Minggu, 09 Juni 2024

E-Kasih Sayang

 

Beberapa waktu lalu, saya menonton film. Judulnya Little Women. Setelah menyaksikan film berdurasi 135 menit itu, saya mencoba menengok kembali kepada masa ketika masih menjadi salah satu anggota keluarga yang tinggal di dalam satu atap.

Film vs kenyataan

Keadaan keluarga saya jauh berbeda dari gambaran yang disajikan dalam film itu. Kehangatan keluarga saya sangat berbeda dengan gambaran film yang diadaptasi dari novel karya Louisa May Alcott tahun 1868 itu.

Kami tidak sehangat nyonya March dengan empat anak perempuannya. Mereka terlihat saling mencintai dan melindungi serta berkorban satu dengan lainnya meski pertengkaran dan ketidakcocokan pendapat bisa saja terjadi.

Belum lagi melihat keindahan sinematografinya yang menambah kehangatan keluarga itu tercipta. Benar-benar membuat saya menyesal mengapa keluarga saya tak bisa seperti itu. Mengapa pada hari Natal, kami sekeluarga tak duduk dengan tenang berkumpul, tetapi sibuk harus ke gereja, harus menerima tamu dari pagi sampai petang.

Bahkan ada masanya di hari raya itu, ayah mengirim anak-anaknya ke hotel berbintang untuk bertemu Sinterklas dan menerima kado, sementara ia dan ibu kami menerima tamu di rumah. Kehangatan Natal itu saya dapatkan di luar rumah. Di hotel, di gereja. Seperti seolah hotel dan gereja menjadi begitu penting ketimbang cinta yang diciptakan dalam keluarga.

Saya tak tahu apakah ayah dan ibu saya sebagai kepala dan wakil kepala keluarga tahu mengelola sebuah keluarga. Saya tak tahu apakah ketika berencana menikah dan memutuskan memiliki keluarga, mereka tahu bahwa keluarga itu bukan soal harus mencari uang untuk menghidupi keluarga, tetapi menghidupi keluarga dengan kasih sayang dan kehangatan, saling mendukung, berkorban dan penghormatan.

Ketika saya masuk sebagai seorang finalis sebuah lomba perancang mode, tak satu pun anggota keluarga saya datang untuk hadir pada malam final itu. Ibu saya tidak, adik dan kakak saya apalagi. Ayah saya memutuskan untuk hadir dan terbang dari Pulau Dewata ke Jakarta.

Coba tebak, menurut Anda, apakah ayah saya hadir di ballroom hotel berbintang pada malam itu? Tidak, saudara-saudara. Ia terlambat hadir, bahkan ketika acara sudah usai. Ia datang ke hotel dan memberi saya uang kemudian melanjutkan pergi rapat dengan rekan bisnisnya. Saya tak akan pernah melupakan peristiwa ini. Saya belajar bahwa uang tak dapat mengganti rasa bersalah. Bahwa penghormatan itu sejatinya juga dilakukan orangtua terhadap anak dan bukan hanya sebaliknya.

Enggak usah ”lebay”!

Beberapa kali saya menceritakan bahwa saya pernah menjalani transplantasi ginjal di China. Menurut Anda, siapa yang mengantar saya dan menemani saya ketika saya berpikir kematian saya datang? Teman saya. Bukan ayah, ibu dan adik serta kakak saya.

Saya tak tahu apakah mereka tak berniat menemani, yang jelas di hari hidup mati saya itu, saya ditemani orang lain. Sama seperti saat Natal saya ditemani Sinterklas di hotel berbintang itu, sama seperti ketika saya memenangkan salah satu kategori lomba itu, hanya ditemani tante saya. Support system saya datang dari luar.

Tetapi mungkin itu cara ayah dan ibu saya menciptakan kehangatan. Kalau itu semua masih bisa disebut kehangatan. Kehangatan yang tidak lebay, kehangatan yang kasar, kehangatan yang tidak menye-menye. Maka, saat ayah saya menemui ajalnya di Malaysia, tak satu pun anak-anaknya hadir di sana. Ia ditemani sepupu saya yang kebetulan seorang dokter.

Apakah saya sebagai anak merasa bersalah pada saat itu? Tidak. Sama sekali tidak. Saya tak tahu apakah adik saya merasa bersalah, atau apakah kakak saya merasa bersalah bahkan ia tak hadir pada saat ayah dikremasi.

Tetapi saya merasa tidak hadirnya rasa bersalah karena saya tumbuh dengan didikan seperti itu. Saya tumbuh dengan melihat dan mengalami bahwa perhatian itu adalah tanpa perlu ada keluarga di sampingmu ketika kamu sekarat. Perhatian dan kehangatan itu adalah tersedianya dana yang cukup karena ayah bekerja keras tiada henti.

Pengorbanan itu adalah ayah bekerja keras dan tak usah lebay dengan berpikir kalau ayah atau anggota keluarga tak hadir mendukung dalam sebuah situasi. Kehangatan, penghormatan itu adalah didikan yang keras bahwa kamu harus berani menghadapi setiap peristiwa dengan dirimu sendiri.

Keluar dari gedung bioskop itu, tiba-tiba perasaan rindu berkumpul dengan kakak dan adik menyelinap masuk. Saya berpikir untuk mengirim pesan agar kami bertiga dapat berkumpul kembali setelah sekian puluh tahun tak pernah berkumpul secara fisik. Anda berpikir kami tak saling mencintai?

Inilah hasil didikan orangtua kami. Mencintai melalui Whatsapp group. Tak usah lebay harus bertemu secara fisik, tak usah lebay mendramatisasi keadaan seperti dalam film-film. Kurang uang, transfer. Sakit keras, doain.

Support system sekarang tak perlu dalam bentuk pelukan, tak perlu sentuhan, tak perlu menemani di ranjang kematian, video call saja cukup.

Maka saya belajar bahwa kasih sayang dan kehangatan itu bentuknya bisa seperti tegasnya seorang sipir penjara atau bisa dalam bentuk digital. Kalau ada yang namanya e-banking, maka sekarang ada e-kasih sayang dan e-kehangatan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar