Senin, 10 Juni 2024

Hasil Lab

Nyaris setiap hari saya dan seorang tetangga di lantai delapan berjalan kaki memutar apartemen atau berkeliling di sekitar area apartemen.

Nyaris setiap hari saya dan seorang tetangga di lantai delapan berjalan kaki memutar apartemen atau berkeliling di sekitar area apartemen. Kadang berakhir dengan sarapan di warung bakmi di tepi jalan atau berbelanja ke pasar. Itu bagi saya adalah saat yang paling menyenangkan.

Kami dapat berolahraga bersama, melihat keramaian suasana pagi dan mengobrol soal segala macam topik yang pada hari ini akan saya ceritakan. Satu yang paling menarik adalah berbicara soal pemeriksaan kesehatan di masa tua kami ini.

Jiper

Suatu hari tetangga saya itu bercerita bahwa temannya pada suatu acara makan siang menegurnya untuk memeriksakan kesehatannya. “Kalau lihat bentuk badanmu ini, ya, sepertinya kamu sudah ada kencing gula,” demikian teguran temannya itu tanpa tedeng aling-aling yang telah membuat dia mengangguk saja.

Saat ia bercerita soal teguran itu di acara jalan pagi kami, saya malah menyemangatinya untuk melakukan apa yang ditegurkan padanya. Saya mengingatkan kalau di usia kami pemeriksaan laboratorium secara rutin perlu dilakukan untuk mengetahui dan kemudian menjaga kesehatan bila diperlukan. Nasihat saya itu tak digubrisnya karena ia mengakui takut melihat hasilnya. “Aku mending mati dengan rasa tenang daripada khawatir melihat hasil lab kalau gak karu-karuan,” jelasnya.

Kemudian ia melanjutkan ceritanya kalau salah satu temannya yang seusianya meninggal gara-gara sangat kecewa melihat hasil pemeriksaan darahnya. Sejak pemberitahuan itu ia mulai menutup hasratnya untuk hidup dan berakhir dengan kematian. “Aku ndak mau kayak gitu, aku beneran takut kalau ke dokter dan membaca hasil pemeriksaan,” lanjutnya lagi.

Kemudian saya masih saja ngotot untuk menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan itu justru membantu kalau ada masalah, sehingga bisa diketahui dan kemudian ditindaklanjuti mengenai masalah yang ditemukan itu. Dengan demikian, kalaupun kita itu meninggal dunia, kita tak akan kecewa karena sudah berusaha dengan benar. Sudah diusahakan untuk mendapatkan terapi. "Aku ini beda sama kamu. Kamu itu pemberani aku tak sepemberani kamu. Udah ah,” komentarnya mendengar saya masih ngotot di hari sepagi itu.

Kemudian saya berhenti memberi komentar dan kami melanjutkan jalan pagi dengan membicarakan topik lain meski acapkali membicarakan topik soal kematian tak pernah menakutkan kami berdua.

Kekuatan

Saya itu ngotot karena mungkin telah terbiasa dari sejak kecil untuk memeriksa kesehatan atau melakukan pemeriksaan laboratorium. Kebetulan juga ayah adalah seorang dokter sehingga dunia medis itu sudah menjadi bagian keseharian kami sekeluarga berpuluh tahun lamanya.

Pergi ke laboratorium itu yaa… sama saja rasanya seperti pergi jalan-jalan sehingga rasa takut yang awalnya harus diakui terjadi, lama-lama hilang juga karena tahu tujuannya, yakni supaya saya jadi sehat dan bisa jalan-jalan.

Perasaan itu pun masih saja ada sampai sekarang. Kalau membaca hasil laboratorium itu memang seperti membuka surat pengumuman diterima atau tidak di sebuah perusahaan untuk bekerja, atau seperti melihat pengumuman ujian lulus atau tidak. Deg-degannya masih terasa, meski tidak sampai menakutkan. Tetapi mendengar teman saya menolak karena takut, saya belajar sesuatu.

Saya tak bisa memaksakan segala sesuatu yang menurut saya baik untuk dilakukan orang lain. Mungkin apa yang saya sarankan sesuatu yang baik juga buat teman saya itu. Saya percaya ia tahu itu. Tetapi semua yang kita kerjakan di dunia ini selalu ada risiko yang harus ditanggung. Dan tak semua manusia memiliki kekuatan yang sama untuk menanggung risiko sebuah perbuatan.

Maka buat saya yang tak masalah, atau hanya jadi masalah kecil maka buat orang lain dengan persoalan yang sama bobotnya akan menjadi berbeda. Itu mengapa saya jadi teringat kembali saat ibu saya meninggal, yang memberitahu saya sangat berhati-hati dalam menjelaskannya. Demikian juga saat ayah hendak menikah untuk kedua kalinya.

Jadi saya harus belajar untuk menyampaikan sebuah pesan dengan kekuatan orang yang akan saya tegur, bukan dengan kekuatan saya. Saya percaya, Anda telah melihat video laki-laki gagah perkasa yang akan mendapat suntikan menjerit jerit seperti anak kecil. Melihat itu saya percaya Anda tertawa terbahak, dan mungkin di hati yang terdalam ada suara yang mengatakan “badan segede gitu aja takut.”

Tetapi begitulah kenyataannya. Buat Anda dan saya disuntik itu sebuah pengalaman ecek-ecek yang tak berarti apa-apa, tetapi buat orang lain itu sebuah ancaman yang begitu menakutkan. Maka saat teman saya ditegur di acara makan siang secara gamblang bahwa bentuk tubuhnya seperti tubuh penderita kencing gula, itu juga sebuah teguran yang terlalu keras untuk orang lain. Maka berhati-hatilah ketika lidah tak bertulang itu mau menyarankan sebuah nasihat, bahkan sebuah nasihat yang baik sekalipun.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar