Saya ini telmi (telat mikir)
kalau tepat satu minggu yang lalu adalah Hari Anak Nasional. Waktu saya membaca
beberapa unggahan di media sosial mengenai hari itu, saya menyesal tidak
menulis sesuatu soal anak.
Tetapi, kan, katanya, selalu
ada kesempatan lain di lain waktu. Kan, katanya, juga tak ada kata terlambat.
Maka di waktu yang lain, yaitu hari ini, saya mau menyuguhkan tulisan yang
terinspirasi dari Hari Anak Nasional yang sudah lewat itu.
Dua dunia
Saya tertarik secara
emosional menulis soal anak, tetapi kemudian mandek karena bingun mau menulis
soal apa. Setelah berhenti beberapa menit, saya memutuskan untuk tidak menulis
soal anak, tetapi soal mereka yang dianggap bertanggung jawab terhadap mengapa
anak bisa tumbuh menjadi baik dan ada yang senangnya meresahkan sesamanya.
Anak zaman sekarang dengan di
zaman saya masih disebut anak sungguh berbeda, terutama soal fasilitas dan
kemudahan hidup. Tetapi, satu hal yang selalu sama, anak itu memerlukan
bimbingan dari mereka yang disebut orangtua dan pengajar di sekolah.
Yahh…
namanya juga anak, tentunya ia belum mampu membimbing dirinya sendiri. Lahhh…
yang sudah besar seperti saya saja acap kali masih membutuhkan bimbingan,
karena semakin tua semakin seperti anak kecil.
Seperti anak
kebanyakan, saya mendapat didikan dan bimbingan dari dua dunia. Dunia di dalam
rumah dan dunia luar rumah. Di dalam rumah, saya langsung mendapat bimbingan,
didikan tanpa melupakan hukuman dari orangtua.
Di masa
sebagai anak, saya mengalami didikan dan bimbingan dari ayah dan ibu yang
berbeda sifatnya. Ayah itu galak, tetapi ramah dengan orang lain, tegas,
pekerja keras, ambisius, pandai, banyak membaca, dan … egois.
Sementara
ibu bisa diakatan pecinta seni, sabar sekali, senang bersosialisasi. Waktu ia
meninggal dunia, dari tukang patri sampai istri petinggi pada waktu itu datang
melayat. Dan ia memiliki usaha untuk tidak menggantukan 100% kehidupannya
kepada suaminya.
Dari kedua
manusia yang berbeda karakter itu, sedari kecil saya sudah bingung dibuatnya.
Apakah sebaiknya saya tumbuh menjadi anak yang galak, tegas seperti ayah saya,
atau ibu yang menjalani hidup dengan lebih santai meski tak bisa dimungkiri
kalau sudah naik pitam, maka seisi rumah bisa diam seperti patung.
Sasaran Empuk
Kepandaian ayah saya yang di
atas rata-rata membuat ia acap kali frustasi kalau sudah berhadapan ndengan
saya dalam mengajar ilmu pengetahuan alam yang sangat saya benci. Waktu ayah
mengajar saya, biasanya sore hari sebelum ia membuka praktik dokternya, ia bisa
meninggikan suara sambil memukul-mukul tembok, “Kenapa kamu, kok, bisa enggak
ngerti-ngerti, sih?”
Saya sebagai
anak sampai mikir, kok saya yang dianggap enggak ngerti-ngerti? Bukannya dia
yang enggak ngerti saya? Sudah jelas-jelas saya ini tidak pandai untuk hal-hal
seperti matematika dan ilmu pengetahuan alam.
Buat saya,
memiukul tembok dan komentar itu tak hnya membuat saya tak bisa menjawab,
tetapi secara tidak langsung melecehkan tingkat intelektual saya. Ia meleceh
dan tak menghormati saya sebagai manusia yang bodoh matematika. Tidak menghormati
anak hanya alasan bahwa orangtualebih tahu yang terbaik untuk anak, itu buat
saya sebuah perundungan.
Kejadian
semacam ini juga terhadi di sekolah. Sudah beberapa kali saya menuliskan kalau
saya dirundung kepala sekolah saya karena bodoh matematika dengan mengatakan
otak saya seperti otak ayam. Sebagai anak, saya bingung, ada dua manusia yang
berkuasa atas hidup saya.
Satu di
dalam rumah dan satu lagi di luar rumah, dan keduanya membodoh-bodohi saya.
Sebagai anak, saya sampai mikir, mereka itu “buta” atau sejarinya mereka itu
yang bodoh, karena tidak peka melihat saya yang sudah secara nyata memang
bodoh?
Jadi kalau
sekarang saya membaca ada Hari Anak Nasional, maka dalam pemikiran saya hari
itu adalah hari di mana semua anak-anak seyogyanya merayakan dengan penuh
sukacita karena sudah menjadi anak yang tumbuh dengan percaya diri karena
bimbingan dari dua dunia itu.
Saya tak
membayangkan kalau hari itu ada anak yang menyambut dengan rasa enggan, karena
ia tahu bahwa perundungannya justru terjadi karena dua dunia itu. Dari dua
orang “buta” yang berkuasa.
Maka kalau
sekarang iniada anak yang suka merundung dalam bentuk apa pun, coba menurut
Anda siapa yang mengajarinya? Bukankah, katanya, buah itu kalau jatuh tidak
hauh dari pohonnya?
Maka
daripada menyuruh buahnya tidak boleh merundung, untuk tidak boleh ini dan
tidak boleh itu, mungkin adabaiknya di Hari Anak Nasional itu, pohonnya juga
diperiksa. Karena buat anak dengan IQ jongkok seperti saya, perundungan itu
bukan sebuah penghinaan terhadap saya atau mereka yang mungkin menghadapi
bentuk perundungan yang berbeda.
Perundungan
itu menghinakan Sang Pencipta, yang telah menciptakan saya dananak-anak lainnya
itu dengan keunikan masing-masing. Penghinannya itu adalah menganggap bahwa
keunikan yang diberikan Tuhan kepada setiap anak dianggap oleh sesamanya
seabgai sasaran empuk untuk dipermainkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar