Pernahkah Anda menghormati diri Anda sendiri? Kalau jawaban Anda untuk pertanyaan itu adalah pernah, apa bentuk penghormatan itu?
Saya percaya bahwa dalam hidup Anda, Anda tahu arti
penghormatan dan melakukannya. Penghormatan pada sang saka merah putih, dari
sejak zaman sekolah dulu, misalnya. Penghormatan terhadap orang tua,
perkawinan, terhadap atasan, bawahan, dan sebagainya.
Akan tetapi, pernahkah Anda menghormati diri Anda
sendiri?
Kalau jawaban Anda untuk pertanyaan itu adalah pernah, apa bentuk penghormatan itu? Apakah bentuknya menjaga kesehatan, baik menjaga asupan makanan, berolahraga, dan memeriksa kesehatan secara rutin ke dokter? Apakah berhenti melakukan perusakan terhadap diri sendiri dalam berbagai bentuknya?
Apakah Anda melakukan perawatan tubuh? Ke salon
dengan rutin, potong rambut tepat waktu, merias wajah dengan sempurna, menata
rambut seperti helm, sehingga tidak bergerak ditiup angin, mencegah agar badan
tak berbau. Apakah begitu?
Mengapa saya menanyakan pertanyaan di atas pada hari
di mana Anda sedang bersantai, pada waktu yang tepat untuk mengistirahatkan
raga dan pikiran?
Begini ceritanya. Beberapa waktu lalu saya
menjadwalkan untuk membersihkan tempat tinggal saya di lantai 15 itu. Untuk
saya, membersihkan itu bukan hanya membersihkan debu, menyapu, kemudian
mengepelnya. Membersihkan itu, selain ketiga hal di atas, juga termasuk
membongkar dan membuang barang-barang yang sudah tak diperlukan atau tak pernah
digunakan lagi. Termasuk menurunkan baju-baju yang sudah tak pernah dikenakan
lagi.
Acara membongkar itu termasuk juga melihat kembali
barang-barang lama seperti buku-buku, album foto, misalnya. Kalau sudah begitu,
acara bersih-bersih itu biasa berlangsung hingga enam jam.
Dengan melihat buku-buku itu, saya seperti memiliki
waktu untuk membacanya kembali. Kadang acara bersih-bersih itu bisa terhenti
sekian menit, karena saya terpancing untuk membaca buku yang lama tak tersentuh
itu.
Demikian juga saat melihat kembali foto-foto lawas.
Saya dipicu untuk mengenang peristiwa yang sudah lama dan tak bisa diulang
kembali. Jadi, semacam bernostalgia sesaat.
Nah, saat melihat foto-foto lawas itulah, dua foto
memperlihatkan saya sedang mengenakan pakaian super minim yang mengabadikan
ketelanjangan. Saat saya melihat kedua foto itu saya sampai mengatakan:
”Aku tu pernah segila ini, ya?”
Tak senonoh
Kedua foto itulah yang menginspirasi saya menulis
dan menginspirasi saya untuk mengajukan beberapa pertanyaan di atas. Apakah
saya pernah menghormati diri saya sendiri? Kalau melihat dua foto itu, bisa
saya katakan pada masa itu mungkin saya tak mengerti soal menghormati diri
sendiri, khususnya menghormati raga dan menghormati perilaku.
Di masa itu saya juga tak mengerti bahwa dengan foto
yang nyaris menggambarkan ketelanjangan itu, saya telah tidak menghormati
orangtua saya yang telah melahirkan dan tak pernah mendidik saya untuk menjadi
anak yang dengan seenaknya mempertontonkan ketelanjangan dan tidak menghormati
tubuhnya.
Dari dua foto itu, saya kemudian bertanya pada diri
saya sendiri. Bagaimana saya mau dihormati orang lain kalau saya sendiri tak
mampu menghormati diri dan raga saya sendiri? Bagaimana saya berhak untuk
merasa tersinggung dengan perkataan orang kalau mereka mengatakan saya seperti
orang tak punya nurani dan bejat, kalau saya yang punya badan saja tidak
berkeberatan menjadi bejat?
Bagaimana saya menuntut orang untuk menghormati
saya, lha wong saya sendiri tak merasa keberatan melakukan
sebuah perbuatan yang membuat orang mencibir dan tidak menghormati saya?
Bagaimana saya dengan tidak malu melakukan pembelaan
diri dengan mengatakan bahwa foto tak senonoh itu atau perbuatan yang tak
senonoh itu adalah hak saya untuk melakukan apa pun terhadap tubuh saya, dan
sama sekali bukan untuk bercita-cita menjadi tak bermoral.
Kalau sekarang ini saya mengunggah foto-foto
setengah telanjang saya, kalau saya mempertontonkan gaya yang sensual dan
mengundang pada akun media sosial saya, sehingga yang menyukai dan mengikuti
akun saya bertambah jumlahnya, lalu saya menjadi salah satu selebgram dengan
ketelanjangan saya, apakah saya tak bermoral?
Apakah saya menjadi seperti seorang yang sedang
menjajakan raganya, yang melacurkan tubuhnya, dan tidak menghormati eksistensi
sebagai manusia yang memiliki akal sehat?
Setelah sekian jam membersihkan apartemen yang mirip
sangkar burung itu, saya kemudian berbicara sendiri. Mungkin masalahnya bukan
soal mengunggah foto yang mengundang atau melakukan perbuatan yang tak senonoh.
Mungkin itu bukan soal hak. Akan tetapi, yang utama adalah ketika saya berani
jujur kalau sejak awal, apa yang saya lakukan itu memang saya sadari adalah
sesuatu yang tak senonoh. Saya memang bersikeras untuk menjadi tak senonoh.
Kalau sudah begitu, sebaiknya saya diam saja, dan
tak perlu memaksa orang untuk menghormati saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar