Bukankah cara berpikir yang membuat ia jadi kejam terhadap dirinya sendiri dan berakibat ia harus bekerja 7 hari dari pagi hingga malam hari? Mengapa ia tak sedikit memberi kedamaian dirinya dengan libur di akhir pekan?
Pernahkah Anda berkata di dalam hati atau di luar
hati, kalau uang Anda sejumlah Rp 4 juta yang kemudian bertambah menjadi 40
juta, 400 juta, 4 miliar, dan terakhir 4 triliun itu, masih selalu Anda anggap
kurang? Pernahkah?
”Upahnya oke banget”
Beberapa waktu kalau saya berdiskusi dalam sebuah forum di sebuah aplikasi media sosial yang belakangan digandrungi oleh mereka yang menggunakan telepon genggam berbasis IOS. Saya masuk ke dalam forum itu sebagai peserta, yang berakhir diundang oleh moderatornya menjadi pembicara. Topik diskusi malam itu adalah ”Kejamnya Dunia”.
Setelah ngalor-ngidul, beberapa peserta
dan pembicara berbicara soal kejamnya dunia dalam berbagai bentuk, maka seorang
pembicara malam itu menceritakan pengalamannya mengenai pekerjaan yang acap
kali sangat melelahkan buatnya, tetapi karena upah yang didapat setimpal, ia
menjalaninya sampai sekarang.
”Aku kerja dari jam 07.00 pagi sampai jam 10.00
malam. Setiap hari. Sabtu dan Minggu pun tak dapat dihindari karena klienku
juga Sabtu dan Minggu tetap kerja. Jadi, kita juga harus bekerja untuk melayani
klien-klien itu.”
Sejujurnya siapa yang kejam? Dunia atau
diri kita sendiri? Apakah benar dunia ini kejam terhadap saya.
Tentu saya mengomentari ceritanya itu. Saya balik
bertanya, apa yang sebetulnya Anda cari dengan bekerja sampai membuat Anda
kelelahan? Seperti biasa, saya nyerocos seperti air bah.
Acap kali orang mengatakan saya menyukai pekerjaan
saya. Termasuk juga alasan karena imbalannya oke banget untuk saya harus
bekerja seperti itu meski saya kelelahan. Tentu ada alasan lagi karena hidup
itu memang sudah kejam, jadi ya jalani saja. Mungkin yang satu akan berkata,
saya harus mempersiapkan semuanya, apalagi kalau sedang masa kesusahan seperti
sekarang ini yang tak diduga.
Saya ingin anak-anak saya mendapat pendidikan yang layak
yang sekarang ini biayanya juga tak murah sama sekali. Saya memang ingin kaya
sekali. Saya ingin masuk dalam daftar orang terkaya di dunia, atau paling tidak
di area RT/RW saya.
Saya izin meninggalkan forum sebelum selesai karena
mata sudah mengantuk dan keesokan hari ada rapat pukul 09.00 pagi yang harus
saya hadiri. Namun, pada kenyataannya, saya tak bisa tidur. Saya kepikiran
dengan diskusi tadi.
Sejujurnya siapa yang kejam? Dunia atau diri kita
sendiri? Apakah benar dunia ini kejam terhadap saya.
”Self Love”
Bukankah dunia ini sebuah kata benda yang tak bisa
melakukan apa-apa terhadap saya? Kejam itu adalah sebuah kata sifat yang harus
dieksekusi dalam sebuah aksi sehingga pada akhirnya orang berkata ibu tiri itu
kejam. Dia sangat kejam membantai manusia tiada ampun, membantai binatang tanpa
rasa bersalah, dan seterusnya, dan seterusnya.
Akan tetapi, Dunia? Ia hanya kata benda yang tak
bisa apa-apa. Jadi, dunia dianggap kejam karena dunia diisi oleh orang-orang
yang senang kejam terhadap dirinya sendiri. Kalau orang kejam dengan sesamanya,
itu, menurut saya, adalah karena ia sendiri awalnya memang kejam, apa pun
alasan yang menjadi penyebabnya. Jadi, orang bisa kejam terhadap orang lain
semuanya berasal dari dirinya sendiri.
Pembicara itu sampai kelelahan hanya karena imbalan
yang oke. Tidakkah itu sebuah tindakan kejam yang dilakukan terhadap dirinya?
Kalau ia berkata kliennya juga bekerja pada akhir pekan, ia harus juga bekerja
pada akhir pekan, siapakah yang kejam? Kliennya?
Bukankah caranya berpikir itu yang membuat ia jadi
kejam terhadap dirinya sendiri dan berakibat ia harus bekerja 7 hari dari pagi
hingga malam hari? Mengapa ia tak sedikit memberi kedamaian dirinya untuk tidak
bekerja pada akhir pekan?
Rumah makan kesukaan saya di bilangan Kebayoran Baru
setiap hari Selasa tutup. Bukankah saya sebagai kliennya membutuhkan makan
setiap hari? Mengapa ia tak buka juga setiap hari lha wong kliennya
butuh makan tiap hari?
Karena mereka tidak kejam terhadap dirinya sendiri
dan pegawainya. Agar tidak kejam, semua harus diperhitungkan masak-masak dengan
sebuah pertanyaan awal yang dijawab dengan jujur.
Apa tujuan utama yang ingin didapat seseorang dari
bekerja atau membuka usaha? Karena, menurut saya, menjadi kaya itu perlu
kekuatan. Dan, tak semua orang kuat menjadi kaya, sama seperti tak semua orang
kuat mendaki gunung, atau ikut maraton. Ada harga yang harus dibayar untuk
menjadi kaya dan tak semua orang mampu membayar harganya.
Seorang moderator menanyakan kepada saya saat saya
baru masuk dalam forum diskusi pada malam itu. ”Menurut, Mas Sam, apa yang
paling kejam yang pernah dibuat manusia?” Saya langsung menjawab. ”Ketika
seseorang tak mampu untuk melihat bahwa mencintai dirinya sendiri itu adalah
sebuah hal yang maha penting.”
Buat saya, dunia itu tak pernah kejam. Dunia ini
diberi predikat demikian karena diisi oleh orang yang mungkin belum mampu
melihat betapa pentingnya mencintai diri sendiri.
Saya berkata pada malam itu, self love leads
you to a healthy goal and a healthy life. Self love reminds you that you are so
worth it.
Mencintai diri itu memampukan seseorang berkata
cukup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar