Minggu, 09 Juni 2024

Sederhana

Saya tak mau kembali pada kehidupan yang berlimpah. Kehidupan berlimpah membuat saya jadi tak menginjak bumi, saya jadi selalu ingin bersaing dan bersaing, selalu melihat ke atas dan ke atas.

Saya punya langganan cuci kiloan. Petugas yang datang ke tempat tinggal saya namanya Untung. Saya memanggilnya Mas Untung. Saya baru dua kali bertemu dengannya. Karena dengan kesusahan hidup sekarang ini, kebiasaan saya mencuci baju dengan sistem cuci kering yang mahal terpaksa pindah ke cuci kiloan yang harganya sangat melegakan hati dan kantong. Untuk ini, saya berterima kasih kepada kesusahan hidup.

Mas Untung

Karena saya mencatat nomor telepon genggamnya, maka setiap kali saya ingin cucian saya diambil, saya mengirim pesan padanya. Namanya juga saya ini orang yang sangat kepo, maka selain mengirim pesan, saya selalu membaca status Whatsapp-nya. Statusnya itu yang membuat saya mendapat ide untuk menulis di kolom ini pada hari ini.

Mas Untung orangnya sederhana, tegas, tak banyak cakap. Kurus tinggi perawakannya. Gesit. Terasa sedang menghadapi pekerja yang bersemangat. Status Whatsapp-nya sangat mencerminkan sikapnya itu. Walau hujan deras melanda di awal tahun ini, itu tak menyurutkan dirinya untuk mengambil pakaian-pakaian para pelanggannya untuk dicuci.

Selain itu, statusnya juga berisi nasihat atau wejangan tentang hidup yang sederhana. Wejangan untuk tidak menyerah atau sekadar menasihati agar hidup ini dijalankan dengan legawa. Statusnya ini setiap saat tak hanya berakhir menjadi pengingat untuk saya, tetapi menyemangati hidup yang saya jalani.

Membuat saya tak mudah menyerah. Dengan segala kesederhanaan hidupnya, ia masih dapat memberi semangat kepada saya. Saya yang susah untuk merasa bersyukur dan mudahnya merasa iri hati, serta sangat pesimistis menghadapi hidup, meski doa sudah menjadi kebutuhan seperti makan dan minum.

Dalam masa pandemi ini, pemasukan saya berkurang sangat. Akan tetapi, saya sekarang bisa merasakan bahwa pemasukan yang berkurang membuat saya bisa menikmati hidup berdasarkan kurangnya pemasukan itu. Harus saya akui, saya lebih mampu mengontrol diri, saya lebih mensyukuri hal-hal kecil yang dulu tak pernah saya rasakan sebagai hal yang patut saya syukuri.

Dengan kekurangan, iri hati saya turut berkurang. Saya tidur lebih nyenyak, pikiran saya tidak dipenuhi dengan ambisi yang menyala-nyala. Saya bahkan tak berniat untuk menjadi seperti dulu lagi. Saya mau mengalihkan hidup dari tak pernah bersyukur menjadi bersyukur.

Damai sejahtera

Saya tak mau kembali pada kehidupan yang berlimpah. Kehidupan berlimpah membuat saya jadi tak menginjak bumi, saya jadi selalu ingin bersaing dan bersaing, selalu melihat ke atas dan ke atas. Saya menjadi ingin tampil, ingin bertambah sukses dan bertambah kaya, bertambah tepuk tangan yang saya terima.

Apakah Anda berpikir saya malas? Saya terlihat menjadi sangat malas kalau dibandingkan dengan kehidupan sebelum pandemi ini terjadi. Saya terlihat seperti orang tak bersemangat, tak punya kreativitas, tak punya ambisi.

Saya terlihat seperti orang tak peduli. Tak peduli berpakaian dengan segala merek yang menempel di badan, tak peduli dengan penampilan yang mungkin membuat orang lain tak melihat saya sebagai sosok yang tampan.

Saya memang terlihat seperti orang malas, tetapi sesungguhnya sama sekali tidak. Saya terlihat malas dan menjadi lamban karena saya punya banyak waktu untuk menikmati empuknya tempat tidur saya, saya punya banyak waktu untuk berjalan kaki di bawah matahari dengan tetangga saya, dan kemudian melanjutkan berbelanja buah dan sayur di pasar dekat tempat tinggal saya yang tak pernah saya datangi.

Saya tak perlu terburu-buru karena harus rapat ke sana dan kemari. Saya punya banyak waktu untuk bercakap dengan teman-teman lama saya, berbicara dengan tukang sayur dan buah, saya punya waktu untuk memasak sarapan saya.

Kemudian mungkin ada dari Anda yang bertanya, terus dari mana dapat uang untuk bertahan hidup? Apakah itu menjadi sangat penting? Apakah uang yang membuat saya merasa tenteram batin? Apakah karena ada uang saya jadi tak takut sakit, tak takut melarat?

Apakah uang yang selalu menjadi support system? Bagaimana kalau saya jadi miskin? Terus kenapa kalau saya sampai miskin? Apakah saya tak akan sejahtera?

Saya tak pernah menanyakan kepada Mas Untung apakah kehidupannya yang sederhana itu membuatnya ketakutan. Dalam kondisi sekarang inilah, saya merasakan bahwa yang kayalah yang takut miskin, yang takut tidak sejahtera, yang mengajukan sejuta pertanyaan, karena mungkin tak ada kelegawaan menerima hidup yang di bawah.

Saya hanya tahu dari status Whatsapp-nya bahwa Mas Untung tak pernah menuliskan keluh kesahnya, ia tak menuliskan status yang membuat dia dan orang lain malah turut tenggelam dalam keputusasaan.

Entah kalau ia bergumul dengan itu di dalam hatinya. Atau status itu hanya sebagai tindakan manipulatif agar ia tak putus asa. Sungguh saya tak tahu. Yang saya tahu, saya naik kelas di tengah kondisi keuangan yang berkurang, salah satunya karena status Mas Untung.

Dengan kekurangan, saya menemukan hal yang jauh lebih berkualitas untuk dirindukan. Kesejahteraan dan kedamaian batin. Sekarang saya baru merasakan untuk pertama kalinya bahwa hidup dalam kesederhanaan adalah yang mampu melahirkan damai sejahtera. Untuk itu, saya berterima kasih kalau klien saya menawar harga saya mengajar dari dua digit ke satu digit. Sekarang, saya jauh lebih ”kaya”.

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar