Ada waktunya seseorang menjadi pendengar dan ada waktunya untuk berbicara. Kalau tidak demikian, sebaiknya seseorang bercakap-cakap saja dengan tembok.
Kira-kira dua minggu belakangan ini, saya telah
dijadikan sebagai pendengar yang ”baik” oleh beberapa orang. Awalnya, saya tak
merasa demikian. Namun, setelah beberapa kali kejadian, termasuk saat saya
sedang bercakap-cakap secara daring, pemikiran dipaksa menjadi pendengar itu
muncul. Percakapan yang harusnya terjadi di antara dua manusia berakhir dengan
saya lebih banyak mendengar daripada sama-sama aktif.
Tembok
Kejadiannya memuncak sampai pada suatu hari bersantap siang bersama seorang teman yang sudah cukup lama tak bertemu. Setelah acara makan siang yang membosankan itu selesai, saya benar-benar merasa kesal setengah mati mengapa saya seperti orang yang tak berdaya dijadikan pendengar.
Apalagi kalau kita sudah lama tak bertemu, bukankah
sewajarnya ada keinginan kedua belah pihak mendengar cerita masing-masing dan
bukan membuat yang satu menjadi pendengar bahwa usahanya sukses di tengah orang
lain pada kesusahan? Mengapa saya kesal?
Pertama, saya memang orang yang dilahirkan bukan
untuk menjadi pendengar. Apalagi menjadi pendengar yang baik. Saya ini sangat
dominan, apa pun yang saya kerjakan. Meski belakangan sifat dominan itu sudah
jauh berkurang. Meski demikian, saya tetap merasa menjadi pendengar bukan saya
banget. Saya itu manusia yang senangnya menjadi pusat perhatian. Untuk menjadi
pusat perhatian, saya merasa tak bisa hanya diam saja. Harus menyuarakan
sesuatu.
Kedua, saya itu berpikir bahwa ketika saya atau Anda
memutuskan untuk menghubungi seseorang dengan tujuan untuk bercakap-cakap, apa
pun konten dari percakapan itu, maka percakapan atau obrolan atau diskusi harus
dilaksanakan secara dua arah. Maksudnya, ada waktunya seseorang menjadi
pendengar dan ada waktunya untuk berbicara.
Kalau tidak demikian, sebaiknya seseorang
bercakap-cakap saja dengan tembok. Toh, pada akhirnya saya atau Anda tidak
membutuhkan komentar atau masukan dari pihak yang diajak berbicara. Tembok itu
sudah pasti dapat menjadi pendengar yang tidak hanya baik, tetapi sangat baik
dan tak akan memberi reaksi apa pun terhadap apa yang dibicarakan.
Yang membuat saya naik pitam itu sejatinya bukan
masalah saya dipaksa harus menjadi pendengar. Semua manusia yang menghubungi
saya itu menunjukkan sebuah benang merah yang sama jelasnya. Mereka selalu
membuka percakapan dengan menanyakan keadaan saya. ”Kamu sehat, kan, Mas?” atau
”Mas Sam, masih di Bali-kah?” dan sejuta sapaan pembuka percakapan yang klise.
Satu atau dua orang menanyakan sedikit lebih dalam
dari pertanyaan standar itu. Namun, apa pun sapaan pembuka percakapan itu, saya
bisa merasakan semuanya hanya sebuah sapaan palsu yang tidak diniati
sungguh-sungguh untuk ditanyakan. Dari mana saya tahu kalau itu hanya basa dan
sangat basi?
Setara
Mereka hanya menanyakan keadaan saya sangat singkat.
Bahkan, supersingkat. Sayang saya tidak bisa mempraktikkan dengan suara. Kalau
ditulis tak akan terasa palsunya. Tapi bagaimanapun akan saya tuliskan juga.
Jadi, begini. ”Mas Sam, kamu sehat, kan?” Saya jawab dengan, ”Ya, aku baik dan
sehat.” Kemudian percakapan selanjutnya tidak berhubungan dengan apa yang ia
tanyakan. ”Eh…, by the way, ya, Mas, kemarin itu aku ketemu
bla-bla-bla….”
Kemudian sepanjang lima belas menit sampai setengah
jam berlangsung, merekalah yang menguasai medan percakapan itu. Setelah
percakapan itu usai, saya kemudian merasakan bahwa mereka hanya mau saya
menjadi pendengar semata.
Mereka secara egois menelepon saya untuk memuntahkan
segalanya dan menggunakan sapaan palsu sebagai pembuka percakapan. Inilah
benang merah yang sangat kental dan jelas terasa yang dilakukan oleh beberapa
orang yang berbeda itu.
Memaksa menjadi pendengar itu bukan hanya melalui
telepon atau bertemu muka. Ada satu anak manusia yang melakukan dengan mengirim
pesan. Awalnya, seperti yang lainnya, menggunakan pertanyaan apa kabarnya.
Kemudian ia bertanya kepada saya, ”Mas, kenapa, ya, aku kok belakangan suka
terbangun pukul dua pagi dan terus jadi susah tidur.”
Nah, menurut Anda, para pembaca yang budiman, kalau
ia mengajukan pertanyaan yang demikian kepada saya, siapa yang menurut Anda
sepantasnya untuk menjawab? Saya, bukan? Itu kalau kitanya waras. Anda tahu, ia
mengajukan pertanyaan itu dan ia sendirilah yang menjawabnya.
Kemudian, ia bercerita soal hidup masa kecilnya.
Bagaimana orangtuanya memperlakukan dia berbeda dengan saudara-saudara
kandungnya yang lain. Singkat cerita, dia mengatakan begini. ”Jadi, aku
tuh gak bisa tidur gini ini, seperti kebiasaan bapakku. Bapak
juga dulu kayak aku ini.” Setelah percakapan itu selesai, saya mulai mikir.
Kalau dia itu pada akhirnya tahu jawaban dari masalahnya, apalah gunanya
menanyakan itu kepada saya?
Dari sanalah saya tahu bahwa ia hanya butuh seorang
pendengar semata. Ia tak butuh jawaban sebab ia sudah tahu jawabannya. Jadi,
pertanyaan itu hanya sebuah pertanyaan yang seperti pepesan kosong. Itu hanya
sebagai alat melicinkan cerita panjangnya untuk didengar.
Buat saya, tak ada gunanya sama sekali dia mau susah
tidur atau tidak tidur sama sekali. Memaksa orang jadi pendengar tanpa memberi
tahu terlebih dahulu bahwa seseorang ingin curhat adalah perilaku yang
superegois. Kalau orang mengatakan adalah baik untuk menjadi pendengar, karena
itu menjadi sebuah cara untuk meringankan beban seseorang, saya tak terlalu
setuju dengan hal itu.
Kebaikan itu bukan memaksakan saya jadi pendengar,
melainkan memperlakukan orang setara. Karena, kalau tidak demikian, seperti
yang saya tuliskan di atas, sebaiknya seseorang memuntahkan ceritanya kepada
tembok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar