Tuhan memang mengendalikan, tapi kita kan enggak bisa diam saja. Emang jalan keluar jatuh dari langit? Kan, kita harus berusaha. Tuhan kan juga minta kita bekerja dan bertanggung jawab. Bukan hanya diam dan merenung.
Itu adalah salah satu tabiat yang menempel di diri
saya. Bahkan, sudah menjadi ciri khas. Gradak-gruduk, panikan,
berisik, maunya yang cepat, tidak sabar, kemudian disusul dengan cepat naik
pitam, apalagi setelah aktivitas gradak-gruduk-nya tak menghasilkan
apa-apa.
Panik
Itu belum mendengar sumpah serapah yang meluncur tanpa kendali dari lidah tak bertulang ini. Ia meluncur bak pemain papan selancar yang sangat mahir. Saya sendiri tahu, dengan kondisi gradak-gruduk itu, acap kali semuanya jadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Anda tahu bukan, di mana ada orang gradak-gruduk, panikan, menelepon teman, kerabat, jejaring sosial hanya untuk mendapat bantuan, dapat fokus pada tujuannya?
Mengapa saya menuliskan kejadian di atas? Cerita itu
mengungkit masa lalu saya setelah minggu lalu, saya menjalani operasi untuk
kedua kalinya di sebuah rumah sakit. Satu hari sebelumnya, saya harus melakukan
berbagai tes, termasuk tes PCR yang wajib dilaksanakan. Saat menanti giliran,
saya melihat beberapa pasien yang mirip seperti saya. Panik, entah berbicara
dengan siapa, tetapi sangat jelas ia berbicara tentang kebingungannya.
Mereka yang harus divaksin pun tampak begitu.
Berdiskusi apakah vaksin yang tepat untuk mereka, yang membuat mereka sreg dan
tak menyesalinya secara di berbagai media sosial telah dijelaskan begitu rupa
berbagai perbedaannya. Itu juga yang membuat saya berpikir, mungkin semua yang
berlebihan itu malah melahirkan kebingungan. Apalagi orang dengan sifat
seperti saya.
Melihat itu semua, saya teringat operasi yang akan
saya lakukan keesokan harinya. Sifat gradak-gruduk mulai
timbul. Melihat orang lain demikian, saya seperti mendapat sebuah undangan
untuk panik bersama-sama dan bukan malah menjadi lebih bijak.
Benar. Anda benar seratus persen. Saya mulai
membayangkan apa yang akan terjadi. Apakah saya akan terkena serangan virus
ini, karena banyak saya baca, rumah sakit adalah salah satu sarangnya. Saya
seperti punya misi bunuh diri maju ke meja operasi esok hari. Kemudian setelah
otak saya panik, Tuhan pun tak saya biarkan untuk tidak disertakan dalam
kepanikan.
Berdiam diri
Saya bertanya, mengapa Tuhan membiarkan saya operasi
di tengah pandemi seperti ini? Mengapa tidak di dalam situasi yang lebih aman?
Kemudian mulai merasa tidak yakin apakah dokter saya ini bagus apa enggak. Pokoknya,
kalau cacing disebut kepanasan, yaaa… itulah saya minggu lalu.
Pada suatu siang, teman saya di ”Kota Singa”
mengirim renungan singkat. Kalimatnya begini, ”Segala sesuatu ada dalam
kendali-Ku. Engkau cenderung mengintip dengan gelisah ke dalam hari yang ada di
depanmu, berusaha mengetahui apa yang harus dilakukan dan kapan. Saat engkau
membiarkan Aku mengarahkan langkah-langkahmu, engkau akan menemukan apa yang
telah Ku-siapkan bagimu hari itu.”
Setelah membaca renungan itu, otak saya mulai
berpikir. ”Tuhan memang mengendalikan, tapi kita kan gak bisa
diam aja. Emang jalan keluar jatuh dari langit?
Kan, kita harus berusaha, kita harus punya rencana A, B, kalau perlu sampai Z.
Tuhan, kan, juga minta kita bekerja dan bertanggung jawab. Bukan diam dan merenung.”
Baru saja kepala saya berpikir demikian, tiba-tiba
suara hati saya yang sarkastis berbicara nyelekit setelah lama sekali tak
terdengar suaranya. ”Eh, ingat ya. Tuhan itu enggak pernah bekerja sama
ama elo, nyet. Waktu Dia mengarahkan langkahmu itu. Dia enggak
bekerja sama ama elo supaya elo setuju.”
”Ngapain Dia kerja sama ama elo yang
jalan dan strategi yang berasal dari daging yang terbatas. Ia punya jalan
sendiri yang berbeda dari jalan-jalan dan cara berpikir elo.
Berbeda dari strategi yang elo buat. Elo sendiri
juga sudah tau kalau lagi waras, kalau jalan elo beda
dengan jalan-Nya, kan? Itu mengapa elo pernah bilang ajaib
banget ya Tuhan itu.”
”Sekarang gue tanya. Elo emang tahu
ajaib itu apa artinya? Ajaib itu adalah hal yang belum pernah elo pikirkan
sebelumnya, yang belum pernah elo lihat sebelumnya, bahkan
yang menurut otak elo yang gesrek itu, gak masuk
akal terjadi.”
”Makanya kalau sampai semua yang tak masuk akal itu
terjadi, elo kemudian bilang itu sebuah keajaiban. Itu bukti
kalau Tuhan enggak kerja sama ama elo! Ingat, ya. Keajaiban Ilahi
itu tak pernah datang dari strategi daging. Apalagi strategi punya elo itu!”
Setelah dikuliahi suara hati itu, saya berniat untuk
melihat keajaiban itu. Maka, saya memberanikan diri untuk berdiam diri dan
membiarkan yang tak terlihat itu mengambil alih. Sebuah aktivitas yang tak
pernah saya rasakan sebagai tantangan untuk dilakukan.
Anda mau percaya? Berbagai keajaiban yang saya
terima sejak saya membiarkan yang tak terlihat itu mengambil alih sepenuhnya.
Awalnya memang deg-degan dan hampir kumat untuk pakai otak, tetapi akhirnya
hanyalah sebuah cerita keajaiban Ilahi yang tak terlupakan. Di lain waktu saya
akan bercerita tentang hal ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar