”Aku Orangnya Memang Gitu”
Buat saya kalimat itu sebuah kalimat yang secara
tidak langsung seperti sebuah pengumuman ke seluruh jagat raya ini kalau yang
menyuarakan kalimat itu adalah seorang yang sangat egois.
Itu adalah kalimat yang dijelaskan oleh seorang
teman pada suatu siang di dalam mobilnya dalam perjalanan mengantar saya pulang
ke tempat tinggal saya. Ia sedang membicarakan ucapan dari teman dekatnya yang
selalu mengatakan bahwa ”aku tuh orangnya memang gitu. Gak bisa berubah lagi,
kalau elo mau berteman sama aku, ya... terimalah aku apa adanya.”
Mendidih
Pembicaraan itu, maksud saya kalimat semacam itu, sudah sering saya dengar dari banyak orang. Dan setiap kali ada saja yang mengingatkan cerita semacam itu, darah saya cepat sekali mendidih. Mungkin sekarang jauh lebih lambat mendidihnya karena dengan mengikuti kelas meditasi selama satu tahun lebih, saya bisa lebih mengontrol api yang suka mendidih dengan cepat itu.
Siang itu setelah mendengar ceritanya, kami
membahas. Buat saya kalimat itu sebuah kalimat yang secara tidak langsung
seperti sebuah pengumuman ke seluruh jagat raya ini kalau yang menyuarakan
kalimat itu adalah seorang yang sangat egois. Pengumuman itu juga menurut saya
adalah pengumuman seorang manusia yang merasa nyaman dengan ketakutannya akan
perubahan, dengan memanipulasi bahwa itu adalah sifatnya yang tak bisa diubah.
Sejujurnya, kalimat itu tidak membuat darah saya
mendidih, kalimat berikutnyalah yang memacunya. Pada suatu waktu, temannya yang
tak bisa berubah itu dimintai pendapatnya secara spiritual dalam membahas
sebuah masalah yang berat. Inilah nasihatnya: ”Buat Tuhan tak ada yang
mustahil. Ia dapat mengubah yang tak bisa diubah manusia.”
Tidakkah darah Anda juga mendidih, pembaca,
mendengar kalimat mulia dari mulut manusia yang tak memercayai bahwa Tuhan itu
bisa mengubah sesuatu yang mustahil bagi manusia? Tidakkah darah Anda seperti
air yang hampir mendidih dan nyaris tumpah ke luar, mendengar nasihat dari
seorang pengecut?
Sampai saya itu berpikir, memang nasihat yang baik
itu dapat saja disuarakan oleh siapa saja. Dari mereka yang memang baik, yang
pura-pura baik, seorang pengecut, seorang pemberi harapan palsu, seorang
maling, bahkan dari seorang yang berpendidikan sangat tinggi dan seorang
koruptor dan penyelingkuh.
Bahkan, bisa jadi seorang yang saya sebutkan itu,
kecuali mereka yang memang baik, justru menggunakan nasihat mulia semacam itu
untuk menutupi keburukannya itu. Kemudian pikiran saya melayang kepada situasi
pandemi yang sedang kita alami.
Pandemi
Pandemi ini telah mengubah gaya hidup dan kebiasaan
kita. Dari yang tak pernah berpikir harus bekerja di rumah berbulan lamanya
sampai harus menyodok hidung untuk keperluan kesehatan. Belum lagi memakai
masker dan duduk berjarak seperti di dalam bioskop atau pesawat, yang dahulu,
sebelum pandemi keparat ini datang, kita tak pernah berpikir hidup akan seperti
ini.
Jalan-jalan menjadi lebih ribet, kita harus
mengunduh aplikasi untuk memantau aktivitas kita. Sementara itu, kalau dulu
juga sudah mengunduh, tetapi mengunduh aplikasi yang tidak-tidak. Dengan
pandemi ini, saya tak pernah berpikir bahwa ada negara yang melakukan penutupan
sehingga berkeinginan untuk masuk ke negara tersebut saja tak bisa. Bahkan,
Singapura yang begitu dekatnya dengan negara kita dan sangat mudah untuk
menjadi tujuan wisata dan bisnis bertahun lamanya, sekarang ini tak lagi
seperti itu.
Apakah yang saya maksud dengan penjelasan yang Anda
sendiri sudah tahu dan sudah mengalaminya sendiri termasuk sekelompok orang
yang masuk ke dalam kategori ”Aku emang dari dulu udah gitu. Jadi susah
berubah. Kalau kamu mau terima aku, ya... terimalah aku seperti apa adanya?”
Bahwa tak ada hal di dunia ini yang tak bisa
berubah. Kejadian yang mendunia macam pandemi ini telah mengubah setiap
manusia. Artinya, kalau dulu tidak pakai masker ke mana-mana, sekarang harus
menggunakannya, bukankah itu sebuah bukti kita bisa berubah? Mau suka atau
tidak suka, mau itu dilakukan terpaksa karena sebuah situasi, mau yang
menjalankannya menggerutu, kita telah berubah dan kita bisa berubah.
Mengapa kita mau berubah? Apakah karena menghormati
pandemi ini, apalagi sekarang datang varian baru yang lebih mematikan? Supaya
tidak ditangkap karena bandel? Ataukah karena kita tak mau mati dengan sia-sia
karena virus ini? Apa pun alasan yang digunakan, kita bisa berubah. Anda
berubah karena keberadaan virus.
Maka, kalau virus saja bisa mengubah gaya hidup dan
kebiasaan Anda, maka tak ada yang mustahil bagi Tuhan untuk mengubah sifat
buruk Anda, yang berdampak buruk bagi Anda dan bagi orang lain. Teman saya
mengatakan bahwa pandemi ini membuat ia lebih punya banyak waktu untuk mengerti
anak-anaknya. Ia berubah. Nah, kalau virus korona saja mampu mengubah Anda,
lebih lagi Tuhan, bukan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar