Selasa, 01 Januari 2019

Anak


Selama masa liburan sekolah anak, saya sungguh frustrasi. Lobi dan kolam renang yang biasanya sepi sekarang begitu riuhnya. Anak-anak berlari, menjerit, berloncat-loncat. Di dalam lift, mereka memencet beberapa tombol lantai, kemudian turun di salah satu lantai, dan membiarkan saya menyaksikan lift berhenti di setiap lantai.

Pergi ke mal, lebih akbar lagi keramaiannya. Dan kejadian yang membuat kesal adalah melihat orangtua yang membiarkan anaknya bermain pintu kaca dan hanya berkata begini. ”Kakak, ayo jangan mainan pintu.” Perempuan itu tampak seperti hanya melakoni sebuah kewajiban bahwa suara nasihat itu harus diperdengarkan. Yang penting bersuara, mau itu berefek atau tidak, itu tak jadi masalah.

Cermin orangtua

Dalam perjalanan melakoni hidup, saya sudah melihat anak yang manja, yang menjambak rambut ibu dan baby sitter-nya tanpa merasa bersalah, yang menjerit dengan lengkingan yang tinggi di koridor mal hanya karena tidak terpenuhi hasratnya untuk membeli apa yang dikehendakinya. Dan tentu tak melupakan mencatat ada anak yang menyenangkan dan sok dewasa.


Ketika saya menceritakan kejadian di atas, teman saya berucap begini. ”Namanya juga anak. Nakal, mah, biasa, apalagi anak laki. Itu tandanya anak sehat.” Pendapat macam itu juga yang saya dengar kalau berbicara tentang laki-laki. ”Namanya juga laki-laki, udah jamak ’nakal’.”

Teman saya yang pernah mengatakan itu dengan ringannya terpaksa pingsan ketika dia tahu bahwa suaminya berselingkuh. Satu teman saya, seorang ibu, mengelus dada karena anaknya sejak remaja sampai hari tulisan ini dibuat kenakalannya sudah menyusahkan semua orang. Maka, saya belajar, kalau bicara itu hati-hati dan jangan menggampangkan sesuatu, hanya karena itu belum terjadi pada diri saya sendiri.

Anak itu adalah cerminan kesehatan jiwa orangtuanya. Jadi, kalau ada orangtua mengatakan ”Ayo jangan nakal, adik anaknya siapa?” Perkataan itu seperti seorang yang sedang berbicara di depan cermin, tetapi ia pura-pura atau sama sekali tidak menyadari bahwa ia sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Anak nakal itu, yaa… anaknya ibu-bapaknya yang bisa jadi memang nakal, yang bisa jadi salah mendidik.

Bukankah ada ucapan macam begini. Buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kenyataannya memang demikian, bukan? Maka, sama saja, melihat perilaku anak dengan melihat perilaku karyawan sebuah perusahaan. Kalau mereka menjadi pongah dan susah diatur, coba saja lihat atasannya atau pemilik perusahaannya, biasanya tak berbeda jauh.

Siap luar dalam 

Waktu saya masih anak- anak, dan menjadi anak penakut, saya pikir karena sayanya saja yang penakut. Namun, sekarang saya berpikir, pasti ada andil dari orangtua sehingga saya jadi anak penakut. Maka, kalau melihat kejadian di atas, seandainya saya anak-anak yang bisa protes, saya akan protes sama orangtua, mengapa saya jadi anak-anak yang dianggap oleh masyarakat bukan contoh anak yang baik. Disebut anak-anak, karena mereka belum dapat bertanggung jawab atas hidup mereka. Karena anak-anak belajar dan melihat dari lingkungan di mana ia berada, terutama family value yang ia terima.

Suatu hari bersama dua teman, saya menikmati makan es krim di sore hari. Duduk di sebelah meja kami sepasang orangtua dengan dua anaknya. Saya mendengar percakapan seperti ini. Seorang anak bertanya kepada ayahnya mengapa mereka tidak jadi menonton sebuah film. Ayahnya memberi jawaban begini. ”Jelek.” Anaknya bertanya lagi. ”Kok, jelek, kan, kita belum nonton, Yah?” Ayahnya menjawab ogah-gahan. ”Sepi enggak ada yang nonton, pasti jelek.”

Para orangtua yang terhormat, hari ini saya tidak sedang menguliahi dan menghakimi Anda. Saya sedang curhat sebagai anak setelah menyaksikan keramaian selama akhir pekan di mal, di lobi apartemen, dan di dalam lift. Kalau Anda sebagai orangtua memang tidak pandai, jangan pernah memberi jawaban asal-asalan kepada anak.

Kalau Anda tak siap jadi orangtua dengan sejuta alasan di belakangnya, jangan jadi orangtua dulu, sampai Anda benar-benar siap luar dalam. Yang bertanggung jawab adalah Anda, bukan mereka yang mengatakan dengan ringannya banyak anak banyak rezeki dan juga bukan mereka yang mengatakan, kok, belum punya anak?

Kalau Anda punya anak karena Anda senang anak, maka saya beritahu, kalau senang dengan siap mental itu berbeda seperti bedanya telur dengan ayam. Senang itu boleh saja, tetapi senang tak berbanding lurus dengan mampu bertanggung jawab atas kesenangan itu. Jangan mengorbankan seorang anak manusia karena Anda tak siap, tetapi hanya karena Anda senang.

Ketidakmampuan Anda itu nanti akan tecermin dari perilaku anak yang bermain pintu kaca tanpa rasa bersalah, yang nakal, yang menjerit di ruang publik dan menjambak rambut orangtuanya juga tanpa merasa itu sebuah kesalahan.

Anak nakal itu tidak wajar dan tidak sehat. Saya hanya mau mengingatkan saja, jangan sampai hasil Anda mendidik di masa kecil akan menjadi bumerang untuk mereka dan Anda di masa tua.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar