Minggu, 09 Juni 2024

WAG

 

Judul di atas adalah singkatan dari ”WhatsApp Group”. Saya mempunyai 30 banyaknya, yang kalau dibagi menjadi dua kategori besar menjadi grup keluarga dan non- keluarga.

Judul di atas adalah singkatan dari ”WhatsApp Group”. Saya mempunyai 30 banyaknya, yang kalau dibagi menjadi dua kategori besar menjadi grup keluarga dan non- keluarga. Yang non-keluarga itu terdiri dari teman dan urusan kantor.

Mati, setengah mati, hidup

Saya mulai dari empat grup yang paling mudah untuk dijelaskan. Mudah karena keempatnya ini sudah mati. Artinya, tak ada aktivitas sama sekali. Kalau mau dihapus, saya yakin nanti pasti ada yang japri (mengirim pesan pribadi) untuk menanyakan mengapa saya keluar dari grup. Ini seperti sebuah hubungan. Kalau masih ada orangnya tak ada yang peduli. Begitu orangnya meninggal, menyesalnya setengah mati.

Grup berikutnya adalah grup yang hidup enggan mati tak mau. Grup ini aktif hanya kalau ada yang memancing dengan mengajukan pertanyaan atau memberitahukan sebuah atau beberapa informasi. Ketika ada satu orang saja mulai memancing, mereka aktif kembali dengan energi yang luar biasa. Membalas dengan komentar yang lucu.

Namun, setelah aktivitas itu selesai, grup ini diam seribu bahasa sampai ada lagi yang memancing dengan mengirimkan pesan. Anggotanya juga tak terlalu peduli kalau beritanya mengenai guyonan, atau bahkan mereka tak peduli dengan datangnya Hari Kasih Sayang atau hari lainnya. Pokoknya, grup ini hanya aktif kalau ada pancingan. Dan pancingan harusnya yang jitu supaya mereka berkomentar.

Saya loncat pada grup yang paling aktif. Kalau saya sebut aktif itu ada dua hal. Pertama, memang nyaris setiap menit ada saja pesan yang dikirim. Kedua, yang aktif mengirim berita atau yang mengomentari ya orang yang itu-itu saja.

Saya pernah keluar dari grup ini, kemudian beberapa waktu lalu salah satu anggota teraktif japri saya untuk masuk lagi. Saya menyesalnya setengah mati. Sekarang mau keluar lagi saya sungkan.

Mengapa saya menyesal? Grup ini terdiri atas anggota yang berusia di atas 50 tahun. Berita yang dikirim kebanyakan berita penuh kesengsaraan. Kalaupun ada yang humoris hanya segelintir. Apalagi akhir- akhir ini dengan berita virus korona, Anda tak bisa membayangkan grup ini membombardir dengan tak kenal ampun. Namun, apa pun yang dikirimkan ke dalam grup, benang merahnya hanyalah kesengsaraan hidup.

Selain penderitaan, beritanya bisa berupa semangat untuk hidup benar. Nasihat yang cliche dan yang sudah disebarkan secara viral ke mana-mana. Saya merupakan anggota yang sama sekali tidak aktif dan setiap kali ada pesan yang masuk dari grup ini, saya sudah tak peduli. Dibaca pun tidak.

Ujian mental

Grup kantor adalah grup yang bisa dikatakan juga yang paling aktif. Saya percaya Anda pasti mengerti mengapa sangat aktif. Isinya kalau tidak masalah, ya... masalah lagi. Atau mengingatkan janji temu untuk rapat esok hari atau hari itu. Karena salah satu anggotanya sering kali lupa. Bahkan, sering terkaget-kaget sendiri karena kelupaannya yang sudah tingkat tak tertolong.

Grup kantor ini masih terdiri atas grup-grup kecil sesuai dengan divisinya. Ada grup keuangan, ada grup bisnis, ada grup yang umum di mana semua divisi bisa aktif dalam grup ini. Saya suka deg-degan kalau ada pesan masuk dari grup keuangan. Beritanya kebanyakan soal tagihan yang sudah jatuh tempo.

Berikutnya adalah grup yang anggotanya memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang memiliki biro iklan, ada yang mempunyai sekolah pilot, ada yang pekerja seni, ada yang memiliki usaha penerbitan, ada yang seorang profesional, ada yang menjadi konsultan untuk hubungan masyarakat, ada yang bekerja sebagai fasilitator.

Grup ini lumayan aktif meski tidak menggebu-gebu. Berita dalam grup ini seputar banjir, virus korona, kehidupan pribadi, politik, seks, dan soal titip-menitip, terutama menitip pembelian makanan. Anggotanya juga bisa dikatakan aktif semuanya. Aktif menitip dan aktif berkomentar. Namun, dari sekian yang aktif yang super-aktif hanya satu. Ia yang selalu mengirimkan berita apa saja.

Untuk grup keluarga, saya punya dua grup. Satu grup hanya terdiri dari saya, kakak, dan adik. Satu grup lagi keluarga besar dari pihak ayah. Saya juga tak tahu mengapa grup dari pihak ibu sama sekali tak dibuat. Grup keluarga besar bisa dikatakan seperti grup yang tidak mati, tetapi seperti harus ada.

Mungkin tujuan utamanya hanya supaya ikatan keluarga tak terputus. Di luar soal urusan keluarga, tak ada pesan yang dikirim seperti grup lainnya. Kami hanya saling menyapa dan menanyakan kabarnya. Sebuah grup yang benar-benar datar tak ada

geregetnya.

Setiap hari saya menghabiskan waktu untuk urusan membaca grup-grup ini. Dengan keanekaragaman sifat dari grup-grup ini, saya terhibur. Mereka seperti obat pelipur lara, terutama untuk saya yang hidup sendiri. Kadang informasi yang saya perlukan juga dengan cepat tersedia.

Maka, benarlah kalau dikatakan, selain saudara sekandung, punya teman di mana-mana itu juga menguntungkan. Namun, berteman juga memerlukan kematangan pribadi untuk menghadapi berbagai sifat manusia yang tak jarang bikin kesal.

Karena kalau tak kuat, bisa saja mental dari grup. Jadi, buat saya, grup pertemanan ini juga sebuah ujian mental dalam bersosialisasi, mengasah toleransi, terutama perbedaan pendapat dan ujian dalam penguasaan diri.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar