Instagram telah menjadi medium untuk menunjukkan kelas seseorang. Bisa jadi juga kebanggaan akan kemampuan yang dianugerahkan Yang Mahakuasa.
Sudah lama saya memiliki
akun Instagram dan sudah lama juga saya mengisi akun itu, dan setelah sekian tahun
berlalu, dua hari yang lalu saya baru merasa terkesima dengan konten Instagram
orang lain. Entah mengapa perasaan terkesima ini tak pernah terjadi selama
tahun-tahun yang sudah berlalu.
Luar biasa
Perasaan terkesimanya bermacam-macam. Ada yang membuat saya geleng-geleng kepala melihat rumah mewahnya, duduk di pesawat pribadi, berbicara soal masalah keuangan, ekonomi dengan pandainya.
Menyaksikan nama-nama
besar yang sukses dalam segala bidang. Dari dunia layar lebar hingga nama besar
para billionaire yang supersukses.
Meski kadang nasihat
mereka juga sudah saya dengar dari mulut orang biasa dan kadang telah saya
yakini juga demikian. Namun, jadi beda rasa membacanya kalau itu terdengar dari
mulut mereka yang besar namanya itu.
Belum lagi yang bicara soal
spiritual. Saya sampai bingung kapan saya bisa merendahkan diri seperti mereka,
menguasai diri dalam segala keadaan, berbicara dengan tenang dan memberikan
nasihat yang mudah dimengerti, tetapi susahnya setengah mati untuk dijalani.
Namun, itu justru yang membuat saya terkesima, bahwa yang sederhana itu tak
selalu sederhana dieksekusi.
Setelah untuk pertama
kalinya saya terkesima, saya berbicara dengan diri sendiri betapa luar biasanya
mereka. Instagram telah menjadi medium untuk menunjukkan kelas seseorang. Bisa
jadi juga kebanggaan akan kemampuan yang dianugerahkan Yang Mahakuasa sehingga
mereka bisa menunjukkan semua itu secara gamblang dan menginspirasi orang untuk
memiliki semangat untuk sukses.
Sederhana
Kalau kemudian saya dengar
ada yang sampai melakukan kebohongan dan hal-hal di luar kemampuan mereka agar
dapat membuat akun mereka menyihir pengikutnya, saya sungguh mengerti.
Saya sendiri setelah
terkesima di sore itu, mulut saya berbisik, Tuhan kapan aku bisa seperti mereka
itu.
Pandai, tampan, cantik,
kaya raya, terkenal, berteman dengan nama-nama besar, selalu ada pada
acara-acara bergengsi; Paris, Milan sudah seperti saya pergi dari daerah
Jakarta Pusat ke Bogor.
Menikmati makanan enak di
rumah makan mahal atau yang murah meriah, tetapi tetap sehat walafiat,
sementara saya sudah harus memikirkan hari itu sudah berapa gram protein yang
saya asup.
Ada teman saya yang konten
akunnya kalau tidak makan, ya, jalan-jalan. Kalau saya mengatakan, jalan-jalan
itu bukan dari satu mal ke mal yang lain, tetapi dari satu negara ke negara
lain. Sampai saya berpikir apa orang ini tidak bekerja?
Kalaupun ia kaya raya dan
tak perlu bekerja, tidakkah ia ingin memiliki sebuah prestasi profesional
selain apa yang bisa dilakukannya sekarang? Mungkin karena saya bukan kaya
raya, makanya saya berpikir demikian.
Maka, sore itu, setelah
terkesima dan timbul iri hati, saya membuka akun Instagram saya sendiri. Waktu
pertama kali melihatnya, saya merasa akun ini tak ada apa-apanya.
Tak ada yang membuat saya
sebagai pemiliknya terkesima. Malah terasa hambar setelah melihat lampu kristal
di rumah besar dan pesawat pribadi serta koleksi tas supermahal yang mampu
untuk membangun rumah bagi para jompo. Saya merasa sangat kecil.
Sekarang saya bisa
mengerti mengapa beberapa orang melakukan kebohongan agar akunnya terlihat
menarik dan membuat ia ingin dikenal sebagai pemilik akun yang luar biasa.
Luar biasa itulah yang
mungkin dicita-citakan beberapa orang karena daya pikatnya yang memesona, yang
mampu membuat banyak pihak memercayakan produk mereka di tangan mereka sehingga
uang terus berputar ke kantong mereka melalui kebohongan itu.
Dan, dunia senangnya
memang sesuatu yang luar dari biasanya. Maka, ketika saya melihat kembali akun
Instagram saya, saya kok merasa juga akun itu luar biasa. Luar biasa
sederhananya.
Mungkin menjadi sederhana
di tengah keinginan untuk luar biasa adalah luar biasa. Mungkin. Itu, kan,
pembelaan saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar