Senin, 10 Juni 2024

Instagram

Instagram telah menjadi medium untuk menunjukkan kelas seseorang. Bisa jadi juga kebanggaan akan kemampuan yang dianugerahkan Yang Mahakuasa.

Sudah lama saya memiliki akun Instagram dan sudah lama juga saya mengisi akun itu, dan setelah sekian tahun berlalu, dua hari yang lalu saya baru merasa terkesima dengan konten Instagram orang lain. Entah mengapa perasaan terkesima ini tak pernah terjadi selama tahun-tahun yang sudah berlalu.

Luar biasa

Perasaan terkesimanya bermacam-macam. Ada yang membuat saya geleng-geleng kepala melihat rumah mewahnya, duduk di pesawat pribadi, berbicara soal masalah keuangan, ekonomi dengan pandainya.

Menyaksikan nama-nama besar yang sukses dalam segala bidang. Dari dunia layar lebar hingga nama besar para billionaire yang supersukses.

Meski kadang nasihat mereka juga sudah saya dengar dari mulut orang biasa dan kadang telah saya yakini juga demikian. Namun, jadi beda rasa membacanya kalau itu terdengar dari mulut mereka yang besar namanya itu.

Belum lagi yang bicara soal spiritual. Saya sampai bingung kapan saya bisa merendahkan diri seperti mereka, menguasai diri dalam segala keadaan, berbicara dengan tenang dan memberikan nasihat yang mudah dimengerti, tetapi susahnya setengah mati untuk dijalani. Namun, itu justru yang membuat saya terkesima, bahwa yang sederhana itu tak selalu sederhana dieksekusi.

Setelah untuk pertama kalinya saya terkesima, saya berbicara dengan diri sendiri betapa luar biasanya mereka. Instagram telah menjadi medium untuk menunjukkan kelas seseorang. Bisa jadi juga kebanggaan akan kemampuan yang dianugerahkan Yang Mahakuasa sehingga mereka bisa menunjukkan semua itu secara gamblang dan menginspirasi orang untuk memiliki semangat untuk sukses.

Sederhana

Kalau kemudian saya dengar ada yang sampai melakukan kebohongan dan hal-hal di luar kemampuan mereka agar dapat membuat akun mereka menyihir pengikutnya, saya sungguh mengerti.

Saya sendiri setelah terkesima di sore itu, mulut saya berbisik, Tuhan kapan aku bisa seperti mereka itu.

Pandai, tampan, cantik, kaya raya, terkenal, berteman dengan nama-nama besar, selalu ada pada acara-acara bergengsi; Paris, Milan sudah seperti saya pergi dari daerah Jakarta Pusat ke Bogor.

Menikmati makanan enak di rumah makan mahal atau yang murah meriah, tetapi tetap sehat walafiat, sementara saya sudah harus memikirkan hari itu sudah berapa gram protein yang saya asup.

Ada teman saya yang konten akunnya kalau tidak makan, ya, jalan-jalan. Kalau saya mengatakan, jalan-jalan itu bukan dari satu mal ke mal yang lain, tetapi dari satu negara ke negara lain. Sampai saya berpikir apa orang ini tidak bekerja?

Kalaupun ia kaya raya dan tak perlu bekerja, tidakkah ia ingin memiliki sebuah prestasi profesional selain apa yang bisa dilakukannya sekarang? Mungkin karena saya bukan kaya raya, makanya saya berpikir demikian.

Maka, sore itu, setelah terkesima dan timbul iri hati, saya membuka akun Instagram saya sendiri. Waktu pertama kali melihatnya, saya merasa akun ini tak ada apa-apanya.

Tak ada yang membuat saya sebagai pemiliknya terkesima. Malah terasa hambar setelah melihat lampu kristal di rumah besar dan pesawat pribadi serta koleksi tas supermahal yang mampu untuk membangun rumah bagi para jompo. Saya merasa sangat kecil.

Sekarang saya bisa mengerti mengapa beberapa orang melakukan kebohongan agar akunnya terlihat menarik dan membuat ia ingin dikenal sebagai pemilik akun yang luar biasa.

Luar biasa itulah yang mungkin dicita-citakan beberapa orang karena daya pikatnya yang memesona, yang mampu membuat banyak pihak memercayakan produk mereka di tangan mereka sehingga uang terus berputar ke kantong mereka melalui kebohongan itu.

Dan, dunia senangnya memang sesuatu yang luar dari biasanya. Maka, ketika saya melihat kembali akun Instagram saya, saya kok merasa juga akun itu luar biasa. Luar biasa sederhananya.

Mungkin menjadi sederhana di tengah keinginan untuk luar biasa adalah luar biasa. Mungkin. Itu, kan, pembelaan saya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar