Senin, 10 Juni 2024

Menjadi Teman

Apakah sejatinya tujuan Anda menjadi seorang teman buat banyak atau beberapa orang? Apakah seperti cerita Melati dan Mawar yang menyediakan waktu dan keberadaannya untuk menolong sesamanya?

Kalau saya mengajukan pertanyaan, apakah sejatinya tujuan Anda menjadi seorang teman bagi banyak atau beberapa orang? Mungkin sebelum menjawab, Anda bisa membaca pengalaman saya beberapa minggu terakhir ini.

Melati dan Mawar

Sebut saja yang satu Melati dan yang lainnya Mawar. Keduanya sama-sama wanita. Hanya, yang satu telah menikah dengan satu putra dan yang satu lagi masih sendiri dan tampaknya sedang dalam tahap pendekatan dengan seseorang. Keduanya memberi pengalaman yang sama, hanya berbeda dalam jalan cerita.

Pengalaman Melati dan Mawar inilah yang akan saya bagikan dan semoga dengan cerita mereka, pertanyaan saya sebagai pembuka tulisan di Minggu ini bisa membantu Anda untuk lebih cepat mendapat jawabannya.

Saya mulai dengan cerita Melati. Seperti banyaknya manusia yang terkena serangan Covid-19, maka Melati menjadi salah satu korbannya. Bahkan tak hanya dirinya yang terimbas, tetapi ayah, ibu, dan kedua adikya. Ia masuk ke wisma atlet, bapak dan ibu masuk ke rumah sakit, dan adik-adiknya berdiam di rumah.

Saya tak perlu menceritakan awal penderitaan itu dimulai, hanya saya selalu diingatkannya untuk senantiasa menggunakan masker dan menjaga jarak. Karena gara-gara tidak mematuhi hal itulah, ia terimbas penyakit keparat ini. Singkat cerita, ia sembuh setelah beberapa hari, demikian juga orangtuanya. Sayang seribu sayang, beberapa hari di rumah, ayahnya kritis dan dilarikan ke rumah sakit dan berakhir dengan kematian.

Di tengah musibah yang menimpanya, ia tak pernah lupa mengirim pesan kepada saya untuk menanyakan keadaan kesehatan saya. Ia bahkan membawa saya di dalam doanya setiap hari. Saya tahu saat saya memintanya mendoakan saya, dan ia berkata, ”Jangan khawatir, doa untuk Om Sam selalu tak kami lupakan.”

Ia memanggil om mungkin karena perbedaan usia yang sangat jauh dan memang sudah sepantasnya sebutan itu menjadi predikat baru buat saya. Bahkan, cucu tetangga saya memanggil saya opa. Waktu pertama kali mendengar sebutan itu, saya merasa risi meski tak merasa tersinggung karena tua. Tetapi menyisakan rasa jengkel disebut opa, yang selalu saja saya bayangkan seorang pria tua yang sudah tak bisa apa-apa.

Saya

Melati tak hanya mendoakan dan menanyakan keadaan saya, ia juga menawarkan tenaganya untuk menolong saya atau menemani saya ke dokter. Ia bahkan membelikan oksimeter tanpa berpikir terlalu lama ketika ia tahu saya tak punya sama sekali. Di tengah musibah yang dihadapinya, ia memberi waktu untuk menjelaskan kepada saya bagaimana prosedur mendapat bantuan pemerintah sekiranya saya terkena Covid-19 ini.

Cerita dari Mawar. Mawar tinggal bersama kakak, ibu, dan keponakannya dalam satu rumah. Pada suatu hari ia mengabari bahwa ia terkena Covid-19. Kakak dan ibunya bahkan terpaksa harus masuk rumah sakit. Sampai tulisan ini dibuat, mereka masih dalam keadaan sakit meski sudah lumayan lebih baik. Suatu hari Mawar mengirim pesan ingin melakukan video call dengan saya. ”Sudah lama aku pengin lihat kamu,” katanya dalam pesan itu.

Maka, pada satu hari kami melakukan pertemuan virtual. Ia masih tampak sakit dan ia bercerita bagaimana awalnya ia terkena penyakit ini. Dan berakhir menasihati saya untuk hati-hati, memberikan saya segala informasi rumah sakit, obat-obat yang diperlukan, dengan kondisi wajahnya yang masih terlihat lemah. ”Kamu kalau perlu sesuatu bilang, ya. Jangan sungkan. Kamu itu, kan, hidup sendiri, enggak ada yang bantuin,” lanjutnya menasihati. Padahal, ia sendiri juga sekarang dalam keadaan sendiri meski di rumah ada yang membantunya.

Demikian cerita dua perempuan teman saya. Nah, semoga Anda dapat segera menjawab pertanyaan saya di atas. Apakah sejatinya tujuan Anda menjadi seorang teman buat banyak atau beberapa orang? Apakah seperti cerita Melati dan Mawar yang menyediakan waktu dan keberadaannya untuk menolong sesamanya di tengah musibah yang tengah dialami?

Apakah Anda seperti kedua perempuan itu, tak segan memberikan informasi sehingga orang lain menjadi tahu ataukah Anda simpan sendiri dan baru memberi tahu kalau ada yang menanyakan, karena Anda tak suka direcoki. Atau Anda adalah teman yang mulutnya sangat ringan menawarkan bantuan, tetapi sulit untuk mewujudkannya apabila benar-benar diperlukan.

Atau Anda menjadi teman sebagai pelipur lara untuk orang lain karena Anda termasuk orang yang kocak, sangat menyenangkan, bergembira setiap saat meski mungkin orang lain tak tahu apakah sejujurnya Anda memang manusia yang seperti itu. Atau Anda mirip dengan saya, hanya sebagai pemanfaat sesamanya. Kalau perlu saja baru menghubungi. Kalau tidak memiliki kebutuhan, ya…, maaf-maaf saja. Anda tinggal memilih seperti Melati, Mawar, atau seperti saya!

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar