Gampangnya saja, kalau kamu memang sudah mengasihi dirimu sendiri, pertanyaan berikutnya adalah berapa target yang ingin kamu capai untuk mengasihi sesamamu manusia?
Tepat esok hari adalah hari kasih sayang. Sayang,
tak semua orang peduli akan hal itu. Bahkan, beberapa teman saya dan
anak-anaknya yang termasuk dalam kategori generasi zaman now malah
hari yang buat saya istimewa itu buat mereka jauh dari rasa istimewa. Waktu
saya menanyakan apakah mereka akan merayakannya dengan pacar mereka atau dengan
orang yang mereka kasihi, jawabannya hanya singkat sekali. ”Enggak.”
Musuh
Baiklah kalau begitu adanya, biar saja saya yang merasakan kegembiraan menyambut hari kasih sayang itu. Biar saya saja yang merayakannya. Kalau dulu saya selalu merasa kesepian bila datang hari kasih sayang ini karena tak punya pacar. Dulu, saya salah mengerti kalau hari kasih dan sayang itu harus dirayakan bersama kekasih hati. Karena itu, bertahun-tahun saya merasa frustrasi karena salah mengerti. Padahal, mengasihi itu sama siapa saja, termasuk musuhnya, bukan?
Setelah bertambah usia, bertambah tua, dan belum
dewasa-dewasa juga, saya mulai merasa hari kasih sayang itu, kok, ya, akhirnya
terasa begitu-begitu saja. Tak ada geregetnya sama sekali. Mungkin suasananya
juga sudah jauh berbeda. Belum kalau memikirkan soal pandemi di mana orang
harus menjaga jarak, sementara di hari semacam itu kalau bisa tak berjarak atau
sesedekat mungkin jauh lebih baik.
Sampai beberapa menit sebelum tulisan ini dimulai,
nurani saya mulai berbicara. Sejatinya saya ini menulis artikel soal kasih, emangnya saya
sudah berhasil dalam mengasihi diri sendiri? Seperti biasa, ketika nurani saya
bawel, saya menjawab secepat kilat, Sudah! Kemudian nurani itu tak mau berhenti
mengalah. Ia melanjutkan lagi. ”Apakah buktinya kalau kamu sudah mencintai
dirimu?”
Menjawab pertanyaaan itu saya mulai kelabakan. Apa
buktinya? Hmm… nurani ini berhasil membuat saya tak bisa diam. Kalau saya
sedang sakit artinya saya tidak merawat tubuh dengan baik, apakah itu bukti
saya belum mencintai diri sendiri? Kalau saya tak punya tabungan masa depan,
apa berarti saya tak sedang mencintai masa depan saya dan masa depan anak
seandainya saya punya anak?
Nah, kalau saya merawat tubuh saya, kalau saya
menabung, kalau saya punya kekayaan yang lumayan, apakah itu bukti saya telah
mencintai diri saya? Kemudian nurani itu melihat saya sedang kebingungan
menjawab pertanyaan, ia menambah kebingungan itu dengan mengajukan pertanyaan
begini.
Target
”Gampangnya saja, kalau kamu memang sudah mengasihi
dirimu sendiri, pertanyaan berikutnya adalah berapa target yang ingin kamu
capai untuk mengasihi sesamamu manusia?” Teman-teman yang budiman dalam seluruh
perjalanan hidup, saya belum pernah ditanya oleh siapa pun dan oleh nurani saya
sendiri soal target yang satu ini. Sumpah saya benar-benar kelimpungan untuk
menjawabnya.
Saya sendiri tak tahu dari mana mulai menentukan
targetnya dan cara menghitung target yang harus dicapai? Pakai rahasia apa agar
target tercapai dengan tepat bahkan melebihi kuota kalau perlu. Teknik apa yang
harus saya gunakan agar target itu tercapai?
Sejujurnya saya kesal sekali hari ini. Harus
menjawab sebuah pertanyaan yang tak bisa saya jawab dan saya hitung. Kalau
seandainya target sudah tercapai bahkan lebih, apakah saya sudah benar-benar
adalah manusia yang bahagia sepenuhnya sehingga saya bisa melewati target yang
ditentukan? Bagaimana kalau target itu tidak tercapai?
Apakah pertanyaan nurani itu mengada-ada hanya
karena saya sedang menulis soal kasih? Dan ia tahu bagaimana cara menjebak
saya? Sungguh saya tak tahu. Saya, untuk pertama kali, dibuat bingung dengan
artikel yang saya tulis sendiri.
Nah, daripada saya kebingungan sendiri di hari kasih
dan sayang ini, coba saya ajukan pertanyaan yang sama untuk Anda semua. Kita
mulai. Berapa target Anda tahun ini untuk mengasihi manusia? Apakah target itu
ada di dalam program perencanaan tahun ini atau tahun yang akan datang atau
bahkan sebelumnya? Bagaimana cara Anda mencapai target yang ditentukan?
Apa indikator penentuan pencapaiannya? Siapa yang
akan menjadi target Anda? Semua orangkah? Atau hanya orang-orang tertentu saja,
atau kelompok tertentu saja? Mungkin setelah itu Anda seperti saya akan
bertanya, untuk apa pertanyaan ini dijawab? Saya sendiri juga tak tahu.
Kalau Anda merasa tak mau menjawab atau karena tak
tahu jawabannya juga tak masalah. Tak ada yang akan menghukum Anda kalau target
itu tak tercapai atau bahkan tak ada yang akan menuntut Anda jika di dalam
cita-cita Anda saja, keinginan mengasihi sesama sekali masih belum ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar