Satu minggu yang lalu saya bepergian ke sebuah dusun di kaki Gunung Sumbing. Perjalanannya hampir membuat saya menyerah meski kami mengendarai mobil untuk mencapainya.
Satu minggu yang lalu saya bepergian ke sebuah dusun
di kaki Gunung Sumbing. Perjalanannya hampir membuat saya menyerah meski kami
mengendarai mobil untuk mencapainya.
Dari jalan besar kami harus melewati jalan kecil yang hanya dapat dilalui satu kendaraan saja. Belum lagi dengan jalannya yang menanjak. Setelah satu setengah jam berkendaraan, kami tiba pada pemandangan yang luar biasa indahnya.
Kami mengabadikan dusun itu dari kejauhan dengan
latar belakang gunung yang ditutupi kabut dan awan yang gelap. Udara segar,
harum tanah basah, dan aroma sayur segar yang tumbuh gemuk sungguh membuat
perjalanan yang sempat membikin putus asa itu hilang begitu saja.
Saya berdiri di ketinggian itu dan melihat hamparan
pemandangan hijau di bawah. Melihat pemandangan di bawah itu dari ketinggian,
saya merasakan bahwa perjalanan yang sesulit apa pun akan mendatangkan hasil
yang mengagumkan kalau saja saya tak menyerah di tengah jalan.
Susah dahulu
Sepulang dari perjalanan itu, saya berpikir bahwa
saya sering kali gemetar melihat begitu banyak gunung dan bukit yang tinggi di
hadapan saya. Saya keder ketika melihat jalan menuju puncak itu begitu
berkelok, menanjak, dan tak jarang membuat saya kelelahan saat mendaki, persis
seperti mobil yang saya kendarai begitu perlahan kecepatannya saat jalan mulai
menanjak tajam.
Betapa beratnya mencapai puncaknya, belum lagi kalau
suasana dalam menempuh perjalanan itu mendung, gelap, dan berkabut, kadang
disertai turunnya hujan deras seperti saat itu. Kondisi keuangan yang
membebani, penyakit yang tak kunjung hilang, masalah keluarga, dan perasaan
berjuang sendiri dalam kesepian yang sangat.
Namun, ketika saya berdiri di ketinggian itu, ketika
saya terkagum melihat keindahan dari tujuan jalan-jalan saya itu, rasa leganya
sangat terasa. Kemudian saya berkata dalam hati. Kalau saya ini dengan mudah
gemetaran melihat begitu banyak gunung dan bukit yang begitu tinggi dan rasanya
susah digapai dalam hidup, seharusnya saya menoleh ke belakang. Sejenak saja.
Melihat ke belakang untuk mengingatkan diri saya
bahwa saya pernah beberapa kali melewati perjalanan yang begitu mengenaskan dan
berhasil sampai di puncaknya. Keberhasilan mencapai puncak bukan semata-mata
karena saya punya semangat yang tinggi untuk tidak menyerah, tetapi juga karena
cinta yang besar pada cita-cita mencapai puncak.
Senang kemudian
Dan cinta itu seperti api yang terus membakar
semangat, meski bisa jadi melemah tapi tak pernah mati. Saya tak bisa
mengatakan bahwa peristiwa yang sudah lalu tak perlu dikunjungi lagi meski
sesakit apa pun untuk dibuka kembali. Justru kekuatan saya adalah kalau saya
menyimpan perjalanan berat yang berhasil saya tempuh di masa lalu.
Kehidupan mengatakan bahwa yang mampu membuat
seseorang berhasil adalah orang itu sendiri. Menimbulkan semangat dalam diri
sendiri bukan hanya sekadar mengucapkan kata-kata positif, berpikir positif, melainkan
menyediakan waktu sejenak melihat ke belakang yang sering saya lupakan, karena
saya berpikir perjalanannya berbeda.
Semangat itu timbul bukan dari nasihat orang lain,
atau dari membaca buku pengalaman orang lain yang acap kali membuat kita terkagum-kagum,
tetapi mengunjungi kembali jalan berliku dan menukik tajam yang dahulu pernah
saya lalui. Dari awan gelap dan kabut yang menutupi pemandangan perjalanan yang
berhasil saya lewati.
Dengan melihat ke belakang, saya bisa memberi
perasaan terkagum-kagum itu pada kemampuan saya. Dengan mengunjungi kembali
perjalanan masa lalu yang berat itu, saya menjadi tahu kekuatan diri sendiri.
Saya pernah tak mau mengunjungi masa lalu itu karena
terlalu pedih untuk dibuka kembali. Bahkan mulut saya pernah mengatakan, aku
tak mau mengalami ini lagi. Oleh karena itu saya berusaha keras untuk
melupakannya. Saya tak pernah lagi mengunjungi masa lalu itu.
Namun, saya tak bisa menghindari bukit dan gunung
yang tinggi dalam bentuk problem hidup. Saya tak bisa menghindari awan gelap
dan kabut tebal yang membuat jarak pandang menjadi begitu pendeknya sehingga
susah sekali melihat apa yang akan terjadi di depan atau di samping kiri dan
kanan.
Setelah menghabiskan dua hari bepergian, saya pulang
kembali ke Jakarta dengan pesawat terbang. Hari itu, hari ketika saya akan
pulang, kota Yogyakarta disiram hujan yang deras, awan gelap menutupi kota.
Teman saya berkata saat melihat awan gelap dan hujan deras itu, ”Wah, bakalan
banyak turbulensi nih.”
Saya diam saja. Sejujurnya perkataan itu menakutkan
saya. Tetapi jalan-jalan saya ke dusun di kaki Gunung Sumbing itu mengiang di
telinga saya. Saya menengok ke belakang sejenak, mengingat kembali sudah berapa
kali peristiwa turbulensi yang saya hadapi dan saya berhasil untuk hidup sampai
hari ini.
Itu mengapa sejatinya saya ini tak usah mengeluh dan
gemetaran ketika kesusahan datang, sebab susah dahulu itu untuk sebuah
kesenangan yang akan saya raih kemudian. Persis seperti saat saya berdiri di
kaki dusun di sore itu. Melihat ke bawah dan melihat betapa jauhnya perjalanan
berliku yang panjang yang telah saya tempuh untuk dapat berdiri di atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar