Sekitar
satu bulan yang lalu saya bersama rekan sejawat mengurus surat-surat untuk
sebuah keperluan. Kami mendapat waktu janji temu dengan pihak pengurus
surat-surat itu pada Senin pukul 11 siang. Saat saya sudah menyiapkan diri dan
siap berangkat, teman sejawat saya memberitahu secara mendadak, kalau giliran
saya adalah hari Kamis, bukan hari Senin.
Kalau
soal masalah menjadi jengkel, sudah tak perlu digubris. Hidup kan cuma habis
jengkel terbitlah tidak jengkel, setelah tidak jengkel terbitlah jengkel.
Cuek
saja
Keesokan
harinya saya bertemu dengan teman sejawat itu. Saya bertanya bagaimana
pertemuannya. ”Resek, Mas. Ditanyain segala macam. Yang inilah, yang
itulah. Pokoknya gengges (kata lain dari mengganggu).” Ucapannya itu masuk
ke dalam pikiran saya. Dan kebetulan saya ini orang yang kalau sudah mendengar
yang negatif, langsung stres. Kepikiran sampai hari Kamis. Apa gerangan
yang akan terjadi dengan saya nanti? Dan sebalnya saya sendirian saja. Coba
hari Senin, kan bisa berdua. Jauh lebih enak bersama-sama menghadapi orang
yang gengges plus resek.
Maka
tibalah hari Kamis. Singkat cerita, saya tak mengalami apa yang dialami teman
sejawat saya. Ia berhadapan selama kurang dari lima belas menit, saya hanya
kurang dari lima menit. Tak ada yang resek, tak ada yang gengges. Sepulang
dari urusan itu, saya mulai berpikir. Selama ini saya mendengarkan orang lebih
banyak ketimbang menyaring apa yang saya dengar. Kejadian di atas menunjukkan
orang bisa saja ke tempat yang sama, berhadapan dengan permasalahan yang sama,
tetapi menelurkan hasil yang berbeda. Maka dari itu, masukan itu kadang perlu
disaring.
Di
Twitter saya membaca banyak bahan pembicaraan. Dari yang berbau politik sampai
urusan film. Sejujurnya saya ingin turut berkomentar, tetapi nurani saya memeringati
agar sebaiknya tidak dilakukan karena apa yang saya tulis bisa jadi masukan
yang baik, tetapi bisa jadi dipergunakan orang lain untuk mengadu domba.
Belum
memikirkan yang salah mengartikan apa yang terkandung dalam komentar yang akan
saya buat, dan meneruskan yang salah dimengerti itu kepada orang lain. Maka
bencana akan pasti terjadi. Dan sejujurnya, dengan sejuta alasan, beberapa
manusia senang kalau bencana itu terjadi. Apalagi tak semua orang suka dengan
saya dan tak semua orang mau menjadi malaikat. Salah. Semua mau menjadi
malaikat. Yang satu mau jadi malaikat pencabut nyawa, yang lain mau menjadi
malaikat surgawi.
Egois,
dan pengecut pula
Jadi
menyaring bukan saja dilakukan ketika mendengar masukan dari orang lain, tetapi
ketika saya mengeluarkan pandangan-pandangan ke ruang publik. Maka menyaring
memerlukan kepekaan nurani yang dalam, dan tidak di bawah pengaruh emosi
sesaat. Seperti begitu banyak hoax yang dikirimkan ke BBM Anda dan saya
yang kadang membuat deg-degan, misalnya. Itu hanya sebuah contoh bagaimana yang
eksternal itu bisa saja menggoyangkan iman, tetapi masalah utamanya saya dan
Anda harus melatih dengan rajin untuk belajar menyaring.
Dua
hari sebelum tenggat waktu mengirimkan tulisan ini, saya menengok orang sakit.
Istrinya berdoa minta kepada Tuhan supaya suaminya boleh sembuh. Gara-gara
percakapan dengan istrinya itu, di perjalanan pulang saya jadi mengevaluasi
doa-doa yang saya panjatkan kepada Yang Mahaesa itu. Benarkah saya ini sudah
menyaring dengan benar apa yang saya ajukan di dalam doa?
Mengapa
konten dari doa saya cuma begitu-begitu saja? Kalau tak minta kaya, minta
kondang, sehat, enteng jodoh, panjang umur, punya anak. Konten doa saya sangat
mencitrakan doa seorang pengecut dan manusia yang mau menang sendiri?
Kalau
misalkan pasangan saya sakit keras dan sekarat, apakah doa saya akan berakhir
minta sembuh? Mengapa saya minta sembuh? Karena saya tak mau kehilangan.
Padahal saya tahu manusia itu kalau enggak sekarang, sekian hari, menit, bulan,
tahun kemudian, yaa...pasti game over.
Doa
saya adalah doa seorang pengecut. Kontennya hanya melulu menyenangkan saya,
tetapi tak berani menyenangkan Sang Pemilik. Nurani saya nyamber. ”Minta
melulu. Dari kecil, remaja, dewasa, tua, mintaaaa...melulu. Kapan mau memberi,
Bung!” Nanti kan saya bernyanyi nyaring seperti ini. ”Yaaa...saya kan boleh
dong minta sama Tuhan. Namanya juga manusia.”
Kalau
pasangan saya meninggal, terus kenapa? Apakah saya akan bertanya kepada diri
sendiri, untuk apalagi saya hidup, lah wong pasangan saya sudah tidak ada?
Tidakkah saya bisa sebentar saja berpikir bahwa saya sudah diberi kesempatan
hidup bersama sekian belas atau puluh tahun, yaa...cukup adil bukan kalau
sekarang tak bisa bersama lagi? Kan saya dan Anda tahu, tak ada pesta yang tak
pernah usai, bukan?
Saya
ini cuma berani memiliki, tapi takut kehilangan. Sama seperti kalimat yang
selalu saya ucapkan, kalau saya ini ingin masuk surga tapi tak mau mati. Maka
menyaring permintaan dalam doa itu penting, tak hanya untuk mengurangi doa-doa
egois, tetapi juga menghindari kemungkinan menjadi pengecut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar