Selasa, 01 Januari 2019

Kepemilikan


Saya sedang menikmati pertunjukkan fil di 36.000 kaki. Saking asyiknya menonton, saya tak menyadari kalau kapal terbang siudah mendekati tempat tujuan. Tetapi film yang saya saksikan sangat mencekam dan membuat saya tak mau kelewatan semenit saja.

Tepat di saat saya sedang menanti puncak cerita itu, pemutaran film dimatikan karena pesawat akan segera mendarat.  Saya kesalnya setengah mati, sampai satu kata kasar yang saya yakini telah disuarakan sejuta manusia saat kekesalan memuncak meluncur dengan keras dari mulut.


WHY?

Sekian detik berlalu, masih dalam kekesalan bibir saya berucap sangat perlahan dan nyaris tak terdengar suaranya. “Mengapa saya kehiloangan sesuatu di saat saya sedang berada di puncak  kesenangan, di puncak nikmat yang membuat saya bahagia?”

Kemudian saya berdesis itu terus berlanjut sampai pesawat mendarat dengan selamat. Suara itu pindah dari bibir ke hati. Di usia saya yang belia, 17 tahun, saya kehilanganseorang ibu. Ia diambil saat saya sedang menikmati memiliki ibu yang mampu yang mempu menyenangkan  hidup saya sebagai seorang remaja.

Di masa berusia 40 tahunan, ketika sayamasih ingin berlari kesana dan kemari, saat saya sedang menikmati usia yang nyaris matang dengan masa depan yang saya piker bisa saya jalani dengan kekuatan fisik, saya harus menjalani operasi yang membuat sekarang ini kesehatan  dan  kekuatan tak bisa di-cita saya untuk menikmati seperti dulu.

Di usia 5o tahunan lebih ini, kekuatan itu semakin menurun. Saya tak bisa lagi menikmati indahnya pemandangan dari puncaqk bukit seperti teman-temanyang sehat. Bahkan, untuk berdiri dari posisi jongkoksaja, saya sudah memelurkan bantuan. Kalau tidak memegang sesuatu atau meminta bantuang tangan orang lain.

Cita-cita saya untuk menikmati indahnya bepergian mengelilingi dunia  menjadi terbatas.  Karena bangun tidur di pagi hari saja, napas saya  bisa tersengal-sengal seperti baru menyelesaikan lari 100 meter. Ketika saya menyapu atau mengepel pun perasaan terengah-engah  sudah senantiasa terjadi
Kalau sudah begitu, saya bak seorang lansia di usia lanjut yang tak berdaya  dan selalu saja keluhan seperti why? Mengapa saya? Meluncur tanpa bisa dikontrol.

WHY? Lagi
Keseimbangan tubuh pun sudah terganggu. Setiap pagi yang namanya vertigo menjadi penggangti jam weker. Ia sudah mirip burung berkicau atau matahari terbit yang menandakana hari yang baru.

Dulu saya bangun pagi dengan semangat untuk menaklukan hari dengan semangat berapi-api. Tetapi tidak sekarang ini.

Di suatu hari saya pernah begitu kecewanya, dan berkata di rumah tinggal bak sangkar burung itu sambil menghadap tembok putih. Mengapasemua kebahagiaan, semua cita-cita, semua kesenangan, diambil dari hidup saya di saat saya sedang  nikmat-nikmatnya memiliki kesehatan yang luar biasa?

Di puncak kegembiraan hidup, mengapa “film” kehidupan saya itu dimatikan secara tiba-tiba. Seperti di atas 36.000 kaki itu, saya jengkel sekali. Saya protes ke Yang Maha Kuasa, mengapa di masa saya masih muda begini saya harus kehilangan hal-hal yang saya cintai?

Suatu hari seorang adik dari teman saya meninggal dunia, dan salah satu kawan kami menghibur dengan mengatakan bahwa ia harus merelakan semua itu karena tuhan yang memiliki semua itu .

Kepemilikan! Itulah yang tak saya sadari bahwa apa yang saya punyai itu bukan milik saya. Saya sudah bekerja dari pagi sampai malam hari. Dengan semua pengorbanan itu, saya bisa membeli hal-hal yang saya inginkan. Dan saya merasa apa yang saya beli adalah sepenuhnya milik saya. Sudah selayaknya saya memiliki semua itu dari hasil kerja keras dan berpeluh problema.

Tetapi, setelah mendengar secara tidak langsung komentar salah satu teman di atas, saya mulai berfikir. Kalaupun saya bisa bekerja dengan upah yang menggiurkan dan fasilitas yang menggoyang iman  serta bonus yang yang bikin mulut menganga, saya toh harus bangun setiap hari dengan kesehatan yang sempurna untuk mengerjakan dan memamerkan kehebatan itu.

Dan, sudah barang tentu harus saya akui bahwa bukan kepandaian otak saya yang mampu membangunkian saya setiap pagi . hanya dengan seizing Yang Maha Kuasa-lah saya bisa bangun pagi.

Bukankah anda dan say mengetahui bahwa hidup dan mati ada di tanganNya? Artinya, saya mengerti bahwa kepemilikan soal hidup dan matiitu tidak ada pada saya. Nah, kalau begitu adanya, bukankah seharusnya saya ini tidak perlu mengumpat saat ia mengambil yang saya cintai, apa pun itu? Mengapa saya harus mengumpat untuk sesuatu yang bukan kepunyaan saya? Bukankah keberadaan saya ini juga bukan milik saya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar