Selama masa liburan sekolah anak, saya sungguh
frustrasi. Lobi dan kolam renang yang biasanya sepi sekarang begitu riuhnya.
Anak-anak berlari, menjerit, berloncat-loncat. Di dalam lift, mereka memencet
beberapa tombol lantai, kemudian turun di salah satu lantai, dan membiarkan
saya menyaksikan lift berhenti di setiap lantai.
Pergi ke mal, lebih akbar lagi keramaiannya.
Dan kejadian yang membuat kesal adalah melihat orangtua yang membiarkan anaknya
bermain pintu kaca dan hanya berkata begini. ”Kakak, ayo jangan mainan pintu.”
Perempuan itu tampak seperti hanya melakoni sebuah kewajiban bahwa suara
nasihat itu harus diperdengarkan. Yang penting bersuara, mau itu berefek atau
tidak, itu tak jadi masalah.
Cermin orangtua
Dalam perjalanan melakoni hidup, saya sudah
melihat anak yang manja, yang menjambak rambut ibu dan baby sitter-nya tanpa
merasa bersalah, yang menjerit dengan lengkingan yang tinggi di koridor mal
hanya karena tidak terpenuhi hasratnya untuk membeli apa yang dikehendakinya.
Dan tentu tak melupakan mencatat ada anak yang menyenangkan dan sok dewasa.
Ketika saya menceritakan kejadian di atas,
teman saya berucap begini. ”Namanya juga anak. Nakal, mah, biasa, apalagi anak
laki. Itu tandanya anak sehat.” Pendapat macam itu juga yang saya dengar kalau
berbicara tentang laki-laki. ”Namanya juga laki-laki, udah jamak ’nakal’.”
Teman saya yang pernah mengatakan itu dengan
ringannya terpaksa pingsan ketika dia tahu bahwa suaminya berselingkuh. Satu
teman saya, seorang ibu, mengelus dada karena anaknya sejak remaja sampai hari
tulisan ini dibuat kenakalannya sudah menyusahkan semua orang. Maka, saya
belajar, kalau bicara itu hati-hati dan jangan menggampangkan sesuatu, hanya
karena itu belum terjadi pada diri saya sendiri.
Anak itu adalah cerminan kesehatan jiwa
orangtuanya. Jadi, kalau ada orangtua mengatakan ”Ayo jangan nakal, adik
anaknya siapa?” Perkataan itu seperti seorang yang sedang berbicara di depan
cermin, tetapi ia pura-pura atau sama sekali tidak menyadari bahwa ia sedang
berbicara dengan dirinya sendiri. Anak nakal itu, yaa… anaknya ibu-bapaknya
yang bisa jadi memang nakal, yang bisa jadi salah mendidik.
Bukankah ada ucapan macam begini. Buah itu
jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kenyataannya memang demikian, bukan? Maka, sama
saja, melihat perilaku anak dengan melihat perilaku karyawan sebuah perusahaan.
Kalau mereka menjadi pongah dan susah diatur, coba saja lihat atasannya atau
pemilik perusahaannya, biasanya tak berbeda jauh.
Siap luar dalam
Waktu saya masih anak- anak, dan menjadi
anak penakut, saya pikir karena sayanya saja yang penakut. Namun, sekarang saya
berpikir, pasti ada andil dari orangtua sehingga saya jadi anak penakut. Maka,
kalau melihat kejadian di atas, seandainya saya anak-anak yang bisa protes,
saya akan protes sama orangtua, mengapa saya jadi anak-anak yang dianggap oleh
masyarakat bukan contoh anak yang baik. Disebut anak-anak, karena mereka belum
dapat bertanggung jawab atas hidup mereka. Karena anak-anak belajar dan melihat
dari lingkungan di mana ia berada, terutama family value yang ia terima.
Suatu hari bersama dua teman, saya menikmati
makan es krim di sore hari. Duduk di sebelah meja kami sepasang orangtua dengan
dua anaknya. Saya mendengar percakapan seperti ini. Seorang anak bertanya
kepada ayahnya mengapa mereka tidak jadi menonton sebuah film. Ayahnya memberi
jawaban begini. ”Jelek.” Anaknya bertanya lagi. ”Kok, jelek, kan, kita belum
nonton, Yah?” Ayahnya menjawab ogah-gahan. ”Sepi enggak ada yang nonton, pasti
jelek.”
Para orangtua yang terhormat, hari ini saya
tidak sedang menguliahi dan menghakimi Anda. Saya sedang curhat sebagai
anak setelah menyaksikan keramaian selama akhir pekan di mal, di lobi
apartemen, dan di dalam lift. Kalau Anda sebagai orangtua memang tidak pandai,
jangan pernah memberi jawaban asal-asalan kepada anak.
Kalau Anda tak siap jadi orangtua dengan
sejuta alasan di belakangnya, jangan jadi orangtua dulu, sampai Anda
benar-benar siap luar dalam. Yang bertanggung jawab adalah Anda, bukan mereka
yang mengatakan dengan ringannya banyak anak banyak rezeki dan juga bukan
mereka yang mengatakan, kok, belum punya anak?
Kalau Anda punya anak karena Anda senang anak,
maka saya beritahu, kalau senang dengan siap mental itu berbeda seperti bedanya
telur dengan ayam. Senang itu boleh saja, tetapi senang tak berbanding lurus
dengan mampu bertanggung jawab atas kesenangan itu. Jangan mengorbankan seorang
anak manusia karena Anda tak siap, tetapi hanya karena Anda senang.
Ketidakmampuan Anda itu nanti akan tecermin
dari perilaku anak yang bermain pintu kaca tanpa rasa bersalah, yang nakal,
yang menjerit di ruang publik dan menjambak rambut orangtuanya juga tanpa
merasa itu sebuah kesalahan.
Anak nakal itu tidak wajar dan tidak sehat.
Saya hanya mau mengingatkan saja, jangan sampai hasil Anda mendidik di masa
kecil akan menjadi bumerang untuk mereka dan Anda di masa tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar