Jadi, saya berpikir, komentar sarkastis itu adalah
sebuah wujud dari ketidakdewasaan saya melihat seseorang dengan situasinya.
Saya tahu kalau orang berbeda-beda dalam cara melihat kehidupan, tapi saya tak
mau mengerti.
Saya membaca di sebuah media sosial seorang wanita
muda menjelaskan cerita sebuah partai politik dengan para anggota yang
tergabung di dalamnya di negeri ini. Salah satu komen yang saya baca begini
bunyinya. ”Kok mau digoblokin?”
Lidah tak bertulang
Setelah membaca komentar itu, saya mengatakan komentar yang sama. Namun, beberapa detik setelah berpikir demikian, saya malu sendiri. Lahhh… saya kok ya mau digoblokin dengan apa yang sekarang saya percayai? Apa pun itu. Mau partai politik yang saya yakini, mau presiden yang saya anggap baik, mau aliran agama, mau pilihan pasangan, mau pilihan profesi, dan sebagainya.
Kok mau sih dipercaya? Kok mau sih pacaran sama
orang kayak gitu? Kok mau sih pilih kerjaan yang kayak kerja rodi gitu? Kok mau
sih bantuin orang di pelosok? Kan enakan di kota segala fasilitas ada. Kenapa
bodoh banget mau nyusahin diri? Akan ada sejuta ”kok mau sih” yang saya dapat
keluarkan dari mulut dengan lidahnya tak bertulang ini.
Teman saya baru putus dari pasangannya setelah kira-kira menjalin hubungan selama 14 tahunan. Membuat cerita asmara ini menjadi singkat, pasangannya itu tenyata sorang penipu. Seorang teman dari teman saya itu bercerita, kalau teman saya itu sudah seperti ATM berjalan buat pasangan penipunya itu. Tentu mulut saya yang tak sekolah tinggi ini langsung berkomentar persis seperti komentar di atas. ”Kok mau sih digblokin?”
”Kok mau sih” itu sebuah ungkapan spontan yang
menghakimi, yang menurut tingkat kepandaian saya yang di bawah rata-rata ini,
lahir karena ada cerita di balik apa yang didengar atau dibaca seseorang, yang
menurut pendapatnya sangat tidak masuk akal.
Jauh di lubuk hati saya yang terdalam, saya ini kok
percaya kalau rekan usaha saya atau bekas direktur keuangan saya yang
superpandai atau klien saya, berkomentar seperti komentar di atas tadi, melihat
bodohnya saya soal hitung menghitung.
Mungkin mereka akan mengatakan kok bisa sih ada
orang sebodoh ini. Dikasih tahu enggak ngerti-ngerti. Bahkan, salah
satu klien saya pernah berkomentar yang saya dengar dari orang lain, kalau saya
tuh cuma hebat namanya, tapi enggak hebat cara kerjanya. Kok ada sih yang mau
kerja sama, sama Samuel Mulia.
Hakim agung
Setiap manusia memiliki sebuah perjalanan hidup yang
saya tahu, Anda juga sudah tahu, hanya saja acap kali tak mau tahu.
Berbeda-beda. Meski Anda dan saya sudah tahu, komentar menghakimi itu tetap
saja meluncur dengan kencang seperti mobil di jalan bebas hambatan. Sampai acap
kali, saya suka lupa bahwa perjalanan hidup saya tak lebih baik dari orang
lain.
Pengalaman hidup itulah yang membuat seseorang
memiliki cara berpikir yang berbeda dari saya. Belum lagi melihat perbedaan
tingkat intelektual, emosional, dan spiritualnya. Saya dulu berpikir kok bisa
sih ya ada orang berselingkuh tanpa rasa bersalah dan terbang untuk sebuah
kencan ke luar kota. Lha wong saya ini naik kapal terbang saja
takutnya setengah mati kalau sampai jatuh, bagaimana mereka yang berselingkuh
bisa tenang-tenang saja?
Nah, yang selingkuh mungkin akan berpikir, kok ada ya orang sebodoh itu, takut naik kapal terbang. Otaknya di mana ya? Atau saya juga tak habis berpikir kok bisa sih ada orang mau jadi pilot atau pramugari atau pramugari.
Setiap hari deg-degan di atas 36.000 kaki belum lagi
kalau musim hujan sedang menggila. Kemudian pilot dan kru pesawat itu bisa jadi
akan berpikir, kok ada orang mau dibodohin sama otaknya sendiri ya?
Jadi, saya berpikir, komentar sarkastis itu adalah
sebuah wujud dari ketidakdewasaan saya melihat seseorang dengan situasinya.
Saya tahu kalau orang berbeda-beda dalam cara melihat kehidupan, tetapi saya
tak mau mengerti. Saya cuma tahu, tapi tak mau tahu lebih dalam. Itu mengapa
komentar sarkastis itu mengandung penghakiman.
Saya merasa bahwa hidup saya jauh lebih baik dari
mereka. Kepercayaan saya lebih baik dari kepercayaan orang lain. Cara hidup
saya jauh lebih baik dari orang lain. Cara saya menentukan pilihan jauh lebih
baik dari pilihan mereka, dan seterusnya, dan seterusnya.
Pada waktu saya melihat seseorang memutuskan untuk
mengganti kelamin dan melihatnya begitu berbahagia, saya belajar sesuatu. Saya
tak bisa dengan mudah meluncurkan komentar sarkastis itu. Saya bukan hakim
agung.
Seharusnya saya selalu mengingatkan diri untuk
menjadi manusia yang rajin mengasah toleransi, dan meningkatkan keinginan untuk
mau tahu lebih dalam, agar melahirkan pengertian dan hati yang lebih terbuka
untuk mencegah datangnya penghakiman.
Mungkin, kalau saya dapat mencapai tahapan itu,
hidup saya dan orang lain jauh lebih membahagiakan. Langkah awal yang mungkin
bisa Anda dan saya lakukan adalah berhenti berkomentar ”Kok mau sih?” atau ”Kok
bisa, sih?” dan sejuta ”kok” lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar