Beberapa waktu lalu, saya menonton film.
Judulnya Little Women. Setelah menyaksikan film berdurasi 135 menit
itu, saya mencoba menengok kembali kepada masa ketika masih menjadi salah satu
anggota keluarga yang tinggal di dalam satu atap.
Film vs kenyataan
Keadaan keluarga saya jauh berbeda dari gambaran
yang disajikan dalam film itu. Kehangatan keluarga saya sangat berbeda dengan
gambaran film yang diadaptasi dari novel karya Louisa May Alcott tahun 1868
itu.
Kami tidak sehangat nyonya March dengan empat anak perempuannya. Mereka terlihat saling mencintai dan melindungi serta berkorban satu dengan lainnya meski pertengkaran dan ketidakcocokan pendapat bisa saja terjadi.
Belum lagi melihat keindahan sinematografinya yang
menambah kehangatan keluarga itu tercipta. Benar-benar membuat saya menyesal
mengapa keluarga saya tak bisa seperti itu. Mengapa pada hari Natal, kami
sekeluarga tak duduk dengan tenang berkumpul, tetapi sibuk harus ke gereja,
harus menerima tamu dari pagi sampai petang.
Bahkan ada masanya di hari raya itu, ayah mengirim
anak-anaknya ke hotel berbintang untuk bertemu Sinterklas dan menerima kado,
sementara ia dan ibu kami menerima tamu di rumah. Kehangatan Natal itu saya
dapatkan di luar rumah. Di hotel, di gereja. Seperti seolah hotel dan gereja
menjadi begitu penting ketimbang cinta yang diciptakan dalam keluarga.
Saya tak tahu apakah ayah dan ibu saya sebagai
kepala dan wakil kepala keluarga tahu mengelola sebuah keluarga. Saya tak tahu
apakah ketika berencana menikah dan memutuskan memiliki keluarga, mereka tahu
bahwa keluarga itu bukan soal harus mencari uang untuk menghidupi keluarga,
tetapi menghidupi keluarga dengan kasih sayang dan kehangatan, saling
mendukung, berkorban dan penghormatan.
Ketika saya masuk sebagai seorang finalis sebuah
lomba perancang mode, tak satu pun anggota keluarga saya datang untuk hadir
pada malam final itu. Ibu saya tidak, adik dan kakak saya apalagi. Ayah saya
memutuskan untuk hadir dan terbang dari Pulau Dewata ke Jakarta.
Coba tebak, menurut Anda, apakah ayah saya hadir
di ballroom hotel berbintang pada malam itu? Tidak,
saudara-saudara. Ia terlambat hadir, bahkan ketika acara sudah usai. Ia datang
ke hotel dan memberi saya uang kemudian melanjutkan pergi rapat dengan rekan
bisnisnya. Saya tak akan pernah melupakan peristiwa ini. Saya belajar bahwa
uang tak dapat mengganti rasa bersalah. Bahwa penghormatan itu sejatinya juga
dilakukan orangtua terhadap anak dan bukan hanya sebaliknya.
Enggak usah ”lebay”!
Beberapa kali saya menceritakan bahwa saya pernah
menjalani transplantasi ginjal di China. Menurut Anda, siapa yang mengantar
saya dan menemani saya ketika saya berpikir kematian saya datang? Teman saya.
Bukan ayah, ibu dan adik serta kakak saya.
Saya tak tahu apakah mereka tak berniat menemani,
yang jelas di hari hidup mati saya itu, saya ditemani orang lain. Sama seperti
saat Natal saya ditemani Sinterklas di hotel berbintang itu, sama seperti
ketika saya memenangkan salah satu kategori lomba itu, hanya ditemani tante
saya. Support system saya datang dari luar.
Tetapi mungkin itu cara ayah dan ibu saya
menciptakan kehangatan. Kalau itu semua masih bisa disebut kehangatan.
Kehangatan yang tidak lebay, kehangatan yang kasar, kehangatan yang
tidak menye-menye. Maka, saat ayah saya menemui ajalnya di
Malaysia, tak satu pun anak-anaknya hadir di sana. Ia ditemani sepupu saya yang
kebetulan seorang dokter.
Apakah saya sebagai anak merasa bersalah pada saat
itu? Tidak. Sama sekali tidak. Saya tak tahu apakah adik saya merasa bersalah,
atau apakah kakak saya merasa bersalah bahkan ia tak hadir pada saat ayah
dikremasi.
Tetapi saya merasa tidak hadirnya rasa bersalah
karena saya tumbuh dengan didikan seperti itu. Saya tumbuh dengan melihat dan
mengalami bahwa perhatian itu adalah tanpa perlu ada keluarga di sampingmu ketika
kamu sekarat. Perhatian dan kehangatan itu adalah tersedianya dana yang cukup
karena ayah bekerja keras tiada henti.
Pengorbanan itu adalah ayah bekerja keras dan tak
usah lebay dengan berpikir kalau ayah atau anggota keluarga
tak hadir mendukung dalam sebuah situasi. Kehangatan, penghormatan itu adalah
didikan yang keras bahwa kamu harus berani menghadapi setiap peristiwa dengan
dirimu sendiri.
Keluar dari gedung bioskop itu, tiba-tiba perasaan
rindu berkumpul dengan kakak dan adik menyelinap masuk. Saya berpikir untuk
mengirim pesan agar kami bertiga dapat berkumpul kembali setelah sekian puluh
tahun tak pernah berkumpul secara fisik. Anda berpikir kami tak saling
mencintai?
Inilah hasil didikan orangtua kami. Mencintai
melalui Whatsapp group. Tak usah lebay harus
bertemu secara fisik, tak usah lebay mendramatisasi keadaan
seperti dalam film-film. Kurang uang, transfer. Sakit keras, doain.
Support system sekarang tak perlu dalam bentuk
pelukan, tak perlu sentuhan, tak perlu menemani di ranjang kematian, video call
saja cukup.
Maka saya belajar bahwa kasih sayang dan kehangatan
itu bentuknya bisa seperti tegasnya seorang sipir penjara atau bisa dalam
bentuk digital. Kalau ada yang namanya e-banking, maka sekarang ada
e-kasih sayang dan e-kehangatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar