Semua memang dibuat untuk mereka yang sakit. Sebuah
rumah penuh dengan rasa sakit. Kalau sudah begitu, saya merasa, berada di rumah
sendiri adalah hal yang sangat mewah dan dirindukan.
Belakangan, tepatnya sepanjang minggu terakhir Maret
sampai koran ini tiba di tangan Anda, saya sudah mondar-mandir ke rumah sakit
seperti seringnya saya masuk-keluar mal. Kondisi kesehatan sayalah yang telah
membuat rumah sakit menjadi tujuan ”wisata”, sejak larangan mudik diberlakukan.
Hasil lab dan siapa saya
Rumah sakit. Sebuah istilah yang selalu membuat saya keder. Meski saya sudah mondar-mandir, bolak-balik ke tempat ini, selalu denyut jantung bertambah. Itu telah terbukti setiap kali memeriksa tekanan darah sebelum saya menghadap dokter.
Demikian juga dengan kadar gula darah. Karena saya
harus memonitor kondisi gula darah saya, maka di mana pun saya berada, saya
selalu siap dengan alat kecil nan praktis untuk memonitornya.
Termasuk di lokasi bernama rumah sakit. Sudah dapat
saya pastikan gula darah saya melonjak kalau sudah berada di rumah sakit. Semua
karena saya stres.
Di rumah sakitlah saya berpikir tentang kematian,
kelumpuhan, soal kanker, soal penyakit mematikan, atau yang akan mengantar masa
tua saya dengan banyak masalah. Belum lagi kalau sudah mengambil hasil laboratorium.
Badan rasanya lemas, jantung berdetak kencang. Persis seperti sedang menunggu
hasil pengumuman ujian. Lulus atau tidak. Kalau lulus, lulusnya seperti apa?
Seperti biasa, saya hanya deg-degan kalau sedang
mengambil hasilnya. Tetapi, sebelum semua terjadi, sebelum dilakukan
pemeriksaan darah, saya hidup seenaknya sendiri. Hasil laboratorium bukanlah
sekadar memberi gambaran pasti soal keadaan kesehatan saya, tetapi bagaimana
saya mengelola hidup saya selama ini.
Bagaimana saya melihat penting atau tidaknya saya
mencintai diri sendiri. Hasil laboratorium merupakan gambaran pasti saya itu
orangnya seperti apa. Bayangkan, untuk mengelola kesehatan saja saya enggak
peduli, bisakah Anda membayangkan apa lagi yang akan saya prioritaskan untuk
dipedulikan kalau hidup sehat yang diimpikan banyak orang saja saya enggak
merasa penting?
Saya merasa penting dan kemudian merasa ditampar
kalau dokter sudah mengatakan ini dan itu. Kemungkinan-kemungkinan yang akan
saya alami. Nah, kalau sudah begitu, dalam waktu beberapa bulan saya bisa
seperti manusia yang sangat memedulikan kesehatan saya. Tetapi hanya untuk
beberapa bulan saja, ketika saya melihat hasil laboratorium saya sudah membaik.
Ruang VIP
Dalam masa bolak-balik ke tujuan ”wisata” itu, saya
sempat harus melakukan operasi kecil. Dengan demikian, saya harus opname di
rumah sakit. Setelah sekian belas tahun sejak saya melakukan transplantasi
ginjal, saya tak pernah lagi menginap di rumah sakit.
Hari itu, saat harus terbaring sebelum dan sesudah
operasi, saya merasa bahwa rumah ini memang pantas disebut rumah sakit. Bukan
hanya semata-mata untuk menampung orang sakit, tetapi telah membuat saya sakit
secara pikiran.
Saya boleh saja berbaring di kamar untuk para very
important person, saya boleh saja memiliki kamar dengan pemandangan yang
sedikit lebih baik, pendingin ruangan yang tersedia 24 jam, karangan bunga
dengan kalimat semoga lekas sembuh yang dapat saya lihat sambil berbaring, yang
katanya karangan bunga itu seperti memberi warna untuk hari-hari istirahat
saya.
Tentu menjadi berbeda ketika ruangan ada bunganya,
tetapi kalimat semoga lekas sembuh itu membuat bunga warna-warni sama sekali
tidak memberi warna pada hari-hari penuh tekanan itu.
Tentu keberadaan rumah sakit dengan dokter dan
perawatnya, yang memandikan saya pukul 05.30 pagi saat saya lebih memilih
tidur, tak bisa disalahkan.
Semua memang dibuat untuk mereka yang sakit. Sebuah
rumah penuh dengan rasa sakit. Kalau sudah begitu, saya merasa, berada di rumah
sendiri adalah hal yang sangat mewah dan dirindukan. Meski rumahnya kecil dan
biasa-biasa saja.
Rumah sendiri adalah rumah kesembuhan. Maka, saya
suka bersedih kalau ada beberapa orang merasakan rumahnya sendiri seperti
neraka. Sering saya bertanya, di mana mereka akan mencari ”rumah” sesungguhnya?
Sepulang dari rumah sakit setelah dua hari opname,
dalam perjalanan pulang, di dalam taksi, entah tiba-tiba saya berkaca pada
rumah sakit. Apakah saya ini sebagai manusia, teman, saudara kandung, pimpinan,
manusia sosial, seperti sebuah rumah sakit?
Seseorang yang mendatangkan stres kepada lawan
bicaranya, meski seperti layaknya rumah sakit, kesembuhan dapat diperoleh.
Apakah saya seseorang yang tak dapat memberi rasa tenteram dalam setiap
pertemuan, yang mampu menaikkan tekanan darah sehingga orang lebih memilih
untuk sesekali saja bergaul dengan saya, persis seperti hanya sesekali saya
berniat ke rumah sakit.
Apakah saya ini seperti karangan bunga yang
diharapkan memberi warna pada hari-hari kelabu, tetapi ucapan saya sering kali
membuat rangkaian bunga itu menjadi jauh dari menarik hati untuk dinikmati.
Dan, hari yang kelabu bertambah kelabu.
Apakah saya ini seperti ruang VIP di rumah sakit
itu? Kelihatan wah dan terlihat menyenangkan pada awalnya, tetapi kemudian
orang menyadari bahwa itu hanya satu kamar tempat menampung orang sakit.
Seperti ruang VIP itu, saya hanya seorang yang memesona pada awalnya, kemudian
membuat orang atau sebuah keadaan menjadi kegerahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar