Kalau Anda becermin, cermin akan memperlihatkan diri Anda. Kalau Anda berbuat sesuatu, perbuatan Anda itu adalah cermin siapa diri Anda. Bisa jadi, cermin itu merefleksikan Anda yang sesungguhnya atau Anda yang tengah berpura-pura. Apa pun alasannya, itu adalah yang Anda suguhkan kepada khalayak kebanyakan.
Anjing
Saya yakin, sebagian besar dari Anda telah melihat perbuatan tiga perempuan yang viral di media sosial belakangan ini. Bahkan perbuatan mereka itu sudah dijadikan meme. Teman saya sudah menggunakan meme itu sebagai alat untuk menjawab pesan tanpa kata-kata. Saya tak perlu menjelaskan perilaku dan perbuatan mereka yang sangat emosional itu. Bagi Anda yang belum melihat, Anda bisa mencarinya di media sosial dengan sangat mudah.
Kejadian itu adalah satu dari sekian banyak contoh
cermin yang dibawa seseorang di mana pun ia berada dan kemana pun ia pergi.
Cermin yang menggambarkan tabiat seseorang, yang merefleksikan seberapa tinggi
atau rendahnya penguasaan diri, yang memperlihatkan dengan sejelas-jelasnya
seberapa besar atau kecilnya kepekaan sosial, dan seberapa besar atau kecilnya
keinginan seseorang berbuat baik atau tidak sama sekali.
Permohonan maaf yang dilakukan setelah perbuatan
penuh emosi itu juga tak selalu menggambarkan sebuah tabiat yang mulia.
Permohonan maaf dengan menggunakan kalimat yang klise, yaitu saya khilaf dan
tak akan mengulangi perbuatan itu, masih perlu dibuktikan dalam waktu berjalan.
Membuktikan apakah itu hanya sekadar kalimat
basa-basi bermeterai atau benar-benar dieksekusi sehingga manusia itu benar
berubah menjadi sebuah pribadi baru yang sudah enggan menyebut ”anjing” atau
”goblok”, sebagai bentuk luapan amarah.
Saya kalau jadi anjing, juga akan tersinggung,
selalu dibawa-bawa dalam sebuah kejadian buruk dan nama saya selalu
dikonotasikan sebagai sebutan yang kasar, padahal saya sebagai anjing sangat
mudah memaafkan, setia, dan dapat menjadi teman di kala suka dan duka,
dijadikan penuntun bagi mereka yang membutuhkan.
Seandainya sebagai anjing saya bisa menuntut manusia
mencemarkan nama baik, akan saya lakukan. Saya akan membuat konferensi pers
untuk mengembalikan nama baik saya yang sudah sering dicemari berpuluh tahun
lamanya.
Katak
Setelah kejadian emosional yang membuat saya ikutan
emosi, nurani saya yang sudah lama, lama sekali tak bernyanyi, pagi itu, saat
saya sedang membuat tulisan ini, nyanyian kembali terdengar. Keras seperti
biasa.
”Kamu kok pinter banget bisa ngomong kayak gitu.
Lawong kamu itu juga gak beda sama ibu-ibu itu. Kamu itu beruntung karena pada
masa kamu berteriak seperti itu, belum ada media sosial dan anak buahmu tidak
merekamnya. Tapi, kamu sami mawon. Jadi mending tulisan yang di atas kamu
jadikan bahan kuliah untuk dirimu sendiri.”
Benar. Sungguh seratus persen benar. Saya pernah
merobek hasil karya anak buah, saya pernah berteriak dengan sangat emosi di
sebuah rumah makan di sebuah mal, yang telah membuat teman saya yang menemani
saya makan ketakutan setengah mati. Saya mengeluarkan kata-kata yang sangat
menyakiti, sampai teman saya bilang begini. ”Mas Sam, aku tu gak nyangka loh,
elo bisa sampai kayak gitu.”
Kamu kok pinter banget bisa ngomong
kayak gitu. Lawong kamu itu juga gak beda sama ibu-ibu itu. Kamu itu beruntung
karena pada masa kamu berteriak seperti itu, belum ada media sosial dan anak buahmu
tidak merekamnya. Tapi, kamu sami mawon. Jadi mending tulisan yang di atas kamu
jadikan bahan kuliah untuk dirimu sendiri.
Nah, teman-temanku se-Tanah Air, orang mengatakan
bahwa hidup itu penuh kejutan. Sekarang, di hari Minggu ini, saya mau bertanya
kepada Anda semua. Kejutan apa yang Anda telah berikan kepada teman Anda,
kepada anak, suami, teman sekerja, anak buah atau klien Anda, sampai mereka
terbelalak karena mereka tak tahu kalau Anda bisa menjadi orang yang berbeda
yang selama ini mereka ketahui.
Cermin apa yang Anda perlihatkan kepada mereka yang
selama ini tersimpan rapi sampai mereka merasa Anda seperti saya, disebut
dengan predikat katak, karena dapat hidup di dua dunia. Satu hari terlihat
sangat santun, tetapi bisa berbuat kekejaman yang jauh dari kesantunan perilaku
yang selama ini dikenal orang.
Melihat kejadian di atas, saya kemudian berpikir
begini. Mungkin banyak orang tak mau bekerja sama dengan saya bukan hanya
semata-mata karena proposal saya tidak menarik atau harga yang saya tawarkan
terlalu mahal, atau saya orang yang tidak fleksibel, melainkan karena mereka
melihat saya seperti katak.
Mereka takut kebaikan saya di awal dapat berubah
menjadi kekejaman yang luar biasa. Mereka takut apakah saya ini bisa dipercaya.
Di air bisa dipercaya, tetapi belum tentu kalau sudah berada di darat. Mereka
malas bekerja sama dengan orang yang tingkat penguasaan dirinya sangat rendah.
Mereka enggan bekerja sama dengan orang yang juga tidak taat pada peraturan
atau kontrak yang sudah disepakati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar