Akhir pekan minggu lalu saya habiskan dengan bekerja
di Kota Buaya, tepatnya di hotel berbintang lima, lebih tepatnya lagi di sebuah
hotel resor. Saya juga kaget, ada hotel resor di tengah Kota Buaya yang
panasnya saat itu mencapai tiga puluh delapan derajat celsius.
Melangkah keluar dari lapangan terbang dan keluar
dari mobil saat tiba di tempat penginapan itu kulit terasa cekit-cekit.
Cekit-cekit itu sama dengan perasaan yang Anda alami kalau menggigit lombok
rawit. Sengaja atau tidak sengaja. Kalau teman saya arek Suroboyo bicaranya
seperti ini, ”Sambele ndek ilat cekit-cekit.”
Mungkin sudah waktunya kalau kota penuh beton ini punya hotel resor, yang bisa menjadi tempat pelarian sejenak untuk ”mendinginkan” mata dan berefek sampai ke emosi. Saya tiba di penginapan sekitar pukul delapan pagi, senang melihat taman luas asri buatan seorang arsitek taman yang kondang, setelah melihat pemandangan rumput kering berwarna coklat mengenaskan sepanjang perjalanan menuju ke tempat penginapan itu.
TURBA
Kalau saya mendengar hotel berpredikat atau
dikategorikan bintang lima, pemikiran saya hanya sampai kepada kemewahan
interiornya, kecanggihan fasilitasnya, tamu-tamu ternama yang pernah menginap,
dan harganya yang selangit dibandingkan dengan hotel ecek-ecek.
Pada akhir
pekan itu saya belajar sesuatu, yaitu yang namanya hotel berbintang lima
ternyata bukan sekadar tempat penginapan yang memberi gengsi semata, tetapi
petingginya bisa turun langsung melayani tamunya seperti bukan petinggi. Sebuah
tindakan nyata, bukan sekadar slogan menarik, seperti dalam iklan hotel
berbintang pada umumnya.
Setiap pukul
enam sore para bos berkumpul di lobi hotel, menyapa tamu, membagikan kartu
nama, bukan untuk memasarkan diri sendiri, tetapi untuk memudahkan tamunya
berbicara langsung kepada mereka. Mau memuji kek, mau complain kek.
Kehadiran mereka di lobi membuat para tamu tak perlu
susah-susah membuat perjanjian curhat dengan mereka. Pengalaman saya, kalau mau
bertemu petinggi jalannya lebih banyak berliku ketimbang lurus. Petugas
”satpam”-nya banyak dan kadang ada petinggi yang senang membuat jalan berliku
supaya terasa ia petinggi. Kalau gampang, takut kelihatan kayak jongos. Yaaaa…
kalau bisa disusahkan, mengapa mesti dimudahkan.
Kehadiran bos-bos di lobi hotel itu melahirkan pertanyaan.
Mengapa mereka melakukan itu? Tidak seperti saya, mereka mau mencoba berdiri di
sisi orang lain, tepatnya berdiri di sisi konsumen.
Kalau saya, orientasinya diri sendiri, bukan
consumer driven. Itu mengapa, saya jarang menyediakan waktu untuk orang lain,
untuk memberi mereka sesi curhat. Saya tak siap di-complain. Yaa... kalau cara
kritiknya halus. Bagaimana kalau nyelekit? Karena itu, saya sering menggunakan
anak buah sebagai tameng. Cukup menyodorkan humas.
Pimpinan
tertinggi hotel itu mengatakan kepada saya, ”Harga di tempat ini bukan hanya
termasuk kamar dan makan pagi saja, tetapi termasuk bertemu dengan kami yang
siap melayani.”
Saya
berpikir, kalau para jenderalnya saja bisa turba, bukankah sebagai konsumen
saya ada di tangan yang aman dan diperlakukan istimewa? Mungkin inilah yang
membedakan hotel ini dari hotel lain, sebuah unique selling proposition yang
datang dari hal-hal sederhana yang mungkin sudah banyak dilupakan orang.
Petinggi ”Of The Year”
Di tempat
penginapan ini surat selamat datang di dalam kamar ditulis dengan goresan
tangan pemimpinnya, bukan dicetak biasa dan hanya ditandatangani. Saya tak tahu
apakah ia melakukan untuk semua tamunya, tetapi paling tidak, surat dengan
sentuhan yang ”personal” itu melahirkan sejuta perasaan yang menyinggung saya.
Saya malas
repot-repot menulis kartu ucapan ulang tahun dan sebagainya. SMS saja, selesai
semua. Seharusnya, kejutan kecil macam itu bisa jadi membuat orang merasa
istimewa. Bagaimana tidak? Menulis dengan goresan tangan memerlukan waktu dan
usaha .
Saya sudah lama, lama sekali, tak pernah berpikir
membuat orang lain merasa istimewa. Itu mengapa saat lift terbuka, saya main
langsung masuk saja. Mau yang di dalam susah keluar, itu urusan mereka. Semua
itu karena saya tak mau berdiri di sisi orang lain. Maka, melayani menjadi
kerepotan.
Waktu saya di dalam lift bersama beberapa petinggi
hotel berbintang lima itu, tiba-tiba sang pemimpin mengeluarkan dompet tipis
berwarna gelap dari kantong jas yang ternyata tempat lap pembersih. Dia langsung
menyeka bekas tangan yang tampak di pegangan besi di dalam lift.
Sambil masih membersihkan, ia menjelaskan semua
atasan dibekali dompet tipis itu, sehingga kapan pun dan di mana pun mereka
yang dipredikatkan bos dalam setelan jas, juga siap membersihkan.
Melihat kejadian itu, terbersit ide, bagaimana kalau
mulai besok, siapa pun Anda yang dikategorikan petinggi, menyediakan dompet
tipis berisi lap di kantong jas atau celana. Kalau Anda yang di tempat tinggi
mau melakukan pekerjaan semacam itu, bawahan Anda pasti akan mengagumi dan
meniru perbuatan mulia itu. Jadi, pemimpin yang bukan no action talk only.
Maka, yang disebut petinggi yang dihormati adalah
kalau ia bisa berperilaku seperti bawahan. Menjadi warga biasa, bukan warga
luar biasa. Petinggi yang bisa memberi kejutan, dan membuat orang lain merasa
istimewa. Mungkin kalau ada penghargaan, misalnya, Petinggi of The Year, maka
salah satu penilaiannya adalah petinggi yang membawa lap ke mana-mana.
Saat saya menyelesaikan tulisan ini, seorang teman mengirimkan
SMS begini: Siapa yang meninggikan diri akan direndahkan, siapa yang
merendahkan diri akan ditinggikan”
Nurani saya cekikan terus bersuara begini, ”Eh, Mas,
jangan cumanya bisa nyaranin orang lain bawa lap. Sampean juga.” Saya balas
suara dari dalam itu. ”Maaf ya… akyu bukan petinggi.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar