Nyaris
setiap pagi seorang teman memposting foto dirinya di media sosial.
Kalau saya katakan foto dirinya, itu tak hanya wajahnya, tetapi termasuk juga
sepatunya, topinya, dan semua atribut yang menempel di raganya.
”Bad
Boy”
Soal
foto wajah, ia mengategorikan dengan kondisi jiwanya saat itu, bukan
berdasarkan berbagai gaya yang disuguhkan. I am feeling blue,
misalnya atau, capek banget hari ini. Kalimat yang terakhir ini
menyertai foto dirinya yang sedang dalam keadaan tidur. Anda jangan menanyakan
saya, siapa yang diperintahkannya untuk mengabadikan dirinya dalam kondisi mata
tertutup itu.
Hal
yang menarik bukanlah soal foto-foto dirinya, tetapi komentarnya berikut ini.
Buat kalian yang merasa foto-foto selfie ini membosankan, gak
papa kok saya di unshare aja. Awalnya, saya hanya membaca sekadarnya.
Itu saja karena membaca melalui gadget milik seorang teman dekat,
karena baru beberapa minggu terakhir ini saya memutuskan untuk berhenti
sementara menggunakan media sosial apa pun bentuknya.
Membaca
beberapa postingan di media sosial itu lumayan menarik. Menarik itu
ada dua. Menarik beneran, dan menarik yang membingungkan. Nah menarik yang
membingungkan itu, yaa…postingan yang disertai pernyataan macam contoh di
atas tadi.
Setelah
mengulang membaca pernyataan teman di atas, saya mulai berpikir, bahwa
sesungguhnya, pernyataan itu menggambarkan kalau ia sendiri menyadari bahwa apa
yang diperbuat itu akan berdampak menjengkelkan banyak orang.
Kalimatnya
yang tampak mulia itu, sejujurnya hanya alat melindungi dirinya sendiri atas
perbuatan yang sejak awal, sudah disadarinya akan memiliki akibat buruk. Kalau
orang lain meng-unshare, artinya tindakan itu adalah tindakan yang
dilakukan orang lain dan bukan dirinya.
Artinya,
yang akan menjadi bad boy-nya adalah orang lain dan bukan dirinya.
Padahal, pernyataan yang dibuatnya itu adalah sebuah tindakan seseorang yang
sungguh bad. Tetapi, ia tidak akan dihakimi demikian, karena ia hanya
membuat pernyataan.
Secara
normal, manusia yang bernurani sehat, akan menghindari melakukan sebuah
perbuatan tidak baik termasuk mencegah dirinya sendiri dari
azzsazmemposting hal buruk di sebuah ranah publik. Itulah pentingnya
memiliki nurani yang ”empat sehat lima sempurna”. Orang yang nuraninya sehat
akan memiliki kepekaan.
”Do
Not Disturb”
Seperti
yang pernah saya tuliskan, tahun 2013 adalah tahun yang penuh siksaan buat
saya. Sehingga tahun ini, saya memutuskan untuk menjauhi sumber kesakitan itu
yang salah satunya, adalah hubungan dengan beberapa teman.
Memasuki
tahun baru, tepat pada 1 Januari, saya mengetok palu untuk melarikan diri dari
mereka yang membuat hidup saya seperti neraka. Saya sendiri tak tahu sampai
kapan pelarian itu akan terus terjadi, tetapi setelah menjalaninya selama satu
bulan lebih sedikit, harus saya akui hidup saya jauh lebih sehat dan
menyenangkan.
Baru
saya ketahui bahwa satu dari sekian cara untuk memelihara kondisi sehat nurani
dan pertemanan adalah memutuskan pertemanan itu. Bukan memusuhi. Maka segala
bentuk cara berhubungan dengan mereka saya putuskan. Untuk sementara, saya tak
mau terganggu. Saya sedang menggantungkan tanda do not disturb.
Keputusan
saya untuk menjadi sehat, ternyata telah dianggap sebagai sebuah tindakan
memusuhi oleh mereka yang menjadi sumber kesakitan itu. Di sinilah saya makin
yakin bahwa nurani yang sehat itu akan membantu seseorang untuk peka mengerti
dengan benar antara memutuskan dan memusuhi.
Kalau
seseorang memiliki kepekaan karena nurani yang sehat, maka seseorang itu akan
mengerti mengapa orang lain memutuskan menjauhinya, kemudian ia mengintrospeksi
diri, dan berani mengakui bahwa ia memang berbuat kekeliruan yang membuat orang
lain memutuskan hubungan.
Dalam
waktu yang bersamaan, cerita miring itu menyemangati saya untuk belajar
menaikkan tingkat kepekaan saya yang memang rendah sekali sebagai seorang
teman. Saya sedang berusaha menghindari menjadi tidak peka. Teman dekat saya
pernah berkomentar begini. ”Elo itu cuma punya dua cara dalam memandang
hidup. Your way or no way. Enggak bisa gitu kale.”
Orang
itu kalau tidak peka akan menjadi mudah marah, akan menjadi mudah menghakimi.
Kepekaan itu menyelamatkan banyak hal. Untuk saya dan untuk orang lain. Karena
menjadi tidak peka, mau dilakukan karena sengaja atau tidak, itu mencerminkan
sebuah ketidakdewasaan seorang makhluk dewasa.
Peka
itu melahirkan pengertian dan kemampuan untuk menerima, bahwa orang lain
memiliki cara pandang yang berbeda, mau Anda setuju atau tidak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar