Senin, 10 Juni 2024

Kasih dan Sayang

Gampangnya saja, kalau kamu memang sudah mengasihi dirimu sendiri, pertanyaan berikutnya adalah berapa target yang ingin kamu capai untuk mengasihi sesamamu manusia?

Tepat esok hari adalah hari kasih sayang. Sayang, tak semua orang peduli akan hal itu. Bahkan, beberapa teman saya dan anak-anaknya yang termasuk dalam kategori generasi zaman now malah hari yang buat saya istimewa itu buat mereka jauh dari rasa istimewa. Waktu saya menanyakan apakah mereka akan merayakannya dengan pacar mereka atau dengan orang yang mereka kasihi, jawabannya hanya singkat sekali. ”Enggak.”

Musuh

Baiklah kalau begitu adanya, biar saja saya yang merasakan kegembiraan menyambut hari kasih sayang itu. Biar saya saja yang merayakannya. Kalau dulu saya selalu merasa kesepian bila datang hari kasih sayang ini karena tak punya pacar. Dulu, saya salah mengerti kalau hari kasih dan sayang itu harus dirayakan bersama kekasih hati. Karena itu, bertahun-tahun saya merasa frustrasi karena salah mengerti. Padahal, mengasihi itu sama siapa saja, termasuk musuhnya, bukan?

Setelah bertambah usia, bertambah tua, dan belum dewasa-dewasa juga, saya mulai merasa hari kasih sayang itu, kok, ya, akhirnya terasa begitu-begitu saja. Tak ada geregetnya sama sekali. Mungkin suasananya juga sudah jauh berbeda. Belum kalau memikirkan soal pandemi di mana orang harus menjaga jarak, sementara di hari semacam itu kalau bisa tak berjarak atau sesedekat mungkin jauh lebih baik.

Sampai beberapa menit sebelum tulisan ini dimulai, nurani saya mulai berbicara. Sejatinya saya ini menulis artikel soal kasih, emangnya saya sudah berhasil dalam mengasihi diri sendiri? Seperti biasa, ketika nurani saya bawel, saya menjawab secepat kilat, Sudah! Kemudian nurani itu tak mau berhenti mengalah. Ia melanjutkan lagi. ”Apakah buktinya kalau kamu sudah mencintai dirimu?”

Menjawab pertanyaaan itu saya mulai kelabakan. Apa buktinya? Hmm… nurani ini berhasil membuat saya tak bisa diam. Kalau saya sedang sakit artinya saya tidak merawat tubuh dengan baik, apakah itu bukti saya belum mencintai diri sendiri? Kalau saya tak punya tabungan masa depan, apa berarti saya tak sedang mencintai masa depan saya dan masa depan anak seandainya saya punya anak?

Nah, kalau saya merawat tubuh saya, kalau saya menabung, kalau saya punya kekayaan yang lumayan, apakah itu bukti saya telah mencintai diri saya? Kemudian nurani itu melihat saya sedang kebingungan menjawab pertanyaan, ia menambah kebingungan itu dengan mengajukan pertanyaan begini.

Target

”Gampangnya saja, kalau kamu memang sudah mengasihi dirimu sendiri, pertanyaan berikutnya adalah berapa target yang ingin kamu capai untuk mengasihi sesamamu manusia?” Teman-teman yang budiman dalam seluruh perjalanan hidup, saya belum pernah ditanya oleh siapa pun dan oleh nurani saya sendiri soal target yang satu ini. Sumpah saya benar-benar kelimpungan untuk menjawabnya.

Saya sendiri tak tahu dari mana mulai menentukan targetnya dan cara menghitung target yang harus dicapai? Pakai rahasia apa agar target tercapai dengan tepat bahkan melebihi kuota kalau perlu. Teknik apa yang harus saya gunakan agar target itu tercapai?

Sejujurnya saya kesal sekali hari ini. Harus menjawab sebuah pertanyaan yang tak bisa saya jawab dan saya hitung. Kalau seandainya target sudah tercapai bahkan lebih, apakah saya sudah benar-benar adalah manusia yang bahagia sepenuhnya sehingga saya bisa melewati target yang ditentukan? Bagaimana kalau target itu tidak tercapai?

Apakah pertanyaan nurani itu mengada-ada hanya karena saya sedang menulis soal kasih? Dan ia tahu bagaimana cara menjebak saya? Sungguh saya tak tahu. Saya, untuk pertama kali, dibuat bingung dengan artikel yang saya tulis sendiri.

Nah, daripada saya kebingungan sendiri di hari kasih dan sayang ini, coba saya ajukan pertanyaan yang sama untuk Anda semua. Kita mulai. Berapa target Anda tahun ini untuk mengasihi manusia? Apakah target itu ada di dalam program perencanaan tahun ini atau tahun yang akan datang atau bahkan sebelumnya? Bagaimana cara Anda mencapai target yang ditentukan?

Apa indikator penentuan pencapaiannya? Siapa yang akan menjadi target Anda? Semua orangkah? Atau hanya orang-orang tertentu saja, atau kelompok tertentu saja? Mungkin setelah itu Anda seperti saya akan bertanya, untuk apa pertanyaan ini dijawab? Saya sendiri juga tak tahu.

Kalau Anda merasa tak mau menjawab atau karena tak tahu jawabannya juga tak masalah. Tak ada yang akan menghukum Anda kalau target itu tak tercapai atau bahkan tak ada yang akan menuntut Anda jika di dalam cita-cita Anda saja, keinginan mengasihi sesama sekali masih belum ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar