Mungkin banyak orang sedang mempersiapkan datangnya
Tahun Baru dengan sejuta kemeriahan dan harapan, kami berdua malah bercerita
tentang ketakutan kami menghadapi kematian.
Di sebuah pujasera, saya dan seorang teman berbicara
soal kematian. Pembicaraan berlangsung tepat 31 Desember 2019, sambil menyantap
es campur dan es doger. Mungkin banyak orang sedang mempersiapkan datangnya
Tahun Baru dengan sejuta kemeriahan dan harapan, kami berdua malah bercerita
tentang ketakutan kami menghadapi kematian.
Mayat
Teman saya berdoa siang dan malam agar saat kematian tiba ada orang yang tahu bahwa ia meninggal. Ia tak mau meninggal dan orang baru mengetahuinya 20 hari setelah itu dan telah membusuk di dalam rumah. Oh...ya, untuk sekadar informasi, kami berdua adalah lajang lapuk.
Jadi, kami berasumsi bahwa hari kematian kami yaa...
hanya sendiri dan kemungkinan membusuk di rumah itu bisa saja terjadi. Itu
mengapa doa siang dan malam dipanjatkan teman dekat saya itu. Saya tak pernah
berpikir seperti teman saya itu. Buat saya kalau sudah mati ya mati saja.
Buat saya mayat saya utuh atau tidak, membusuk atau
tidak, tak jadi masalah, lha wong sudah mati. Saya tak memusingkan keadaan saya
mati. Saya malah berharap bahwa sebelum saya mati, saya tak menyusahkan orang
lain saat menuju kematian itu. Teman saya juga setuju dengan pandangan saya.
Misalnya sakit bertahun lamanya sehingga tak bisa
melakukan apa pun selain bergantung pada orang lain. Jadi, di masa sekarang
ketika masih hidup, saya berusaha untuk sehat agar kematian saya tidak dalam
situasi yang terlalu parah sehingga harus menggantungkan hidup sepenuhnya
dengan orang lain.
Sore itu saya juga mengatakan keinginan saya untuk
meninggal dalam keadaan tidur sehingga selain saya tak menderita, orang lain
juga tak jadi kerepotan sekian lama. Saya ingin tidur pada malam hari dan tak
bangun lagi selama-lamanya keesokan harinya.
Jadi di hari itu, mayat saya dapat langsung
dikremasi dan dibuang ke laut. Jadi tak perlu menunggu saudara saya datang.
Cukup didoakan oleh pendeta yang berminat mendoakan. Sejujurnya didoakan atau
tidak, diupacarakan atau tidak, orang mau hadir atau tidak, saya tak terlalu
peduli.
Tetapi masalahnya, saya masih mau hidup lebih lama
di dunia yang menarik hati ini. Tentu karena saya belum pernah meninggal, saya
tak tahu enaknya seperti apa tinggal di surga kalau seandainya saya masuk
surga. Jadi, sore itu saya mengatakan kepada teman saya, saya ini bukannya
takut mati, tetapi kalau boleh jangan mati dulu sekarang-sekarang ini.
Hidup dan mati bahagia
Pembicaraan kami selesai sampai di sana. Kemudian
sebelum kembali ke rumah masing-masing, kami sempat berbicara untuk
berdarmawisata ke beberapa kota di Jawa Tengah. Hujan mengguyur Jakarta sore
itu ketika kami kembali pulang. Di tengah perjalanan menuju tempat tinggal,
saya berpikir ulang tentang percakapan di pujasera itu.
Mengapa saya lebih memikirkan hal-hal soal bagaimana
saya akan mati, mengapa saya tak memikirkan bagaimana saya hidup sebelum
kematian menjemput saya yang tak tahu kapan dijemputnya? Misalnya kualitas
hidup saya. Bukan soal kualitas asupan yang saya konsumsi, tetapi apa saya
pernah memikirkan kebutuhan orang lain, misalnya.
Mengapa waktu saya hidup, saya lebih mengurus
tabungan saya di hari tua, dan menimbun kekayaan karena takut kalau sengsara di
masa tua dan saat penyakit menyerang? Mengapa saya tak menyediakan waktu lebih
untuk mengunjungi atau menyediakan waktu untuk banyak orang yang membutuhkan?
Mengapa waktu saya hidup saya acap kali protes
tentang apa yang saya punya ketimbang mensyukurinya. Mengapa saya membiarkan
perasan kesal saya ditimpa begitu banyak penyakit ketika saya hidup?
Sejujurnya, saat saya menulis kolom ini, tepat pada
1 Januari 2020, saya sudah merasa putus asa karena membayangkan masih ada 365
hari yang harus saya lalui dan saya tak tahu apa yang akan terjadi.
Ya kalau tahun ini berjalan dengan baik. Bagaimana
kalau seperti tahun lalu, sebuah tahun yang ambyar. Tahun yang membuat saya
merasa Tuhan yang saya percayai telah meninggalkan saya, yang telah membuang
wajah-Nya dari hadapan saya dan menutup telinga-Nya dari doa yang saya
panjatkan.
Dalam perjalanan di dalam taksi itu, saya tersenyum
sendiri mengingat pembicaraan dengan teman saya itu. Saya ini tak mau meninggal
sekarang, tetapi mau menikmati dunia. Katanya dunia ini menarik, tetapi
menjalaninya dengan segala keluhan seperti yang saya tuliskan di atas. Terus
saya ini maunya apa?
Mengapa saya repot dengan soal mati dalam
kesendirian, mayat tak ada yang mengurus, soal kremasi, soal ini dan itu,
tetapi saya lupa bahwa yang terpenting justru bagaimana saya menjalani
kehidupan sebelum kematian tiba. Bayangkan mau mati bahagia, tetapi hidupnya
sendiri tak berbahagia.
Katanya saya tak mau menyusahkan orang lain sebelum
saya meninggal. Nah, saya ini aneh gak mau menyusahkan orang lain, tetapi mau
menyusahkan dirinya sendiri. Makanya, kalau saya mau mati bahagia dan tak
menyusahkan orang lain, saya harus mulai dengan menjalani hidup bahagia dan tak
menyusahkan diri sendiri bahkan ketika kehidupan itu sangat susah sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar