Akhir pekan, sepekan lalu, bersama teman saya
berlibur ke luar Jakarta. Yang saya maksud ke luar Jakarta itu hanya satu jam
perjalanan dengan kendaraan roda empat. Satu jam itu juga sudah termasuk
kemacetan yang bikin sakit kepala.
Kami
memutuskan melarikan diri dari ingar-bingar mal sebagai taman bermain kami di
Jakarta, dan yaaa… itu tadi, menjauhi kemacetan yang juga tak kalah
ingar-bingarnya.
Kami tinggal di hotel dengan taman luas dan mirip hutan. Pokoknya menyenangkan. Lha wong tempat kebugarannya yang berdinding kaca saja berdiri tegak di tengah hutan buatan itu. Jadi, sambil memelihara jasmani, rohani juga sehat karena di tengah menggerakkan badan mata akan melihat keluar ruangan hutan yang hijau itu.
Beda kalau
latihan kebugaran di Jakarta. Mata terganggu dengan hal-hal yang diharapkan dan
ada saja yang diharapkan datang mengganggu sehingga acapkali konsentrasi mau
sehat malah berhenti di tengah jalan. Maksud dari berhenti di tengah jalan itu
berhenti berolahraga dan segera meninggalkan tempat menjadi sehat dan bugar
itu, pindah ke tempat lain. Nah, tempat lain ini kalau mau diterangkan bisa
jadi macam-macam.
FLORA
Di ”hutan” yang sepi itu, sepi dibandingkan Jakarta
maksudnya, saya tak hanya bisa tidur tanpa gangguan, tetapi juga bisa menenteramkan
hati dan pikiran yang juga ingar-bingar selama dua minggu belakangan. Saya bisa
berenang di antara rimbunan pohon atau hanya duduk diam sambil membebaskan
pikiran dari sejuta agenda yang biasa dilakukan di Kota Jakarta.
Buat saya,
datang ke tempat ini sering kali memberi peluang berpikir yang tak pernah saya
pikirkan. Yang paling sederhana, mendengarkan suara burung berkicau di antara
pohon-pohon hijau yang tinggi dan rindang itu.
Di Jakarta suara burungnya beda. Menjerit, menjerit,
dan menjerit. ”Itu bukan burung, itu kamu. Burung enggak pernah menjerit,” kata
nurani saya. Saya lupa burung berkicau, bukan menjerit. Yaa… itu manusia
senangnya cari kambing hitam. Dan binatang salah satu yang bisa dipakai.
Berteriak itu
wajib dilakukan di Jakarta. Dari dalam rumah sampai di dalam kantor. Di tepi
jalan dan di dalam kendaraan. Melihat hutan buatan yang rindang itu saya
berpikir lagi, mengapa rumah saya tak bisa rindang? Sambil leyeh-leyeh di kursi
panjang dengan suara gemericik kolam renang saya mulai berpikir, bagaimana mau
rindang? Lha wong kebun saja saya tak punya.
Kalaupun
punya, saya kok percaya tak bakal disiangi. tak berusaha punya waktu berkebun.
Bayar saja tukang kebun tetangga yang canggih. Yang penting ada hijaunya dan
tak penting itu tidak mencitrakan cita rasa penghuninya. Yang penting rumah itu
harus kelihatan bagus supaya bisa masuk majalah interior kondang.
Fauna
Pada saat leyeh-leyeh itu saya mulai berpikir, kalau
saja saya punya kebun di rumah, tak usah besar seperti tempat saya melarikan
diri ini, mungkin saja saya bisa mengurangi hal negatif sebagai manusia Jakarta
yang senangnya terburu-buru, menjerit, dan menjadi tak sabar.
Jadi, melepas tekanan hidup itu bukan hanya
menangis, bukan hanya curhat dengan sesama, tetapi berbicara pada tanaman.
Sekarang saya percaya pada lagu Ebiet G Ade yang kondang itu, tanyakan pada
rumput yang bergoyang.
Buktinya,
duduk di hutan buatan itu saya seperti dikecilkan. Warna daun yang hijau dengan
gerakan meliuknya saat diterpa angin. Melihat dedaunan yang berdiri tegak
menantang matahari, seperti berbicara kepada saya hidup itu harus fleksibel dan
harus tegar ketika ada ”matahari” yang menyengat. Dedaunan itu membutuhkan
matahari meski panas rasanya. Jadi, selalu saja ada yang berguna pada akhir
perjalanan yang menyesakkan.
Ada pohon yang tumbuh lurus, tegak, tetapi daun-daun
di ujungnya seperti payung, melindungi yang duduk di bawahnya. Ada tanaman yang
bercabang-cabang yang menimpa tanaman lain, meski juga membuat tempat
perteduhan bagi mereka yang mau leyeh-leyeh seperti saya. Kemudian ada
tanaman-tanaman kecil yang tumbuh justru di batang pohon yang besar dengan
lumut kecil yang tersebar di beberapa permukaannya.
Dan ada
tanaman yang hidupnya tak bisa tinggi-tinggi amat, kadang bahkan hanya semata
kaki tingginya. Ada rumput yang senantiasa disodorkan sebagai tanaman yang
diinjak dan tersengat matahari, meski seringkali ada larangan ”Mohon tidak
menginjak rumput”.
Melihat semua
itu, saya malu sekali. Seharusnya saya tak mau jadi rumput. Sudah pendek, tersengat
matahari dan diinjak-injak pula. Saya senang melihat orang dirumputkan,
diinjak, dan kepanasan.
Saya selalu
ingin jadi pohon yang tinggi, kokoh, dan rimbun, menjadi manusia yang tinggi
badan, tinggi kedudukan, dan punya kekuasaan. Bukan untuk membuat orang lain
yang mau berteduh di bawahnya merasa nyaman, tetapi menjadi penguasa hidup
manusia yang berteduh di bawahnya. Jadi, mau bermain sebagai Tuhan.
Atau dengan
kekuasaan itu, saya mengerdilkan orang, merumputkan manusia lain, karena tak
mau ada yang menyaingi usaha saya. Saya merayu orang untuk berteduh di tempat
rindang, kemudian menjeratnya setelah itu, seperti germo yang merayu pria dan
wanita naif menjadi sebuah barang yang punya harga. Tampaknya mereka berteduh,
tetapi layu dan kemudian tercampakkan. Sayalah pohon yang rindang dan yang
menipu itu.
Suara saya tak bisa seperti burung berkicau bak
orkestra alam. Saya sudah seperti burung, tetapi yang saya nyanyikan cuma
cerita miring sesama manusia yang menyakitkan mereka, tetapi menyenangkan hati
saya.
”Tetapi kan
lo enggak tahu, orkestra alam itu mungkin saja burung-burung lagi arisan sambil
ngegosip. Siapa tahu sedang bertengkar karena ketahuan selingkuh sama burung
yang profesinya pengusaha. Lo pikir enggak ada burung berselingkuh? Lo pikir enggak
ada burung yang playing God? Emang lo pikir enggak ada infotainment burung? Ada
lageee… lo aja yang enggak tahu.” Itu suara dari dalam hati yang turut dalam
liburan di hutan rimbun itu dan asyik bersama saya mendengarkan orkestra alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar