Seorang
perempuan merokok dan makan tanpa henti. Pemandangan ini terjadi di salah satu
halaman luas sebuah tempat berolahraga. Di halaman itu tersedia penjaja makanan
yang harus saya akui lezatnya luar biasa, dari bubur ayam, empal gentong,
sampai soto mi dan aneka gorengan.
Racun
raga
Kejadian
itu awalnya diperhatikan oleh salah satu kolega kerja yang berujar, “Pada
akhirnya pergi ke tempat olahraga seperti ini, ya… buat tambah tidak sehat.”
Saya berolahraga di tempat itu nyaris tiga kali dalam seminggu. Awalnya, saya
tak tahu kalau di salah satu halaman itu dijual makanan yang menggoyang lidah
dan membuat ketagihan.
Namun,
sejak mengenal dan merasakan lezatnya makanan yang tersedia, sudah dua kali
saya mendatangi tempat itu. Yang pertama setelah berolahraga, dan yang kedua
khusus datang ke tempat itu, tidak untuk berolahraga, tetapi hanya untuk
mengisi perut yang keroncongan.
Sejujurnya
saat kedatangan yang kedua, saya dihujani rasa bersalah yang sangat. Saya
merasa sepantasnya saya datang ke tempat ini untuk berolahraga, untuk membuang
kalori, mengurangi timbunan lemak di perut, dan tidak malah melakukan hal yang
sebaliknya, menambah kalori dan menambah timbunan lemak.
Namun,
perasaan bersalah itu terkalahkan dengan santan gurih yang menggenang di dalam
piring makan dan menenggelamkan ketupat dan daging yang empuk. Sungguh benar
kata kolega kerja di atas, pergi ke tempat ini semakin membuat tambah tidak
sehat.
Belum
lagi setelah makan, para perokok tak mungkin melupakan kegiatan merokoknya.
Jadi, tempat yang ditujukan untuk menjadi sehat benar-benar membuat manusia
semakin jauh dari sehat.
Di
kantor, seorang kolega kerja lainnya rajin melakukan detoksifikasi. Kemudian,
saya memutuskan untuk ikut program penghilangan racun-racun tubuh itu. Pertama kali
ikut langsung gagal total. Saya tidak kuat, badan terasa lemas dan sempoyongan.
Kejadian
itu saya ceritakan kepada salah satu teman dan ia langsung nyeletuk, “Yang
pertama elo mesti lakuin tuh detox mulut dan pikiran elo, bukan detox fisik,
bro.” Waktu saya mendengar komentar yang menusuk dan menyinggung itu, saya
hanya tertawa terbahak, tetapi setelah itu jadi kepikiran.
Racun
jiwa
Sesungguhnya
racun yang berada di kepala, mulut, dan hati itu acap kali memberi dampak.
Dampak pertama adalah timbulnya keinginan. Ingin membalas dendam, ingin
menjatuhkan lawan, ingin agar orang itu bisa sengsara seperti sengsara yang
saya rasakan.
Saya
ingin orang lain tersakiti seperti mereka menyakiti dan menghina keberadaan
saya. Saya ingin mencaci maki klien, adik, bos, teman sejawat, pacar. Racun itu
telah membuat saya cepat sekali tersinggung, defensif, dan meninggikan suara
dalam perdebatan.
Dampak
kedua, racun yang sama itu juga telah membuat saya merasa senang. Senang
melihat orang lain sengsara, senang memanipulasi, senang menipu, senang
mencuri, senang berselingkuh, senang korupsi, senang bisa berpikir bahwa harta
yang banyak bisa membuat saya menguasai hidup orang lain.
Saya
senang karena pesaing saya bangkrut, senang bisa memonopoli, senang bisa menjadi
orang jahat tetapi membungkus kejahatan itu dengan gaya hidup seperti malaikat,
senang berutang tetapi enggan untuk membayar utang.
Dampak
terakhir adalah membuat saya keder. Keder kalau nilai tukar dollar makin
tinggi, keder kalau sampai sekarang saya belum berpasangan, bagaimana nanti
kalau sudah tambah tua dan siapa yang akan menemani kalau saya sakit?
Keder
karena target yang ditentukan bakal tidak tercapai, keder ketika harus
berhadapan dengan lawan yang raksasa, keder karena saya di-PHK.
Menurut
teman saya yang lulus melakukan pembuangan racun raga itu, badan terasa lebih
sehat dan harus tak bisa dilakukan hanya sekali atau sesekali. Mereka memiliki
jadwal tetap pembuangan racun.
Maka,
saya mulai berpikir. Mungkin saya juga harus membuang racun jiwa itu dengan
jadwal tetap. Dan saya yakin, ketika pembuangan racun yang pertama, saya juga
akan sempoyongan.
Sempoyongan
karena racun yang biasanya bisa melahirkan rasa senang melihat pesaing
bangkrut, sekarang harus prihatin dan menunjukkan rasa simpati.
Namun,
sempoyongan bukan sebuah keadaan untuk menggagalkan program detoksifikasi. Yang
menggagalkan adalah tidak adanya keinginan untuk menjadi sehat. Tidak berminat
membuang racun akan memberi saya alasan yang paling sah untuk membenci orang
lain karena manusia itu memang wajar bisa membenci, sama wajarnya seperti
manusia bisa tidak membenci.
Namun,
saya acap kali lupa, saya ini bisa mendadak sakit dan bisa jadi tidak sembuh
dan kemudian meninggal dunia dalam keadaan beracun. Maka, dalam kondisi seperti
itu, dengan cepat saya akan berjanji. Saya berjanji melakukan detoksifikasi
mulut, hati, dan kepala.
Mengapa
saya berjanji? Karena dalam keadaan seperti itu, saya tak lagi bisa merasakan
bahwa kebencian, pencurian, atau perselingkuhan itu sebuah kewajaran yang
manusiawi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar