Beginilah saya mengartikan cinta…
Cinta orang tua dan anak.
Karena saking cintanya, orang tua berhak menentukan
pilihan pasangan hidup anaknya. Meski acapkali mengatakan. “ Saya serahkan
semua kepada anak saya.” Orang tua seringkali menentukan masa depan anaknya
karena mereka mungkin merasa wakil Tuhan di bumi. Tahu masa depan. Kalau pun
mereka tak merasa wakil Tuhan di bumi, paling tidak sudah lebih lama hidup. Itu
diartikan tahu segalanya tentang hidup. Itu semua karena saking cintanya pada
anak.
Cinta orang tua pada anak juga berarti membiarkan anak
tumbuh sendiri, belajar berpikir sendiri, mengajak mereka untuk berdikari sejak
dini, tetapi nanti kalau si anak protes tentang orang tuanya. Maka orang tuanya
akan berbicara. “ Elo nggak tahu kalau selama ini gue cari nafkah sendiri?” Ini
saya nggak tahu apa karena saking cintanya atau mau-maunya orang tua.
Cinta Monyet.
Ini saya benar-benar nggak mengerti. Pertama, karena saya
bukan monyet, dan kedua Anda pun bukan monyet. Maka saya heran kok bisa
perumpamaannya dengan monyet, la wong kita ini manusia, dan yaaa… kok nggak ada
yang tersinggung. Monyet itu bergelantung dari satu pohon ke pohon yang lain.
Artinya, cinta monyet itu bukan untuk cinta yang tidak serius atau cinta
sekedarnya saja. Cinta macam ini adalah untuk menunjukkan kalau seseorang itu
gampang menyerah dalam memerjuangkan cintanya, dan kalau patah arang kemudian
loncat ke lain hati.
Cinta Buta.
Menurut saya cinta tak pernah buta, tetapi bisa bikin
buta. Dulu saya berpikir bahwa cinta itu hanya akan memberi efek euphoria, dan
tak akan mendatangkan penderitaan macam makan tak enak tidur pun tak lelap.
Bahkan bisa membuat saya menghabiskan nyawa sendiri. Maka karena buta lah,
semuanya jadi gelap gulita. Itu mengapa saya dulu pernah jadi simpanan, karena
tak bisa melihat apa-apa.
Waktu saya ditegur selama jadi simpanan, saya bilang
begini. “ Cinta kan tak bisa dipaksa datangnya, dan tak bisa ditentukan kepada
siapa saya jatuh cinta.” Karena buta lah sesuatu yang tidak benar, bisa dengan
mudah saya benarkan
Cinta Uang.
Nah…ini yang sekarang sepertinya menjadi tren. Cinta
macam begini adalah sebuah hubungan yang datang dengan membawa perhitungan cash
flow dan laba rugi. Menghitung sebelum jatuh cinta. Seberapa banyak sasaran
bisa saya poroti atau mendompleng ketenaran kalau saya pacaran sama si Anu.
Korbannya merasa tidak jadi korban, karena sejuta alasan
terutama kesepian atau sudah lama tidak laku di pasaran. Tak jadi masalah
diporotin asal semua orang tahu saya punya pacar, dan biarkan saja hanya saya
yang tahu kalau pacar saya itu sama sekali tak mencintai saya, tetapi mencintai
mobil mewah saya, lukisan saya, mencintai uang saya. Pembenaran itu selalu saja
dianggap baik.
Cinta Segitiga.
Sebuah kondisi dimana seseorang seperti peribahasa sekali
dayung dua tiga pulau terlampaui. Jadi seseorang menabur cinta di tiga tempat
berbeda dalam waktu bersamaan. Di Singapura dari hari Senin sampai Rebo dengan
si A, maka si B menyusul ke kota yang sama, dari hari Kamis hingga Sabtu.
Minggu pagi pulang ke Jakarta, sore dah-nek, dah-nek di apartemen mewah si C di
bilangan segitiga emas.
Love for Sale.
Ini tak bedanya dengan pelacur, meski mereka yang
melakoni merasa berbeda. Mereka yang saya maksud adalah sosok yang sering saya
temui ada dalam lingkup yang jauh dari kemesuman. Mereka bersedia menjadi
pasangan untuk sementara waktu, hanya untuk sebuah tujuan tertentu. Mereka
merasa menjual cinta sesaat itu menakjubkan. Ada yang memasang tarif
berdasarkan sosok korbannya. Kalau tante tua jelek lima ribu dollar. Kalau tua
tapi masih cantik bisa dua ribu. Tetapi tidak ada yang cuma-cuma. Sejujurnya
penjelasan pada butir enam ini tak berbeda jauh dengan butir empat. Kalau butir
enam terang-terangan menjadi penjaja cinta, kalau butir empat masih ada setetes
cinta.
Butir empat itu yang pernah saya jalani. Saya hanya
mencintai dua puluh persen saja, saya hanya ingin menikmati rasa cintanya pada
saya dalam bentuk ikat pinggang berinisial H yang diberikan pada saat saat
tertentu. Saya menikmati jam tangan merk B yang diberikannya saat saya berulang
tahun. Sekali waktu saya pernah merekap semua barang-barang bermerk itu. Saya
malu sendiri semuanya hanya berasal dari cinta yang dua puluh persen, dan
lendir sebanyak delapan puluh persen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar