Ini adalah pengalaman bertahun lamanya mengalami perlakuan kalau pembeli itu bukan raja. Menjadi orang setengah miskin dan setengah kaya seperti saya ini mumet.
Beberapa tahun lalu, saya diajak ke salah satu
private club di Hongkong oleh teman saya yang kaya raya. Salah, saya salah
menulis. Teman saya ini tak punya apa-apa, orangtuanya yang punya segalanya.
Jadi, dia hanya anaknya orang kaya, bukan orang kaya. Maka, benarlah kata Coco
Chanel. "There are people who have money and people who are rich.”
Maka, saya sering bingung kalau melihat anak orang kaya yang sombongnya setengah mati. Lha wong ndak punya apa-apa kok sombong. Mungkin saya iri, tetapi otak saya mulai berpikir, kalau baru jadi anak saja sudah jemawa seperti itu, bagaimana kalau dapat warisannya? Nurani saya berteriak, ”Kamu bukannya mungkin iri. Kamu pasti iri. Saya kan tahu kamu.”
Jemawa I
Untuk menjadi salah satu anggota kelab itu,
seseorang membutuhkan dana besar. Katanya tak hanya dananya yang perlu, tetapi
networking-nya juga menjadi perhitungan menjadi salah satu prajurit kelab itu.
Atau kalau bukan anggota, seseorang harus menjadi sosok superkondang dulu,
bukan kondang saja. Jadi, sebagai manusia miskin enggak, kaya enggak, saya tak
mampu menggoyahkan pemilik kelab itu untuk menjadikan saya sebagai salah satu
prajuritnya.
Dari saat itulah, saya sakit hati mengapa saya
diperlakukan demikian. Saya dibedakan. Istilah private club saja sudah
membedakan. Saya bertanya sama Gusti Allah, kok bapak saya enggak superkaya.
Apalagi saya diajari kalimat jitu nan legendaris: pembeli itu raja. Jadi, mau
miskin, kaya yaaa… dilayani bak raja. Kalimat itu kan tidak berbunyi raja itu
pembeli. Kalau demikian, ya... memang pantas saya diperlakukan demikian. Karena
saya bukan raja, anak raja juga tidak, alias saya bukan orang kaya atau datang
dari langit ketujuh.
Pengalaman dilecehkan sebagai manusia berstatus
sosial setengah-setengah sangat terasa saat saya masuk ke dunia mode yang
gemerlap dan arogannya setengah mati, dan yang setelah saya masuki isinya yaaa…
gitu deh. Cuma gitu deh saja arogannya setengah mati. Sejujurnya arogansi itu
sangat terasa di level keroco-keroconya yang status sosialnya sebelas dua belas
dengan saya, termasuk kuli tintanya.
Semua di
tingkat rendahan. Lha wong cuma kuli kok arogan. Suara dari dalam berteriak.
”Itu hebatnya duniamu. Kuli saja bisa arogan. Situ lagi ngomongin diri
sendiri?” Di dunia jemawa inilah, saya mengerti kalimat pembeli itu raja nyaris
tidak berlaku sama sekali.
Mengapa tiba-tiba saya mengingat kejadian masa
lampau dan yang masih saya alami sampai sekarang bahwa saya pembeli, tetapi
bukan diperlakukan bak raja? Pada suatu akhir pekan, saya berbicara dengan
salah satu konglomerat muda di rumahnya yang luas nan asri dan indah. Kami
mengobrol sampai nyaris pukul satu pagi. Tetapi, yang menempel di benak saya
adalah kalimat yang keluar dari mulutnya. ”Kami itu harus melayani customer.
Penuhi keinginannya.”
JEMAWA II
Saya gila barang bermerek sejak lama. Gila banget
malah. Untuk memiliki barang bermerek, saya harus pergi ke toko. Oh... salah…
ke butik. Toko bukan istilah dunia mode. Saya selalu sakit hati kalau masuk di
butik kondang itu. Mereka sering melecehkan saya. Perhatikan bagaimana SPG
menggunakan mata dan bahasa tubuhnya saat menit pertama Anda masuk ke butik
mereka.
Mata mereka bak detektor yang akan memberi tanda
saya ini setengah kaya, kaya, atau kaya beneur. Itu yang akan menentukan mereka
mau melayani atau tidak. Kadang saya didiamkan saja. Mau itu di Jakarta atau
Paris dan New York. Sami mawon. Apalagi kalau dapat SPG yang seperti saya, laki
tidak perempuan pun bukan.
Saya selalu deg-degan karena tabiat mereka. Saya
nekat karena keinginan akan barang bermerek itu mengalahkan rasa dilecehkan
meski setelah keluar dan berhasil saya menggerutu karena disakiti demikian.
Paling menyebalkan, saya sudah mengeluarkan uang kok ya masih dilecehkan. Kalau
sudah begitu, nurani saya selalu menghibur. Hiburannya begini, ”Makanya, jadi
orang jangan belagu juga. Enggak enak kan dibelaguin orang. Nah… rasain aja sekarang.”
Awalnya, saya tak tahu dunia yang satu ini adalah
sumber pelecehan. Waktu saya mewawancarai sekian kali desainer dunia, yang
pertama melecehkan adalah yaa… keroco-keroconya bernama resepsionis, asisten PR
yaaa… kadang PR-nya sendiri, atau asisten desainernya. Yang saya sebut
terakhir, weleh-weleh-weleh, kadang sudah seperti Tuhan.
Saya berpikir apa yaaa... corporate culture
perusahaan fashion itu memang harus demikian sehingga orang-orang yang di
dalamnya menjadi monster arogan. Saya sendiri sampai sekarang tak tahu. Mengapa
susah sekali menjadi makhluk biasa-biasa saja di tengah kegemerlapan?
Mungkin manusia-manusia di bisnis mode itu mesti
mematrikan kalimat Coco Chanel sebagai embahnya mode. ”Some people think luxury
is the opposite of poverty. It is not. It is the opposite of vulgarity.”
Mungkin vulgarity itu salah satunya berwujud
arogansi dan membuat perbedaan, bukan rok supermini atau atasan yang
mempertontonkan aurat semata. Mungkin makhluk di bisnis mode malah tidak tahu
lawannya kemewahan adalah kevulgaran.
Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya jalan kaki dan
tak punya mobil yang bisa menurunkan saya di depan pintu butik untuk
membuktikan saya mampu membeli. Dunia mode senangnya menipu dan ditipu. Kalau
turun dari mobil mewah, itu sama dengan kaya. Turun dari busway, itu sama
dengan adik tirinya kaya. Pada waktu pelecehan itu terjadi—lewat bahasa tubuh
dan mata SPG—saya berpikir, katanya pembeli itu raja, kok kayak gini? Jadi, di
mana letak rajanya?
Masih ingat, saya pernah mengutip artikel yang ditempelkan
teman saya di dinding ruang kerjanya, bunyinya: Stop thinking like a bank,
start thinking like a customer? Kalau tidak yaa… enggak papa. Pikun itu
sekarang sudah menjadi gaya hidup. Bahkan, sudah sejak lama, terutama pikun
buat bayar utang.
Nah,
pengalaman saya di dunia mode membuat saya berpikir mereka tak melirik frase
semacam itu. Mereka yang raja. Nurani saya berteriak. ”Booo... Goblok itu mbok
jangan dipelihara. Kalimat itu buat bank, layanan umum. Kamu dari dunia yang
kelihatannya umum, tetapi enggak mau melayani umum, yang milih-milih... Yaaa...
enggak nyambung....”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar