Jumat, 04 Januari 2019

Menanti


Sekali waktu,  beberapa tahun lalu, saya pergi ke cenayang utuk menanyakan perjalanan asmara saya. Sebab, setelah menanti puluhan tahun lamanya, tak seorang pun yang kunjung datang. Singkat cerita, saya saya pulang dengan sebuah nasihat yang diberikan olah si cenayang untuk menanyakan persoalan itu kepada Tuhan secara langsung.

Kesal

Sepulang dari tempat itu, saya rada kecewa. Tetapi, ditengah kekecewaan itu, nasihat itu terngiang di telinga. Saya berusaha menjalani nasehatnya itu dengan ketekunan yang luar biasa. Namun, sampai tulisan ini dibuat, saya masih berstatus lajang. Dan, ketekunan itu kemudian semakin luntur dan berakhir dengan tak pernah memintanya lagi.


Tentu sebagai manusia yang lemah, yang kekuatan dagingnya lebih besar daripada kekuatan imannya, saya kesalnya setengah mati. Kekesalan itu saya tumpahkan di akun media social saya dengan mengunggah fotoberikut keterangan fotonya yang berbunyi begini, “Apakah menanti itu tak punya batas waktu?”

Tulisan ini sesungguhnya terinspirasi dari khotbah seorang pendeta dengan tema khotbanya soal ketaatan dalam sebuah penantian di suatu hari Minggu. Selama khotbah berlangsung saya lumayan dibuat kesal. Khotbahnya hanya membangkitkan ingatan akan penantian yang sudah lama lama sekali itu.

Padahal, seperti yang saya tuliskan di atas, saya sudah tak meminta-minta lagi dalam doa. Dan, harus saya akui, ketika saya menghentikan permintaan itu, saya menjadi manusia yang jauh labih bahagia. Ternyata menyerah kalah dalam penantian mengundang ketentraman itu muncul. Tetapi, begitu mendengar khotbah, kekesalan yang lama itu  muncul kembali.

Mungkin saya ini tak sepenuhnya bahagia. Mungkin saya masih menyimpan keinginan itu meski tak disebutkan lagi dalam doa yang saya panjatkan sehingga mirip penyakit yang tak tuntasa diobati. Kelihatannya saja sehat, padahal sejujurnya belum sehat betul.

Namun, di tengah kekesalan itu, saya harus berterima kasih kepada Pak pendeta. Karena gara-gara khotbah itu, saya mendapatkan ide untuk untuk menulis kolom ini. Sebab, harus diakui, mendapatkan ide itu kadang sulitnya seperti sulitnya saya mendapatkan pasangan. Oleh karena itu, kekesalan itu tak selamanya mendatangkan hal yang negative,bahkan hal baik bisa juga bisa datang dari sebuah kekesalan.

“Legawa”

Saya yakin cerita perjuangan penantian saya di atas hanyasebuah cerita ringan meski saya yang menjalani merasa lumayan berat dan menimbulkan keputusasaan. Mungkin beratnya kalau menanti setahun dua tahun. Kalau sudah lebih dari setengah umur akan menjadi berbeda.

Saya yakin diluar kehidupan saya, masih banyak orang yang menanti dengan situasi yang lebih pelik. Ada yang menantinya kapan pasangannya akan berhenti memukilinya, kapan berhenti berselingkuh,dan berhenti memilih banyak simpanan.

Saya yakin masih begitu banyak orang yang menanti kapan akan mendapat momongan setelah sekian tahun menikah, bahkan setelah mencoba dengan cara apapun, dan telinga terasa panas mendengar mulut orang lain yang tak bisa dibungkam dan meneror dengan pertanyaan macam, “kok, belum dapat momongan sampai sekarang.”

Saya juga yakin masih ada yang menantikapan jawaban atas doa-doamereka terkabul agar diri mereka atau salah satu anggota keluarga dapat disembuhkan dari sebuah penderitaan fisik dan mental yang membuat menjalani kehidupan setiap hari terasa begitu berat dan melelahkan dan tak tahu entah kapan semua penderitaan ini akan berakhir.

Saya juga yakin, ada orang yang menanti agar menantu atau anaknya terbebas dari jerat narkoba setalah belasan tahun memanjatkan doa dan menasihati. Saya yakin masih ada orang yang menantiagar keadaan financial dapat dipulihkan sehingga kehidupan dapat berjalan kembali dengan normal tanpa kesulitan tidurdan tak menjadi ketakutan karena bisa jadi  tak bisa lagi tidur di rumah sendiri.


Saya yakin masih ada banyak orang yang menanti kapan datang waktunya untuk mereka mendapat pekerjaan yang layak, keadilan yang semestinya, mendapat kesempatan untuk maju, dan menjalani apa yang mereka sukai tanpa dihakimi.

Dan, saya yakin masih banyak orang yang berharap agar orang-orang agar orang yang mereka kasihiberhenti menjadi perampok, berhenti menjadi koruptor, dan berhenti menjadi mucikari. Sebab, kematian tak pernah datang member tahu dan mereka tak berkeinginan, orang yang dikasihi mengakhiri hidup dalam keadaan tidak baik.

Dan, saya sangat yakin bahwa menanti tanpa kepastian itu mengundang rasa lelah dan putus asayang sangat  dan berakhir dengan berfikir untuk menyerah kalah. Bahkan,saya pernah berfikir bahwa mungkin jalan satu-satunya membebaskan dari tekanan lahir dan batin ini adalah dengan tidak menanti lagi.

Kemudian saya berfikir. Mungkin, hanya mungkin, kalau saya ini sebaiknya tak perlu berharap lagi. Mungki saya tinggal menjalankan saja kehidupan ini meskibebabnyang dipikulbegitu berat dan mengesalkan.

Dengan demikian, bisa jadi saya tak akan lagi perlu bertanya,apakah menantitak punya batas waktu karena hidup ini dilakoni dengan legawa yang sejati. Mungkin. Sungguh saya tak tahu.

Koran Kompas, 23 Desember 2018


Tidak ada komentar:

Posting Komentar