Perayaan itu hanya punya satu tujuan, yaitu
berterima kasih atas panen dan berkah yang diterima pada tahun sebelumnya.
Tepat satu minggu yang lalu saya turut serta dalam
perayaan Thanksgiving. Kalau Anda mau tahu soal perayaan itu, Anda bisa
mencarinya sendiri. Karena hari ini saya mau ngomel tentang banyak hal, maka
sayang halaman yang terbatas ini dihabiskan untuk menjelaskan soal perayaan
yang datangnya satu tahun sekali itu.
Perayaan itu hanya punya satu tujuan, yaitu berterima kasih atas panen dan berkah yang diterima pada tahun sebelumnya. Satu minggu yang lalu, saya hanya ikut dalam keriaan perayaan itu, tanpa berniat berterima kasih atas berkat yang telah diterima, baik itu dari tahun sebelumnya maupun sampai saat Anda membaca tulisan ini.
Kekesalan saya sudah bertumpuk untuk mampu berterima
kasih. Kalau dihitung, mungkin kejadian buruk lebih banyak terjadi daripada
kejadian yang menyenangkan hati. Setahu saya, perayaan ini berterima kasih
untuk berkat dan hasil panen yang bagus.
Yang saya tak tahu apakah yang dimaksud dengan
berkat atau panen itu termasuk juga panen kesusahan hidup yang kata banyak
orang, juga harus disyukuri, karena kita bisa naik kelas melalui pengalaman
seburuk apa pun itu.
Saya sendiri juga diajari berpuluh tahun lamanya
untuk mengucap syukur di dalam segala hal dan di dalam segala keadaan. Kalau
kalimat di dalam segala hal itu diterjemahkan lebih lanjut, maka itu berarti
saya harus mengucap syukur, berterima kasih, atas kejadian buruk dan kejadian
baik apa pun bentuknya itu.
Saya tak tahu apakah orangtua, yang anaknya
diperkosa beramai-ramai kemudian dibuang ke kali, harus mengucap syukur dan
berterima kasih atas kejadian itu. Atau seorang bapak melihat istrinya dibunuh
harus bersyukur atas kejadian itu, sama persis seperti kebahagiaan yang saya
rasakan ketika panen saya berlimpah.
Atau melihat seorang anak kecil sudah mampu
memutuskan untuk bunuh diri dengan sejuta alasan yang mengenaskan. Saya tak
tahu apakah orangtua yang mengalami itu harus berterima kasih dalam segala hal.
Sungguh saya tak tahu. Saya belum pernah mengalami kejadian itu. Membayangkan
saja saya tak berani.
Dalam kenyataannya, saya hanya bisa mengomel dan tak
bisa berterima kasih atas penyakit yang saya derita, atas usaha yang berjalan
seperti seorang pelari yang baru menyelesaikan lari cepat, dan terengah-engah
karenanya. Meski itu tak seberapa dibandingkan kejadian seperti yang saya tulis
di atas.
Buruk 100, baik 100
Teman-teman saya, terutama mereka yang hidupnya
sangat saleh dibandingkan saya, tetapi belum pernah mengalami cerita seperti
yang saya tulis di atas, dengan mudah mengkhotbahi saya agar saya tak boleh
lupa menghitung berkat yang saya terima sampai di masa sekarang ini.
Mereka mengatakan kepada saya, kalaupun sekarang
perut saya berair atau bahasa kerennya asites, karena sebuah penyakit yang
belum diketahui, selain penyakit lainnya yang telah saya dapati, saya harus
menghitung berkah bahwa saya bisa bangun pagi selama ini dalam keadaan sehat
walafiat.
Mendengar nasihat semacam itu, saya hanya tertawa sinis
di dalam hati. Nasihat itu sama sekali tak menggairahkan untuk saya ikuti.
Mereka tak tahu kalau saya justru semakin frustrasi dan jengkel gara-gara
berhitung.
Berhitung justru membuat saya keder, membuat saya
iri hati. Karena saya berhitung, saya jadi tahu kalau berkat orang lain lebih
banyak dari saya. Jadi, buat saya berhitung itu telah menggagalkan saya untuk
berbesar hati menerima keadaan hidup dengan apa adanya. Entah mengapa, saya
merasa menghitung berkat itu sebuah kepengecutan, sebuah pelarian untuk
menghibur diri dari sebuah keadaan yang meluluhlantahkan jiwa raga.
Contohnya, saya sakit, tetapi berkat yang saya
terima di tengah kesakitan itu adalah dengan melihat bahwa saya ini masih bisa
bangun pagi sampai sekarang dengan kondisi yang baik. Kalau misalnya sakit dan
dapat bangun pagi dengan sehat diterjemahkan dengan angka 100, hidup saya
seperti membuat balance sheet: baik 100, buruk 100.
Apakah mereka berpikir kalau saya seimbang, itu
membuat saya lebih bahagia? Saya tak bahagia dengan mencari keseimbangan antara
kejadian buruk dan berkat yang saya terima. Mungkin harusnya saya diajari sejak
lahir ke bumi ini bahwa berterima kasih atas berkat itu, atas panen itu, adalah
termasuk panen negatif yang saya terima, tanpa harus mencari alasan positif.
Sejatinya, saya berniat berterima kasih untuk
kejadian baik dan kejadian buruk, bukan membuat perayaan yang penuh
perhitungan. Saya mau merayakan hari panen itu dengan menjadi jujur bahwa saya
tak bisa menerima anak saya diperkosa ramai-ramai tanpa harus perlu mencari
alasan yang positif.
Saya harus merasakan keterpurukan sampai titik yang
paling rendah sebelum saya bangkit. Maka, ketika saya mampu berdiri lagi, saya
berdiri karena saya mengerti dan merasakan keterpurukan tanpa harus mencari
keseimbangan dengan menghitung berkat lainnya.
Saya berdiri lagi karena perayaan ucapan syukur saya
itu juga untuk sebuah panen yang penuh kesengsaraan. Mungkin, itu adalah
perayaan berterima kasih yang sesungguh-sungguhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar