Judul di atas adalah singkatan dari ”WhatsApp
Group”. Saya mempunyai 30 banyaknya, yang kalau dibagi menjadi dua kategori
besar menjadi grup keluarga dan non- keluarga.
Judul di atas adalah singkatan dari ”WhatsApp
Group”. Saya mempunyai 30 banyaknya, yang kalau dibagi menjadi dua kategori
besar menjadi grup keluarga dan non- keluarga. Yang non-keluarga itu terdiri
dari teman dan urusan kantor.
Mati, setengah mati, hidup
Saya mulai dari empat grup yang paling mudah untuk
dijelaskan. Mudah karena keempatnya ini sudah mati. Artinya, tak ada aktivitas
sama sekali. Kalau mau dihapus, saya yakin nanti pasti ada yang japri (mengirim
pesan pribadi) untuk menanyakan mengapa saya keluar dari grup. Ini seperti
sebuah hubungan. Kalau masih ada orangnya tak ada yang peduli. Begitu orangnya
meninggal, menyesalnya setengah mati.
Grup berikutnya adalah grup yang hidup enggan mati
tak mau. Grup ini aktif hanya kalau ada yang memancing dengan mengajukan
pertanyaan atau memberitahukan sebuah atau beberapa informasi. Ketika ada satu
orang saja mulai memancing, mereka aktif kembali dengan energi yang luar biasa.
Membalas dengan komentar yang lucu.
Namun, setelah aktivitas itu selesai, grup ini diam
seribu bahasa sampai ada lagi yang memancing dengan mengirimkan pesan. Anggotanya
juga tak terlalu peduli kalau beritanya mengenai guyonan, atau bahkan mereka
tak peduli dengan datangnya Hari Kasih Sayang atau hari lainnya. Pokoknya, grup
ini hanya aktif kalau ada pancingan. Dan pancingan harusnya yang jitu supaya
mereka berkomentar.
Saya loncat pada grup yang paling aktif. Kalau saya
sebut aktif itu ada dua hal. Pertama, memang nyaris setiap menit ada saja pesan
yang dikirim. Kedua, yang aktif mengirim berita atau yang mengomentari ya orang
yang itu-itu saja.
Saya pernah keluar dari grup ini, kemudian beberapa
waktu lalu salah satu anggota teraktif japri saya untuk masuk
lagi. Saya menyesalnya setengah mati. Sekarang mau keluar lagi saya sungkan.
Mengapa saya menyesal? Grup ini terdiri atas anggota
yang berusia di atas 50 tahun. Berita yang dikirim kebanyakan berita penuh
kesengsaraan. Kalaupun ada yang humoris hanya segelintir. Apalagi akhir- akhir
ini dengan berita virus korona, Anda tak bisa membayangkan grup ini
membombardir dengan tak kenal ampun. Namun, apa pun yang dikirimkan ke dalam
grup, benang merahnya hanyalah kesengsaraan hidup.
Selain penderitaan, beritanya bisa berupa semangat
untuk hidup benar. Nasihat yang cliche dan yang sudah
disebarkan secara viral ke mana-mana. Saya merupakan anggota yang sama sekali
tidak aktif dan setiap kali ada pesan yang masuk dari grup ini, saya sudah tak
peduli. Dibaca pun tidak.
Ujian mental
Grup kantor adalah grup yang bisa dikatakan juga
yang paling aktif. Saya percaya Anda pasti mengerti mengapa sangat aktif.
Isinya kalau tidak masalah, ya... masalah lagi. Atau mengingatkan janji temu
untuk rapat esok hari atau hari itu. Karena salah satu anggotanya sering kali
lupa. Bahkan, sering terkaget-kaget sendiri karena kelupaannya yang sudah
tingkat tak tertolong.
Grup kantor ini masih terdiri atas grup-grup kecil
sesuai dengan divisinya. Ada grup keuangan, ada grup bisnis, ada grup yang umum
di mana semua divisi bisa aktif dalam grup ini. Saya suka deg-degan kalau ada
pesan masuk dari grup keuangan. Beritanya kebanyakan soal tagihan yang sudah jatuh
tempo.
Berikutnya adalah grup yang anggotanya memiliki
latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang memiliki biro iklan, ada yang
mempunyai sekolah pilot, ada yang pekerja seni, ada yang memiliki usaha
penerbitan, ada yang seorang profesional, ada yang menjadi konsultan untuk
hubungan masyarakat, ada yang bekerja sebagai fasilitator.
Grup ini lumayan aktif meski tidak menggebu-gebu.
Berita dalam grup ini seputar banjir, virus korona, kehidupan pribadi, politik,
seks, dan soal titip-menitip, terutama menitip pembelian makanan. Anggotanya
juga bisa dikatakan aktif semuanya. Aktif menitip dan aktif berkomentar. Namun,
dari sekian yang aktif yang super-aktif hanya satu. Ia yang selalu mengirimkan
berita apa saja.
Untuk grup keluarga, saya punya dua grup. Satu grup
hanya terdiri dari saya, kakak, dan adik. Satu grup lagi keluarga besar dari
pihak ayah. Saya juga tak tahu mengapa grup dari pihak ibu sama sekali tak
dibuat. Grup keluarga besar bisa dikatakan seperti grup yang tidak mati, tetapi
seperti harus ada.
Mungkin tujuan utamanya hanya supaya ikatan keluarga
tak terputus. Di luar soal urusan keluarga, tak ada pesan yang dikirim seperti
grup lainnya. Kami hanya saling menyapa dan menanyakan kabarnya. Sebuah grup
yang benar-benar datar tak ada
geregetnya.
Setiap hari saya menghabiskan waktu untuk urusan
membaca grup-grup ini. Dengan keanekaragaman sifat dari grup-grup ini, saya
terhibur. Mereka seperti obat pelipur lara, terutama untuk saya yang hidup
sendiri. Kadang informasi yang saya perlukan juga dengan cepat tersedia.
Maka, benarlah kalau dikatakan, selain saudara
sekandung, punya teman di mana-mana itu juga menguntungkan. Namun, berteman
juga memerlukan kematangan pribadi untuk menghadapi berbagai sifat manusia yang
tak jarang bikin kesal.
Karena kalau tak kuat, bisa saja mental dari grup.
Jadi, buat saya, grup pertemanan ini juga sebuah ujian mental dalam
bersosialisasi, mengasah toleransi, terutama perbedaan pendapat dan ujian dalam
penguasaan diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar