Di
suatu malam, menjelang tengah malam, saya menyaksikan tayangan film di layar
televisi. Sebuah kalimat yang diucapkan seorang perempuan, langsung menempel di
kepala. Begini ucapannya itu, ”If you don’t have hope what is the point
of living?”
Berharap
Hope.
Kata itu merupakan nasihat yang telah disuarakan ke gendang telinga saya oleh
mereka yang berada di dalam rumah, di lingkungan pergaulan dan mereka yang tiap
hari minggu berada di mimbar rumah ibadah.
Kata
yang katanya mengandung makna luar biasa itu, telah disuarakan saat saya masih
duduk dengan kesal hati di sekolah menengah pertama dan atas, sampai sekarang
ketika sudah berusia setengah abad lebih satu tahun.
Dan
yang menyuarakan nasihat itu, tak pernah makin surut, tetapi semakin lama
semakin banyak.
Dan
dengan datangnya sosial media serta kemudahan fasilitas yang disajikan di dalam
gadget, maka nasihat itu pun makin hadir setiap saat tanpa diharapkan. Kapan
saja, di mana saja, dan tanpa bersuara.
Maka
kata itu kemudian menempel dan menjadi sebuah jalan keluar kalau sedang kesal
dan galau setengah mati. Menjadi salah satu solusi ketika hidup berjalan tak
seperti yang saya kehendaki.
Tetapi
belakangan ini, saya mulai mempertanyakan diri sendiri, bagaimana saya bisa
berpuluh tahun memercayai kata itu sebagai pegangan hidup ketika saya galau,
dan menjadikannya semacam alat penyemangat ketika sama sekali tak bersemangat.
Belakangan saya mulai bertanya, apakah sesungguhnya saya tahu pasti arti dan
makna kata itu?
Maka
di suatu pagi, saya mulai mencarinya di dalam kamus. Dan begini dijelaskan.
Hope sebagai kata benda adalah a feeling of expectation and desire for
a certain thing to happen, a feeling of trust.
Sebagai
kata kerja, ia berarti want something to happen. Dijelaskan pula
bahwa persamaan
kata hope adalah expectation,
wish.
Minggu
lalu saya bercerita kalau beberapa bulan terakhir hidup saya sungguh
mengesalkan, saya ingin lari dari kenyataan. Sejujurnya, semua berawal dari
kekecewaan saya memercayai kata yang satu ini.
Sejujurnya
sebelum saya melihat kamus untuk mengetahui makna kata itu, saya sudah
menyadari bahwa sebuah harapan itu tak ada yang pasti. Ia hanya bermakna
sebagai sebuah keinginan agar sesuatu yang diinginkan terjadi. Dan yang membuat
saya merasa aneh, bagaimana berpuluh tahun lamanya, saya bisa memberikan
kepercayaan pada sebuah kata yang mengandung ketidakpastian?
Menerima
Ketika
saya berharap, saya melibatkan the feeling of trust itu.
Tetapi saya lupa. Saya boleh-boleh saja melibatkan kepercayaan saya ketika
berharap akan sesuatu, tetapi yang akan menjamin harapan saya tercapai, adalah
pihak lain, dan bukan saya. Hal inilah yang saya lupakan dan menjadi sumber
utama kekecewaan.
Saya
berharap kalau bisa hari ini jangan hujan, jangan macet, dollar jangan naik,
indeks jangan turun, kalau bisa ibu saya tidak meninggal di usia tak mencapai
setengah abad. Saya berharap bisa memenangkan proyek ini dan proyek itu. Dan
sejuta lagi harapan lainnya.
Mungkin,
karena harapan itu mengandung ketidakpastian, maka ada beberapa manusia yang
memberi dana di bawah meja saat sedang bersaing memenangkan sebuah proyek, agar
harapan mereka bisa tercapai seperti yang diinginkan.
Tindakan
itu menunjukkan kalau mereka berharap dan tahu pasti keberhasilan sebuah
harapan itu bukan ada di tangan mereka. Padahal, menyogok itu sama dengan
berharap. Bisa jadi menggembirakan, bisa jadi mengecewakan.
Di
luar semua nasihat mulia yang sudah saya dengar sejak masih muda dulu, ada
suara lain yang juga mengajarkan saya ketika hidup berjalan seperti ayunan. Dan
suara ini juga sama telah berdengung sejak lama di gendang telinga saya. Dan
saya yakin, Anda juga pernah dinasihati seperti ini.
Hidup
itu dijalani saja, jangan terlalu berharap. Hidup itu akan lebih mudah kalau
diterima dengan lapang dada. Teman saya bilang begini. ”Ngarepin itu
bikin tambah kesel. Enggak ngarep itu memudahkan hidup dan meringankan beban
perjalanan.”
Ia
kemudian menambahkan penjelasannya. ”Dengan tidak berharap, kamu tak
akan merasa kalah atau merasa menang, tetapi kamu akan tenang dan senang.
Berharap itu sebuah tindakan membebani diri. Tidak berharap itu melahirkan
kelegaan,” katanya.
Maka
sekarang saya mengerti, kalau saya ini ingin lari dari kenyataan karena saya
terlalu banyak berharap. Harapan itu selalu ada dua. Bisa jadi pasti, bisa jadi
tidak pasti. Apa pun alasan di baliknya.
Dan,
saya merasa sungguh bodoh, telah memilih mendengarkan nasihat mereka yang
menyarankan berharap dengan hanya menggaungkan bagian pastinya ke gendang
telinga saya, dan menyembunyikan bagian tidak pastinya, karena mereka tahu
pasti bahwa itu akan mengecewakan.
Seharusnya
sejak lama, saya memilih untuk mendengarkan nasihat
seperti
teman saya itu untuk tidak berharap, tetapi menerima keadaan. Mungkin, hidup
saya akan jauh lebih tenteram dan membahagiakan. Mungkin loh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar