yang dilakukan orang
lain kepadanya.
Setelah saya berpikir demikian, saya jadi mulai
keder sendiri. Apakah sesungguhnya saya ini seperti sedang melakukan
sadomasochism? Lha wonghidup ini acapkali sungguh menyakitkan. Tetapi setiap
kali yang menyakitkan itu datang, teman-teman saya selalu mengatakan nasihat
positif.
”Kamu bisa belajar dari kesakitan ini, kamu bisa
naik kelas dengan kesakitan ini, kamu bisa memiliki pengalaman baru, yang kalau
kamu bisa lalui, maka kamu bisa memberi kekuatan buat mereka yang sedang
mengalaminya. Dinikmatin aja, ntar kan selesai juga.”
Jadi mendengar nasihat mulia itu, saya merasa tak
bedanya dengan mereka yang merayakan kesakitan sebagai sebuah kenikmatan. Kalau
kemudian hubungan seksual itu dikelompokkan sebuah hal yang tidak wajar, maka
saya jadi bertanya. Apakah hidup yang menyakitkan itu wajar, hanya karena saya
bisa naik kelas karenanya? Apakah kalimat bisa naik kelas itu adalah bungkus
kado yang membuat kesakitan itu kelihatan sedikit ”cantik”?
Saya jadi berpikir, jadi benar kalau karyawan saya di
atas memiliki pendapat bahwa hidup itu sejujurnya menyakitkan dan sejujurnya
sebagai manusia saya tak mau tersakiti. Oleh karena itu, saya mencari jalan
keluar agar mengurangi kesakitan itu, dengan selalu berusaha menyediakan
antidot berbentuk kalimat, pikiran, dan tindakan yang positif.
Jadi apa arti merayakan hidup itu kalau begitu?
Apakah itu berarti merayakan kehebatan saya, yang memiliki kemampuan membungkus
kado dengan indah, melalui cara berpikir positif untuk sebuah kejadian yang
menyayat hati, yang mengecewakan, yang meluluhlantakkan?
Atau merayakan hidup itu, adalah lebih kepada
merayakan keberanian menghadapi segala situasi, dan tak menyerah karenanya,
tanpa harus selalu berusaha mencari antidotnya. Jadi mungkin, merayakan hidup
itu adalah merayakan kemampuan tertawa dan menangis tanpa embel-embel di
belakangnya. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar