Seandainya ada pertanyaan, apakah fungsi kacamata? Maka alhasil akan
ada sejuta jawaban. Kalau kacamata melihat dekat yaa… untuk melihat yang
dekat-dekat, kalau kacamata melihat jauh yaa… untuk melihat yang jauh supaya
menjadi jelas. Kalau kacamata gaya? Yaa… untuk bergaya. Kalau kacamata gaya
yang untuk melihat jauh? Ya untuk keduanya. Persis seperti milik teman saya.
Saya tak tahu kalau kacamata kuda. Mungkin supaya bisa melihat kuda dengan
jelas.
Cepat
Beberapa hari lalu saya mengikuti seminar, salah satu pembicara
menyarankan kalau seseorang tengah dalam kondisi terpuruk, harus cepat naik
lagi. Sambil duduk dengan tenang tetapi otaknya tidak tenang, suara hati saya
bertanya. “Emang bisa? Pakai apa? Bagaimana caranya?”
Saya hanya berpikir, bagaimana orang tengah terpuruk berada dalam titik
terendah bisa membantu dirinya sendiri untuk naik ke atas apalagi dengan cepat?
Siang itu saya sempat kesal. Mengapa pembicara dalam seminar macam begini
selalu saja mengajak kita berpikir positif. Mengapa mereka tak menyarankan
untuk menikmati keterpurukan sampai benar-benar terpuruk, dan menikmati kalau
terpuruk itu sebuah pengalaman manusiawi yang positif?
Bukankah merasa terpuruk mengesahkan kita adalah manusia? Kalau
terpuruknya kemudian berlarut-larut, itu masalah lain. Tetapi kalau disuruh
cepat naik ke atas lagi, tidakkah itu justru negatif sekali dan tidak
manusiawi? Karena biasanya kalau orang sudah tidak bisa apa-apa, tak berdaya
sama sekali, baru timbul kepasrahan, bukan? Jadi kalau cepat naik kepasrahan
tak akan muncul dan akan mudah untuk jatuh kembali.
Saya berpikir pasrah itu baru bisa dilakukan kalau seseorang menyentuh
titik terendahnya. Pasrah itu positif, dan itu bisa timbul kalau mampu
menikmati terlebih dahulu yang terpuruk, yang katanya negatif itu. Katanya,
kalau ada masalah, maka masalah itu mampu menimbulkan tahan uji bagi yang
tengah menjalaninya. Dan katanya lagi, tahan uji itu melahirkan ketekunan. Dan
katanya kalau sudah bisa tekun, hasilnya kemudian tampak seperti seorang petani
yang bersorak saat menuai dengan hasil yang melimpah.
Lambat yang nikmat
Nah, itu mungkin gunanya menggunakan dan memilih kacamata
kehidupan yang tepat. Sama seperti kalau sebelum mengenakan kacamata, mata saya
diperiksa supaya tahu dengan jelas dan tepat, seberapa tingkat error daya
pandang mata dan untuk mengetahui sebab terjadinya ke-error-an itu. Itu mengapa
kalau seseorang menggunakan kacamata yang tidak atau kurang tepat maka sering
sakit kepala, mau itu cenut-cenut mau itu seperti berputar rasanya.
Maka kalau seseorang dalam kondisi terpuruk buat saya kacamata yang
harus dipilih adalah kacamata nikmat namanya. Tidak bisa tidur, yaa… dinikmati.
Susah makan, yaa… dinikmati. Kepikiran terus, yaa… dinikmati. Lama-lama, kan,
terbiasa untuk tak bisa tidur, susah makan, dan kepikiran. Semua ini adalah
pengalaman yang patut disyukuri, Anda dan saya menjadi kaya karenanya. Pernah
gampang makan, pernah susah makan.
Dan di saat itu menurut pengalaman saya yang sejuta kali terpuruk ini,
kacamata nikmat itu yang membuat saya bisa melihat dengan jelas bagaimana saya
harus naik lagi. Alasannya bisa naik lagi, karena lama-lama situasi terpuruk
menimbulkan kelelahan dan kalau sudah lelah mulut saya bisa bersuara. “Yaahh…
sudahlah terserah aja.”
Maka suara berkeluh yang pasrah itu menjadi alat semacam tangga yang
mengantar saya ke atas, karena saya sudah tak tahu mau berbuat apa lagi,
kecuali yaa… untuk naik kembali yang artinya mengakhiri keterpurukan itu. Orang
itu paling mudah diterapi kalau pasrah, kalau ia menyadari ia tak mampu berbuat
apa-apa lagi. Pasien paling susah diobati adalah kalau dokter mengatakan ia
sakit, tetapi dirinya tak merasa sakit.
Saya memang gampang bicara dan menuliskan soal ini, tetapi
kenyataannya, sampai mulut saya bisa bersuara terserah itu, bisa memakan waktu
berminggu-minggu yang artinya kalau lebih atau sama dengan empat minggu, maka
kata minggu itu bisa dilafalkan bulan. Jadi tak bisa cepat naik dan buat saya
tak perlu cepat naik.
Semua yang cepat itu tidak selalu sehat. Kadang terlambat itu
menyelamatkan. Tidak terburu-buru itu melindungi. Nanti kalau badai itu sudah
berlalu, saya akan menjadi seperti seorang ahli dalam soal menghadapi
keterpurukan dan bagaimana caranya untuk naik lagi dengan kepasrahan.
Siapa tau suatu hari saya datang ke sebuah seminar dan salah satu
pembicaranya adalah Anda. Seorang pembicara yang mampu menyarankan bahwa
kehidupan yang bergejolak itu, yang menenggelamkan itu adalah sebuah nikmat
yang seharusnya dianggap sebagai sebuah berkah, dan tidak perlu untuk
diburu-buru dihilangkan.
Dan di akhir seminar, Anda akan dengan lantang berbicara. “Kacamata
yang tepat mampu memberi nikmat dalam keterpurukan, merasakan kemanusiaan yang
sesungguhnya, mengalami kepasrahan, yang tahan uji dan yang melahirkan
ketekunan.”
Sudah
baca? Menurut kalian bagaimana? Kalau saya pribadi sih memang begitulah
seharusnya hidup. Nikmatilah proses di dalamnya karena disitulah letak
perjuangan hidup kita sesungguhnya. Cya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar