Di
bagian belakang sebuah truk tertulis kalimat yang membuat saya tersenyum
kemudian berpikir keras. ”Tuhan berikan aku rezekimu. Cukup satu miliar
saja.”
Tidak
cukup
Cukup,
adalah sebuah kata yang sudah lama sekali menjadi sebuah kata yang digaungkan ke
gendang telinga oleh begitu banyak orang, ketika saya merasa tidak cukup dalam
segala hal. Ketika saya ingin memiliki hal yang lebih dari yang sekarang saya
miliki.
Waktu
saya berpenghasilan dua ratus lima puluh ribu rupiah, dua puluh tujuh tahun
lalu, saya berkeinginan memiliki penghasilan satu juta rupiah. Dengan
berjalannya waktu, saya pindah kerja, saya memiliki upah dengan nilai yang
lebih dari cita-cita itu. Tetapi itu tidaklah cukup. Demikian seterusnya.
Waktu
upah saya masih rendah dan berkeinginan memiliki lebih, itu semua gara-gara
saya tak tahan melihat orang lain bisa memiliki hidup yang berkelimpahan. Dapat
membeli ini dan itu dengan mudahnya, berlibur dari utara ke selatan tanpa
berpikir panjang. Saya hadir dalam acara-acara mereka yang serba mewah, di
rumah tinggal yang saking luasnya yang membuat saya bisa kehilangan arah di
rumah sendiri.
Bahkan
minggu lalu saya berkunjung ke sebuah area di Jakarta dan menyaksikan rumah
besar dan terbuka, yang garasinya saja lebih besar dari tempat tinggal saya dan
memuat lima mobil mewah di dalamnya.
Tak
jauh dari rumah itu terlihat kapal laut mewah, yang mampu menghanyutkan
bayangan saya berlayar bersama teman-teman dengan nyaman, dan yang membuat saya
berucap dengan suara lirih: ”Kapan ya Tuhan, saya bisa memiliki yang seperti
ini.” Suara lirih itu telah membuat teman yang sedang menyetir berkomentar: ”Lo
ngomong apa, bro?”
Sudah
lama saya curhat dengan Yang Kuasa dalam doa-doa dengan kalimat yang persis
seperti kalimat yang saya lihat dan baca di bagian belakang truk di atas.
Tetapi kenyataannya setelah sekian belas tahun meminta, hasilnya belum
kelihatan.
Rezeki
yang diberikan masih belum cukup untuk membuat mata orang menjadi silau, bukan
mata saya. Karena kekayaan yang menyilaukan mata orang lain itu mampu membuat
mereka memberikan fasilitas lebih kepada saya, mampu membuat mereka menjadi
teman yang belum tentu setia, tetapi bisa menjadi dayang-dayang yang saya setia
setiap saat seperti deodoran.
Bersyukur
Setelah
lama berdoa dan bekerja, dan cita-cita memiliki rezeki yang berlimpah ruah itu
belum tercapai, maka kemudian saya berpikir untuk mengganti cara saya meminta
dan curhat kepada Yang Mahakuasa. Kali ini meminta dengan alasan yang mulia.
Saya
menjelaskan bahwa kalau saya ini hanya punya kekayaan yang hanya segini-segini
saja, saya tak bisa membantu orang lain yang membutuhkan dan sejuta alasan
mulia lainnya. Namun, doa sejenis itu yang sudah saya jalankan tiga tahun
terakhir ini pun tetap tak mampu membuat buku tabungan kalau selesai dicetak
memesona mata saya.
Maka
seperti semua aktivitas yang saya lakukan yang telah mencapai titik yang
optimal dan tak ada hasilnya, akan menurunkan semangat dan keinginan. Persis
seperti setelah menenggak obat penurun panas. Dalam kondisi seperti itu, yang
ada hanya ketidakinginan.
Bukan
menerima keadaan. Bukan juga mengundang akal sehat untuk berpikir lebih
rasional. Karena sampai hari ini saya tak bisa menerima. Saya tak bisa menerima
bahwa kehidupan saya ini begini-begini saja, terutama soal kekayaan.
Dalam
kondisi seperti itu banyak orang akan mulai menghakimi saya sebagai orang yang
tak tahu diri. Biasanya mereka membuat perbandingan antara kekayaan saya dengan
orang yang kurang dari apa yang saya miliki.
Atau
mereka akan mengatakan kekayaan itu tak mampu membuat saya berbahagia. Saya tak
tahu dari mana mereka bisa mengatakan itu, hanya karena melihat kondisi
beberapa orang kaya raya yang kehidupannya berantakan. La wong saya juga punya
teman yang bisa dikatakan sangat bersahaja saja, hidupnya juga tak kalah
berantakannya.
Saya
sendiri juga tak tahu apakah mereka yang menasihati itu hanya ingin terlihat
seperti malaikat, padahal jauh di dalam hati, bisa jadi mereka juga ingin
seperti apa yang saya cita-citakan.
”Sebagai
manusia, merasa cukup itu enggak perlu. Itu enggak masuk akal. Manusia kok bisa
disuruh merasa cukup. Yang perlu itu, terutama kamu, harus belajar bersyukur
dan berhenti meminta. Orang yang bersyukur untuk hal kecil dan enggak
minta-minta kayak elo, bakal makin dikasih. Bersyukur itu awal kekayaan, bukan
meminta, tahu!”
Demikian
suara dari nurani saya. Saya sungguh tak tahu apa teknik usulan nurani itu
bisa tokcer. Tetapi itu perlu dicoba. Siapa tahu saya bisa kaya
raya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar