Saya sedang menikmati pertunjukkan fil di 36.000
kaki. Saking asyiknya menonton, saya tak menyadari kalau kapal terbang siudah
mendekati tempat tujuan. Tetapi film yang saya saksikan sangat mencekam dan
membuat saya tak mau kelewatan semenit saja.
Tepat di saat saya sedang menanti puncak cerita itu,
pemutaran film dimatikan karena pesawat akan segera mendarat. Saya kesalnya setengah mati, sampai satu kata
kasar yang saya yakini telah disuarakan sejuta manusia saat kekesalan memuncak
meluncur dengan keras dari mulut.
WHY?
Sekian detik berlalu, masih dalam kekesalan bibir
saya berucap sangat perlahan dan nyaris tak terdengar suaranya. “Mengapa saya
kehiloangan sesuatu di saat saya sedang berada di puncak kesenangan, di puncak nikmat yang membuat
saya bahagia?”
Kemudian saya berdesis itu terus berlanjut sampai
pesawat mendarat dengan selamat. Suara itu pindah dari bibir ke hati. Di usia
saya yang belia, 17 tahun, saya kehilanganseorang ibu. Ia diambil saat saya
sedang menikmati memiliki ibu yang mampu yang mempu menyenangkan hidup saya sebagai seorang remaja.
Di masa berusia 40 tahunan, ketika sayamasih ingin
berlari kesana dan kemari, saat saya sedang menikmati usia yang nyaris matang
dengan masa depan yang saya piker bisa saya jalani dengan kekuatan fisik, saya
harus menjalani operasi yang membuat sekarang ini kesehatan dan
kekuatan tak bisa di-cita saya untuk menikmati seperti dulu.
Di usia 5o tahunan lebih ini, kekuatan itu semakin
menurun. Saya tak bisa lagi menikmati indahnya pemandangan dari puncaqk bukit
seperti teman-temanyang sehat. Bahkan, untuk berdiri dari posisi jongkoksaja,
saya sudah memelurkan bantuan. Kalau tidak memegang sesuatu atau meminta
bantuang tangan orang lain.
Cita-cita saya untuk menikmati indahnya bepergian
mengelilingi dunia menjadi
terbatas. Karena bangun tidur di pagi
hari saja, napas saya bisa
tersengal-sengal seperti baru menyelesaikan lari 100 meter. Ketika saya menyapu
atau mengepel pun perasaan terengah-engah
sudah senantiasa terjadi
Kalau sudah begitu, saya bak seorang lansia di usia
lanjut yang tak berdaya dan selalu saja
keluhan seperti why? Mengapa saya? Meluncur tanpa bisa dikontrol.
WHY? Lagi
Keseimbangan tubuh pun sudah terganggu. Setiap pagi
yang namanya vertigo menjadi penggangti jam weker. Ia sudah mirip burung
berkicau atau matahari terbit yang menandakana hari yang baru.
Dulu saya bangun
pagi dengan semangat untuk menaklukan hari dengan semangat berapi-api. Tetapi
tidak sekarang ini.
Di suatu hari saya pernah begitu kecewanya, dan
berkata di rumah tinggal bak sangkar burung itu sambil menghadap tembok putih.
Mengapasemua kebahagiaan, semua cita-cita, semua kesenangan, diambil dari hidup
saya di saat saya sedang
nikmat-nikmatnya memiliki kesehatan yang luar biasa?
Di puncak kegembiraan hidup, mengapa “film”
kehidupan saya itu dimatikan secara tiba-tiba. Seperti di atas 36.000 kaki itu,
saya jengkel sekali. Saya protes ke Yang Maha Kuasa, mengapa di masa saya masih
muda begini saya harus kehilangan hal-hal yang saya cintai?
Suatu hari seorang adik dari teman saya meninggal
dunia, dan salah satu kawan kami menghibur dengan mengatakan bahwa ia harus
merelakan semua itu karena tuhan yang memiliki semua itu .
Kepemilikan! Itulah yang tak saya sadari bahwa apa
yang saya punyai itu bukan milik saya. Saya sudah bekerja dari pagi sampai
malam hari. Dengan semua pengorbanan itu, saya bisa membeli hal-hal yang saya
inginkan. Dan saya merasa apa yang saya beli adalah sepenuhnya milik saya.
Sudah selayaknya saya memiliki semua itu dari hasil kerja keras dan berpeluh problema.
Tetapi, setelah mendengar secara tidak langsung
komentar salah satu teman di atas, saya mulai berfikir. Kalaupun saya bisa
bekerja dengan upah yang menggiurkan dan fasilitas yang menggoyang iman serta bonus yang yang bikin mulut menganga,
saya toh harus bangun setiap hari dengan kesehatan yang sempurna untuk
mengerjakan dan memamerkan kehebatan itu.
Dan, sudah barang tentu harus saya akui bahwa bukan
kepandaian otak saya yang mampu membangunkian saya setiap pagi . hanya dengan
seizing Yang Maha Kuasa-lah saya bisa bangun pagi.
Bukankah anda dan say mengetahui bahwa hidup dan
mati ada di tanganNya? Artinya, saya mengerti bahwa kepemilikan soal hidup dan
matiitu tidak ada pada saya. Nah, kalau begitu adanya, bukankah seharusnya saya
ini tidak perlu mengumpat saat ia mengambil yang saya cintai, apa pun itu? Mengapa saya harus mengumpat untuk sesuatu yang bukan kepunyaan saya? Bukankah
keberadaan saya ini juga bukan milik saya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar