Jadi, kalau demikian adanya, kalau ternyata
kebahagiaan bisa datang dari jalan yang penuh kerikil dan berliku, maka sudah
selayaknya saya berterima kasih.
Saya yakin, teramat yakin bahwa Anda, seperti saya
sudah acapkali mengucapkan terima kasih kepada begitu banyak orang untuk begitu
banyak kejadian. Ucapan itu tak hanya ditujukan kepada sesama makhluk hidup
tetapi juga kepada sang Khalik.
Bahkan di luar keduanya, saya dan mungkin ada beberapa dari Anda yang mengatakan itu pada alam semesta, pada tubuh, dan organ tubuhnya.
Dua sisi
Ucapan terima kasih umumnya disampaikan sebagai
tanda bahwa yang mengucapkannya menerima sebuah kebaikan dalam berbagai bentuk.
Mendapatkan bantuan finansial, mendapatkan penghargaan, merasa bahwa hidupnya
tenteram dan sejahtera, merasa bahwa dapat bangun dalam keadaan sehat, merasa
memiliki paru-paru yang sehat, jantung yang sehat.
Berterima kasih untuk sebuah pertemanan yang tak
hanya bisa berkumpul ketawa-ketiwi, tetapi juga yang mendukung di segala cuaca.
Berterima kasih menerima kebaikan berupa doa dari saudara kandung dan dukungan
moril sebagai sebuah keluarga yang saling mengasihi. Berterima kasih memiliki
keluarga yang meski sudah tidak utuh, tetapi rukun.
Berterima kasih untuk pernikahan yang panjang dan melelahkan, tetapi juga
membahagiakan.
Ucapan itu juga keluar dari mulut manusia yang
melakukan kejahatan dalam berbagai macam bentuk dan sampai sekarang tak ada
yang tahu soal kejahatan yang mereka buat itu. Pasti mereka akan mengatakan hal
yang sama. Terima kasih. Entah kepada siapa, saya tak tahu.
Bisa jadi juga ada yang berterima kasih kepada Yang
Maha Kuasa bahwa mereka merasa terlindungi sampai sekarang. Enggak usah
jauh-jauh, saya dulu pernah bersyukur pada Tuhan bertemu dengan orang yang
menawan hati saya, meski ia milik orang lain. Merasa bersalah? Ya tidaklah.
Ucapan terima kasih itu hanya bisa keluar dari perasaan yang tak bersalah,
bukan?
Tetapi, hidup itu tak hanya berjalan dalam jalur
yang membahagiakan. Hidup tak selalu memiliki jalan bebas hambatan dengan kerimbunan
di kanan kirinya serta pemandangan indah di depan mata. Hidup kadang panas
sampai mengigit atau turun hujan yang menghempaskan segalanya. Hidup
menghadiahkan sesuatu yang dicintai tetapi ada masanya yang dicintai itu
diambil dan tak pernah bisa kembali lagi.
Sengsara membawa nikmat
Hidup tak hanya memberi kesehatan, tetapi juga
perjalanan penyakit yang meluluh lantahkan raga dan berakhir dengan kehilangan
untuk selama-lamanya. Hidup menyuguhkan kesuksesan tetapi juga kebangkrutan.
Hidup juga mengajarkan untuk berhati-hati dalam
menjalaninya, tetapi apa mau dikata malapetaka pun tak dapat dihindari, meski
perencanaan dan perhitungan sudah matang seperti telur rebus.
Nah, pertanyaan saya di hari Minggu ini, apakah Anda
dan saya bisa mengucapkan terima kasih untuk sebuah situasi tidak menyenangkan
itu sama seperti saat Anda dan saya berterima kasih untuk hal-hal indah dan
menyenangkan seperti yang saya tulis di atas?
Saya diajarkan dalam kehidupan, bahwa kehidupan itu
sebaiknya dijalani dengan legawa. Menerima dengan ikhlas apa saja yang
diizinkan Tuhan terjadi dalam hidup kita, apa pun caranya. Saya mendapat pesan
utama setelah dinasihati tentang itu, bahwa goal utama dari semua kelegawaan
adalah rasa bahagia di akhir sebuah perjalanan yang seperti ayunan itu.
Teman saya malah mengatakan bahwa senang atau susah,
jalannya mudah atau sulit, ujung-ujungnya adalah untuk menemukan kebahagiaan.
Saya kemudian berpikir bahwa kebahagiaan itu dapat datang dari manapun dan
dalam bentuk apapun. Bahkan dalam bentuk kesusahan sekalipun.
Jadi, kalau demikian adanya, kalau ternyata
kebahagiaan bisa datang dari jalan yang penuh kerikil dan berliku, maka sudah
selayaknya saya berterima kasih. Oleh karenanya, saat saya melakoni jalan
berkerikil dan berliku itu saya menjalankannya dengan hati riang, seperti kalau
jalan itu bebas hambatan dengan jalan mulus yang tak terlalu berliku.
Dengan demikian, yang disebut negatif itu tak pernah
ada. Bagaimana kalau sesuatu dapat mendatangkan kebahagiaan pada akhirnya, saya
dapat menyebutnya negatif atau kemalangan? Kalau pada akhirnya saya bisa naik
kelas dalam sekolah kehidupan bahkan dengan predikat summa cum laude,
bagaimana saya merasa itu sebuah perjalanan yang menyiksa?
Sungguh saya mau mengakui bahwa saya menulis ini
dengan mudahnya, padahal saya sedang melakoni kehidupan yang belakangan lumayan
membuat saya berpikir mengapa kehidupan yang digariskan untuk saya selalu dekat
dengan kesengsaraan.
Saya telah dinasihati bahwa hidup itu bukan tidak
adil, saya telah dikotbahi bahwa kebahagiaan itu bisa datang dari hal yang
buruk sekalipun, maka sekarang nasihat dan kotbah itu sedang saya buktikan,
bahwa seperti judul novel karangan Tulis Sutan Sati, sengsara itu dapat membawa
nikmat.
Kalau demikian adanya, saya berterima kasih, meski
saya belum sampai di akhir perjalanan dan merasakan bahagia. Dengan begitu,
semoga perjalanan saya menuju akhir dipenuhi hanya oleh ucapan syukur semata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar