”Saya masih tinggal
sama mertua, Mas. Mertua saya enggak ngasih saya dan suami punya rumah sendiri
karena kalau kami punya rumah sendiri, dia bakal hidup sendirian. Anak-anaknya
yang lain sudah tak lagi tinggal di rumah.”
Di suatu malam
sehabis pulang kerja, saya mendengar ucapan itu yang awalnya hanya sebuah
percakapan ringan. ”Kamu tinggal di mana?”
Hak milik
Penjelasan wanita muda itu mengingatkan saya
kepada seorang laki-laki berusia 30 tahun berpenghasilan lumayan, tetapi sampai
usianya ”setua” itu, ia masih tinggal bersama orangtuanya. Pernah sekali waktu
saya menyarankannya untuk mencari tempat tinggal sendiri.
Kemudian ia menjelaskan, kalau ibunya tak mengizinkan dengan
alasan di rumah besar tempat tinggalnya itu hanya tinggal ibu dan ayahnya. ”Mama
tu ngomong gini, Mas. Untuk apa mesti cari tempat tinggal, la wong di rumah ini
kosong kok. Kalau nanti ada apa-apa kamu bakal sendiri, siapa yang akan
merhatiin kamu. Di sini ada papa sama mama,” jelasnya.
Dua cerita di atas itu, sebuah cerita klasik, dan bukan hal
yang mengagetkan. Tetapi baru sekarang ini, cerita klasik itu mengusik hati dan
menimbulkan berjuta pertanyaan. Pertanyaan pertama adalah, kapan selayaknya
orangtua dengan legowo melepaskan anaknya untuk berdiri di kakinya sendiri?
Apakah buat orangtua, anak itu dilahirkan bukan untuk dihormati bahwa mereka
bisa berdiri sendiri?
Ia yang bercerita di kalimat pembuka tulisan ini, bahkan
sudah bercita-cita membeli rumah sendiri bersama suaminya, tetapi mertua
perempuannya selalu menampik dengan sejuta alasan. Salah satu alasannya, karena
rumah yang mereka pilih, lokasinya terlalu jauh dengan lokasi kediaman
mertuanya. ”Yaa sudah pasti jauh Mas, la wong uang kami hanya bisa membeli di
tempat yang jauh itu.”
Mendengar ceritanya itu, keinginan bertanya semakin
menjadi-jadi. Apakah orangtua itu merasa mempunyai anak, itu sama dengan
memiliki anak? Mempunyai hak milik atas kehidupan anak? Jadi seperti hak milik
atas tanah atau rumah. Sehingga seumur hidup orangtua itu berhak melakukan apa
saja, termasuk nimbrung urusan rumah tangga anak. Dan selalu merasa keputusan
anak itu tidak bijak karena jam terbang sebagai orangtua belum sebanyak mereka.
Begitu? Padahal pada saat mereka memutuskan menjadi orangtua, mereka juga
memiliki jam terbang yang rendah.
Cinta buta
Apakah mengurus kehidupan anak yang sudah
pantasnya mengurus diri sendiri itu, sebuah bentuk cinta sejati orangtua
terhadap anak? Atau sebuah bentuk cinta buta orangtua terhadap anak?
Saking butanya, melihat bahwa punya anak itu, sama dengan
punya aset yang tak mungkin dilepaskan, yang begitu bernilai, sehingga tak
mungkin dibiarkan berkembang dengan cara mereka sendiri, tetapi dengan cara
orangtuanya.
Apakah buat orangtua memiliki anak itu bukan hanya sekadar
membuktikan bisa memberi keturunan, melainkan juga sebagai investasi dan atau
asuransi masa depan ketika mereka sudah tak berdaya lagi?
Tak berdaya ditinggal sendiri dan kesepian sehingga anak dan
menantu harus senantiasa menemani. Takberdaya melihat bahwa anak yangkecil
dahulu sekarang memiliki kehidupan yang berbeda, yang tak bisa lagi dikontrol,
karena mereka memiliki pendapat dan cara pandang yang tak sama, yang melihat
kalau pendapat orangtuanya sungguh sebuah pendapat yang terlihat terlalu
ketinggalan zaman.
Apakah menjadi orangtua dengan segala naik turunnya, bersusah
payah membiayai kehidupan anak, menabung untuk masa depan anak, memerlukan
imbalan dari anak? Apakah orangtua itu, ketika melakukan kerja keras sampai
pontang-panting, menyadari sepenuhnya bahwa itu adalah sebuah hal yang wajib
dilakukan orangtua, sebuah hal yang biasa dan bukan yang luar biasa. Seperti
layaknya seorang dokter bisa menyembuhkan pasien, itu bukan hal yang luar
biasa. Itu sungguh biasa banget.
Karena seorang dokter belajar begitu lamanya untuk tujuan
itu. Apakah seorang dokter meminta imbalan agar ia dianggap dokter yang luar
biasa dan pasiennya berutang budi kepadanya? Tidak, bukan? Mereka memang
sekolah untuk bisa dapat menyembuhkan, bukan untuk mendapat imbalan dihormati
atau dianggap superpandai.
Apakah ketika seseorang memutuskan menjadi orangtua, mereka
menyadari risiko yang akan dihadapi? Risiko ”kehilangan”, kecewa, dan bukan
hanya sekadar bersukacita menikah, bangga bisa punya anak, terus kemudian
berharap dapat imbalan, dan menjadikan anak sebagai sebuah tumpuan, dan sebagai
sebuah taman bermain untuk hak kepemilikan itu.
Apakah sedari anak masih kecil, tanpa disadari orangtua
menanamkan rasa bersalah pada anak, sehingga di suatu hari, ketika mereka
membutuhkan tumpuan, maka rasa bersalah yang sudah tertanam dijadikan senjata
yang ampuh agar anak dengan mudah menurut seperti kerbau tercucuk hidung?
Saya tak pernah menjadi orangtua, tak pernah merasakannya.
Maka, saya mengajukan pertanyaan di atas setelah mendengar percakapan dengan
seorang menantu, di suatu malam, di garasi kantor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar