Pada waktu saya melakukan pelanggaran, pada detik
itulah saya berhenti mencintai diri saya sendiri. Saya berhenti menghormati
diri sendiri dan saya berhenti menghargai diri sendiri.
Saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan, apakah Anda
telah mencintai dan menghormati diri Anda sendiri? Misalnya, Anda melanggar
PSBB. Nah, menurut Anda, apakah pelanggaran yang Anda lakukan itu sebuah
ketidak-penghormatan kepada pemerintah atau ketidak-penghormatan kepada diri
Anda sendiri?
”I love me”
Kalau Anda seorang koruptor, yang sampai tulisan ini muncul belum tertangkap, apakah keputusan Anda menjadi koruptor adalah sebuah keputusan yang menurut Anda melanggar perusahaan atau melanggar nilai-nilai hidup Anda sendiri? Apakah Anda merasa tindakan itu hanya merugikan perusahaan dan Anda tidak merasa perbuatan itu merugikan diri Anda sendiri?
Pertanyaan berikutnya. Kalau jawaban Anda atas dua
pertanyaan itu adalah sebuah ketidak-penghormatan terhadap diri sendiri,
mengapa Anda bisa sampai memutuskan untuk melakukan perbuatan yang tidak
menghormati diri Anda sendiri?
Kalau Anda tahu bahwa itu tidak menghormati diri
Anda sendiri, mengapa Anda terus-terusan berniat tidak menghormati diri Anda
sendiri? Mengapa Anda enggan menghormati diri sendiri? Mengapa Anda enggan
mencintai diri Anda sendiri?
Kalau misalnya Anda tidak melanggar PSBB. Anda
menggunakan masker ke mana pun Anda pergi. Anda menjaga jarak ketika bertemu
dengan teman atau orang di tempat umum. Anda mencuci tangan. Anda melakukan tes
untuk tahu apakah Anda sehat atau tidak. Anda tinggal dan bekerja di rumah.
Apakah keputusan Anda melakukan itu untuk menghormati pemerintah atau
menghormati dan mengasihi diri Anda sendiri?
Saya mengajukan pertanyaan itu bukan untuk
menyodorkan pekerjaan rumah bagi Anda di hari-hari Anda yang sudah membosankan.
Saya sendiri sedang bertanya-tanya apakah selama ini saya itu menghormati dan
mencintai diri sendiri.
Pertanyaan itu sejujurnya dipicu dengan dua cerita
saya di atas dan membaca berita serta menyaksikan tayangan mereka yang dengan
tenang melanggar PSBB. Karena begitu banyak waktu yang tersedia setiap hari,
saya jadi lebih rewel menanyai diri sendiri.
Kalau selama ini saya rajin ke dokter memeriksa
kesehatan; rajin berolahraga; selalu tepat waktu membayar tagihan air, pajak,
dan telepon; selalu tepat waktu datang ke rumah ibadah meski mengomel selama
kebaktian berlangsung dan mata mengantuk mendengar khotbah yang ”B” saja,
apakah itu sebuah penghormatan terhadap diri saya sendiri atau itu hanya sebuah
ritual dan kewajiban yang harus saya penuhi agar saya mendapat predikat manusia
yang beradab?
Harga
Apakah mencintai diri itu membiarkan penderitaan
terjadi seperti kata ungkapan bahwa cinta itu buta? Buta karena cinta saya yang
begitu besarnya terhadap diri sendiri. Misalnya, saya melanggar PSBB dan saya
keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan saya.
Lalu gara-gara itu saya terkena virus Covid-19 ini,
apakah itu bukti dari cinta dan penghormatan saya terhadap diri sendiri? Apakah
penghormatan dan mencintai diri itu sama dengan mengorbankan diri untuk
sengsara di kemudian hari?
Dalam kamus besar bahasa Indonesia daring, hormat
itu mengandung makna menghargai. Jadi, kalau saya menghormati diri sendiri, itu
mengandung arti saya menghargai diri saya sendiri. Pertanyaannya kemudian.
Kalau saya melakukan pelanggaran karena cinta saya yang besar terhadap diri
sendiri, apakah itu berarti saya telah menghargai diri sendiri?
Kalau dimisalkan penghormatan diri sendiri itu ada
harganya seperti jualan baju atau barang lainnya, berapa harga yang Anda akan
pasang untuk menghormati diri Anda sendiri? Kalau Anda melakukan pelanggaran,
berapa harganya? Kalau Anda taat, berapa harganya?
Kalau Anda korup, berapa harganya? Apakah sesuai
dengan besarnya nilai yang Anda dapatkan dari hasil korupsi itu? Kalau kemudian
Anda tertangkap, apakah harga dari diri Anda menjadi jatuh dan terjun bebas
seperti harga saham yang anjlok?
Kalau Anda pelakor, berapa harga dari sebuah
perselingkuhan yang Anda lakukan? Apakah harganya menjadi rendah karena itu
sebuah perselingkuhan yang artinya juga sebuah pelanggaran dan perampasan cinta
milik orang lain.
Atau malah sebaliknya, harganya justru meroket
karena sebagai pelakor, cinta yang Anda berikan jauh lebih dahsyat daripada
cinta dari pasangan sahnya. Saya sendiri sedang menghitung-hitung berapa harga
yang sepantasnya saya berikan kepada pelanggaran dan kepada ketaatan yang telah
saya lakukan.
Tetapi, lebih dari sekadar harga yang saya berikan,
saya merasa bahwa hal terpenting yang harus saya ingat adalah bahwa pelanggaran
bukanlah persoalan saya dengan pihak kedua atau ketiga. Pelanggaran adalah
persoalan saya dengan diri saya sendiri. Soal penghormatan dan penghargaan
terhadap diri saya sendiri.
Pada waktu saya melakukan pelanggaran, pada detik
itulah saya berhenti mencintai diri saya sendiri, saya berhenti menghormati
diri sendiri, dan saya berhenti menghargai diri sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar