Nyaris setiap hari saya dan seorang tetangga di lantai delapan berjalan kaki memutar apartemen atau berkeliling di sekitar area apartemen.
Nyaris setiap hari saya dan seorang tetangga di
lantai delapan berjalan kaki memutar apartemen atau berkeliling di sekitar area
apartemen. Kadang berakhir dengan sarapan di warung bakmi di tepi jalan atau
berbelanja ke pasar. Itu bagi saya adalah saat yang paling menyenangkan.
Kami dapat berolahraga bersama, melihat keramaian
suasana pagi dan mengobrol soal segala macam topik yang pada hari ini akan saya
ceritakan. Satu yang paling menarik adalah berbicara soal pemeriksaan kesehatan
di masa tua kami ini.
Jiper
Suatu hari tetangga saya itu bercerita bahwa temannya pada suatu acara makan siang menegurnya untuk memeriksakan kesehatannya. “Kalau lihat bentuk badanmu ini, ya, sepertinya kamu sudah ada kencing gula,” demikian teguran temannya itu tanpa tedeng aling-aling yang telah membuat dia mengangguk saja.
Saat ia bercerita soal teguran itu di acara jalan pagi
kami, saya malah menyemangatinya untuk melakukan apa yang ditegurkan padanya.
Saya mengingatkan kalau di usia kami pemeriksaan laboratorium secara rutin
perlu dilakukan untuk mengetahui dan kemudian menjaga kesehatan bila
diperlukan. Nasihat saya itu tak digubrisnya karena ia mengakui takut melihat
hasilnya. “Aku mending mati dengan rasa tenang daripada khawatir melihat hasil
lab kalau gak karu-karuan,” jelasnya.
Kemudian ia melanjutkan ceritanya kalau salah satu
temannya yang seusianya meninggal gara-gara sangat kecewa melihat hasil
pemeriksaan darahnya. Sejak pemberitahuan itu ia mulai menutup hasratnya untuk
hidup dan berakhir dengan kematian. “Aku ndak mau kayak gitu, aku beneran takut
kalau ke dokter dan membaca hasil pemeriksaan,” lanjutnya lagi.
Kemudian saya masih saja ngotot untuk
menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan itu justru membantu kalau ada masalah,
sehingga bisa diketahui dan kemudian ditindaklanjuti mengenai masalah yang
ditemukan itu. Dengan demikian, kalaupun kita itu meninggal dunia, kita tak
akan kecewa karena sudah berusaha dengan benar. Sudah diusahakan untuk
mendapatkan terapi. "Aku ini beda sama kamu. Kamu itu pemberani aku tak
sepemberani kamu. Udah ah,” komentarnya mendengar saya masih ngotot di
hari sepagi itu.
Kemudian saya berhenti memberi komentar dan kami
melanjutkan jalan pagi dengan membicarakan topik lain meski acapkali
membicarakan topik soal kematian tak pernah menakutkan kami berdua.
Kekuatan
Saya itu ngotot karena mungkin
telah terbiasa dari sejak kecil untuk memeriksa kesehatan atau melakukan
pemeriksaan laboratorium. Kebetulan juga ayah adalah seorang dokter sehingga
dunia medis itu sudah menjadi bagian keseharian kami sekeluarga berpuluh tahun
lamanya.
Pergi ke laboratorium itu yaa… sama saja rasanya
seperti pergi jalan-jalan sehingga rasa takut yang awalnya harus diakui
terjadi, lama-lama hilang juga karena tahu tujuannya, yakni supaya saya jadi
sehat dan bisa jalan-jalan.
Perasaan itu pun masih saja ada sampai sekarang.
Kalau membaca hasil laboratorium itu memang seperti membuka surat pengumuman
diterima atau tidak di sebuah perusahaan untuk bekerja, atau seperti melihat
pengumuman ujian lulus atau tidak. Deg-degannya masih terasa, meski tidak
sampai menakutkan. Tetapi mendengar teman saya menolak karena takut, saya belajar
sesuatu.
Saya tak bisa memaksakan segala sesuatu yang menurut
saya baik untuk dilakukan orang lain. Mungkin apa yang saya sarankan sesuatu
yang baik juga buat teman saya itu. Saya percaya ia tahu itu. Tetapi semua yang
kita kerjakan di dunia ini selalu ada risiko yang harus ditanggung. Dan tak
semua manusia memiliki kekuatan yang sama untuk menanggung risiko sebuah
perbuatan.
Maka buat saya yang tak masalah, atau hanya jadi
masalah kecil maka buat orang lain dengan persoalan yang sama bobotnya akan menjadi
berbeda. Itu mengapa saya jadi teringat kembali saat ibu saya meninggal, yang
memberitahu saya sangat berhati-hati dalam menjelaskannya. Demikian juga saat
ayah hendak menikah untuk kedua kalinya.
Jadi saya harus belajar untuk menyampaikan sebuah
pesan dengan kekuatan orang yang akan saya tegur, bukan dengan kekuatan saya.
Saya percaya, Anda telah melihat video laki-laki gagah perkasa yang akan
mendapat suntikan menjerit jerit seperti anak kecil. Melihat itu saya percaya
Anda tertawa terbahak, dan mungkin di hati yang terdalam ada suara yang
mengatakan “badan segede gitu aja takut.”
Tetapi begitulah kenyataannya. Buat Anda dan saya
disuntik itu sebuah pengalaman ecek-ecek yang tak berarti apa-apa, tetapi buat
orang lain itu sebuah ancaman yang begitu menakutkan. Maka saat teman saya
ditegur di acara makan siang secara gamblang bahwa bentuk tubuhnya seperti
tubuh penderita kencing gula, itu juga sebuah teguran yang terlalu keras untuk
orang lain. Maka berhati-hatilah ketika lidah tak bertulang itu mau menyarankan
sebuah nasihat, bahkan sebuah nasihat yang baik sekalipun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar