Saya sudah lama berpikir bahwa bangga sama diri sendiri itu tidak baik, tidak rendah hati. Seharusnya yang menilai saya patut bangga itu orang lain, bukan saya.
Pernahkah Anda merasa bangga terhadap diri sendiri?
Meski IPK Anda hanya 1,9 atau karier Anda hanya begitu-begitu saja. Tinggi
tidak, rendah pun tidak. Atau, secara fisik Anda hanya akan mendapat predikat B
saja. Biasa, maksudnya. Atau, usaha Anda masuk dalam kategori maju tidak,
mundur pun tidak.
Memiliki segalanya
Beberapa waktu lalu, saya makan siang dan mendengar cerita salah satu keluarga terkaya di negeri ini. Sudah kayanya pakai banget, sederhananya pun pakai banget. Selesai mendengar cerita itu, saya sampai geleng kepala.
Mereka lahir dengan IQ yang cemerlang, punya
anak-anak yang sama cemerlang dan tak membuat susah. Usaha semakin maju di
tangan anak-anaknya. Tabiat mereka jauh dari apa yang disebut orang dengan
sebutan songong. Kesehatan sekeluarga itu pun tak pernah dihantam penyakit yang
berat.
Saya membayangkan betapa bahagianya keluarga itu.
Begitu banyak yang pantas mereka banggakan, bahkan mungkin termasuk kemampuan
mereka hidup dalam kesederhanaan di tengah kekayaan yang tak terhitung
jumlahnya. Saya sempat berpikir apakah sebetulnya mereka itu kikir bukan
sederhana sehingga mereka dapat menjadi sekaya raya itu. Namun, saya menepis
pikiran buruk yang belum tentu benar itu.
Beberapa hari sebelum acara makan siang dan
mendengar cerita di atas, pada pagi hari setelah saya menyelesaikan ritual
kerohanian, saya melakukan perjalanan kembali mengunjungi masa lalu sekaligus
memperhatikan apa saja yang selama ini terjadi dalam hidup saya.
Saya tak perlu berpanjang lebar karena, setelah
kunjungan ke masa lalu itu dan melihat apa yang saya hadapi sampai sekarang
ini, kesimpulannya singkat sekali. Perjalanan hidup saya sangat bertolak
belakang dengan cerita keluarga kaya raya di atas.
Bertolak belakang dalam segala hal. Nah, kalau
demikian adanya, apa yang patut saya banggakan dengan diri saya? Dengan apa
yang saya miliki? Karena kalau yang namanya bertolak belakang, artinya secara
singkat tak ada yang bisa saya banggakan. Kekayaan tidak, IQ tidak, kesehatan
tidak, kesederhanaan pun tidak. Jadi, apa dong?
Kemudian saya berusaha mencari-cari apa yang masih
dapat saya banggakan dari diri saya ini. Pencarian ini mungkin hanya untuk
menghibur diri semata supaya saya tak terlalu jatuh kecewa dan merasa hidup ini
tidak adil sama sekali.
Kehilangan segalanya
Karena buat saya adil itu adalah kalau sana kaya,
yang sini juga kaya. Kalau sana kayanya pakai raya, yang sini harus pakai raya
juga. Kalau yang sana sehatnya pakai walafiat, ya... yang sini juga sehat pakai
walafiat yang sama. Demikian seterusnya, dan seterusnya. Pokoknya, sama itu
baru adil.
Namun, ternyata kenyataannya tidaklah demikian. Maka,
setelah cukup lama mencari-cari, saya menemukan. Pada awalnya, penemuan ini
masih saya rasakan seperti mengada-ada agar saya tak terlalu merasa tak
berguna. Sejujurnya, saya itu tak pernah merasa kalau membanggakan diri sendiri
itu sesuatu yang pantas saya lakukan.
Saya sudah lama berpikir bahwa bangga sama diri
sendiri itu tidak baik, tidak rendah hati. Seharusnya yang menilai saya patut
bangga itu orang lain, bukan saya. Sejak kecil, apa pun yang saya kerjakan, mau
itu bagus atau tidak, berhasil atau gagal, orangtua saya tak pernah mengatakan
”kamu pasti bangga dengan apa yang sudah kamu lakukan”.
Karena buat saya dan mungkin orangtua saya, bangga
itu adalah perilaku yang pantas dilakukan kalau kondisinya seperti cerita
keluarga kaya raya di atas. Gagal itu bukan sebuah kebanggaan, IPK ecek-ecek
itu bukan hal yang patut dibanggakan. Punya banyak penyakit, apalagi.
Pagi itu, saya merasa bahwa kalau saya tak dapat
membanggakan sesuatu yang bisa terlihat dan bisa diukur, mungkin saya juga
mulai harus belajar untuk berani bangga atas hal-hal yang berlawanan dengan
itu, yang tak dapat dilihat orang lain, tetapi dapat dirasakan dan dilihat oleh
kita sendiri.
Saya bangga bahwa saya sangat tidak panik bahkan
tidak parno sama sekali menghadapi pandemi ini. Saya cukup
berbangga hati bahwa saya mampu mengelola pikiran dan emosi saya sehingga tahun
lalu, sebagai tahun yang memorak-porandakan usaha dan kesehatan saya, saya
dapat menghadapinya dengan dada yang lapang dan jiwa yang bersukacita.
Itu mengapa saya mampu mengatakan bahwa tahun
terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya adalah tahun 2020.
Saya boleh berbangga karena saya mampu melepaskan
kemelekatan saya kepada barang-barang nostalgia yang awalnya tak bisa saya
lepaskan. Saya mampu melepaskan kemelekatan untuk mencintai kehidupan duniawi.
Karena itu, sekarang saya tak takut akan kehilangan.
Saya bangga mampu melepaskan keterikatan dan
merelakan segala sesuatu terjadi. Saya bangga, saya mampu merasa bahagia dan
bersyukur dengan sepenuh hati di tengah kehilangan segalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar