Tidakkah seyogianya rasa aman itu harus diciptakan
dari diri kita dan tidak bergantung pada rasa aman yang diberikan orang lain?
Seorang teman mengatakan kepada saya bahwa perasaan aman yang selama ini dicarinya baru ditemukan pada pacar barunya. Waktu saya membaca pesannya itu, saya langsung berkomentar. Tidakkah seyogianya rasa aman itu harus diciptakan dari diri kita dan tidak bergantung pada rasa aman yang diberikan orang lain?
Bonus
Saya tak mau mengomentari lebih jauh lagi karena
saya sendiri belum pernah pacaran. Jadi, saya tak tahu perasaan aman yang ia
rasakan itu. Saya membayangkan rasa aman itu saja tak tahu. Siapa tahu teman
saya memang benar bahwa rasa aman itu juga bisa didapati dari orang lain. Dari
cinta yang diberikan pasangan kepada kita.
Meski selama ini saya merasa bahwa cinta itu hanya
bisa mendatangkan rasa cemburu dan rasa takut kehilangan. Jadi, waktu teman
saya mengatakan bahwa cinta itu bisa menimbulkan rasa aman, saya sejujurnya
bingung setengah mati. Mungkin saya harus pacaran untuk membuktikan bahwa cinta
itu bukan seperti yang selama ini saya pikirkan.
Setelah percakapan itu selesai, kepala saya tak
berhenti mengeluarkan pertanyaan. Salah satunya adalah bagaimana kalau pasangan
yang dikatakannya baik dan mampu memberikan rasa aman itu meninggal atau
hubungan itu terputus di tengah jalan?
Apakah rasa aman yang selama ini dirasakannya akan
hilang, kemudian ia kembali merasa tidak aman dan mencari lagi di sebuah
hubungan barunya? Demikian seterusnya sampai ia mendapat pasangan hidup yang
menemaninya sampai ia meninggal. Begitukah?
Sebelum saya maju perang, saya harus
membangun sebuah sistem yang disebut dengan support system.
Kalaupun ia mendapat rasa aman itu dari pasangannya,
artinya dari orang di luar dirinya, apakah itu hanya bonus semata? Maksud saya,
rasa aman yang utama itu harusnya datang dari diri kita sendiri dan yang datang
dari luar diri kita adalah tambahan yang membuat rasa aman itu menggunung.
Dengan begitu, kalau yang dari luar itu tak lagi
memberi kontribusi rasa aman, paling tidak rasa aman yang ada dalam diri kita
menjadi kekuatan agar kita tidak ambruk total. Kemudian saya teringat waktu
saya memiliki hubungan asmara beberapa tahun lalu dengan orang yang ”salah
alamat”, saya ambruk total.
Sekarang saya jadi berpikir bahwa saya bisa ambruk
pada masa itu, kemungkinan besar karena saya tak membangun rasa aman terlebih
dulu dalam diri saya. Saya sudah keburu suka dan buta serta merasa bahwa ia
yang akan dapat memberi rasa aman itu.
Jadi, sejatinya, sebelum saya maju perang, saya
harus membangun sebuah sistem yang disebut dengan support system.
Sistem pendukung itu bukan bernama sahabat karib, bukan bernama keluarga yang
mendukung, melainkan sistem dalam diri saya, yang saya bangun sendiri, dengan
tujuan untuk menangkal kejadian buruk yang akan terjadi pada masa yang akan
datang.
Lumrah
Sistem itu dibangun dan berada dalam diri saya,
ditanam di dalam saya. Jadi, tak ada satu pun orang luar yang mampu merampok
atau menghancurkannya karena itu ada di dalam saya.
Kecuali saya sudah tak lagi mencintai dan menghargai
diri saya sendiri. Karena satu-satunya yang bisa memusnahkan sistem itu adalah
saya. Karena, menurut saya, apa pun yang bisa diciptakan manusia pasti bisa
dimusnahkan manusia itu sendiri. Bukankah begitu?
Pada masa-masa awal pandemi ini terjadi, saya sempat
dibuat keder setengah mati. Saya takut mati karena terinfeksi oleh virus ini.
Saya tak membayangkan kalau sesak napas dan kemudian mati dalam kesendirian.
Saya menyadari ketika pandemi itu datang, saya tak punya sistem pendukung dalam
diri saya bernama ketenangan
Sejujurnya saya tak pernah membangun sistem
pendukung bahkan jauh sebelum pandemi ini terjadi. Perasaan takut atau galau
adalah sebuah bukti bahwa sistem pendukung itu belum tertanam pada diri saya.
Seperti saya katakan di atas, sistem itu sejatinya dibuat jauh sebelum sebuah
kejadian buruk terjadi. Sistem itu merupakan sebuah alat penangkal. Itu semacam
tindakan preventif dan bukan kuratif.
Sistem pendukung itu tak hanya memberi rasa aman dan
tenang, tetapi juga sebagai pengingat ketika apa yang akan saya lakukan adalah
sebuah keputusan yang salah. Kalau sistem itu sudah tertanam sebelum kejadian
buruk terjadi, saya tak akan berpikir untuk melakukan korupsi, perselingkuhan,
pembunuhan, pencurian, dan sejuta perbuatan yang menghancurkan diri sendiri.
Apa pun yang bisa diciptakan manusia
pasti bisa dimusnahkan manusia itu sendiri.
Sistem pendukung itu menciptakan rasa aman dalam
diri saya sehingga saya tak akan mengorbankan diri untuk menciptakan kejadian
yang tidak aman buat saya dan melihatnya sebagai sebuah kejadian yang lumrah.
Maksud saya lumrah melakukan korupsi, lumrah
berselingkuh, lumrah untuk sesekali kolesterol meroket dan hipertensi. Lumrah
mengatakan bahwa kakak saya ada yang polisi atau anggota DPR ketika tertangkap,
dan sejuta lumrah yang merusak hidup saya dan orang lain.
Jadi, sistem ini seperti membangun sistem antivirus
yang biasa ditanam di dalam komputer. Sistem ini akan mencegah jangan sampai
terserang virus dan merusak semua folder yang ada di dalam komputer.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar