Minggu, 09 Juni 2024

Hutan

 

Akhir pekan, sepekan lalu, bersama teman saya berlibur ke luar Jakarta. Yang saya maksud ke luar Jakarta itu hanya satu jam perjalanan dengan kendaraan roda empat. Satu jam itu juga sudah termasuk kemacetan yang bikin sakit kepala.

 Kami memutuskan melarikan diri dari ingar-bingar mal sebagai taman bermain kami di Jakarta, dan yaaa… itu tadi, menjauhi kemacetan yang juga tak kalah ingar-bingarnya.

Kami tinggal di hotel dengan taman luas dan mirip hutan. Pokoknya menyenangkan. Lha wong tempat kebugarannya yang berdinding kaca saja berdiri tegak di tengah hutan buatan itu. Jadi, sambil memelihara jasmani, rohani juga sehat karena di tengah menggerakkan badan mata akan melihat keluar ruangan hutan yang hijau itu.

 Beda kalau latihan kebugaran di Jakarta. Mata terganggu dengan hal-hal yang diharapkan dan ada saja yang diharapkan datang mengganggu sehingga acapkali konsentrasi mau sehat malah berhenti di tengah jalan. Maksud dari berhenti di tengah jalan itu berhenti berolahraga dan segera meninggalkan tempat menjadi sehat dan bugar itu, pindah ke tempat lain. Nah, tempat lain ini kalau mau diterangkan bisa jadi macam-macam.

FLORA

Di ”hutan” yang sepi itu, sepi dibandingkan Jakarta maksudnya, saya tak hanya bisa tidur tanpa gangguan, tetapi juga bisa menenteramkan hati dan pikiran yang juga ingar-bingar selama dua minggu belakangan. Saya bisa berenang di antara rimbunan pohon atau hanya duduk diam sambil membebaskan pikiran dari sejuta agenda yang biasa dilakukan di Kota Jakarta.

 Buat saya, datang ke tempat ini sering kali memberi peluang berpikir yang tak pernah saya pikirkan. Yang paling sederhana, mendengarkan suara burung berkicau di antara pohon-pohon hijau yang tinggi dan rindang itu.

Di Jakarta suara burungnya beda. Menjerit, menjerit, dan menjerit. ”Itu bukan burung, itu kamu. Burung enggak pernah menjerit,” kata nurani saya. Saya lupa burung berkicau, bukan menjerit. Yaa… itu manusia senangnya cari kambing hitam. Dan binatang salah satu yang bisa dipakai.

 Berteriak itu wajib dilakukan di Jakarta. Dari dalam rumah sampai di dalam kantor. Di tepi jalan dan di dalam kendaraan. Melihat hutan buatan yang rindang itu saya berpikir lagi, mengapa rumah saya tak bisa rindang? Sambil leyeh-leyeh di kursi panjang dengan suara gemericik kolam renang saya mulai berpikir, bagaimana mau rindang? Lha wong kebun saja saya tak punya.

 Kalaupun punya, saya kok percaya tak bakal disiangi. tak berusaha punya waktu berkebun. Bayar saja tukang kebun tetangga yang canggih. Yang penting ada hijaunya dan tak penting itu tidak mencitrakan cita rasa penghuninya. Yang penting rumah itu harus kelihatan bagus supaya bisa masuk majalah interior kondang.

Fauna

Pada saat leyeh-leyeh itu saya mulai berpikir, kalau saja saya punya kebun di rumah, tak usah besar seperti tempat saya melarikan diri ini, mungkin saja saya bisa mengurangi hal negatif sebagai manusia Jakarta yang senangnya terburu-buru, menjerit, dan menjadi tak sabar.

Jadi, melepas tekanan hidup itu bukan hanya menangis, bukan hanya curhat dengan sesama, tetapi berbicara pada tanaman. Sekarang saya percaya pada lagu Ebiet G Ade yang kondang itu, tanyakan pada rumput yang bergoyang.

 Buktinya, duduk di hutan buatan itu saya seperti dikecilkan. Warna daun yang hijau dengan gerakan meliuknya saat diterpa angin. Melihat dedaunan yang berdiri tegak menantang matahari, seperti berbicara kepada saya hidup itu harus fleksibel dan harus tegar ketika ada ”matahari” yang menyengat. Dedaunan itu membutuhkan matahari meski panas rasanya. Jadi, selalu saja ada yang berguna pada akhir perjalanan yang menyesakkan.

Ada pohon yang tumbuh lurus, tegak, tetapi daun-daun di ujungnya seperti payung, melindungi yang duduk di bawahnya. Ada tanaman yang bercabang-cabang yang menimpa tanaman lain, meski juga membuat tempat perteduhan bagi mereka yang mau leyeh-leyeh seperti saya. Kemudian ada tanaman-tanaman kecil yang tumbuh justru di batang pohon yang besar dengan lumut kecil yang tersebar di beberapa permukaannya.

 Dan ada tanaman yang hidupnya tak bisa tinggi-tinggi amat, kadang bahkan hanya semata kaki tingginya. Ada rumput yang senantiasa disodorkan sebagai tanaman yang diinjak dan tersengat matahari, meski seringkali ada larangan ”Mohon tidak menginjak rumput”.

 Melihat semua itu, saya malu sekali. Seharusnya saya tak mau jadi rumput. Sudah pendek, tersengat matahari dan diinjak-injak pula. Saya senang melihat orang dirumputkan, diinjak, dan kepanasan.

 Saya selalu ingin jadi pohon yang tinggi, kokoh, dan rimbun, menjadi manusia yang tinggi badan, tinggi kedudukan, dan punya kekuasaan. Bukan untuk membuat orang lain yang mau berteduh di bawahnya merasa nyaman, tetapi menjadi penguasa hidup manusia yang berteduh di bawahnya. Jadi, mau bermain sebagai Tuhan.

 Atau dengan kekuasaan itu, saya mengerdilkan orang, merumputkan manusia lain, karena tak mau ada yang menyaingi usaha saya. Saya merayu orang untuk berteduh di tempat rindang, kemudian menjeratnya setelah itu, seperti germo yang merayu pria dan wanita naif menjadi sebuah barang yang punya harga. Tampaknya mereka berteduh, tetapi layu dan kemudian tercampakkan. Sayalah pohon yang rindang dan yang menipu itu.

Suara saya tak bisa seperti burung berkicau bak orkestra alam. Saya sudah seperti burung, tetapi yang saya nyanyikan cuma cerita miring sesama manusia yang menyakitkan mereka, tetapi menyenangkan hati saya.

 ”Tetapi kan lo enggak tahu, orkestra alam itu mungkin saja burung-burung lagi arisan sambil ngegosip. Siapa tahu sedang bertengkar karena ketahuan selingkuh sama burung yang profesinya pengusaha. Lo pikir enggak ada burung berselingkuh? Lo pikir enggak ada burung yang playing God? Emang lo pikir enggak ada infotainment burung? Ada lageee… lo aja yang enggak tahu.” Itu suara dari dalam hati yang turut dalam liburan di hutan rimbun itu dan asyik bersama saya mendengarkan orkestra alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar