Dalam perjalanan pulang di dalam taksi, tiba-tiba saya berpikir mengapa orang mengatakan kepada sesamanya: "Kamu enggak punya harga diri." Apakah memang diri punya harga? Apakah ketika seorang manusia lahir dari rahim seorang ibu, ia diberi price tag? Oleh siapa?
Kalau jawabannya "ya", berapa nilainya?
Bagaimana menghitungnya sehingga manusia yang satu lebih bernilai dari yang
lainnya? Kalau tidak, mengapa ungkapan itu ada?
HPP+margin
Tiba-tiba saya merasa seperti kupu-kupu malam yang
memiliki harga untuk dikencani. Saya sendiri tak tahu apakah harga yang
ditawarkan kupu-kupu malam itu sama dengan harga dirinya? Apa tujuan ungkapan
itu ada atau dibuat? Untuk sebuah cara menilai manusia? Bagaimana cara
menilainya, lha wong cara menghitung harganya saja tidak tahu.
Saya sempat berpikir apakah harga diri itu seperti
harga barang yang bisa naik dan turun seperti ayunan, bahkan kadang jeblok dan
modal saja tak kembali. Apakah untuk menghitung harganya seperti harga barang?
Cost ditambah keuntungan?
Apakah nilai saya sebagai anak bapak dan ibu itu ditentukan dengan harga pokok penjualan, yaitu semua biaya yang muncul untuk menghasilkan produk (saya) yang dihitung mulai dari persetubuhan yang dilakukan oleh keduanya, sampai saya lahir dan tumbuh dewasa dan bisa mencari uang sendiri?
Termasuk membeli popok, susu, sekolah, les ini dan
les itu, beli baju, kemudian di akhir perhitungan ditambahkan margin. Nah,
besarnya marginnya dihitung berdasarkan hasil tes IQ si anak. Kalau super
brilian bisa lebih dari 100 persen sama seperti kalau memesan air mineral standar
di hotel berbintang lima.
Dan, kalau IQ-nya seperti saya yang gitudeh itu,
maka yaa. terima saja kalau keuntungannya seimprit, atau paling tidak kembali
modal saja sudah bersyukur. Ataukah besarnya margin itu ditentukan dari
keturunannya?
Darah biru atau darah merah biasa. Keturunan orang
kaya lama atau orang kaya baru-baru saja atau baru-baru saja bisa kaya? Atau
masih keturunan pahlawan bangsa atau selebritas kondang sejagat raya? Atau
keturunan manusia waras dan yang satu keturunan manusia yang setengah waras?
Ada harga, ada rupa
Bagaimana kalau diri saya dihargai tinggi seperti
barang bermerek supermahal, macam jam tangan dan mobil mewah, tetapi suatu hari
ternyata barang mahal itu ada cacatnya? Apakah orang lain akan mencibir atau
malah memaklumi karena harganya itu terkait dengan merek kondang, dan mereka tetap
tidak kapok untuk membeli?
Anda bisa bayangkan kalau harga diri saya sudah
murah dan cacat pula. Apakah saya mendapat penghinaan, atau malah orang juga
akan memaklumi dengan berkicau. "Yaah. namanya juga murahan. Ada harga,
ada rupa, Bro."
Saya sudah lebih dari setengah abad hidup sendiri
dan sampai sekarang belum punya pasangan alias tidak laku. Teman saya menegur.
"Enggak boleh bilang begitu. Belum ada yang mau, bukan enggak ada yang
mau."
Kalau memang benar teguran itu, dan benar belum ada
yang mau dengan saya, mengapa belumnya lama sekali? Apakah karena harga saya
terlalu tinggi? Yang berminat banyak, tetapi mundur teratur karena harga yang
bikin deg-degan. Atau harganya kerendahan dan tidak memberikan gengsi kepada
pembelinya?
Rasa penasaranlah yang membuat saya melihat kamus
seperti biasanya. Penasaran akan makna harga diri sesungguhnya. Maka ini yang
saya dapatkan. Dalam bahasa Inggris harga diri disebut self esteem. Self esteem
memiliki persamaan dengan self-respect, self-confidence adalah di mana seorang
memberikan penilaian terhadap dirinya.
Oh... jadi selama ini saya keliru mengartikannya.
Saya pikir harga diri itu adalah harga seperti saya melihat price tag yang
mampu mengundang jeritan: "Buset mahal buanget atau gila murah amat."
Artinya saya menilai angka yang saya lihat.
Ternyata... harga diri itu bukan sebuah penilaian
saya terhadap orang lain yang saya lihat, tetapi merekalah yang menilai diri
mereka sendiri. Berarti kalau saya beberapa kali berkomentar, "Orang, kok,
seperti gak punya harga diri", berarti saya keliru.
Kalaupun seseorang melakukan kejahatan, orang lain
berhak menangkap karena dirugikan, tetapi dari penilaian yang bersangkutan
tidaklah demikian adanya. Kalaupun di mata saya nilai yang mereka berikan untuk
diri mereka sendiri begitu rendahnya, seperti barang kacangan, itu pun adalah
hak mereka dalam menghitung "HPP dan margin" kehidupan mereka. Harga
diri adalah bersifat individual.
Maka istilah "ada harga ada rupa" mungkin
tak selalu benar adanya. Bukankah Anda dan saya bisa jadi kelihatan baik dan
santun di hadapan sejuta manusia. Mungkin Anda dan saya tidak korup, tidak
berselingkuh, tidak menjual diri sehingga orang menilai harga diri kita tinggi
sekali.
Tetapi, apakah mereka tahu, kalau secara diam-diam,
Anda dan saya berkawan akrab dengan ketidakbaikan dalam bentuk yang lain? ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar