Saya tak mau kembali pada kehidupan yang berlimpah.
Kehidupan berlimpah membuat saya jadi tak menginjak bumi, saya jadi selalu
ingin bersaing dan bersaing, selalu melihat ke atas dan ke atas.
Saya punya langganan cuci kiloan. Petugas yang
datang ke tempat tinggal saya namanya Untung. Saya memanggilnya Mas Untung.
Saya baru dua kali bertemu dengannya. Karena dengan kesusahan hidup sekarang
ini, kebiasaan saya mencuci baju dengan sistem cuci kering yang mahal terpaksa
pindah ke cuci kiloan yang harganya sangat melegakan hati dan kantong. Untuk
ini, saya berterima kasih kepada kesusahan hidup.
Mas Untung
Karena saya mencatat nomor telepon genggamnya, maka setiap kali saya ingin cucian saya diambil, saya mengirim pesan padanya. Namanya juga saya ini orang yang sangat kepo, maka selain mengirim pesan, saya selalu membaca status Whatsapp-nya. Statusnya itu yang membuat saya mendapat ide untuk menulis di kolom ini pada hari ini.
Mas Untung orangnya sederhana, tegas, tak banyak
cakap. Kurus tinggi perawakannya. Gesit. Terasa sedang menghadapi pekerja yang
bersemangat. Status Whatsapp-nya sangat mencerminkan sikapnya itu. Walau hujan
deras melanda di awal tahun ini, itu tak menyurutkan dirinya untuk mengambil
pakaian-pakaian para pelanggannya untuk dicuci.
Selain itu, statusnya juga berisi nasihat atau
wejangan tentang hidup yang sederhana. Wejangan untuk tidak menyerah atau
sekadar menasihati agar hidup ini dijalankan dengan legawa. Statusnya ini
setiap saat tak hanya berakhir menjadi pengingat untuk saya, tetapi menyemangati
hidup yang saya jalani.
Membuat saya tak mudah menyerah. Dengan segala
kesederhanaan hidupnya, ia masih dapat memberi semangat kepada saya. Saya yang
susah untuk merasa bersyukur dan mudahnya merasa iri hati, serta sangat
pesimistis menghadapi hidup, meski doa sudah menjadi kebutuhan seperti makan
dan minum.
Dalam masa pandemi ini, pemasukan saya berkurang
sangat. Akan tetapi, saya sekarang bisa merasakan bahwa pemasukan yang
berkurang membuat saya bisa menikmati hidup berdasarkan kurangnya pemasukan
itu. Harus saya akui, saya lebih mampu mengontrol diri, saya lebih mensyukuri
hal-hal kecil yang dulu tak pernah saya rasakan sebagai hal yang patut saya
syukuri.
Dengan kekurangan, iri hati saya turut berkurang.
Saya tidur lebih nyenyak, pikiran saya tidak dipenuhi dengan ambisi yang
menyala-nyala. Saya bahkan tak berniat untuk menjadi seperti dulu lagi. Saya
mau mengalihkan hidup dari tak pernah bersyukur menjadi bersyukur.
Damai sejahtera
Saya tak mau kembali pada kehidupan yang berlimpah.
Kehidupan berlimpah membuat saya jadi tak menginjak bumi, saya jadi selalu
ingin bersaing dan bersaing, selalu melihat ke atas dan ke atas. Saya menjadi
ingin tampil, ingin bertambah sukses dan bertambah kaya, bertambah tepuk tangan
yang saya terima.
Apakah Anda berpikir saya malas? Saya terlihat
menjadi sangat malas kalau dibandingkan dengan kehidupan sebelum pandemi ini
terjadi. Saya terlihat seperti orang tak bersemangat, tak punya kreativitas,
tak punya ambisi.
Saya terlihat seperti orang tak peduli. Tak peduli
berpakaian dengan segala merek yang menempel di badan, tak peduli dengan
penampilan yang mungkin membuat orang lain tak melihat saya sebagai sosok yang
tampan.
Saya memang terlihat seperti orang malas, tetapi
sesungguhnya sama sekali tidak. Saya terlihat malas dan menjadi lamban karena
saya punya banyak waktu untuk menikmati empuknya tempat tidur saya, saya punya
banyak waktu untuk berjalan kaki di bawah matahari dengan tetangga saya, dan
kemudian melanjutkan berbelanja buah dan sayur di pasar dekat tempat tinggal
saya yang tak pernah saya datangi.
Saya tak perlu terburu-buru karena harus rapat ke
sana dan kemari. Saya punya banyak waktu untuk bercakap dengan teman-teman lama
saya, berbicara dengan tukang sayur dan buah, saya punya waktu untuk memasak
sarapan saya.
Kemudian mungkin ada dari Anda yang bertanya, terus
dari mana dapat uang untuk bertahan hidup? Apakah itu menjadi sangat penting?
Apakah uang yang membuat saya merasa tenteram batin? Apakah karena ada uang
saya jadi tak takut sakit, tak takut melarat?
Apakah uang yang selalu menjadi support
system? Bagaimana kalau saya jadi miskin? Terus kenapa kalau saya sampai
miskin? Apakah saya tak akan sejahtera?
Saya tak pernah menanyakan kepada Mas Untung apakah
kehidupannya yang sederhana itu membuatnya ketakutan. Dalam kondisi sekarang
inilah, saya merasakan bahwa yang kayalah yang takut miskin, yang takut tidak
sejahtera, yang mengajukan sejuta pertanyaan, karena mungkin tak ada kelegawaan
menerima hidup yang di bawah.
Saya hanya tahu dari status Whatsapp-nya bahwa Mas
Untung tak pernah menuliskan keluh kesahnya, ia tak menuliskan status yang
membuat dia dan orang lain malah turut tenggelam dalam keputusasaan.
Entah kalau ia bergumul dengan itu di dalam hatinya.
Atau status itu hanya sebagai tindakan manipulatif agar ia tak putus asa.
Sungguh saya tak tahu. Yang saya tahu, saya naik kelas di tengah kondisi
keuangan yang berkurang, salah satunya karena status Mas Untung.
Dengan kekurangan, saya menemukan hal yang jauh
lebih berkualitas untuk dirindukan. Kesejahteraan dan kedamaian batin. Sekarang
saya baru merasakan untuk pertama kalinya bahwa hidup dalam kesederhanaan
adalah yang mampu melahirkan damai sejahtera. Untuk itu, saya berterima kasih
kalau klien saya menawar harga saya mengajar dari dua digit ke satu digit.
Sekarang, saya jauh lebih ”kaya”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar