Tiga hari lagi hari Natal tiba. Jauh sebelum jatuhnya perayaan ini, saya sudah dibombardir dengan begitu banyak acara tukar kado, mendengar lagu Natal, dan ucapan-ucapan klise menyambut hari itu.
Sekian tahun lamanya saya terhanyut dengan semua itu
dan baru tahun ini saya merasa terlalu lebay menyambutnya.
Saya mendengar lagu Natal berjudul ”The Most Wonderful Time of The Year”,
kemudian ada kalimat yang pernah saya baca it is the season to care.
Semuanya membuat saya jadi baperan.
Tetapi kemudian saya mulai berpikir, memangnya sebelas bulan itu tidak wonderful? Atau tidak the most wonderful? Bukankah the most wonderful itu bukan soal bulannya, melainkan setiap momen sepanjang tahun yang membuat saya merasa berbahagia lahir batin?
Terus apakah yang dimaksud the most
wonderful time itu artinya sama dengan waktu yang membuat kita
tertawa, lega, naik kelas, dapat untung, bisa menyelundup tanpa ketahuan?
Ataukah the most wonderful time itu adalah ketika saya
mengetahui bahwa saya terkena penyakit yang mematikan?
Atau waktu terindah itu adalah saat terjadinya
kebangkrutan usaha saya, atau kematian orang yang saya cintai, atau patah hati
karena mudah dibohongi pemberi harapan palsu? Atau merayakan Natal dengan hati
yang berbeban berat entah apa pun penyebabnya?
Bukankah dengan penyakit yang saya derita,
kebangkrutan yang saya alami, masuk penjara dan kehilangan jabatan, patah hati
yang saya rasakan, utang yang belum lunas dicicil, dapat membuat saya menjadi
lebih dewasa, lebih belajar, lebih matang, lebih berhati-hati.
Berhati-hati jatuh cinta dan berhati-hati dalam
meminjam uang dan berhati-hati dalam segala hal. Bukankah ketika saya bisa
mengalami semua itu, saya mengerti artinya keterpurukan dan membuat saya mampu
menjadi seorang yang tidak pengecut untuk lari dari harga yang harus saya
bayar?
Bahkan, ketika saya belum menemukan solusi atas
semua problem itu, saya dapat bercerita kepada orang lain untuk lebih
berhati-hati dalam segala hal yang akan mereka lakukan. Mungkin dengan saya
mampu membagi pengalaman itu, orang lain yang mendengarkan tak jadi menyerah
dan tak berputus asa?
Sumber sukacita
Bukankah saya bisa menasihati bahwa saya sendiri
pernah terpuruk? Dan bukankah nasihat itu akan lebih bernilai ketimbang nasihat
yang hanya keluar dari mulut untuk menghibur tanpa pernah merasakan
keterpurukan? Tidakkah semua itu menjadi the most wonderful time dalam
hidup saya?
Bahwa sekali dalam hidup, saya ternyata bisa
membantu orang lain untuk tidak menyerah bahkan ketika saya sendiri sedang
dalam kancah pergumulan? Bukankah itu sebuah waktu terindah terutama untuk saya
yang selama bertahun lamanya hanya memikirkan diri sendiri, dan sekarang bisa
memikirkan kebutuhan orang lain?
It is season to care! Memangnya sebelas bulan
lainnya tak perlu care? Mengapa bulan ini jadi harus terasa khusus untuk peduli
dengan orang? Ataukah yang sebelas bulan lalu saya tetap peduli, tetapi kalau
Desember pedulinya diduakalikan atau ditigakalikan atau dikalikan berapa saja?
Dua kali lebih peduli, tiga kali lebih tersenyum,
empat kali lebih menyumbangkan dana. Oh... maaf. Mungkin kalau menyumbangkan
dana, saya kira dua kali saja cukup. Empat kali sepertinya terlalu berlebihan.
Katanya semua yang berlebihan tidak baik, bukan? Kalaupun mau diempatkalikan
atau yang berlebihan sebaiknya pada aktivitas yang lain saja, pokoknya jangan
soal uang.
Dan yang terakhir, saya merasa mengapa saya selalu
jatuh pada hal-hal yang lebay kalau Natal tiba. Saya mencari
sukacita pada benda mati. Memasang pohon natal, ada lampu berkerlip, ada salju
buatan, ada hadiah, mendengarkan suara Mariah Carey yang setahun sekali wajib
didengarkan.
Mengapa sepanjang tahun, saya tak terpikir untuk
menjadikan saya sendiri sumber sukacita untuk diri sendiri dan orang lain?
Mengapa sepanjang tahun, ketika orang melihat saya atau bertemu dengan saya,
mereka tak bisa merasakan sebuah pertemuan yang membuat mereka mengatakan it
is the most wonderful time?
Terus kalau saya mengalami masalah seperti yang saya
tuliskan di atas, apakah saya kemudian tidak bisa menjadi sumber sukacita? Saya
teringat kepada salah satu teman ibu saya yang mengatakan bahwa ibu saya masih
bisa menyemangati orang lain, bahkan ketika ia tengah berbaring di ranjang
kematiannya, karena kanker payudara yang dideritanya.
Kalau saya bisa bertahan dalam badai, dan tetap
menunjukkan terang seperti lampu natal dan semangat untuk tidak menyerah,
bukankah itu sebuah sukacita yang terindah? Hingga pada akhirnya, waktu
terindah itu, waktu untuk peduli dengan orang lain itu, ada di sepanjang tahun,
dan bukan hanya pada bulan tertentu, sebab sumber sukacita itu ada di dalam
saya dan Anda, yang mampu menjadi kekuatan di tengah badai yang belum pasti
berlalu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar